
🌹 Rumah Harris
"Mana laporannya?" pinta Harris melalui sambungan telepon dengan Bara, 'preman' kepercayaannya yang ia pekerjakan untuk mencari tahu sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
"Begini, Bos. Pemilik mobil itu adalah putra pemilik perusahaan farmasi OK Health Indo."
"Juna Arya Oetomo?" sela Harris.
"Betul, Bos. Apa bos sudah tau?"
Harris menggeleng kuat. Seolah Bara bisa melihat gelengannya. "Tidak. Lanjutkan!"
"Di malam kejadian itu, si Juna mabuk-mabukan di sebuah bar. Namanya bahkan tercatat sebagai tamu VIP di bar tersebut. Malam itu, dia sedang frustasi karena pacarnya yang selalu ia bela di depan keluarganya ternyata selingkuh di belakangnya."
"Di dalam bar, ia juga sempat membuat kekacauan dengan tamu yang lain. Karena itu ia diusir dari bar. Ia pulang dan menyetir sendiri dalam keadaan mabuk. Lalu terjadilah kecelakaan itu, Bos."
"Sejak kejadian itu, keesokan harinya Juna pindah dari appartement ke kontrakan di kampung kumuh dan menjual mobilnya ke pasar gelap."
"Bang*Sattt!!" geram Harris. Ia sampai berdiri dari posisi duduknya demi melampiaskan kemarahannya.
"Berikan aku alamat kontrakannya."
"Siap Bos! Segera saya kirimkan!" sahut Bara cepat. "Dua orang saya juga sedang membuntuti Juna Oetomo. Saat ini dia baru keluar dari bar setelah minum-minum."
"Oke. Bagus. Terus ikuti dia. Dan laporkan pergerakannya padaku."
"Baik, Bos."
"Tugasmu, kumpulkan bukti yang bisa menyeretnya ke kantor polisi."
"Siap Bos."
'Benar dugaanku. Ada yang tidak beres dengan Juna. Si breng*sek itu adalah pengemudi mobil mabuk yang menyebabkan Rizky meninggal dunia. Dia harus membayar perbuatannya.' monolog Harris dalam hati.
...----------------...
Harris mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Sialnya, minggu sore ini jalanan begitu padat. Membuat pergerakan mobilnya terhambat.
"Mobil Juna menuju ke jalan XX, Bos." lapor Bara sepuluh menit yang lalu.
'Itu jalan menuju kafe Keara. Aku yakin baj ingan itu akan menemui Keara.' batin Harris.
Keara.
Harris segera menghubungi gadis itu. Tanpa melepas kemudinya, Ia harus sampai lebih dulu untuk menemui Keara. Kalau ingin Keara selamat dan baik-baik saja.
"Halo, K. Kamu dimana?" sergah Harris. Bahkan pria ini melewatkan salam.
"Eh salamnya mana..? Langsung tembak aja.." goda Keara.
"Masih di kafe.. Ini udah siap pulang."
"K, aku jemput ya.. Aku udah di jalan. Jangan kemana-mana sampai aku dateng." Harris merasa memang dia terdengar kacau. Tapi tetap saja ia tidak ingin memberi tahu Keara apa alasannya. Dia tidak ingin membuat gadis itu khawatir.
"I-iya.. Emangnya kita mau kemana Mas?"
"Kemana aja. Pokoknya kamu tunggu sampai aku dateng. Ngerti?"
"Iyaa.. Ngerti.."
Harris kembali memacu kemudinya. Melesat secepat kilat tidak peduli apapun yang ia terjang di hadapannya. Di pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan bayang Keara. Gadis polosnya yang tidak tau apa-apa.
Sepanjang jalan Harris mencoba merunut puzzle kejadian demi kejadian yang berputar di sekitarnya. Juna yang berniat menyamar dan bersembunyi, nyatanya bekerja di tempat yang sama dengan Keara. Ia jatuh cinta dengan Keara secara kebetulan. Tanpa tau bahwa gadis itu adalah kekasih dari lelaki naas yang meregang nyawa akibat keteledorannya mengemudi dalam keadaan mabuk.
Harris memerintahkan anak buahnya untuk mencari tau si pengemudi mabuk di malam naas tujuh bulan yang lalu. Juna pasti mencium bahwa keberadaannya sedang diselidiki. Dan saat dia tanpa sengaja bertemu dengan Harris saat menjemput Keara, dia pasti merasa keamanannya sudah terusik.
Harris lambat laun akan berhasil membongkar kedoknya. Karena hal itu pulalah yang membuat Juna memaksa Keara menjauhi Harris. Ia tidak ingin perbuatan bejat dan tidak bertanggung jawabnya diketahui oleh Keara.
Ketika sampai di depan Kafe, Harris turun dari mobilnya dengan langkah tergesa-gesa. Ia mendekati dua perempuan yang juga berseragam pramusaji kafe, sama seperti Keara. Dua perempuan itu terlihat saling bergumam dan sedikit panik.
"Mbak, Keara dimana?" tanya Harris tanpa basa-basi.
"K-keara itu mas..." seorang perempuan menunjuk ke arah jalan raya. Suaranya terbata dan kepanikan jelas terpancar di raut keduanya.
"Dimana??" tanya Harris tidak sabar.
"Dibawa sama mas Juna. Dipaksa masuk ke mobilnya.."
"Iya, mas.. Barusan aja jalan mobilnya.. Tadi aku juga lihat dari dalam kafe. Keara gak mau, tapi ditarik-tarik sama mas Junanya..."
"Breng*sek!!" umpat Harris seraya melayangkan tinjunya ke udara.
Harris kembali masuk ke dalam mobil. Dan melajukan mobilnya sekencang mungkin. Mengejar mobil Juna. Ia lalu terpikir untuk langsung meluncur menuju alamat kontrakan Juna seperti yang dilaporkan Bara tadi.
...----------------...
"Mas, ngapain kita kesini?" tanya Keara setelah ia masuk ke sebuah kontrakan sederhana. Ukuran rumah kontrakan itu bahkan tidak lebih luas dari rumah Keara yang baginya sudah kecil.
Keara belum merasakan hal aneh. Dengan polosnya, ia berpikir kalau Juna benar-benar ingin berbicara suatu hal yang penting dengannya.
"Ini kontrakanku. Kita bisa bicara dengan tenang disini K.."
Keara duduk di kursi tamu sederhana. Jauh dari kata mewah. Seperti yang digaungkan Juna beberapa hari lalu, kalau dia adalah anak dari pemilik perusahaan farmasi yang cukup besar di kota ini.
Juna mendekat. Duduk di kursi di sebelah Keara dengan satu tangannya membawa botol mi*ras.
"M-mas Juna? Mas Juna mabuk? Astaghfirullah... Mas Juna kenapa aneh begini sih..? Aku kayak udah gak kenal lagi sama mas Juna." Keara memicing keheranan. Refleks tubuhnya menjauh dari Juna.
"Udahlah K.. Ini cuma pelampiasanku aja. Aku lagi pusing sedikit." jawab Juna santai.
"K, aku akan pergi ke Singapore. Aku pergi dengan penerbangan malam ini juga. Kamu Ikut denganku, K.. Aku sudah siapkan barang-barang keperluan kamu. Kamu jangan takut kekurangan uang selama kita di sana. Kamu tidak akan kekurangan suatu apapun bersamaku, K.. Aku jamin itu."
"Apa?? Gak mau, Mas! Aku gak mau!!"
"Jangan nolak, K.. Kamu tau aku gak suka ditolak." Juna berdiri dengan sedikit oleng. "Aku sudah coba jauhin kamu, tapi aku gak bisa. Karena itu aku mau bawa kamu. Kita pergi jauh sama-sama, K.. Kita mulai hari baru di Singapura."
"Jangan sembarangan mau ngatur-ngatur aku mas.. Aku gak mau!" pekik Keara. Air matanya sudah melesak luruh ke pipinya. Ia sangat ketakutan. Tapi tidak punya keberanian untuk melawan. Bagaimanapun, melawan orang mabuk itu adalah suatu kebodohan. Nyari mati.
"Aku sudah atur dengan rapi K.. Percaya sama aku.." Juna tertawa lebar. Sudah jelas pengaruh alkohol membuatnya tidak nyambung dalam merespon omongan Keara.
"Aku ambilkan barang-barang kamu yaa.. Kamu diam disini aja. Aku sudah siapkan spesial buat kamu.." Juna dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah.
Keara memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Dia berjalan mengendap-endap ke pintu. Berusaha membuka pintu, tapi sialnya pintu terkunci rapat. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Mencari dimana kuncinya berada. Namun betapa kagetnya dia saat ponsel di sakunya bergetar.
'Bodoh. Kenapa aku ga inget sama Hapeku dari tadi.' rutuk Keara dalam hati.
Cepat-cepat ia mengambil ponselnya.
*Mas Harris calling*
"Mas Harriis.." lirih Keara dengan isakan tertahan.
"K.. Tenang yaa.. Dengerin aku. Aku akan segera sampai kesana. Juna mabuk. Jadi kamu jangan bertindak atau berkata sesuatu yang memancing emosinya meledak. Tahan ya K.. Baik-baik sampai aku datang. Oke?"
Keara tidak tahan lagi. Tangisnya sudah meluap menganak sungai. Tapi suara isakannya tetap ia tahan. "Iya, Mas.. Hikss.. ce-cepet dat-teng...."
"Iya, sayang.. Kamu tenang ya.. Aku......." suara mas Harris terpotong karena Juna sudah merebut ponsel Keara. Ia lalu melempar ponsel itu dengan keras. Hingga membentur dinding dari sisi berlawanan.
Praaanngg !!!
Ponsel Keara hancur berhamburan.
"SUDAH KUBILANG DIAM SAJA !!" hardik Juna. Dengan impulsif dia lalu mengayunkan tangannya dan memukul wajah Keara.
PLAKK !!
Tamparan itu begitu keras. Keara sampai tersungkur setelahnya. Rasa sakitnya sampai membuat telinga Keara berdenging. Seketika lidahnya terasa asin dan darah segar keluar dari bibirnya yang robek.
"Kalau begini jadi sayang kan... Wajah cantikmu jadi terluka." seringai kejam Juna membuat Keara semakin ketakutan.
Juna menarik lengan Keara. Sampai Keara berdiri, ia dorong tubuh gadis itu hingga menempel ke dinding. Juna pun semakin mendesakkan tubuhnya pada Keara. Saat Juna berbicara dan tertawa, aroma alkohol menusuk hidung Keara dan membuatnya mual.
"Aku muak tiap kali dengar nama Harris, K.. Baj ingan itu sudah merusak ketenangan hidupku. Kalau saja dia tidak terus terusan menyuruh anak buahnya menyelidikiku, aku pasti masih bisa hidup dan bersembunyi dengan tenang."
Keara hanya menggelengkan kepala seraya terus menangis terisak. Seumur hidup baru kali ini ia disekap dan berurusan dengan orang mabuk seperti saat ini.
"Aku sampai harus terburu-buru pergi ke Singapura malam ini juga. Si breng*sek Harris sudah mencium keberadaanku. Dan karena Harris juga aku gak bisa mendekati kamu. Jadi solusi terbaik buat kita adalah pergi jauh-jauh meninggalkan negara ini, hem? Huahahahaaa.. Kamu dan aku bersembunyi di negara lain. Harris akan menggila mencarimu di seluruh kolong jembatan di kota ini.. Wahahahahhaaa"
Keara terus menggeleng dengan kuat. "Gak! Aku gak mau!!"
PLAAKK !!!
Tamparan kedua semakin membuat Keara meringis kesakitan.
"Kamu sangat tergila-gila dengan Harris, hahh?? Kamu gak tau kan, siapa dia sebenarnya?? Harris itu anak dari Alfariz Risjad. Browsing nama itu di internet. Kamu akan langsung tau kalau Harris sama tidak warasnya denganku!! Bahkan lebih gila Hahahahahhaaa"
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih