Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Kalah Telak


"M-maksudnya anak saya kembar, dok?" tanya Keara. Suaranya bergetar antara menahan tangis haru dan juga perasaan tidak percaya bahwa saat ini ada dua makhluk mungil sedang hidup di dalam rahimnya.


"Iya, nona.. Selamat untuk kalian berdua." tutur Dokter Kalila lembut. Ia berjalan hendak kembali duduk di kursinya.


Seketika netra Keara dipenuhi bulir bening ya sudah siap melesak luruh ke pipi. "Maass..." lirihnya, ia sangat bahagia saat ini. Saking bahagianya sampai sulit ia menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan isi hatinya. Keara menatap suaminya mencari rasa yang sama pada lelakinya itu.


Harris membantunya bangun dari pembaringannya. Sampai Keara duduk di tepi brangkar, alih-alih membantu untuk turun, Harris justru memeluk wanitanya sangat erat. "Terima kasih sayang.. Terima kasih.. Kamu memberiku kebahagiaan yang tak terkira."


Mereka berpelukan hanya sekian detik saja hanya untuk menyalurkan kebahagiaan yang dirasa. Tidak sabar ingin segera pulang agar lebih leluasa melanjutkan kontak fisik yang memanjakan pasangannya.


Harris dan Keara duduk kembali di kursi di hadapan dokter Kalila. Dokter itu menunggu pasiennya dengan sangat sabar.


"Ini saya tuliskan resep vitamin untuk janin dan ibunya. Jangan lupa diminum tiga kali sehari setelah makan." ujar dokter seraya menunduk menuliskan resep di kertas kecil lalu mengangsurkannya pada Keara.


Keara mengangguk sopan dengan menerima resep itu. Ia sudah bersiap berdiri dengan merapikan isi tasnya. Memasukkan lagi testpack yang tadi ia berikan pada dokter Kalila. Ia akan jadikan kenang-kenangan dan akan menyimpannya dengan rapi.


Harris yang merasa ada yang berkecamuk dalam benaknya memilih diam saja tak bergerak dari posisi duduknya. Ia sedang menimbang-nimbang perlukah pikirannya itu dishare pada dokter Kalila atau tidak.


"Dokter, maaf ada yang perlu saya tanyakan," ujar Harris menghentikan gerakan Keara. Dokter Kalila pun memusatkan perhatiannya pada pria tampan calon ayah si kembar itu.


"Apa kami masih bisa berhubungan suami istri?" tanyanya berterus terang. Ia anggap penting agar tidak sembarangan lagi menggagahi istrinya. Tapi juga tidak siap dengan jawabannya. Karena kalau tidak boleh, itu artinya dia harus membenamkan gairahnya yang sudah berfantasi akan bercinta dengan Keara sepulang dari rumah sakit.


"Lebih baik jangan dulu ya, Tuan.."


Harris membulatkan matanya, sedangkan Keara terkekeh pelan seraya mengusap lembut lengan atas suaminya. Ia paham betul otak mesum suaminya itu akan meronta-ronta kalau tidak diijinkan bercocok tanam sebentar saja.


"Karena sudah pernah kram perut, lebih baik dijaga dulu sampai kuat kandungannya. Setelah tiga hari kalau tidak ada keluhan lagi, boleh melakukan hubungan suami istri, tapi dengan pelan dan lembut yaa.."


Dokter Kalila tersenyum ramah. Dengan sabar ia menjawab semua pertanyaan yang diajukan Harris. Tentang pantangan makan atau sikap selama masa kehamilan. Tentang apa saja yang dilarang untuk dilakukan dan apa yang dianjurkan, serta pertanyaan sebagai seorang awam yang lainnya. Setelah itu, sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu meninggalkan ruangan dokter dengan senyum bahagia menghias wajah keduanya.


Mulai dari mengantri obat sampai sekarang mereka duduk manis di bangku belakang mobil yang dikendarai Pak Diman, Harris dan Keara tidak melepaskan pelukan satu sama lain. Mereka menempel lekat seolah telah diolesi lem super di permukaan kulit keduanya.


Keara pun semakin nyaman saja menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia berdalih kalau itu adalah keinginan kedua bayinya. Tentu saja itu hanya akal-akalan Keara saja. faktanya, mana bisa janin yang ukurannya masih sebesar buah cherry itu sudah memiliki keinginan.


Harris tidak keberatan sama sekali dengan sikap manja istrinya. Malah sangat bahagia dan bersyukur tiada henti. Sedangkan pak Diman yang sedari awal menyaksikan keromantisan majikannya itu hanya tersenyum samar karena tidak ingin tuannya salah paham.


"Mas aku bahagiiiaaa banget.. Banget. Banget. Bangeeett " ujar Keara seraya semakin merapatkan tautan jemarinya di balik punggung mas Harris.


Harris tidak berkata apapun. Tapi dekapannya semakin erat dan bibirnya terus menciumi puncak kepala wanitanya. Pun ketika mobil mewah yang ditumpanginya sudah masuk ke pelataran kediamannya, Harris turun dari mobil dan menggendong istrinya ala bridal style.


Direbahkan raga mungil istrinya di atas ranjang berukuran king size. Harris mengusap permukaan perut Keara dan menciumi wajah cantik itu bertubi-tubi.


"Baik-baik ya, sayang.. Kamu sedang menjaga kehidupan anak-anak kita di dalam sini. Doakan aku terus supaya bisa jadi suami yang baik buat kamu dan papa yang bisa memberi teladan buat mereka.." tutur Harris lembut.


Keara menangkup kedua belah pipi Harris dan membelainya penuh kasih sayang. Senyumannya tak pernah pudar menghiasi wajah cantik yang semakin berseri itu. "Aamiin.. Mas Harris lelaki terbaik dari Allah buat kami. Buatku. Dan anak-anak kita."


"Mas Harris gak ke kantor?" tanya Keara ketika ciuman panjang itu terjeda.


"Enggak sayang, aku males. Begini saja sangat nyaman." Harris kembali melu*mat bibir Keara. Tapi kali ini lebih aktif lagi karena tangannya juga turut bekerja memberi sentuhan lembut di dada Keara. Dan satu tangan lagi mencoba mengurai blouse warna salem dan celana pendek putih yang dikenakan Keara.


Pijatan lembut tanpa kobaran nafsu itu, hanya luapan cinta dari seorang Harris yang disalurkan melalui bibir, lidah, dan jemarinya. Tapi berhasil membuat Keara mengeluarkan suara-suara merdu dari bibirnya yang mulai sedikit membengkak itu memenuhi kamar.


"Eeughh.. Sa-yang.."


"Yes, sweetheart call my name.." balas Harris atas lenguhan nikmat istrinya saat lidahnya menyambangi puncak bukit kenyal itu.


"Sayaang.. Punyamu bangun." cicit Keara. Paha mulusnya yang sudah polos tanpa kain penutup itu terselip di antara kedua kaki Harris. Sehingga ia bisa merasakan dengan jelas kalau alat tempur suaminya itu sudah membesar meski masih mengenakan pakaian lengkap. Berbeda dengan Keara yang hampir telan*jang. Wanita itu kini hanya memakai kain tipis segitiga yang menutupi area sensitifnya.


"Biarkan saja sayang.. Dia memang tidak bisa diajak kerja sama." ucap Harris dengan suara serak pertanda sedang menahan gejolak gairaah. "Aku hanya ingin menikmatimu saja sayangku.."


Harris memang tidak berniat merangsang adik kecil yang berotot di pangkal pahanya itu. Dia hanya ingin menciumi istri tercintanya itu sebagai tanda bahwa dia sangat berbahagia. Tapi apa daya, tubuh molek Keara seolah melambai-lambai ingin dijamah lebih dalam dan dalam lagi. Hingga jadilah tubuhnya memanas dan menegang sempurna sekarang.


"Sayang.. ingat kata dokter Kalila, jangan bercinta dulu. Kasian anak-anak kita.." tutur Keara lembut, begitu ia berhasil menangkup wajah Harris yang tadinya asik tenggelam di pangkal pahanya.


"Iya sayang.. Aku ngerti kok." Harris mengecup singkat bibir wanitanya. Wajahnya memerah menahan has*rat. Tangannya kembali terulur mere*mas dan memainkan aset kembar Keara.


"Sayang, aku punya firasat yang kurang baik.." ucap Harris.


"Firasat apa?"


"Aku tidak akan bisa menikmati buah kenyal ini lagi setelah anak-anak kita lahir. Mereka akan menguasaimu, sayangku.."


"Hahahahaa.. Masa mau rebutan sama anak sendiri.."


"Makanya aku mau puas-puasin sekarang sayang.. Sebelum aku kalah telak dari bocah-bocah kecil ini."


Keara mencubit gemas pipi Harris. Kemudian keduanya kembalii saling melu*mat dan menye*sap bibir.


"Hmm.. Puas-puasin, sayang.. I'm yours." Gumam Keara di sela serangan bibir Harris.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih