
Harris duduk tenang di meja makan. Netranya mengekori gerakan Keara yang hilir mudik kesana kemari untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuknya. Meskipun langkahnya melambat karena usia kandungan yang semakin dekat dengan due date, tapi keceriaan Keara menguarkan aura kecantikan luar biasa yang membuat senyuman Harris terus merekah pagi ini.
"Sayang, kenapa senyum-senyum?" Keara yang sedang menutup kotak bekal di meja makan menatap dengan tatapan penuh selidik.
"Masa orang senyum gak boleh sih.." seloroh Harris.
Keara melanjutkan memasukkan kotak bekal yang telah terisi makanan ke dalam tas bekal biru. Disusul dengan masuknya tumbler minuman berisi jus tomat segar dan tumbler air putih. "Aku kan ga melarang.. Cuman tanya kenapa...."
"Soalnya istriku ini amat sangat cantik dengan perut besar itu." Harris mengarahkan telunjuknya ke perut Keara. "Nanti setelah melahirkan hamil lagi ya, sayang.."
Keara mencibir. "Disangka perutku balon apa.. Kalau udah kempes tinggal tiup lagi.."
Harris terkekeh. "Serius sayang.. Kita ga pernah ngobrolin pengen punya anak berapa.." Harris dengan senyum jahilnya, berakting sedang berpikir keras. "Ehm.... Lima anak ya, sayang? Pasti seru dan rame rumah ini dengan lima bocil yang ceriwis semua kayak kamu.."
Kali ini Keara tidak hanya mencibir, tapi dengan imbuhan cubitan di punggung tangan Harris. "Dukung program pemerintah Keluarga Berencana dong, sayang... Dua anak cukup."
"Ini aja bersyukur banget dikasih bonus sama Allah. Sekali mblendung, isi dua anak.." lanjut Keara.
Keara mengangsurkan roti gandum panggang yang sudah diolesi selai kacang pada Harris. Harris mengucap terima kasih dan langsung melahapnya.
"Kalau next hamil kembar lagi, berarti kamu cukup hamil sekali lagi, sayang. Tapi langsung isi tiga bayi kembar.. AAMIIIN...!" Harris mengangkat dua belah tangannya tinggi-tinggi untuk mengamini ucapannya sendiri.
Keara tergelak. Tapi dalam hati ia ikut mengamini ucapan Harris. Hamil lagi? Kenapa tidak.. Terserah Allah saja mau kasih anak berapa.. Keara sadar ia tak berhak menolak rejeki. Ya kan..?
Keara berjalan ke belakang kursi Harris. Lantas dengan impulsif melingkarkan lengannya di leher sang suami dan... Cup! Kecupan singkat di sudut bibir lelakinya itu dilakukan dengan penuh cinta. "Nanti bisa pulang cepet kan? Mas inget kan aku hari ini harus kontrol kandungan ke dokter?"
"Iya sayang.. Aku hanya akan ke kantor untuk meeting dengan klien dari China pagi ini. Setelah itu schedule aku free.." Harris memasukkan potongan terakhir roti gandum ke mulutnya. "Jam berapa janji ketemu dokter Alila sayang?"
"Jam tiga sore.."
Harris mengacungkan jempol. "Baik! Siap, tuan putri.."
"Oke. Janji yaa mas.." Keara mengacungkan kelingkingnya untuk ditautkan sebagai simbol mengikat janji.
Harris menurut mengacungkan kelingking ke hadapan Keara. Jangan lupa senyum lebar dari telinga ke telinga menyempurnakan ketampanannya.
"Iya, janji sayangku.." tuturnya menenangkan.
Keara membereskan gelas dan piring bekas makan Harris. Ia hanya menumpuk peralatan kotor itu menjadi lebih rapi.
"Ga perlu diberesin, sayang.. Emangnya Bik Santi dan Rumi kemana?" tanya Harris. Tangannya menahan tangan Keara bergerak lebih banyak lagi.
"Bik Santi kan pulang kampung dari kemarin.. Rumi ke pasar.." sahut Keara. "Cuma numpuk jadi satu aja kok.. Biar gampang nanti tinggal diangkat aja.."
"Ga perlu sayang... Biar Rumi aja nanti."
Digandengnya lengan Keara agar berhenti membereskan meja makan dan berjalan mengikuti langkahnya ke teras rumah. Sesampainya di teras, Harris berhenti melangkah. Ia merangkum kedua bahu Keara dan memposisikan diri berhadapan dengan wanitanya.
"Mas pergi ke kantor dulu ya sayang.." Harris mengecup pelipis Keara mesra. Wajahnya turun sampai berada tepat di depan perut buncit Keara. Sebelah tangannya mengusap permukaan perut, seolah sedang berhadapan dengan anak-anaknya. "Halo kiddos.. Papa kerja dulu yaa.. Jaga mama kalian.. Jangan nakal dan bikin mama sakit. Ok?"
"Oke, Papa.." Keara menjawab dengan membuat suara kecil seperti suara anak-anak. Tangannya membelai lembut surai Harris dan terhenti saat Harris berdiri tegak kembali.
Harris mengusap pipi Keara dengan ujung jemari. "I love you, sweetheart.. I'm falling in love every single day with you. Can't wait, two of us become a four.."
"Me too, mas.. I love you so much.." balas Keara manis.
Harris masih tersenyum hingga dirinya sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Pak Diman. Melaju melewati gerbang pagar kediamannya. Sampai bayangan sang istri berdiri dengan tersenyum dan tangan melambai hilang terhalang tembok pagar. Ia menggeleng tak percaya. Wanita manja itu adalah istrinya yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Menggemaskan.
Pak Diman tersenyum tipis. Ia bisa ikut merasakan atmosfer kebahagiaan tuannya yang menguar kuat di sekelilingnya.
Hingga sampai di ujung jalan kompleks perumahannya, Harris mengernyit melihat beberapa meter di depannya mobil Agus -anak buah Bara- melaju berbalik arah dari rumah. Ia tidak melihat seorang pun untuk menggantikan tugas penjagaan di rumahnya.
Harris menggelatukkan rahang. Berpikir sebentar. Lantas menekan tombol memanggil di kontak dalam ponselnya.
Calling Bara....
Harris mengulang panggilannya sampai yang ketiga kalinya, Harris berdecak sebal setelah Bara akhirnya bersuara.
"Bos..."
"Dari mana aja sih Bar? Harus aku nelpon sampe tiga kali?!" salak Harris. Bahkan sebelum Bara menuntaskan ucapannya.
"Bos dimana, bos? Bos baik-baik saja??" terdengar nada tak biasa dari suara Bara membuat Harris kian dalam mengernyitkan dahi.
"Di jalan lah.. mau ke kantor.."
"Apa??"
"Itu tadi aku liat mobil si Agus pergi dari titik penjagaan. Trus gaada yang gantiin.." Harris melanjutkan ucapannya. Mengabaikan reaksi ganjil Bara.
"Gimana sih anak buah lu, Bar..? Gaada yang jaga rumah ku tuh sekarang. Koordinasi yang bener laah.. Bosen kerja lu?!" cecar Harris, tanpa tau raut wajah Bara memucat di seberang sana.
"Gus! Bo! Cepetan balik ke rumah Bos." teriakan Bara tertuju pada Rambo dan Agus, anak buahnya. Tertangkap jelas di pendengaran Harris. "JANGAN BANYAK BA COT. CEPET PUTAR BALIK!!"
"Ada apa, Bar??" tanya Harris, setelah mendengar keributan di daerah lawan bicaranya. Baik itu suara orang-orang di sekitar Bara, maupun suara derit mesin mobil yang terddengar dipacu dengan kecepatan tinggi.
"Tadi ada yang nelpon aku. Dan ngirim foto kamu lagi disekap dan dihajar di gudang tua daerah XX." Bara menjelaskan dengan cepat. "Aku kerahkan semua anak-anak buat gerebek gudang itu. Makanya tadi Agus cabut dari pos penjagaan.."
Harris berpikir cepat. Firasatnya secepat kilat mengirim sinyal bahwa ada seseorang yang harus ia lindungi. "Pak Diman, cepet balik ke rumah!"
"I-iya, tuan.." Pak Diman dengan cepat menepikan kendaran roda empat itu ke arah kanan agar mudah memutar balik di putaran depan. Sialnya, pagi ini jalanan cukup padat hingga sulit sekali untuk mengebut dan mendahului kendaraan lain.
"Macet, Tuan." Pak Diman bisa membaca situasi. Walaupun tidak tau persisnya, tapi dia tau kalau dia harus bergerak cepat saat ini.
"Breng sek!! Breng sek!" maki Harris. Kecemasan jelas nampak di wajahnya.
"Agus belum jauh. Dia bakalan sampai bentar lagi." Bara bermaksud menenangkan Harris. Tapi ia sendiri tau, itu tak akan berhasil. Karena sampai detik ini pun Bara masih mendengar sederet kalimat umpatan keluar dari mulut Harris.
"Gob lokk! Otak lu dimana sih! Bisa-bisanya ditipu pake cara murahan begini!!" Hardik Harris
"Aku sudah masuk kawasan perumahan bos." Bara memberi informasi tanpa mengindahkan kemarahan bosnya.
"Awas kalau sampai kejadian buruk menimpa istriku. Mati lu Bar!"
"Aku sampai rumah bos lima menit lagi." Bara jelas tau, ia telah masuk perangkap. Perangkap yang entah dibuat oleh siapa. Tapi sasarannya jelas. KEARA.
.
.
Harris meradang. Mendadak bayangan Keara tersenyum seraya melambaikan tangan beberapa menit lalu untuk mengantar kepergiannya bekerja, menggantung di pelupuk mata Harris. Masih begitu jelas terukir betapa istrinya yang manis itu mengucap kata cinta yang teramat menghangatkan hatinya.
Bayangan perjalanan cintanya dengan Keara diputar layaknya film dokumenter di kepala Harris. Tentang sosok gadis SMA patah hati dan selalu menangis tiap kali bertemu dengannya. Menjadi sosok wanita hamil secantik bidadari yang kadang manis, kadang berubah seperti singa betina yang menggemaskan karena hormon kehamilan yang luar biasa pengaruhnya.
Hingga ucapan Keara tiga hari lalu terngiang kembali di telinga. Menusuk relung hatinya, sampai tanpa sadar Harris menangis seraya memohon pada Pak Diman untuk melaju lebih cepat.
"Aku memang ga rela mas Harris nikah lagi. Tapi aku lebih sedih kalau sepeninggal aku nanti mas Harris sendirian dan kesepian untuk waktu yang lama. Jadi dengan berat hati... Yaah...boleh lah mas Harris cari pendamping yang bisa menemani mas Harris.."
"Tapi jangan cepet-cepet move on nya ya sayang.... Ehmmm.. Dua tahun menduda boleh laah.. Eh tiga tahun aja. Tiga tahun."
...****************...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih