Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Gadis SMA Harris


🌹Rumah Harris


Keara sumringah. Ia sampai menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan duduk bersila dengan nyamannya. Merasa dapat kesempatan untuk mengorek-ngorek misteri yang tersembunyi di balik gunung es bernama Harris Risjad ini.


"Oke. Seru juga."


"Tapi karena aku baik hati, pertanyaan pertama buat mas Harris deh.."


"Ehmm.. Baiklaah.." Harris duduk bersandar di kepala ranjang. Ia berpikir sejenak sebelum memutuskan melontar pertanyaan ringan.


"Sejak kapan kamu pandai memasak?"


"Sejak lama.. Tapi yaa belum bisa seenak masakan ibu aku.." tutur Keara.


"Dari kecil aku terbiasa tinggal berdua saja sama mas Arman. Ibuk kerja jadi ART, pulangnya dua hari sekali, kadang seminggu sekali.. Jadi ya harus survive masak sendiri, biar hemat dan gak makan mie instan mulu."


"Ehmm.. Ayah kamu?"


"Bapak ninggalin kami pas umurku delapan tahun. Bapak pergi ninggalin hutang yang banyaaakk banget. Kami ga pernah tau dimana bapak sekarang. Masih hidup atau sudah mati. Tidak ada yang tau."


"Karena itu ibuk kerja banting tulang buat menghidupi kami sekaligus melunasi hutang- hutang bapak.."


"Mau kubantu mencari ayah kamu?"


"Gak perlu. Kami sudah melupakan bapak. Hampir dua puluh tahun kami tidak tau kabarnya sama sekali. Kami sudah menganggap beliau tidak ada." Keara tertunduk meski dengan senyum getir menghiasi wajah cantiknya.


Harris mengangguk-angguk. "Baik.. Sekarang giliranmu."


"Oke. Mau nanya apa yaaa..?" Binar ceria Keara kembali lagi. Harris tersenyum. Menurutnya sikap ceria Keara ini seperti obat dari segala rasa sakit pada raga dan jiwanya.


'Apa aku harus nanyain tentang papa mas Harris ya? Tapi bukannya topik itu terlalu berat..? Apalagi Mas Harris lagi gak sehat begini... Next time aja laah. Sekarang cukup pertanyaan ringan sebagai pemanasan..' batin Keara.


"Aku mau mas cerita tentang mantan pacar Mas Harris."


"Mantan pacar?" Harris mengernyit.


"He'em.. Mantan pacar atau mantan gebetan. Boleh laah.."


"Aku gak punya mantan, sayang.."


"Masa sih..? Ehmm kalau gitu tentang cinta pertama Mas Harris.."


"Cinta pertamaku ya kamu, K..." Harris mengulurkan tangannya untuk membelai rambut panjang Keara. Tapi Keara sedikit beringsut menghindari belaian Harris. Membuat Harris mengangkat alisnya heran.


"Idih bohong banget." seru Keara.


"Aturannya harus jawab yang jujur doong.... Katanya proses saling mengenal.." cibir Keara. Bibirnya lagi-lagi mengerucut kesal. Harris dibuat gemas setengah mati. Tapi berusaha menahan dengan segenap kekuatan imannya.


"Iya, aku jujur sayang.. Emang kamu kok cinta pertamaku.." ulang Harris. Tidak mengerti maksud Keara menuduhnya berbohong.


"Terus cewek SMA yang ketemu di taman gimana??"


*Deg!


Harris terkejut Keara mengingatkannya tentang hal itu. Ia tidak pernah lupa, tapi sungguh di depan matanya sudah ada pengganti kenangan yang sudah berlalu. Dialah Keara yang saat ini ada di depan matanya. Si Gadis SMAnya yang sudah beranjak dewasa. Membuat Harris sudah lama mengesampingkan gadis SMAnya yang cengeng itu.


"Rizky cerita ke kamu?"


"Hem!" jawab Keara jutek.


"Oya?" Harris tertawa kecil.


"Iissh.. Seneng banget kayaknya diingetin sama cinta masa lalunya.." Keara sinis. Wajahnya sudah memerah menahan kesal saat ini.


"Rizky cerita apa aja?" Harris tetap sumringah dengan senyum lebar tak lepas dari wajahnya


"Cerita kalau mas Harris sampai gagal move on dari cewek SMA itu. Mas Harris jatuh cinta padahal gak kenal cewek itu siapa. Cewek itu pun ga tau mas Harris siapa, gak tau nama mas Harris.. Sama -sama gak ada yang tau apa-apalah tentang diri masing-masing.."


"Hahahahahaa..." Harris tergelak. Bukan hanya karena cerita Keara tentang cewek SMAnya.. Tapi juga karena sikap sinis Keara yang menggemaskan.


"Dih.. Ketawanya bahagia banget tuh kayaknyaa.." cibir Keara lagi.


"Engga.. Engga.. Aku tuh ngetawain kamu.. Lucu banget kalau lagi sebel gitu.. Hahahaa.." ujar Harris di sela-sela gelak tawanya.


"Mas Harris kan punya anak buah yang selevel sama FBI tuh, kenapa ga dicari aja itu cewek SMAnya? Sekarang pasti udah lulus SMA kan.. Udah jadi cewek remaja yang beranjak dewasa.. Pasti makin cantik dan menarik.. Siapa tau dia juga punya perasaan yang sama dengan Mas Harris.."


"Iya bener.. Dia emang tambah cantik, manis, dan gemesin banget.." ungkap Harris. Dengan senyum yang terus membingkai pengakuannya.


Keara membulatkan netranya mendengar pengakuan jujur Harris. Ada setitik rasa perih menjalari hatinya. Meski masih tetap ia sangkal adanya rasa cemburu itu.


"Tapi, kalau dia punya perasaan yang sama atau gak denganku, sampai saat ini aku belum tau pasti. Anaknya agak gengsian gitu deh soalnya.."


"Nyebelin." Keara gondok.


"Heh?"


"Kalau gitu ya jawab jujur aja sih.. Ngapain pake bohong bilang aku cinta pertama mas Harris??"


Keara menunduk dalam. Entah kenapa air mata sudah mendesak ingin luruh dari netranya. 'Ihh! cengeng banget sihh! Tahan K.. Tahan. Jangan nangis.. Gini doang nangis.. Jaga image, K.. '


"Aku gak bohong, K.. Kamu memang cinta pertamaku.." tutur Harris.


"Anak SMA cengeng itu, enggg.. sesuatu yang berbeda. Ehhmmm.. Aku tidak bisa mengatakan kalau dia tidak berarti apa-apa untukku.. Tapi.. Gimana yaa cara jelasiinnya...?"


"Gak usah dijelasin. Aku paham." cetus Keara.


"Eh wait.." sergah Harris. "Jangan salah paham, K.. Sudah bertahun-tahun aku tidak lagi bertemu dengan anak SMA cengeng itu lagi. Mungkin dia sudah bahagia dan tidak butuh menangis di taman lagi.. Dan aku senang dengan kenyataan itu. Kenyataan bahwa dia tidak lagi ingin menangis sendirian di taman.."


Keara tersenyum getir. 'Itu sama artinya dengan Mas Harris masih berusaha mencarinya di taman itu. Mas Harris pasti merindukannya.. Tapi karena gadis itu tidak datang lagi, ia merasa lega dan sedih bersamaan. Lega karena itu sama artinya dengan gadis itu tak lagi sering menangis. Tapi mas Harris juga sedih karena tak bisa melihat gadis itu lagi.'


"Jangan mengungkit gadis lain, sayang.. Gadis itu sudah kusimpan rapi di memoriku. Sekarang yang ada di mata, hati, dan pikiranku cuma kamu.." Harris meraih jemari Keara. Memainkan jemari lentik itu seperti sudah menjadi kebiasaannya.


Harris menguap. Mungkin ini sudah yang ketiga kalinya. Lelaki itu terlihat mengantuk. Sepertinya pengaruh obat sakit kepala yang tadi ia minum mulai bekerja.


"Mas Harris tidur aja dulu.. Aku tunggu di bawah." Keara hendak bangkit, namun dengan cepat ditahan oleh Harris.


"Jangan kemana-mana. Disini aja sayang.. Sekarang kan giliranku bertanya.. Nanti Setelah dhuhur kita pergi ke mall yaa.. Aku mau hari ini sudah dapat cincinnya." ujar Harris dengan netra layu setengah terpejam.


"Sekarang aja udah susah melek.. Mau nanya apa lagi.."


Keara melengos. Lantas dengan cepat ia bangkit dari ranjang Harris.


"Mau kemana, K?" tanya Harris dengan suara parau.


"Mau pipis! Kenapa?? Mau ikut??!"


...----------------...


Keara tak berhenti menggerutu sesampainya ia di kamar mandi. Seraya mematut dirinya di depan cermin wastafel kamar mandi. Wajahnya sudah memerah menahan kekesalannya.


"Huuh.. Kalau ngomong cinta.. sayang.. Maniiiss banget.. Gak ada lawan. Padahal aslinya mah gagal move on. Gitu pake acara gak ngaku pula.. Bilangnya aku cinta pertamanya. Ciih.. bohong banget!"


"Pake bilang 'gadis itu aku simpan rapi dalam memori'. Diihh! Cuih! Terus aku disimpan di mana?? Di lemari??"


"Untung dia lagi sakit, kalau gak bisa-bisa kujambak rambutnya yang sok cakep itu!"


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih