
Aswin dan Bara duduk di sofa bekas lokasi bercinta Harris Keara beberapa menit lalu. Sedangkan Harris duduk di single sofa sambil bertumpang kaki.
Keara yang baru selesai mandi masih sibuk mengeringkan rambut di depan meja riasnya. Sungguh ia tidak menyangka bahwa menikah se-merepotkan ini. Dalam hitungan kurang dari tiga jam dia sudah mandi dan keramas dua kali. Dan firasatnya mengatakan kalau ini bukanlah keramas terakhirnya hari ini.
Keara menuruti permintaan suaminya untuk memakai bajunya sendiri ketika ada orang lain yang melihat penampilannya. Keara mengenakan dress pink motif floral yang ia bawa dari rumah. Dia tidak bersiap membawa banyak baju ganti. Alhasil, kalau benar besok ia akan ke Korea, K akan meminta suaminya untuk mengantarkan ke rumah dulu.
Keara melongok ke arah depan. Tempat suami dan rekan-rekannya bercengkrama cukup serius. Dilihat dari raut wajah kettiganya. Ia cukup miris melihat nasib sofa bekasnya bercinta sekarang diduduki Aswin dan Bara. Seperti sangat tidak etis..
Keara berinisiatif membawakan minuman dan makanan ringan untuk disuguhkan pada bawahan suaminya itu. Tidak hanya ingin beramah tamah pada tamu, tapi juga karena dia sangat penasaran terhadap apa yang mereka bertiga bicarakan seserius itu.
Setelah meletakkan dua cangkir kopi dan satu bungkus potato chips besar, Keara duduk di tepi sofa Harris dan menumpangkan lengannya di bahu sang suami.
"Apa aku boleh duduk di sini?" Keara bertanya lebih dulu daripada keberadaannya ternyata mengganggu suaminya.
"Tentu boleh, sayang..." Harris mengusap lengan istrinya penuh kasih sayang.
"Mereka berdua kemari untuk membawakan paspor dan visa kita. Kopermu yang ada di rumahku juga ia bawa kesini.."
Koper maksud Harris adalah koper yang batal dibawa Keara ke Korea sebulan yang lalu.
Keara tersenyum mendapat perlakuan lembut suaminya, meskipun tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya bahwa suaminya langsung mengubah topik pembicaraan begitu Keara mendekat.
"Mbak Keara seger banget siang-siang mandi..." seloroh Aswin seraya mengerling. Melihat rambut setengah basah Keara, membuat mulutnya gatal ingin menggoda istri CEO nya itu.
Harris sudah mendelik ingin mendamprat asistennya itu yang berani menggoda istrinya.
Tapi Keara justru terlihat santai mendengar ledekan asisten suaminya. "Makanya mas Aswin nikah dong.. Biar bisa mandi sehari lima kali.."
Semua orang tertawa mendengar kelakar Keara. Kecuali Bara. Lelaki itu hanya menarik satu sudut bibirnya sebagai reaksi sebatas menghormati saja.
"Gimana orang gila tawananmu?" tanya Harris pada Bara. Tawanya terdengar mengejek pria berwajah sangar di depannya itu.
"Aman." Jawab Bara singkat.
"Wait, aku pengen tau cara boss preman menahan seorang wanita mabuk.. Kamu gak mungkin memukulinya kan?" kali ini giliran Aswin yang tersenyum meledek Bara.
Keara memasang telinganya baik-baik. Ia tau yang dimaksud para lelaki ini adalah Hanna Rosaline. Seseorang yang hampir saja merusak pernikahannya.
Bara tetap tidak terinterupsi. Ekspresinya tetap datar. "Sudah kuatasi dengan caraku sendiri."
"Laporkan dengan detil caramu itu." ketus Harris. Pastinya Harris hanya berpura-pura bersikap tegas. Karena kalau bercanda tawa, sudah pasti tidak membuat Bara mau membuka mulutnya.
"Eee..." Bara memutar bola matanya. Seperti berpikir hendak melaporkan apa.
"Aku tidak bermaksud mengambil keuntungan. Ee... Maksudku.. Aku bukannya berniat buruk. Tapi.. Dia yang menggodaku lebih dulu.."
"Buahahahahhaa.." tawa dua lelaki spontan memenuhi ruangan. Keara hanya diam mendengarkan dan mencoba memahami situasi.
"Gimana rasanya main sama artis? Pasti panas banget.. Mana dia lagi mabuk kaan.." tanya Aswin di sela gelak tawa yang masih tersisa. Tapi tidak ditanggapi apapun oleh Bara.
"Begitu dibilang tidak memanfaatkan keadaan?? Kalau ada masalah di kemudian hari gimana caramu mengatasi itu? Yang jelas jangan bawa-bawa namaku.." tegas Harris.
Aswin dan Harris spontan mencondongkan tubuhnya ke depan. Mereka berdua seolah mempunyai semangat yang mendadak tersulut dan berapi-api ingin melihat barang bukti perihal cara yang dipakai Bara untuk mengerjai Hanna.
Aswin yang posisinya duduk di samping Bara langsung menyambar ponsel boss preman itu. "Sudah direkam? aku mau lihat."
Harris hendak menggapai ponsel Bara dari tangan Aswin. Tapi lengan Keara lebih cepat mencekal lehernya. "Mas Harris gak boleh lihat!! Awas kalau berani!"
"Tidak akan, sayang.." Harris tersenyum seraya mengusap lengan istrinya. Ia senang dengan sikap posesif istrinya. Hal itu membuatnya makin ingin menggoda istrinya. "Aku hanya ingin mengecek bukti, gak macem-macem..."
"Mengecek bukti? Alasan aja." Keara semakin mempererat menahan tubuh suaminya dengan dua lengan kurusnya. "Boleh nonton video itu, tapi jangan harap nanti malam aku mau membuka ladang untuk kamu bercocok tanam."
"Eehh.. Jangan gitu dong sayang.. Enggak.. Enggak.. Aku gak akan lihat. Janji.."
Bagi Harris, tidak penting melihat adegan Bara dan Hanna. Lebih baik membuat adegan sendiri.
Aswin tertawa lebar penuh kemenangan. Kapan lagi bisa mengejek bos sekaku kanebo kering itu. Dia akhirnya bisa menikmati video berdurasi dua puluh menit itu tanpa gangguan dari CEOnya. Tapi sudah barang tentu dia tidak bisa menonton sekarang juga. Lebih baik mengirim video itu ke ponselnya sendiri sebelum Bara merebut kembali ponselnya.
"By the way, dimana wanita itu sekarang? Jangan bilang dia masih ada di apartmentku??" tanya Harris.
"Dia baru saja naik pesawat untuk kembali ke Jakarta." Bara menjawab dengan ekspresi datar.
"Bersihkan apartmentku.. Aku gak mau ada jejak bekas kalian berdua.. Iiishh..." Harris membuat ekspresi bergidik geli.
"Tenang saja.. sudah Clear!"
"Sure?"
"Sure."
...----------------...
Keara berdiri bersandar di meja mini bar dekat dapur. Menunggu Harris yang masih mengantar kedua tamunya sampai di depan pintu kamaar hotel. Wajahnya terlihat serius dengan mendekap kedua tangannya di dada.
Harris menoleh pada istrinya setelah ia menutup pintu. Dua orang anak buahnya yang paling setia itu baru saja meninggalkan kamar hotelnya. Harris sudah bersiap ingin melanjutkan lagi sesi bercocok tanam yang sudah menjadi candunya. Tapi urung ia lakukan melihat raut wajah datar sang istri.
"Sayang....."
Harris membuka lengannya demi mengurai atmosfer tegang yang dipancarkan istrinya. Benar saja. Keara langsung menghadang Harris dengan tangannya.
"Sayang ada apa?" tanya Harris bingung.
"Mas, kayaknya kita perlu meluruskan sesuatu." ketus Keara.
"A-pa?"
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih