
Harris mengendarai mobilnya membelah padatnya jalanan di senja yang telah beranjak petang. Seperti biasa, Harris terlebih dahulu membawa Keara sholat maghrib di masjid terdekat yang mereka lewati.
Kalau diingat-ingat, ini adalah maghrib keempat yang mereka lalui berdua dengan mampir di masjid terdekat yang dilewati.
Seusai menunaikan kewajiban menghadap sang Pencipta, Harris kembali melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall di tengah kota.
"Kita makan di mall mas?" tanya Keara setelah mobil Harris memasuki basemen parkir plaza kota.
"Iya, aku lagi pengen makan udon. Kamu suka kan? Kata Rizky kamu suka makan marugame udon di mall ini.."
Keara tidak menyahut. Hanya senyumnya yang terkembang mendengar penuturan Harris. Dia memang menyukai semua makanan. Terutama yang pernah ia makan bersama Mas Rizky. Tapi hari ini ia akan makan bersama Mas Harris. Sahabat dari mas Rizky. Dan itu memberi suasana yang berbeda dalam benaknya.
'Mas Rizky, seandainya kamu masih ada di sini.. Kita bisa makan bertiga. Pasti sangat menyenangkan. Tapi dulu faktanya, saat kamu masih ada, aku sangat tidak menyukai sahabatmu ini. Aku selalu menolak pergi jika kamu sedang bersama mas Harris. Begitu pula dengan mas Harris. Dia tidak pernah mau bertemu denganmu saat kita sedang bersama, kan? Tapi sekarang, setelah kamu pergi, kamu mendekatkan kami. Membuat kami masing-masing tidak merasa kesepian dan saling mengerti satu sama lain..' batin Keara. Dia melamun sambil terus saja mengaduk-aduk makanannya.
Ya, Keara dan Harris sudah duduk di restoran udon. Bahkan makanan pesanan mereka sudah datang beberapa menit yang lalu. Tapi Keara dan lamunannya, membuat gadis cerewet itu mendadak jadi agak pendiam malam ini.
"Kenapa? Gak suka makanannya?" tanya Harris. Alih-alih mendapat jawaban, Keara masih saja terus mengaduk makanannya. Seperti tidak mendengar ucapan Harris.
"K..." Kali ini ia beranikan menyentuh tangan Keara. Demi mendapatkan perhatian darinya.
"Eh?" Keara terkejut. Lamunnya buyar seketika.
"Kamu kenapa?"
"Engg.. Gak apa apa.." Keara nyengir. Mode ceria on lagi..
"Kamu gak suka makanannya?"
"Sukaa... Suka banget kok.." serunya.
"Tapi dari tadi bukannya dimakan, diaduk mulu sampai jadi benyek begitu.."
"Hehee.. Iya ini juga mau dimakan.." cengir Keara. Ia hampir lupa tujuan utamanya bertemu Harris hari ini. Pasti gara-gara habis liat artis se*xy penuh polusi untuk matanya tadi. Fokusnya jadi terpecah.
"Mas," panggil Keara setelah makanan mereka habis. Lebih tepatnya makanan Keara. Karena Harris sudah lebih dulu menghabiskan makanannya.
"Hem?"
Keara membuka ponselnya, dan mencari sesuatu di dalam sana. Setelahnya ia tunjukkan pada Harris. "Mas kenal dia gak?"
Keara menunjukkan foto Juna pada Harris. Lelaki itu sampai memicing demi mengingat-ingat apa dia mengenal orang yang dimaksud Keara.
"Bukannya dia teman kerja kamu di kafe?"
"Iya.. Namanya mas Juna.."
"Juna?" Harris berpikir lebih keras lagi.
Keara mengangguk. "Kayaknya dia kenal sama mas Harris.."
"Oh iya? Kenapa kamu mikir gitu?"
"Ehmm.. Sebenernya.. Tadi mas Juna bilang kalau dia suka sama aku.." lirih Keara. Dia bimbang. Apa perlu bagian ini diceritakan? Tapi ngapain juga ditutup-tutupin..? Ini kan juga bagian dari cerita yang ingin disampaikan pada Mas Harris..
Netra Harris membulat. "Terus?" tanyanya dengan ekspresi datar menahan amarah.
"Dia.... Gak ngebolehin aku resign. Dia nyuruh aku gak deket-deket sama mas Harris. Dia minta aku jauhin mas Harris dan gak kerja di perusahaan mas Harris.."
'Breng*sek !! Berani sekali kunyuk itu nyatain cinta ke Keara..' geram Harris dalam hati. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat demi meredam gemuruh di hatinya.
"Kamu mau?"
"Kamu mau ngikutin maunya dia? Gak jadi resign, dan...."
"Ya enggak laah..." Jawab Keara cepat. Dia menyela kalimat Harris karena merasa sudah mengerti arah pembicaraan lelaki itu.
"Kamu juga suka sama dia??" tanya Harris lagi. Tatapan tajam ia hujamkan pada gadis mungil itu. Sangat mengintimidasi bagi Keara.
"Enggak!" Jawab Keara setengah ngegas. Ia mencubit punggung tangan Harris. "Iiihh... Mas Harris jangan sadis gitu napa liatnya ihh!! Nyeremin."
"Awhh! Apaan sih kamu.." Harris mulai mengendurkan raut wajahnya yang menegang. Kini ia merasa pipi dan telinganya mulai memanas.
"Jangan gagal fokus. Aku tuh cuman mau cerita kalau mas Juna tuh kayaknya kenal sama mas Harris dan mas Rizky. Dan dia keliatan gak sukaa banget sama kalian berdua."
Harris mengerutkan keningnya.
"Oh lebih tepatnya dia gak suka sama mas Harris. Kalau mas Rizky sih kayaknya cuma kena imbasnya aja.." imbuh Keara.
"Apa kalian dulu punya musuh waktu masih muda?"
Harris menggeleng pelan. Dia benar-benar tidak ingat siapa Juna. Apa dia punya teman atau saudara bernama Juna? Tapi sejauh yang dia ingat, dia tidak punya musuh. Terlebih lagi Rizky.
'Wait.. Apa mungkin Juna mengenal keluargaku? Atau... dia bagian dari keluargaku? Keluarga yang tak pernah kutemui. Yang tak pernah menganggapku. Mungkin dia salah satu sepupuku atau anak siapa gitu..'
"Terus dia kenapa yaa.. Sampe segitunya nyuruh aku jauhin mas Harris..?" gumam Keara lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Namun masih cukup bisa jelas terdengar oleh Harris.
"Kamu ini polos atau apa?! Dia suruh kamu ngejauhin aku ya karena dia suka sama kamu. Dan gak mau kamu deket sama cowok laen!" ketus Harris. Hatinya panas mendengar ada lelaki lain yang menyukai Keara.
"Aku rasa gak cuma itu alasannya.. Aku kan belum jadi pacarnya, ngapain juga dia udah ngelarang-ngelarang. Kan ga jelas banget." Keara mulai berargumen.
Sebagai perempuan, bohong kalau dia tidak tahu kalau Juna menyukainya. Dia peka pada perhatian yang sebelumnya diberikan Juna kepadanya. Tapi sikap antipati Juna yang berbanding terbalik ia tampakkan saat pertama kali melihat Harris menjemput Keara waktu itu. Instingnya mengatakan kalau Juna tidak hanya cemburu, tapi ada indikasi lain yang ia belum mengerti apa itu.
"Makanya, aku minta mas Harris buat hati-hati aja deh. Itu artinya ada orang yang gak suka sama mas Harris. Orang yang gak suka sampai bersikap berlebihan itu yang bahaya."
'Cewek aneh. Aku udah geram sampai panas hati mikirin dia disukai sama cowok lain, gak taunya dia malah mengkhawatirkan aku.. Menggemaskan.' batin Harris.
"Ditambah lagi tadi aku dengar ancaman si Hanna Rosaline itu.. Aku makin khawatir aja jadinya sama Mas Harris.."
"Gak usah khawatirin aku... Aku bukan anak kecil, K..."
"Oh iya lupa.. Mungkin kalau yang ngancem cewek se*xy gak bahaya kali yaa.. Malah nye-ne-ngin!" ucap Keara dengan sengaja diberi penekanan di satu kata. Sukses membuat Harris tergelak.
"Ya engga lah, K.. Hahahaa.. Kamu nih lucu banget sih.." seru Harris. Bersahutan dengan gelak tawa yang belum bisa ia kendalikan.
...----------------...
Keara bersandar ke pagar pembatas mall. Dia melongok ke lantai bawah di mana sebuah kontes menyanyi terselenggara. Dia pun turut larut menonton kontes tersebut dari lantai atas bersama para pengunjung mall yang lain.
Setelah keluar resto Udon tadi, Harris meminta ijin untuk menelepon asistennya. Keara memutuskan menunggu lelaki itu sambil melihat pemandangan di lantai bawah.
Tak berselang lama, sebuah suara yang masih ia ingat pemiliknya, memanggil Keara dan berlari mendekat.
"Kakak Kelaaa...."
'Duh, Ara!! Apess banget ketemu anak itu di sini. Mana dia sama bapaknya pula... Haduuh..!'
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih