
Hari-hari berikutnya, Harris, Bara, dan Aswin terus berkumpul untuk mendengarkan percakapan apa saja yang terjadi di ruang kerja David. Mereka bertiga terus memantau pergerakan David and the gank.
Bara lah yang bertugas terus mendengarkan alat penyadap itu pagi, siang, dan malam. Lalu melaporkannya pada Harris tentang apa yang ia dengar itu. Sudah lima hari berlalu tapi David belum melakukan tindakan yang berarti. Dan itu membuat Harris resah karena harus menunggu.
"Kita mau apakan si Alex itu?" celetuk Aswin. Bara dan Harris kompak mengendikkan bahu.
"Setidaknya kita sekap si Alex sampai David melancarkan rencananya. Kalau belum, bisa saja si Alex itu mengadu kalau kita sudah mengetahui pria yang menjadi dalang penguntitannya. Dan rencana kita bisa kacau." ucap Bara.
"Ya aku setuju." timpal Harris.
Tiba-tiba Bara berdiri. "Baik. Saya ijin pulang lebih dulu." ucapnya.
"Alaaah.. masih jam berapa sih udah buru-buru pulang aja.." seloroh Aswin. "Ayam aja mainnya lebih lama."
"Kamu aja yang kayak ayam. Aku ogah" Bara tetap melangkah pergi seraya mengangkat sebelah tangannya dan melambai. Bara tetap melesat pergi, keluar dari ruangan kerja Harris
Aswin terkekeh. Tapi kekehannya seketika berhenti saat seseorang menepuk punggungnya dengan keras.
*Plaakkk
"Awwh." Aswin menoleh dengan mata melotot siap mendamprat orang yang jahil menepuknya. Tapi urung ia lakukan karena orang itu adalah Harris. CEO e-commerce tempatnya bekerja.
"Hehe.. Si boss ngagetin aja." cengir Aswin.
"Ngapain masih disini? Sono lanjut kerja." ucap Harris dingin.
"Siap bos." Aswin berdiri seraya memberi hormat dengan tingkah kocak. Lalu pergi meninggalkan ruangan CEO.
Harris kembali tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya. Banyak deadline yang harus ia selesaikan hari ini juga. Sehingga ia melupakan waktu makan siangnya. Beruntung ia memiliki istri yang begitu perhatian. Keara memesan makanan melalui aplikasi online dan mengirimkannya pada Harris. Sehingga mau tidak mau, Harris pun memakan makanan tersebut sampai habis sambil terus bekerja.
Hingga senja kembali menyapa. Terik matahari berwarna keemasan menyorot tajam melalui jendela besar ruang kerja CEO. Membuat sebagian furniture ruangan yang didominasi warna putih itu, sejenak berubah menjadi warna oranye yang indah.
Harris menyandarkan punggung di kursi kebesarannya. Ia baru bisa bernafas lega setelah berhasil menyelesaikan tumpukan pekerjaan. Bersamaan dengan itu, handphone pintar Harris berdering seraya menampilkan foto si penelepon yang merupakan seorang wanita cantik tersayangnya.
"Assalamualaikum sayangku.." sapa Harris lembut.
"Waalaikum salam, suamiku yang amat sangat tampan.." sahut Keara dengan nada manja yang sengaja ia ucapkan untuk menarik perhatian sang suami.
"Hehe.. Manisnya istriku ini." Harris berkata seraya merapikan meja kerjanya. Ia hafal sekali kebiasaan Keara. Wanita itu selalu meneleponnya di jam segini untuk meminta Harris segera pulang.
"By the way, ada request khusus dari bumil kesayanganku ini, dalam perjalanan pulangku menuju ke rumah?"
Wanita cantik itu terkekeh merasa maksud terselubung yang ada di dalam hatinya ternyata mudah terbaca. "Tau saja mas Harris nih.. Suamiku emang suami yang saaangaatt peka."
"Kamu mau apa sayang? Aku sebentar lagi jalan pulang.." tanya Harris lembut.
"Aku mau dimsum ya sayang.. Tapi belinya harus di jalan XX. Disana enak banget dimsumnya.." pinta Keara.
"Masa beli dimsum pinggir jalan sih sayang? Gak higienis. Aku beliin di resto aja yaa.. Aku tau resto yang jual dimsum paling enak sedunia raya.." bujuk Harris. Ia paling tau kalau istrinya ini penikmat makanan pinggir jalan, yang menurutnya kurang higienis dan murah. Tapi membiarkan wanitanya yang sedang hamil makan makanan semacam itu, tidak rela rasanya.
"Gak mau. Aku gak mau dimsum yang lain. Mau dimsum langgananku itu aja. Titik."
"Ini permintaan anak-anak kita, sayang.. Please."
Kalimat keramat itu sukses membuat Harris menuruti apapun permintaan Keara. Sekalipun hal itu sesuatu yang absurd.
"Oke.. Oke.. Aku nyerah kalau kamu sudah ngeluarin senjata ngidammu itu." tutur Harris yang membuat Keara langsung terkekeh senang.
Harris segera keluar kantor dan membelikan makanan pesanan sang istri tercinta. Kemudian dengan cepat melesat karena tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Seingatnya, hari ini adalah hari kelima setelah kunjungan ke dokter kandungan, dan sejauh ini tidak ada masalah berarti pada kehamilan Keara. Itu artinya, Harris bisa menjenguk anak-anak yang berada di rahim Keara malam ini juga. Ah.. membayangkannya saja sudah cukup membuat Harris tersenyum manis dengan rencana-rencana mesum yang siap direalisasikan.
Sesampainya di rumah, Keara menyambut Harris di depan pintu masuk. Wanita yang sedang hamil muda itu tampak sangat cantik dengan perut yang belum terlihat menonjol. Tubuh rampingnya dibalut dress tanpa lengan dengan panjang selutut warna biru muda. Senyumnya merekah indah menguatkan kecantikan seorang nyonya Risjad.
"Cantiknya istriku.." sapa Harris begitu raganya semakin dekat dengan sang istri.
Keara meraih tangan kanan Harris, kemudian mencium punggung tangannya. "Terima kasih suamiku yang selalu terlihat ganteng.."
Harris menarik lembut wajah Keara lantas mengecup bibir indah itu sekilas.
"Mas Harris.. Kenapa cium cium di sini? Banyak orang.." rajuk Keara dengan pipi merona. Ia pun sangat merindukan suaminya itu. Tapi kalau berciuman di depan rumah, ia masih merasa hal itu tabu untuk dilakukan.
Harris merangkul pinggang istrinya agar semakin merapat dengan raganya. Hanya mencium aroma parfum Keara saja sudah cukup membangkitkan gairah yang ia pendam selama beberapa hari ini. Harris pun menggiring Keara untuk melangkah masuk ke dalam rumah kemudian berlanjut masuk ke kamar utama di rumah besar ini. Tak lupa Harris memberikan bungkusan dimsum pada Bik Santi terlebih dahulu, agar disimpan dan dihangatkan nanti.
Harris dengan cepat menutup pintu kamar lalu menguncinya. Merengkuh tubuh mungil Keara, mendekatkan wajahnya, lantas mencium bibir wanitanya itu. Mereka saling ******* dengan gairah yang sama-sama memanas. Perlahan Harris menuntun Keara agar berjalan mendekati ranjang tanpa melepas tautan bibirnya. Karena posisi mereka saat ini yang masih berada tak jauh dari pintu masuk kamar.
Keara terengah dan mendesah lirih menikmati sentuhan Harris. Ia tidak menampik kalau ia pun merindukan sentuhan lembut suaminya. Gairahnya menggelegak hingga membuatnya begitu impulsif membalas setiap luma tan Harris dan perang lidah yang memabukkan.
"Ternyta kau juga merindukanku, sayang.." tutur Harris disela aktifitasnya mencecap bibir manis Keara. Suara seraknya menjadi tanda bahwa bi rahinya juga sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Keara menjawab dengan racauan tidak jelas karena diselingi desa han. Ia hanya bisa menggumamkan nama Harris dengan nada memuja kala jemari cekatan Harris membelai tubuhnya dan mulai menurunkan resleting dress biru muda yang dikenakan.
"Sayang, lakukan pelan-pelan.." Keara mengingatkan suaminya agar tidak terlalu beringas menggagahinya. Mengingat keberadaan dua bayi di rahimnya.
"Sure, sweetheart.. Aku bisa mengajakmu melayang tinggi meski dengan kecepatan rendah sekalipun." sahut Harris dengan seringai penuh nafsu, memandangi tubuh wanitanya yang sudah polos dengan perut yang tidak lagi rata.
...----------------...
...Semoga bacanya pas udah buka puasa yaa.. hehe.. Happy Weekend 🥰🌹...
.......
.
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih