
Tante Martha langsung menarik kursi dan duduk di antara Harris dan Keara yang duduk berhadapan. Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik meja. Dia bersikap lemah lembut dan elegan. Persis tampilan ibu mertua kejam di sinetron indosair.
Keara hanya diam. Ia mengamati sikap dingin Harris yang seolah tidak senang, tapi juga tidak menolak kedatangan wanita yang mengaku sebagai tantenya ini. Ia tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran lelakinya itu.
"Harris, apa kamu sudah tau? Om Aldo, suami tante, sudah meninggal dunia setahun yang lalu.." Tante Martha berpura mengusap ujung matanya, entah di mana letak air mata itu, Keara tidak melihat setetes pun.
Harris pun bergeming dan tetap terlihat dingin.
"Sebelum meninggal, dia sudah menyesali perbuatannya dulu kepadamu.. Kami sangat merasa bersalah, Harris... Huhuu.. Kami berusaha mencari keberadaanmu, tapi sangat sulit. Sampai akhirnya ada berita di tv beberapa hari lalu, tante jadi tau harus mencarimu kemana..."
"Tapi sudah terlambat, Harris.. Om Aldo sudah meninggal, bahkan sebelum dia sempat mengucapkan permintaan maafnya kepadamu"
Tante Martha meraih jemari Harris. "Tolong maafkan lah om Aldo, Harris.. Maafkan Tante juga.. Kamu pasti tau dulu tante tidak punya kuasa apa-apa untuk menolong kamu.. Tante tidak diijinkan oleh Om-mu.. Tante tidak sekejam yang kamu pikirkan, Harris..."
Harris menarik jemarinya dari genggaman Tante Martha. "Sudahlah, Tante.. Sudah kumaafkan. Jangan membuat keributan di sini. Kami sedang makan malam.."
Tante Martha mengusap air mata yang akhirnya terlihat luruh ke pipi. "Ya, sayang.. maafkan tante.. Sudah mengganggu makan malam kalian.."
Kini pandangan Tante Martha beralih kepada Keara. "Si cantik ini pasti pacar kamu yaa..?"
Keara mengangguk sopan pada Tante Marths, kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan tante Martha.
"Saya Keara, tante.."
"Dia calon istriku..." sambar Harris.
"Oh yaa.. cantik sekali.. Kapan kalian akan menikah?"
"Tanggal 25 ini.." sahut Harris lagi. Jemarinya menyentuh punggung tangan Keara. Dengan matanya ia mengisyaratkan agar Keara melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Keara mengangguk sambil tersenyum lembut pada Harris.
"Mas Harris juga." lirih Keara berbisik pada Harris.
Harris pun mengangguk dan tersenyum.
"Sudah dekat pernikahan kalian.. Tante senang sekali, itu artinya Tante bisa datang ke acara pernikahan kamu. Menyaksikan langsung putra mas Fariz menikah.. Itu akan sangat membahagiakan." lanjut tante Martha.
"Ehm.. Tante diijinkan datang ke pernikahan kalian kan.."
Harris hanya mnejawab dengan anggukan kepala.
"Terima kasih, sayang.. Terima kasih.." Tante Martha kembali berjongkok dan memeluk leher Harris.
"Tante, lepaskan." sergah Harris.
"Baiklah.. Keponakan tante ini bukan bocah kecil lagi. Tentu sudah malu dipeluk-peluk wanita tua seperti Tante.." Tante Martha terkekeh sendiri.
"Harris, tante janji akan membuktikan kepadamu kalau tante sudah berubah, sayang... Tante tidak ada maksud menyakitimu.."
Keara meminta ijin untuk pergi ke toilet setelah menghabiskan makanannya.
"Mau kuantar?" tanya Harris.
"Gak perlu, mas..." Keara tersenyum menenangkan. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet.
Sepeninggal Keara, Tante Martha bercerita banyak hal yang tidak menarik menurut Harris. Tentang bagaimana ia yang dulu seorang model, tentang kehidupannya sebagai mantan model, mengenal banyak wanita cantik di luar sana.
Harris memang tidak tau banyak tentang Tante Martha. Ia juga tidak tertarik untuk mencari tau. Tapi ucapan Tante Martha selanjutnya membuatnya naik darah.
"Tante lihat calon istri kamu itu tidak seimbang denganmu, Harris.. Tante bisa lihat dia gadis dari kalangan biasa. Dia tidak akan bisa mengimbangi kamu.."
Harris membuka mulutnya hendak menyangkal, tapi Tante Martha lebih cepat menyambar.
"Nah, kalau si Keara.. Tante lihat dia kurang elegan dan masih seperti anak-anak."
"Kalau kamu mau, Tante banyak punya kenalan putri pengusaha yang cantik-cantik. Mereka juga berpendidikan dan pergaulannya luas.. Model-model cantik juga ada.. tante punya banyak kandidat untuk kamu Harris..."
Harris tersenyum sinis.
"Tante bukannya mau mengusik rencana pernikahan kalian.. Tante hanya ingin memberi gambaran tentang kehidupan pernikahan kepadamu. Kamu bisa berkenalan dengan cewek-cewek yang tadi tante sebutkan meskipun setelah menikah nanti.."
"Heh! Pantas saja kalau om Aldo dulu menikah lagi.."
Tante Martha tertawa mendengar ucapan Harris. "Kamu juga tau soal itu? Tante memakluminya Harris, laki-laki itu tidak pernah puas hanya dengan satu wanita.. Tapi lihat kan, sampai akhir hayatnya, om kamu itu tetap bersama tante..."
"Tapi aku tidak sama dengan suami tante." ketus Harris.
"Nanti kamu rasakan sendiri setelah menikah, sayang.. Jangan terlalu dalam mencintai satu wanita saja.. Nanti kamu akan merasakan penderitaan seperti yang papa kamu rasakan.."
Harris menatap nyalang pada Tante Martha. Dia sampai memukul meja dan membuat suara gaduh dengan pukulannya itu.
"Maaf, sayang.. Maaf.. Bukan maksud tante mengungkit luka lama... Tante hanyaa..."
"Saya tegaskan, saya tidak tertarik dengan tawaran tante!! Lebih baik tante diam atau pergi dari sini..."
"Iya, sayang.. Maafkan tante. Tante gak bermaksud...."
Keara yang melihat dari kejauhan ketegangan di wajah Harris seketika berjalan dengan cepat mendekati meja Harris. Dia memegang lengan kekasihnya itu dengan lembut dan menatap dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kita pergi sayang.. Tante Martha juga sudah mau pulang."
Keara hanya sempat mengangguk untuk berpamitan dengan tante Martha. Karena Harris sudah menarik tangannya untuk segera keluar dari restoran tersebut.
...----------------...
Tante Martha membanting pintu mobil. Kemudian duduk di bangku samping pengemudi.
"Breng*sek!! Bocah kecil itu berani membantakku di depan umum." umpatnya. Seorang lelaki di balik kemudi terkekeh dengan nada mengejek.
"Dia sudah akan menikah.. Aku terlambat rupanya.. Kita harus mengubah rencana kita.."
"Memangnya kenapa?" tanya lelaki itu.
"Harris terlihat bodoh seperti papanya. Dia sangat tergila-gila dengan wanita rendahan itu. Persis seperti papanya yang menikahi gadis miskin dan mati karena patah hati. Hah!! Bodoh sekali... Pantas saja anaknya juga sama bodohnya."
"Hahahahaa..." lelaki itu terbahak-bahak.
"Lalu apa rencana tante sekarang?" tanyanya pada Martha.
"Pakai plan B." jawab Martha dengan seringai licik. "Biarkan saja mereka menikah. Setelah menikah, kita lihat.. Apa Harris akan hancur seperti papanya dulu?"
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih