Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ungkapan Hati


Hanya butuh hitungan detik bagi bu Anita mengenali wajah suami Keara. Mendadak wajah renta nan cantik dengan polesan make up bu Anita berubah memerah. Netranya berkaca-kaca. Sudut-sudut bibirnya gemetar.


"H-Harris..?" ucapnya tergeragap.


"Benar, bu. Nama suami saya Harris. Harris Risjad." ucap Keara mantap. Ada ketegasan dalam nada bicaranya. Seolah dia mengabaikan fakta bahwa wanita di hadapannya saat ini adalah ibu mertuanya.


"Taun lalu wajah suamiku ini sering muncul di televisi. Pastilah sekali dua kali bu Anita pernah melihatnya. Ternyata ibu benar-benar mengenalinya.." lanjut Keara. Ia mengabaikan wajah terkejut ibu Anita yang belum berubah sejak beberapa detik lalu. Saat pertama kali melihat foto Harris dari ponsel Keara.


"Oh i-i.. Iyaa.." bu Anita mengerjap dan berdehem beberapa kali. Berusaha menetralisir perasaannya. Tampak jelas ia sedang gugup dan salah tingkah. Sesekali ia pun mencuri pandang pada anak, menantu, dan cucunya yang duduk di sofa lain di lobi hotel itu. Khawatir keluarganya tau tentang kemelut yang ia simpan sejak bertahun silam.


"Apa maksud nak Keara menunjukkan foto itu pada ibu? Apa.. Kamu.. Tau.. Tentang saya?" tanya Anita penuh kehati-hatian. Ia memang sangat tidak menyangka melihat foto Harris dari ponsel wanita yang baru saja ia kenal kemarin. Tapi kini satu rasa penasaran lebih kuat merayapi pikirannya.


"Sedikit." santai Keara menjawab pertanyaan Anita dengan membuat simbol sedikit menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.


Anita tergeragap. Hendak berkata tapi bingung harus mulai dari mana. Gesture wanita paruh baya itu tampak lebih gelisah dari sebelumnya.


Bohong, kalau dia bilang tidak tau keadaan anaknya. Masih hidup atau sudah mati. Tinggal dimana, atau bekerja dimana. Karena Keara sudah mengunci sejak awal. Bahwa Harris Risjad cukup terkenal. Sebagai pengusaha muda kaya dan sukses. Putranya itu bahkan tidak mengubah namanya sedikitpun. Jadi mustahil bagi Anita untuk berkilah tidak mengetahui keberadaan putranya itu.


"Tentulah aku mengenalinya. Dia Harris..."


"Syukurlah kalau ibu masih ingat." sela Keara cepat. "Maksud dan tujuan saya datang kemari menemui ibu adalah karena saya tau ini hari terakhir ibu berada di kota ini. Saya pikir, kalau nanti ibu sudah kembali ke Kalimantan, akan sulit bagi saya untuk bertemu ibu.."


Keara menegakkan posisi duduknya, menarik nafas panjang dan bersiap mengeluarkan semua kata yang ada di kepalanya. "Saya akan bicara dengan cepat karena ibu sedang terburu-buru mengejar penerbangan."


"Harris Risjad. Suami saya adalah putra ibu. Apa ibu juga masih mengingat hal itu?"


Anita kembali tergeragap. Tapi kali ini air matanya ikut luruh memeriahkan momen awkward pertemuan mertua dan menantu itu. Anita cepat-cepat menghapus air yang terus luruh membasahi pipinya. Dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Keara. Lidahnya kelu hingga tak bisa berkata. Tapi tetap saja ada kalimat yang meluncur turun dari bibirnya, "Mana mungkin ada seorang ibu yang melupakan anaknya...."


"Kemarin malam itu saat pertama kita bertemu di restoran pizza, suami saya melihat ibu. Lalu mendadak suasana hatinya memburuk dan mengajakku pulang. Ibu tau? Dia sangat sedih. Tidak tau harus melakukan apa. Dua puluh tahun hidup sendiri, lalu secara tiba-tiba ia melihat ibu kandungnya bersama keluarga yang tidak ia kenal, sedang makan bersama dan bahagia. Apa yang suami saya rasakan, saya tak bisa bayangkan."


"Tidak hanya itu. Saat kutanya apa dia mau menemui ibu, ia bilang tidak. Karena tidak ada gunanya. Tidak tau pula harus berkata apa.." Keara menarik nafas panjang lagi. Ia mengingat jelas kepedihan sang suami kemarin malam.


"Jujur, saya tidak setuju. Ada banyak hal yang ingin saya katakan kepada ibu Anita. Banyak sekali sampai saya harus menahan diri agar tidak kelewatan batas kepada wanita yang sudah melahirkan suami saya."


"Tidakkah sebagai seorang ibu, anda penasaran bagaimana anak berusia dua belas tahun dahulu itu bisa menjalani kehidupan selama dua puluh tahun tanpa anda?" tembak Keara.


Air mata Anita semakin menganak sungai. Ia yakin pertanyaan Keara tidak butuh jawab. Malu rasanya mengakui menantunya ini lebih memiliki sisi keibuan dibanding dirinya.


"Mas Harris tumbuh menjadi manusia dan laki-laki yang baik, Bu. Dia sukses dengan kerja kerasnya sendiri. Dia sholeh. Tidak pernah terlewat satupun ibadah sholat wajib meski tiap harinya disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Tidak sekalipun dia terjerumus ke dalam dunia malam ataupun kriminal meski hidup tanpa pengawasan dan perlindungan orang tua."


"Bertahun-tahun ia hidup kesepian. Seorang diri melewati masa muda yang tidak mudah. Tidak ada yang memperhatikan makanannya. Tidak ada yang merawatnya ketika sakit. Tidak ada yang memujinya saat ia mendapatkan nilai bagus. Tidak ada yang merayakan ulang tahunnya."


Anita menangis tergugu. "Ini salah saya.. Saya yang telah membuatnya menderita.."


Keara memberi jeda. Membiarkan mertuanya mencerna dulu perkataannya. Meskipun harus diiringi derai air mata. Tapi itu tidak sebanding dengan yang dirasakan mas Harris kan? Jadi tidak ada salahnya sedikit kurang ajar pada ibu suaminya ini, pikir Keara.


"Kalau kamu istri Harris dan menantuku, itu artinya si kembar dalam kandungan kamu ini cucu-cucuku?" Anita dengan mata penuh peluh menatap Keara dalam-dalam. Tangisnya kembali pecah setelah melihat anggukan Keara.


Dengan tangan gemetar, Anita memberanikan diri menyentuh perut besar Keara. Tidak ia pedulikan lagi keluarganya yang berada di sofa lain kebingungan melihatnya menangis tersedu-sedu. Ini semua terlalu mendadak baginya. Terlalu mengejutkannya.


"Harris pasti sangat membenciku.. Aku terlalu malu untuk bertemu dengannya..."


"Mas Harris sangat merindukan ibu. Meski ia tidak pernah berkata apapun, tapi jauh dalam lubuk hatinya ia begitu merindukan ibu.. Hanya trauma masa kecilnya yang membuatnya tidak bisa menemui ibu." ucap Keara. Si gadis cengeng itu tentu saja sudah menangis sejak beberapa waktu lalu. Meski tidak tersedu-sedu seperti Anita.


Dari ekor matanya, Keara melihat putri bu Anita bangkit dari duduknya dan berjalan menghampirinya. Keara segera mengusap kasar air matanya.


"Saya mohon.. Kalau anda tidak berniat menemui mas Harris untuk mengobati luka hatinya, maka jangan pernah berani muncul di hadapannya. Jangan pernah datang ke kota ini lagi." tegas Keara.


"Mas Harris tidak mungkin melupakan wanita yang sudah melahirkannya. Tapi saat ini, dia sudah bahagia dan mengubur masa lalunya yang kelam. Dia tidak kesepian lagi. Mas Harris sudah memiliki keluarga baru yang mencintainya dengan tulus. Dia juga akan segera menjadi ayah. Tolong hargai usahanya menyembuhkan luka hatinya selama ini."


"Mama, ada apa? Kenapa mama menangis?" tanya anak perempuan ibu Anita.


Anita berusaha menghapus air matanya, seraya melambai-lambaikan tangan memberi tanda pada putrinya kalau tidak ada apa-apa.


Keara bangkit dari duduknya. Sedikit kesusahan sebab perut yang semakin besar. Merapikan dressnya yang kusut dibagian bawah karena duduk terlalu lama.


"Tapi kalau saya jadi anda, saya akan menemuinya sekali saja, selama saya masih diberi usia. Saya akan memohon maaf dan pengampunan dari putra saya. Karena sudah meninggalkannya di saat-saat terpuruknya. Setelah itu, saya bisa pergi dengan tenang. Kembali menjalani kehidupan saya lagi.." tutur Keara setelah ia bangkit dengan sempurna.


"Saya permisi ibu Anita. Maaf sudah mengganggu waktunya. Saya harap, kalaupun ada pertemuan berikutnya, akan lebih baik dari hari ini. Assalamualaikum.."


Keara melenggang pergi. Meninggalkan ibu Anita dan anak perempuannya yang masih kebingungan tentang keadaan yang terjadi sebenarnya.


"Pak Diman, kita ke kantor mas Harris yaa.." titah Keara begitu ia sudah duduk manis di bangku belakang mobilnya. Pak Diman mengangguk sopan. Lantas melajukan mobil ke tujuan yang diminta.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih