Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Fans Garis Keras


Harris mengatur konferensi pers di ruang serbaguna kantornya. Disulap sedemikian rupa sampai layak ditempati puluhan wartawan, dan jajaran kuasa hukum Harris.


Dalam konferensi pers itu Harris membeberkan bukti-bukti hasil penyidikan kasus kematian papanya yang menjadi bukti sah di pengadilan hampir dua puluh tahun silam. Bukti yang menunjukkan bahwa Harris sama sekali tidak melakukan tindak pembunuhan terhadap papanya.


Harris juga menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatan jiwa dan mentalnya saat itu dari lembaga rehabilitasi yang menaunginya dahulu. Dimana dari hasil pemeriksaan itu terbukti Harris menjalani pengobatan bukan karena dia seorang psikopat. Tapi pengobatan yang ditujukan untuk memulihkan trauma pasca mendapat kekerasan fisik dan melihat sang ayah bunuh diri di depan matanya.


Saat itu dia hanya seorang anak laki-laki yang terbiasa hidup di keluarga harmonis dan bergelimang harta. Tapi saat hati sang ibu berkhianat, dan papa depresi karena merasa sangat kehilangan pujaan hati, tiba-tiba hidup Harris berubah seratus delapan puluh derajat.


Tidak ada lagi keluarga harmonis. Tidak ada lagi mama dan papa yang mendampingi dan mengasihinya. Tidak ada lagi harta untuk menjamin kehidupan layak untuknya. Semuanya terasa seolah-olah dirampas hanya dalam waktu sekejap mata. Hilang tak bersisa. Hanya Harris kecil seorang diri yang terpaksa mendewasakan diri dan mengeraskan hati untuk bertahan hidup.


Sekarang, ketika dia sudah bisa mengatasi trauma masa kecilnya. Ketika dia bisa bangkit menjadi pribadi dewasa yang positif. Ketika dia bisa merangkak menaiki tangga kesuksesan dengan jerih payahnya sendiri. Masa lalu kelam itu kembali diungkit. Nyaris merobohkan dinding kuat pertahanannya.


"Berita yang tersebar akhir-akhir ini adalah sebuah fitnah kejam untuk klien kami. Dan berita ini sangat berimbas pada bisnis dan kehidupan pribadinya. Untuk itu, kami sudah melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang. Mereka akan mengusut siapa yang bertanggung jawab menyebarkan berita bohong ini sampai menjadi besar seperti sekarang ini. Oknum-oknum itu harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita klien kami.." pungkas salah seorang kuasa hukum Harris yang paling senior. Menutup sesi konferensi pers siang ini.


Usai konferensi pers digelar. Harris masuk ke ruang kerjanya. berdiri menghadap jendela besar dari lantai tujuh di ruang kerjanya. Mencari kedamaian dalam sepi. Pikirannya melayang. Merindukan satu nama yang begitu ingin ia rengkuh.


Setelah semua ini berakhir, ingin rasanya Harris berlari menemui Keara. Mengurai kesalah pahaman di antara mereka. Mencumbui lagi bibir manis yang menjadi candunya. Sejujurnya, kemarahan akibat masa lalu yang terungkap di media ini tenggelam oleh perasaan gundah gulananya karena ditinggal pergi kekasih hatinya.


Ia tidak tau harus bagaimana lagi menjelaskan pada Keara. Bagaimana ia sungguh tidak ingin orang-orang yang dia ssayang harus menanggung beban atas masalah-masalah yang ia pikul. Ia ingin mengangkat sendiri beban-beban itu. Ia merasa bertanggung jawab atas masa lalunya dan bertanggung jawab atas kebahagiaan orang-orang tercintanya.


Aswin masuk setelah mengetuk pintu. Membuyarkan lamun Harris. Dengan wajah dan ekspresi datar ia kembali duduk di kursi tahtanya. Bersiap menerima laporan progress kasus dari si asisten.


"Respon pemirsa bagus, Pak.. Setelah konferensi pers ini disiarkan secara live di dua stasiun tv, dukungan untuk anda meningkat cukup signifikan. Stasiun tv yang lain pun mulai menyiarkan konferensi pers ini secara berkelanjutan. Jadi bisa dipastikan nama anda akan bersih kembali setelah hari ini."


"Harga saham BukaToko yang kemarin sempat turun nol koma lima persen sekarang mulai merangkak naik sebanyak dua persen. Dan bisa diprediksi kenaikannya akan terus meroket sepanjang siaran konferensi pers ini ditayangkan." imbuh Aswin.


Harris hanya mengangguk pelan.


Sejauh ini situasi masih berada dalam kendali strateginya. Bukti tentang siapa pelaku penyebar berita palsu juga sudah diberikan pada penyidik kepolisian. Harris juga merogoh kocek cukup dalam untuk menyuap media agar tidak menggali lebih dalam lagi. Tidak mengungkit siapa ibunya, ataupun saudara-saudara dari papa dan mama. Cukuplah pemberitaan ini membahas tentangnya saja. Tidak melebar ke mana-mana.


"Next plan?" tanya Harris singkat.


"Orang-orang kita sudah mulai bergerak menggiring opini publik lewat sosial media. Mereka sudah mulai memposting dukungan demi membangun simpati untuk Bos Harris. Bertajuk : 'Seorang pemuda dengan masa kecil yang menyakitkan, bisa sukses dan membangun masa depan cerah di atas kakinya sendiri.' Kalau melihat respon masyarakat sampai sejauh ini, saya yakin pengikut akun pendukung kita akan terus bertambah."


Harris mengangguk lagi. Ia menarik nafas berat kemudian bersandar di kursinya.


'Ada bagusnya juga si bos patah hati. Mukanya keliatan depresi gitu.. Kalau dia artis sih, bisa dibilang sangat mendalami peran. Coba kalau dia sama si ayang bebeb tetep akur dan romantis, gak bakal begitu tuh perangainya.. Gosip receh gini doang gak bakalan bikin nih orang kaku jadi down. Tinggal sleding si Hanna aja kelar urusan.' batin Aswin dalam hati. Ia prihatin tapi juga mensyukuri kondisi tuannya ini.


Aswin paham betul. Kesedihan Harris sembilan puluh persen berasal dari problemnya dengan Keara. Dia sudah hampir sepuluh tahun menghadapi bossnya ini. Olokan dan ejekan disebut psikopat, pembunuh, mantan napi dan yang sejenis itu sudah sering di terima. Sudah akrab dengan telinga dan mentalnya. Tidak akan berpengaruh banyak terhadap kewarasan seorang Harris Risjad.


Tapi yang kali ini berbeda. Di saat masa lalunya kembali diungkit, seorang gadis yang tenyata menjadi pemilik hatinya, memutuskan untuk menjauh. Karena merasa tidak diinginkan. Merasa dibuang dan tidak dibutuhkan. Padahal, gadis itu adalah satu-satunya yang ingin dimilikinya. Hal itu yang rupanya menjadi kelemahan Harris Risjad. Membuat lelaki itu merasa sangat kehilangan semangat hidup.


Aswin kembali merangsek maju menghampiri meja kerja Harris. Menyimpan secarik kertas di depan Harris yang seketika mendapat perhatian penuh dari lelaki depresi itu.


"Ini satu variabel di luar planing kita pak. Dari pantauan orang-orang IT kita, akun sosial media ini terus memposting dan berkomentar baik dan positif tentang Pak Harris. Dan itu dilakukan sebelum adanya konferensi pers ini. Dia membalas komentar buruuk dari netizen dengan penjelasan yang mengarah pada pembelaan terhadap anda. Fix dia fans garis keras Harris Risjad!"


Harris berdecak sebal. "Maksud kamu apa? Aku gak butuh laporan seperti ini!" ketus Harris seraya melempar kertas yang diberikan Aswin.


"Dibaca dulu pak.. Ini dukungan dari fans berat anda. Fans asli. Bukan bayaran." Aswin memungut lembaran kertas yang jatuh di dekat kakinya. Kemudian mengembalikannya lagi ke meja Harris.


"Kalau kamu mau bahas yang gak penting begini, pergi saja dari hadapanku." geram Harris. Ia kembali bersandar di kursinya. Sampai menengadah menatap langit-langit kemudian memejamkan mata.


Aswin menahan tawanya agar tidak sampai bersuara. Ia merasa kasihaan dengan keadaan bosnya. Tapi seandainya saja dia membaca ketikan 'fans'nya itu, dijamin senyumnya akan melebar dan cerah.


"Baca saja dulu Pak.. Saya yakin bisa memperbaiki mood." desak Aswin sembari cengar cengir mengejek.


"Saya sudah meminta tim cyber kita untuk menyelidiki identitas si pemilik akun. Akun itu adalah fake account. Terbukti dengan akun itu baru dibuat kemarin dan belum memposting apapun. Tapi tim kita sudah menemukan identitas pemilik akunnya."


Harris bergeming. Ia sungguh tidak tertarik mendengar ocehan Aswin yang tidak berbobot.


"Dijamin pak Harris gak akan nyesel. Jangan dibuang ya pak.."


"Di balik kertas itu ada nama lengkap, alamat dan nomer telepon fans berat Anda. Bisa dihubungi sewaktu-waktu kalau butuh dukungan moriil dan spiritual.. Hehehee..."


Aswin segera berlari secepat kilat ketika Harris sudah siap untuk melemparinya dengan botol air mineral. Sampai bayang Aswin menghilang di balik pintu.


Rasa penasaran Harris tergugah. Ia menarik kertas yang diberikan oleh Aswin dan membacanya. Tak lama kemudian, kedua sudut bibirnya tertarik perlahan. Mengulas senyum yang beberapa hari ini sempat menghilang dari wajahnya.


...----------------...


Identitas fans berat Harris.


Nama : Keara Assyifa


Alamat : Jl. xxx


No HP : 081xxx


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih