Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Gak Mau Makan


"Kamu sarapan dulu ya sayang, aku mau ganti baju dulu."


"Mas Harris gak sarapan?"


"Aku makan di kantor saja. Karena nanti juga harus menjamu Mr. Lee makan pagi." Harris berucap sambil terus berjalan memasuki ruangan yang berisi lemari-lemari pakaian besar berjajar rapi. Ia mencari sendiri pakaian kerjanya. Padahal selama enam bulan ini dia sudah terbiasa disiapkan segala keperluannya bekerja oleh Keara.


Sedangkan di ranjang, Keara memandangi saja makanannya. Ia tidak selera memakan nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang. Padahal itu adalah menu yang paling sering ia lahap pagi hari. Lama Keara menimbang, akhirnya ia putuskan menelepon ke lantai bawah menggunakan sambungan telepon di kamarnya.


"Bik Santi, kemarin ada iga sapi belum dimasak kan ya di kulkas?" tanya Keara begitu Bi Santi menjawab teleponnya.


"Iya, non.. Masih banyak di kulkas."


"Masakin saya sop iga dong Bik.. Saya lagi pengen makan iga."


"Baik, non.. Bibik masakin dulu yaa."


Keara mengangguk meskipun Bik Santi jelas tidak bisa melihatnya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum menutup teleponnya.


Keara mengangkat meja kecil di hadapannya. Ia pindahkan ke meja yang ada di depan sofa. Harris yang kebetulan melihat karena baru saja keluar dari walk in closet pun mendekati wanitanya.


"Sayang, makanannya masih utuh kok sudah dipinggirin..?"


Keara nyengir kuda saat aksi mogok makannya kepergok suami. Sudah susah payah suaminya itu tadi turun ke dapur sendiri untuk menyiapkan sarapan. Jangankan dimakan sama Keara, disentuh pun tidak.


"Maaf sayang.. Aku lagi gak pengen makan nasi goreng.."


Harris terdiam. Tapi dengan sorot mata tajam penuh selidik.


Keara berjalan mendekati suaminya. Mengulurkan lengannya untuk merapikan dasi warna maroon yang dikenakan Harris. "Hehe.. Tapi aku udah minta Bik Santi masakin sup iga kok sayang.." ujarnya mencegah gelombang amarah suaminya karena ia enggan makan.


"Yasudah. Terserah kamu sayang, asal makan. Jangan sampai gak makan..." ujar Harris melembut. Dia merasa bersalah mengingat kemarin malam Keara mengajaknya mampir ke restoran iga sepulang dari gala dinner. Tapi tidak kesampaian.


Keara mengangguk.


"Kamu istirahat aja. Gak usah nganter aku keluar. Aku juga sudah minta Pak Diman jemput ibu. Mereka sudah dalam perjalanan kesini."


Keara mengangguk lagi. Ia pun bingung kapan Harris mengerjakan semua itu.


Harris menciumi wajah istrinya setelah ia memastikan istrinya berbaring nyaman di ranjang. Setelah itu ia pun keluar kamar dan segera pergi ke kantor.


Selang lima belas menit kemudian, Bik Santi masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi nasi, sup iga, iga penyet dengan sambal yang pedas. Makanan favorit Keara. Keara pun dibuat ngiler mencium aroma lezat sup iga.


"Sama makan nasi putihnya juga, Non.. Biar kenyang. Tadi Tuan Harris pesan supaya non Keara makan banyak.." Tutur bik Santi karena ia melihat Keara hanya menyendok sup saja.


Keara mengiyakan saja dan meminta Bik Santi untuk keluar kamar. Meski entah kenapa, hanya melihat nasi putih saja sudah membuat selera makannya hancur. Tapi untuk kali ini Keara menurut juga. Ia menyendok nasi dan kuah sup iga bersamaan lantas melahapnya.


Tapi baru saja makanan itu meluncur turun ke perutnya, Keara sudah merasakan gejolak di dalam lambungnya yang langsung mendorongnya untuk beranjak dan berlari ke toilet. Di dalam toilet, Keara memuntahkan semua isi perutnya. Termasuk tiga sendok sup yang tadi ia makan.


Bu Marni, ibu Keara itu baru saja membuka pintu kamar saat putrinya itu berlari dari ranjang ke kamar mandi. Ibu langsung menyusul dengan langkah tergopoh-gopoh.


Di dalam toilet, yang memang tidak ditutup oleh Keara, karena gadis itu sangat terburu-buru tadi. Ibu langsung masuk dan memijat tengkuk Keara. Keara tidak tau ibunya sudah sampai bahkan mengikutinya ke kamar mandi. Ia malah mengira yang bersamanya saat ini adalah Bik Santi.


"Bibik siih nyuruh aku makan nasi. Mual banget rasanya. Bawa balik bik nasinya.. Aku udah gak mau makan...." keluh Keara tanpa menoleh ke belakang. Tubuhnya sudah terkulai lemas karena memang dia masih merasa mual meski lambungnya sudah kosong.


"Ini ibuk, K..."


Keara sontak menoleh. Langsung menghambur ke pelukan ibunya. "Ibuuuuk.... K kangen banget sama ibuk."


Ibuk mengusap lembut punggung putrinya. "Sudah berapa hari kamu mual-mual begini, K?"


"Baru hari ini, buk.. Tapi kemarin-kemarin suka lemes badannya. Gampang pusing juga kalau capek dikit."


'Capek digarap mas Harris, buk..' imbuh Keara dalam hati.


Ibu mengajak Keara duduk di ranjang kembali. Memberi minum segelas air putih. Lalu memijat ringan lengan putrinya itu. Wajah renta itu tersenyum menenangkan.


"Kapan terakhir kamu menstruasi, K?"


Keara berpikir sebentar. "Bulan ini sih harus tanggal sepuluh nanti, Buk.. Tapi bulan kemarin aku gak mens.." jawab Keara.


Senyum ibuk mengembang makin lebar.


"K, kamu punya testpack?"


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih