Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Belum Siap Kehilangan


🌹 Kantor Harris


Harris duduk kembali di meja kerjanya usai menunaikan sholat isya. Dia kembali tenggelam di layar laptopnya. Menyelesaikan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya.


Sudah pukul delapan malam. Rasa penat itu ada. Dia bukan robot yang diprogram untuk gila kerja. Tapi tuntutan untuk mengerjakan segala sesuatunya sampai tuntas dengan hasil maksimal selalu menjadi prioritas Harris.


Terdengar pintu ruangannya diketuk sebanyak dua kali. Kemudian Aswin masuk ke dalam ruang kerja Harris.


"Pak Harris, Saya sudah konfirmasi dengan Mr. Chen. Beliau maunya pertemuan selanjutnya dilakukan di sini." lapor Aswin begitu sudah berdiri tepat di depan atasannya itu.


"Kapan?" tanya Harris singkat.


"Minggu depan, Pak.. Tapi waktu tepatnya belum diberi tahukan. Besok akan dipastikan."


"Oke. Ada lagi?"


"Tentang Juna, Pak.. Dia resmi jadi tahanan polrestabes. Tapi saya dengar orang tuanya menyewa pengacara kondang yang sudah terkenal wara wiri di tv."


"Tidak masalah. Saya juga akan menyewa pengacara untuk korban. Kita sudah punya bukti kuat." sahut Harris.


Tentu dia tidak akan menggampangkan masalah ini. Juna anak orang berada. Sudah pasti orang tuanya akan turut campur demi membebaskan anaknya, apapun caranya. Harris tidak akan tinggal diam. Dia akan menghukum orang yang sudah menewaskan sahabat terbaiknya.


"Pak, laporan evaluasi capaian tahunan sudah selesai. Saya email besok pagi kah?"


"Email sekarang aja.. Setelah itu kamu boleh pulang."


"Pak bos gak pulang? Ini sudah hampir jam sembilan malam.." tukas Aswin.


"Saya nanti saja. Apa kamu juga masih betah di kantor dan tidak mau pulang?" tanya Harris sinis.


"Tidak Boss.. Saya ijin pulang saja." Aswin nyengir kemudian. Hampir tidak pernah Harris menyuruh dia pulang lebih dulu. Ini adalah kesempatan langka yang tidak boleh terlewat.


"Ya sudah. Kamu sama Tiara Pulang saja." perintah Harris. "Sebelum pulang, emailkan dulu laporan kamu."


"Baik, Pak."


Sepeninggal Aswin, Harris kembali memusatkan konsentrasi di file-file yang tersimpan dalam harddisk laptopnya. Kembali tenggelam seperti rutinitasnya selama ini. Selama bertahun-tahun ia jalani untuk membangun kerajaan bisnisnya.


Malam kian larut. Tidak hanya raganya, tapi pikiran dan jiwanya sudah sangat letih. Sudah pukul sepuluh malam dan ia masih belum berminat untuk pulang ke rumah. Tidak ada yang menunggunya untuk pulang. Tidak ada yang ia cari dan ingin ia temui di rumah.


Ia mengecek ponsel pribadinya. Tidak ada notifikasi chat dari orang yang ia tunggu. Dari gadis cerewet yang selalu membuatnya merindu. Chat, telepon, dan video call yang seperti oase menyejukkan jiwa.


Terlebih beberapa bulan terakhir ini. Ada seorang gadis yang membuat harinya lebih berwarna. Lebih ceria dan menyenangkan dibandingkan mendapat rating pelanggan yang menaikkan popularitas e-commerce nya.


Membuat hari-harinya tak lagi hitam dan putih. Tapi ada banyak semburat warna yang sempat membuatnya lupa diri. Lupa akan masa lalu dan kesendiriannya selama ini.


Harris mulai memijat pangkal hidungnya. Betapa ia menyesal telah mempersilahkan Keara mencari tau sendiri tentang papanya. Harris terlalu naif. Bahkan mungkin bisa dibilang terlalu percaya diri. Bagaimana bisa dia berharap Keara akan menerima dia apa adanya?


Masa lalunya terlalu kelam. Terlalu dalam luka yang tertoreh di hatinya hingga ia memilih membekukan hati itu. Agar lukanya tak tersentuh. Agar perihnya terlupakan untuk selamanya.


Hanya Rizky yang mengetahui kisah kelamnya. Hanya sahabatnya itulah yang nyatanya menjadi tempatnya berkeluh kesah selain kepada Tuhannya. Rizky menepati janjinya untuk merahasiakan apa yang seharusnya memang tertutup rapat. Bahkan sampai ajal menjemputnya. Ibu, keluarga, bahkan Keara tak pernah sedikitpun Rizky membocorkan rahasia itu pada orang-orang terdekatnya sekalipun.


Harris sudah mendapat laporan dari Pak Diman. Driver kepercayaannya yang sudah bekerja dengannya lebih dari lima tahun itu, menelepon pukul dua belas siang tadi. Kalau Keara serta ibunya sudah sampai di rumah. Dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.


Komunikasi terakhir mereka hanya tadi pagi. Ketika Keara memberikan selimut untuknya yang tertidur di kursi tunggu. Setelah itu Harris memberinya ponsel baru. Dan mengijinkannya mencari tau tentang papanya.


"Mas, fotoin aku dong pake HP mas Harris..." ujar Keara tadi pagi. Ketika mereka masih berbincang di kursi tunggu depan kamar inap Keara. Harris tersenyum seraya menuruti kemauan Keara mengambil foto gadis cantik itu dan langsung menunjukkan hasilnya.


"Hehee.. sini pinjam.." Keara mengutak atik ponsel Harris. Tak lama kemudian mengembalikan ponsel itu sambil berkata,


"Ya ampun.. Ternyata beda banget yaa foto di hp mahal..." Ujarnya sambil terkekeh dengan wajah berseri-seri.


"Lihat mas, cuma pake filter, lebam di pipiku gak keliatan.. Keren banget... Ini sih gak usah susah-susah make up, ya kaaan...?"


Harris tersenyum sendiri mengingat betapa bahagianya tak pernah susut dari hari-harinya sejak ia dekat dengan Keara. Harris membuka ponselnya. Melihat foto Keara yang diambil dari ponselnya tadi pagi. Ia tidak bisa menafikkan kecantikan gadis kesayangannya ini. Hingga senyumnya terus terulas menatap gambarnya.



Sekarang, apa Keara tidak lagi menghubunginya karena dia sudah mencari berita tentang papa kandungnya? Apa dia sudah tau sesuatu tentang papanya?


Alfariz Risjad.


Sosok lelaki pertama yang menjadi pelajaran berharga bagi Harris. Ia yang sangat tidak ingin memiliki turunan sifat dari beliau, ayah kandungnya sendiri.


Ayah yang jauh dari kata panutan. Contoh teladan. Semua predikat itu seolah luruh tak berbekas. Hanya meninggalkan darah yang mengalir dalam tubuh. Yang memperjelas kaitan di antara mereka sebagai ayah dan anak. Dan tidak lupa trauma mendalam dan penderitaan yang tak berkesudahan bagi Harris.


'Apa sekarang sudah bisa kusebut akhir? Apa Keara sudah memutuskan meninggalkanku setelah membaca artikel yang banyak bertebaran di internet tentang papa? Kalaupun iya, aku tidak akan menyalahkanmu, K.. Masa laluku memang bukan perkara yang mudah untuk dipahami. Apalagi diterima..' monolog Harris dalam hati.


"Tapi apakah harus secepat ini? Aku belum siap, K.. Aku belum siap kehilangan lagi dalam waktu kebersamaan kita yang sesingkat ini. Apa aku masih berhak berharap perpisahan yang indah, K? Ending yang bisa kukenang sebagai perpisahan yang membahagiakan. Hahh.. Mana ada yang seperti itu? Membayangkan tidak ada lagi suara omelan kamu, sama saja dengan mimpi buruk.'


Harris berjalan menuju sofa panjang di ruang kerjanya. Merebahkan diri di sana. Otak dan jiwanya yang penat terus menuntutnya beristirahat. Malam yang semakin larut membuat netranya berat. Sedikit demi sedikit mulai terpejam. Dan kesadarannya berangsur menurun. Perlahan tapi pasti, Harris mulai terlelap dibuai mimpi.


...----------------...


🌹 Harris Pov


"Mas.. Mas Harris... Mas..."


Sebuah suara merdu yang sangat kurindukan menghampiri gendang telingaku. Seakan dia tahu kalau aku benar-benar membutuhkan suaranya sebagai pelipur laraku. Dengan lembut memanggil namaku.


"Mas.. Mas Harriis.. Bangun, mas..."


Terima kasih Ya Allah.. Engkau kirimkan dia meski dalam mimpi.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih