
"Tentu sayang.. Kamu berhak tau. Pun kamu berhak memikirkan ulang. Apa aku layak untuk tetap menikahi gadis hebat sepertimu..?" ujar Harris dengan senyum getir setelahnya.
"Tidak ada yang hendak memikirkan ulang, mas.. Aku hanya ingin berusaha mengenal lebih dalam lelaki bakal suamiku. Itu saja."
Harris tersenyum. Kemudian menarik tubuh Keara agar bersandar di dadanya. "Hemm.."
"Kalau begitu duduk yang nyaman sayang.. Karena dongeng yang akan aku ceritakan ini akan panjang dan membosankan."
Harris duduk bersandar dengan kaki terjulur lurus menumpu di meja. Posisinya santai setengah berbaring. Keara yang ditarik mendekat hingga menempelkan kepala belakangnya bersandar di dada Harris, ikut mengulurkan kaki berselonjor di atas meja.
"Karena kita mau berdongeng ria, aku mau dengerin sambil ngemil chiki boleh kan..?" Keara menggamit sebungkus besar snack yang ia bawa dari rumah. kemudian mendekapnya bersiap akan membuka bungkus snack.
"Hahahaa.. Apa kamu sudah menyiapkannya sampai membawa bekal dari rumah?" Harris tergelak. Melihat gadis dalam dekapannya justru dengan santainya melahap potato chips sebelum ia menceritakan masa kelamnya.
"Hemm.. Aku pikir kita bisa ngemil sambil melakukan apaa gitu.. Eh ternyata sambil mendengarkan dongeng.."
Harris mengeratkan dekapannya. Lantas menarik nafas dalam-dalam. Seolah mengisi paru-parunya dengan banyak udara untuk cerita yang akan ia ungkapkan pertama kalinya.
"Kamu pasti sudah membaca tentang Alfariz Risjad. Benar kata Junaidi, "
"Juna......" sela Keara. Harris terkekeh.
"Iyaa, Iya..."
"Alfariz Risjad adalah papaku. Dia seorang pengusaha sukses di bidang hotel dan travel pada jamannya. Dia juga papa yang baik dan sayang pada keluarga. Dia sangat mencintai mama.. Rasa cintanya bahkan lebih besar untuk mama daripada untukku.. Hehe" Harris tersenyum getir.
"Tapi itu tidak mengubah sikapnya sebagai seorang papa teladan, dia sangat menyayangi kami. Dia bekerja keras untuk kami. Dan selalu pulang kerja dengan bersemangat hanya untuk bertemu dengan anak dan istri tercintanya."
"Suatu hari, ketika umurku sepuluh tahun, papa mencium aroma perselingkuhan mama. Tapi mama tidak mau mengaku. Dia berkeras bahwa dia tidak melakukan kesalahan. Padahal setiap hari saat papa kerja dan aku sekolah, mama selalu pergi keluar rumah bersama laki-laki itu. Sudah banyak saksinya, meski mama sudah bermain cantik. Beliau akan ada di rumah, memasak dan berdandan cantik ketika aku dan papa sudah pulang. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa."
"Papa menyuruh anak buahnya mengikuti kemana mama pergi setiap harinya. Mama pergi ke sebuah apartemen. Dimana apartemen itu dibeli atas nama mama, tapi dihuni oleh lelaki selingkuhan mama. Setiap hari saat aku dan papa tidak di rumah, mama akan menghabiskan waktunya di apartemen bersama laki-laki itu."
"Sampai suatu hari papa melabrak saat mereka bercinta di apartemen. Papa yang melihat dengan mata kepala sendiri tidak sanggup untuk melukai mama, dia masih sangat mencintai mama meski mama sudah mengkhianatinya. Tapi setelah kejadian itu, mama pergi dari rumah dan kabur bersama selingkuhannya."
"Aku tidak berusaha menahan kepergian mama sedikitpun. Papa juga demikian. Kami sama-sama terluka terhadap sosok mama yang kami cintai sepenuh hati, ternyata dia tidak sedalam itu mencintai kami.."
Keara diam-diam menyeka air mata yang sudah luruh ke pipinya. Ia menangis tanpa bersuara. Getir dalam hatinya membayangkan Harris kecil mengalami itu semua. Hingga membentuk pribadi dewasa yang dingin dan acuh. Selalu mengigau dalam tidurnya. Pasti dalam lubuk hati terdalamnya ia pun sangat merindukan sang mama.
"Yang lebih menyakitkan adalah cara papa menyikapi sakit hatinya ternyata sangat tidak wajar. Papa lebih sering mabuk-mabukan. Dia sering mengurung diri di kamar, sambil merokok dan minum miras. Ketika sudah mabuk berat, papa akan menghajarku sampai aku babak belur. Kemudian ketika sadar, papa akan meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Tapi saat malam tiba, papa kembali mabuk dan kembali memukuliku."
Keara mengangkat kepalanya. Menatap nanar pada lelaki di sampingnya. Sudah sejak awal dia menyimpan kembali snacknya.
"Sudah cukup, mas.. Aku mengerti sekarang. Dan tidak ingin bertanya lagi."
Harris kembali menarik kepala Keara. Tapi kali ini kepala mungil itu menyandar berbantalkan lengan Harris yang dibentangkan di sandaran sofa. Keara mencari posisi nyaman dengan melipat kakinya dan ditumpangkan di kaki Harris. Wajahnya miring menghadap Harris. Dan air matanya sudah luruh membasahi pipi.
"Walaupun sudah sering dipukuli sampai babak belur, untung saja wajah mas Harris masih ganteng begini.."
"Buahahahhahaaa.." Harris tertawa terbahak-bahak.
"Kamu selalu bisa menghibur dan membuatku tertawa dalam situasi apapun..."
Satu kecupan mendarat di pelipis Keara. Membuat darah dalam tubuhnya berdesir hangat. Dan jantungnya berdebar hebat.
'Ah, cuman gitu doang udah deg-degan.. Jangan lebay, K...' batin Keara.
"Setahun berlalu, papa mendengar kabar kalau mama sudah menikah lagi dengan laki-laki breng*sek itu. Bahkan mama baru saja melahirkan bayi, anak dari suami barunya. Bahkan ketika mama dan papa belum resmi bercerai. Itu sangat menyakitkan, K.. Tapi yang lebih sakit lagi bahkan aku masih merindukan mama meskipun masih ingat betul perlakuannya padaku."
Keara tidak mengatakan apapun. Bulir bening yang terus mengalir dari netranya lah mewakili semuanya tanpa terucap. Tanpa sadar lengannya terulur dan menepuk dengan lembut dada bidang lelaki rapuh itu.
"Papa hancur. Bahkan lebih hancur dari kehancurannya yang sudah-sudah. Malam itu ia minum sangat banyak. Sambil mabuk ia kembali menghajarku dari tengah malam sampai fajar menyinsing. Aku merasa tidak akan sanggup bertahan hidup sampai melewati shubuh. Rasa sakitnya tidak terkatakan. Saat itu aku yakin itu adalah akhir hidupku."
Keara makin terisak-isak. Ia tidak bisa lagi menahan tangis tanpa suara. Ia tumpahkan kesedihannya, mewakili Harris yang tidak menangis sedikitpun meski menceritakan semua kisah pilunya.
Mungkin tangis kepiluan sudah terlalu sering Harris luapkan ketika sedang sendirian. Mungkin luka hatinya sudah membatu hingga tidak bisa mengulik air matanya untuk luruh kembali. Mungkin pula cadangan air matanya sudah ia habiskan di masa lalu. Keara tidak bisa membayangkan betapa pedih masa lalu calon suaminya. Sampai lelaki ini jadi begitu keras dan dingin.
"Tapi shubuh itu di luar ekspektasi ku. Aku yang masih sadarkan diri meski seluruh tulangku terasa patah dan hancur, aku justru harus melihat dengan mata kepalaku sendiri. Papa mengakhiri hidupnya dengan memotong -motong urat nadi di kedua pergelangan tangannya. Ia bahkan memberi beberapa tusukan di anggota tubuhnya sendiri....."
Keara terhenyak. Membuka mulut dan netranya lebar-lebar. Berharap ia salah dengar. Tapi senyum getir Harris menyadarkan Keara. Bahwa kalimat yang ia dengar tadi benar adanya.
...----------------...
...----------------...
Kisah Harris bersambung ke bab selanjutnya yaa...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
...----------------...