
Harris dan Keara memeluk erat raga yang basah oleh keringat hasil pergumulan panas mereka. Nafasnya telah kembali teratur. Tapi aura bahagia jelas terpancar di wajah keduanya.
"Aku mencintaimu, Keara sayang.. Istriku yang cantik.. Calon mama si kembar.." racau Harris seraya menciumi pucuk kepala Keara.
Keara tersenyum dengan rona merah menjalari pipinya. Ia sangat bahagia dan merasa sangat dicintai. Suaminya, pria yang sebelumnya ia kenal berhati dingin dan kaku, nyatanya begitu hangat dan menghujaninya dengan limpahan kasih sayang. Membuat Keara merasa jadi ratu di istana yang mereka bangun berdua.
"Aku juga mencintaimu, mas.." lirih Keara.
"Sayang, apa perutmu baik-baik saja? Tidak kram atau sakit sedikitpun kan?" Harris kembali memastikan kalau tindakannya tidak menyakiti kandungan istrinya. Ia sudah berkali-kali menanyakan hal yang sama. Bahkan ketika masih bercinta tadi. Kenikmatan luar biasa yang menggelung jiwanya masih bisa ia sisihkan demi kenyamanan istri dan anak dalam kandungan.
"Aku gak apa-apa sayang.. Kamu udah nanyain berulang kali.." dengus Keara, pura-pura kesal. Tapi yang sesungguhnya, ia sangat terharu dengan perhatian Harris. "Lagipula suamiku ini tadi mainnya kalem banget.. Gak kayak kuda lumping lagi. Hehehee..."
Harris tergelak. "Masa udah mau jadi bapak masih bringas kayak kuda lumping terus sih.."
Keara terkekeh. Ia bersandar dengan nyaman di dada Harris. Jemari lentiknya menari-nari di atas dada bidang berbulu halus milik suaminya. Membuat Harris tersenyum bahagia.
Tak lama, Harris bangkit dari posisi nyamannya memeluk Keara. Ia meraih jas kerjanya yang tadi terlempar ke sofa berkat kobaran gairahnya. Ia merogoh saku dan mengambil kotak kecil yang sudah ia siapkan sebagai hadiah untu Keara.
"Sayang, terima ini. Hadiah untuk istriku tercinta." ujarnya seraya mengangsurkan kotak transparan yang cantik itu pada Keara. Ia duduk di tepi ranjang di sisi Keara setelah memakai boxer untuk menutupi rudal yang tak lagi mengacung itu.
"Apa ini mas?" Keara menarik tubuhnya hingga ke posisi duduk dengan kepala bersandar di headboard ranjang. Netranya berbinar menatap benda berkilau di dalam kotak itu.
"Anting? Indah banget, Mas..." seru Keara girang, tak bisa menutupi kebahagiaannya.
"Kamu suka?"
Keara mengangguk antusias.
"Sini biar aku pakaikan."
Keara mendekatkan wajahnya. Menurut saja saat Harris memasangkan anting berlian yang indah itu di telinga kanan dan kirinya dengan senyum mengutas yang tak mau lekang.
"Cantiknya, istriku.." tutur Harris begitu ia selesai memasangkan anting pada telinga Keara.
"Makasih sayang..." Keara melesakkan wajahnya dalam dekapan Harris. Jemarinya bertaut di balik punggung lelakinya.
"Kamu suka?"
"Suka banget."
"Kalau begitu boleh aku minta kamu pakai anting ini terus? Jangan dilepas barang sebentar. Janji?"
"Janji sayang.."
...----------------...
Setelah menunaikan sholat maghrib dan dilanjutkan dengan sholat isya berjamaah, kini Harris dan Keara sudah duduk manis di meja makan. Sambil menunggu Bik Santi menyiapkan makanan di meja, Keara tidak membuang-buang waktu dengan mengunyah dimsum yang tadi dibeli oleh Harris sepulangnya dari kantor.
"Aku gak dicicipin sedikit aja nih..?" goda Harris saat melihat dimsum di piring Keara sudah hampir habis.
"Mas Harris mau? Kirain mas Harris gak suka soalnya ini dimsum pinggir jalan..."
"Aku bukannya gak suka, sayang.. aku hanya mempertimbangkan kesehatan dan kebersihan makanannya. Aku gak mau kamu dan anak-anak kita makan makanan yang kurang higienis.." sanggah Harris.
"Tapi ini enak dan sehat kok mas.. Aku tau penjualnya. Dia kelihatannya tidak mengabaikan kebersihan. Terus anak-anak kita juga kayaknya suka banget nih.." Keara berbicara dengan mulut penuh makanan. Ia lantas menyimpan sumpit di atas piring begitu isi piring tersebut sudah licin tandas.
"Nih.. Anak kamu aja sampai gak mau nyisahin satupun buat papanya.." kelakar Keara.
Harris terkekeh. Ia mengusap surai setengah kering istrinya. "Habiskan sayang.. Aku bahagia liat kalian bertiga makan dengan lahap, walaupun harus menahan diriku sendiri, karena cuma bisa ngiler liat mama K makan."
"Hahahaa.." Keara tergelak. Ia memeluk lengan Harris yang duduk di sampingnya.
Setelah makan malam terhidang di meja, Keara mengisi piring nasi suaminya, lantas mengisi piringnya sendiri. Padahal baru saja ia menghabiskan sekotak dimsum, tapi sepertinya perutnya belum merasa kenyang.
Tante Martha dan Stella bergabung di meja makan. Keempatnya menikmati makan malam dengan tenang tanpa ada obrolan yang berarti.
Selepas makan malam, Keara dan Harris duduk bersantai di sofa ruang tengah. Keduanya asik menikmati cemilan seraya menonton televisi selagi Harris senggang dan tidak dikejar deadline pekerjaan seperti biasanya.
"Oh iya mas.. Aku lupa mau cerita." seru Keara menyela tontonan serial Korea Selatan favoritnya.
"Hm?"
"Tadi siang bapak datang kesini loh.. Dia bilang mau minta maaf sama aku."
"Oh ya?" sahut Harris acuh tak acuh.
"Iya. Bapak cerita semua tentang perjanjiannya sama mas Harris. Dan tentang bapak dapat uang bulanan dari mas.. Bapak bilang dia menyesal dan minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?" Harris menyimpan makanannya di atas meja. Memberikan perhatian penuh pada Keara yang sedang bercerita tentang mertua lucknut nya itu.
"Minta maaf karena menjadikanku objek untuk beliau mendapatkan uang. Bapak cerita kalau terlilit hutang yang sangat besar. Makanya dia bertindak jauh seperti itu." Keara menunduk. Bagaimanapun, ia juga ingin mempunyai sosok ayah yang bisa menyayangi dan melindunginya. Hingga terbersit rasa bahagia begitu bapaknya mendatangi rumahnya meminta maaf padanya. Bayangan memiliki sosok ayah yang baik pun membuat hati Keara menghangat.
"Bapak bilang, kalau hutangnya di rentenir itu sudah bisa ia lunasi dari uang mas Harris selama ini. Karena itu, mulai bulan depan bapak tidak akan minta uang ke mas Harris lagi. Bapak mau batalkan perjanjiaan dengan mas Harris dulu. Dan tidak akan bertindak seolah-olah sedang menggadaikan aku pada mas Harris.."
Setitik bulir bening mengalir dari sudut netra Keara. Harris membuka lengannya. Menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya.
"Syukurlah kalau bapak kamu sudah berubah, sayang.. Aku tidak keberatan dengan uang bulanan itu. Asalkan beliau bersikap baik dengan putrinya yang cantik jelita ini." tutur Harris lembut. Membuat Keara merasa hatinya hangat dan bahagia. Suaminya ini selalu bisa bertutur kata lembut dan menghangatkan hatinya.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih