
"Ayo cepat puter balik sekarang, atau aku cubit dada kamu sampai bolong!" ancam Keara yang masih kekeuh meminta Harris pulang karena merasa demam yang diderita lelaki ini cukup mengkhawatirkan.
"Sayang.. Kok kamu seneng banget sih menganiaya aku? Aku lagi sakit juga tetep aja mau dicubit."
"Tuh, ngaku kan sekarang kalau lagi sakit..." cibir Keara.
"Ini tuh cuma karena belum sarapan aja.. Asal nanti kalau udah sampai di mall langsung sarapan ditemenin sama kamu, pasti langsung enakan kok... Kan obat dari segala sakitku udah ada di depan mata.. Yaa itu kamu, K.." ujar Harris seraya mengerling ke arah Keara.
"Dahlaah.. Aku gak terima gombalan. Buruan puter balik!" Keara sudah memposisikan tangannya di depan dada Harris, siap memberi cubitan yang bisa membuat lelaki itu bergidik ngeri.
"Iyaa.. Oke. Oke, baiklaah.. Aku mau putar balik dengan satu syarat." Harris mencoba bernegosiasi.
"Idih. Dia yang sakit, dia yang kasih syarat..." cibir Keara.
Harris tergelak. "Mau gak?"
"Ya udah bilang dulu syaratnya apa!" ketus Keara. "Kalau masuk akal ya diterima."
"Aku mau pulang, tapi kamu jangan pulang ke rumah dulu.. Temenin aku. Sarapan sama aku di rumahku. Nanti siang kalau aku udah agak enakan, kita pergi ke mall lagi nyari cincin tunangan kita, oke?"
"Oke.. Oke..." Keara pasrah menerima syarat dari Harris. Daripada lelaki itu pingsan di mall.. Kan lebih repot.
.
.
.
Harris masuk ke dalam rumah dengan langkah malas. Kepalanya tertunduk dan wajahnya muram. Tidak hanya karena kepalanya yang pusing berdenyut, tapi juga karena ia terpaksa harus kembali lagi ke rumah. Membatalkan rencana indah yang sudah ia gadang-gadang dari jauh-jauh hari.
Ia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, dengan wajah menengadah ke atas. Keara menyusul duduk tepat di sampingnya.
"Jangan cemberut gitu dong.. senyumm..." Keara menarik dua sudut bibir Harris dengan jarinya, agar terbentuk senyuman di wajah lusuh dan pucat itu. Menjahili Harris yang jelas sedang tidak mood bercanda.
"Hemmm.." hanya deheman lemah yang terdengar dari Harris. Tapi sungguh hatinya sangat bahagia sekarang. Keara berada sangat dekat bahkan menumpukan sebelah lengannya di bahu Harris.
"Di rumah segede gini gak ada orang satupun?" tanya Keara penasaran.
"Ada ART satu lagi di dalam. Ada pak Diman, ada tiga orang security di depan, ada tukang kebun juga, gak tau dimana.." jawab Harris tanpa mengangkat wajahnya.
"Syukur deh.. Kita gak berduaan.."
Harris tersenyum tertahan mendengar penuturan Keara.
"Udah deh tenang aja.. Kesehatan itu yang utama, mas.. Mall gak akan bangkrut hanya karena mas hari ini gak jadi beli cincin. Jadi besok, besoknya lagi, besokannya lagi.. Mall bakalan buka terus..." ocehan Keara kembali menggaung. Bahkan sekarang lebih dekat posisinya dengan telinga Harris.
"Mas Harris bobok dulu, aku masakin sarapan buat mas.. Ayo buruan naik ke kamar. Ayoook." Keara berkeras menarik raga yang lebih besar darinya.
"Aku tidur disini ajaa..."
"Isshhh.. Bandel!" Keara menyerah. Bibirnya mengerucut dan mencibir sebal.
"Terserahlah.."
"Sekarang tuan Harris mau dimasakin apa? Saya siap memasak apaaa saja sesuai request Tuan." ucap Keara dengan gaya centil yang dibuat-buat.
"Kamu bisa masak?" Harris berbinar menatap Keara.
"Bisa."
"Bisa masak apa saja?" tanyanya lagi dengan antusias.
"Semuanya. Sesuai request tuan muda.."
"Oh ya?"
"He'em. Kalau ada menu yang aku gak bisa, tinggal pesan makanan di restoran. Mas Harris yang bayar.. Hehee.."
Keara terkekeh sambil melenggang ke dapur. Sejurus kemudian, ia takjub dengan dapur yang luas, bersih, dan tertata estetik.
"Kalau dapur begini sih sayang banget dipake masak.. Kotor deh jadinya. Bagusan buat liat-liatan aja. hehee" Keara terus mengoceh sambil memasak. Membuka tutup lemari es dan tempat penyimpanan bahan makanan. Sesekali ia bersenandung sendiri dengan riangnya. Tidak menyadari Harris terus mengawasinya dari kejauhan.
Lelaki itu tersenyum melihat Keara yang ceria. Seperti mimpi. Gadis idamannya itu sedang memasak untuknya, di dapur rumahnya. Sakit kepalanya spontan terlupakan. Meskipun belum bisa dikatakan sembuh. What a beautiful view.
Harris tidak mungkin melewatkan momen ini untuk tidur. Itu artinya ia akan menyia-nyiakan waktu terindahnya bersama Keara. Harris mengambil laptopnya dan duduk di meja makan. Semakin mendekatkan diri dengan Keara.
Gadis itu tidak menyadari keberadaan Harris. Dia fokus memasak sambil bernyanyi-nyanyi riang dengan posisi badan membelakangi meja makan. Harris pun duduk dengan tenang. Menyalakan laptop, mengecek email masuk dan beberapa laporan pekerjaannya.
"Astaghfirullahal'adziim..." pekik Keara tiba-tiba.
Harris terkejut sampai berdiri dari duduknya. Mendapati Keara sudah berdiri tepat di depannya dengan tangan penuh membawa nampan. "Kenapa, sayang? Ada apa?"
"Mas Harris tuh gimana sih..? Disuruh tidur malah kerja disini. Hiiiiiihh bandel banget siihh!!" gerutu Keara. Ia meletakkan nampan berisi sup iga panas di atas meja. Kemudian duduk di depan Harris dengan wajah yang masih kesal.
Harris kembali duduk di kursinya. "Kamu ngagetin aja sih.. Kirain kenapa.."
"Aku gak kerja sayang.. Cuma ngecek email. Lagian gimana bisa tidur, di depanku ada konser tunggal. Daripada tidur mending nonton konser laah.."
Keara mendengus kesal seraya bergumam. "Makanya aku suruh tidur di kamar..."
Harris takjub menatap makanan yang terhidang di depan matanya. Ia mengaduk sup di mangkuk yang masih mengepulkan asap. Aromanya sungguh menggugah selera. Dan binar mata Harris sangat menyorotkan kebahagiaan tak terkira.
"Masya Allah calon istriku ternyata pandai masak.." ucap Harris setelah menyeruput kuah sup iga masakan Keara.
Mendengar predikat 'calon istri', seketika wajah Keara bersemu merah. "Enak?" tanyanya dengan raut ragu-ragu.
"Enak banget, sayang.. Makasih yaa.."
"Di dapurnya mas Harris lengkap banget kayak supermarket. Hehee.."
Keara mengulas senyum termanisnya. "Kalau gitu habisin. Terus minum obat, dan istirahat."
Harris memakan sup dengan lahap. Tak butuh waktu lama, semangkuk sup iga sudah licin tandas tak bersisa.
Keara lalu menggiring Harris masuk ke kamarnya. Memberikan obat yang biasa dikonsumsi Harris. Kemudian memaksa pria itu berbaring di atas ranjang dan menyelimuti raganya.
"Tidur." perintah Keara singkat. Ia masih duduk di tepi ranjang Harris. Menatap Harris yang semakin pucat tapi masih bisa tersenyum manis.
"Begini saja sudah sama dengan istirahat. Gak perlu tidur."
"Mas Harris nih bandel.." dengus Keara.
"Kita ngobrol-ngobrol aja gimana?" tawar Harris. "Itung-itung ini sebagai proses perkenalan kita."
"ehmm.. Boleh. Tentang apa?"
"Terserah kamu. Pertanyaan pertama milik kamu. Silahkan tanya apa aja, akan aku jawab. Setelah itu giliran aku yang bertanya ke kamu."
Keara sumringah. Ia sampai menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan duduk bersila dengan nyamannya. Merasa dapat kesempatan untuk mengorek-ngorek misteri yang tersembunyi di balik gunung es bernama Harris Risjad ini.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
...----------------...