
Keara duduk di atas motornya yang masih distandart samping. Sambil menscroll sosial medianya demi membunuh waktu. Entah apa yang hendak dibicarakan oleh Mas Juna, Keara tidak ambil pusing. Palingan juga ngomongin jadwal kerja.
Sudah lima belas menit berlalu dan Juna belum juga muncul di tempat parkir. Keara sudah bosan. Ingin cepat-cepat pulang rasanya. Lelah juga seharian kafe penuh dan ramai. Dia bahkan tidak sempat menghabiskan makan siangnya tadi.
Keara memutuskan untuk menelepon Juna. "Mas Juna, Masih lama gak nih?"
"Sabar K.. Lima menit lagi yaa. Maaf yaa.. masih ada revisi laporan bentaar aja." jawab Juna di seberang sana.
"Ya udah aku udah nunggu di parkiran nih.. cepetan.."
"Iyaa.. Iyaa..."
Keara menutup teleponnya. Memilih bersabar menunggu Juna lebih lama lagi. Toh Juna selama ini selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Keara selalu dibebaskan memilih masuk kerja di shift apa, bebas mau libur kapan saja, dan pekerjaannya juga kerap dibantu Juna sehari-harinya. Walaupun Keara tidak pernah meminta semua perlakuan istimewa itu, tapi kalau sudah diberi ya diterima saja kan..?
Keara kembali mengutak-atik telepon pintarnya demi menghilangkan bosan. Teman-teman satu shiftnya sudah pulang semua. Tinggalah dia sendiri menunggu di parkiran motor.
Sampai terdengar satu suara memanggil yang cukup mengejutkannya.
"K..."
Keara menoleh. "Nico.."
Nico berjalan mendekat sambil melambaikan tangannya. "Ngapain kamu disini? jadi juru parkir sekarang?" Nico nyengir menggoda Keara.
"Ngasal aja kalo ngomong.." seloroh Keara.
"Mau pulang kan? Aku antar yuk.."
"No, thanks.." jawab Keara cepat.
"Come on K.. Just as friend." bujuk Nico.
"Aku masih ada urusan. Ini lagi di sini tuh mau nunggu temen.." Keara celingukan, tapi bayang Juna tak kunjung terlihat.
"Mana? Kamu jangan ngeles deh.. Paling alasan doang nunggu temen. Ayolaah aku antar pulang.. Aku janji cuma antar pulang doang. Gak macem-macem.."
"Gak Mau!!" Jawab Keara ketus. "Ih kok maksa sih.."
"Iya, oke.. Oke.." Nico mengangkat dua tangannya ke atas tanda menyerah. "Baiklah kalau kamu gak mau aku anterin pulang. Tapi kalau kita ngobrol-ngobrol di taman bisa kan, K.."
"Gak Bisa! Udah dibilangin aku lagi nunggu temen.. Gak ngerti-ngerti juga. Heran." jawab Keara dengan wajah lesu. Berharap Nico menyerah dan pergi.
Tapi bukan Nico namanya kalau ia cepat menyerah. Nico tidak beranjak sedikitpun. Dia justru terus tersenyum seraya memandangi Keara dari tempatnya berdiri.
"Aku mau berterima kasih sama kamu, K.. Sejak mendengarkan nasehatmu itu, hidupku serasa berubah.."
"Yaa.. Alhamdulillah kalau berubah lebih baik.." sahut Keara sekenanya saja.
"Iya, K.. Alhamdulillah. Aku sekarang bener-bener pengen ngebuktiin ke papa Felix (mertua) kalau aku pantas ada di posisi ini. Dia tidak salah memberi aku jabatan ini."
Keara mengangguk-angguk pelan. "Emm.. Ya gitu dong.. baru jempolan.." ia mengacungkan dua jempol ke muka Nico. Nico nyengir saja melihat Keara bersikap ceria lagi padanya. Gak ketus lagi seperti tadi.
"Dimanapun kita berada, harus pinter menempatkan diri. Kalau kita bisa menghargai orang lain, orang juga akan menghargai kita.."
"Yaah.. Aku akuin sifat sok tua dan sok tau kamu bener-bener work diterapin dalam rumitnya hidupku.." Nico terkekeh.
"Halah.. Itu kamunya aja yang lemah iman. Hidup banyak harta dibilang rumit. Ntar kalau dikasih keterbatasan ekonomi, apa gak meledak tuh kepala..?" cibir Keara. Belum pernah merasakan hidup bergelimang harta membuatnya tidak bisa memahami jalan pikiran orang-orang yang mengaku stress saat saldo rekeningnya sembilan bahkan sepuluh digit. Karena saat kecil dia sudah terbiasa hidup pas-pasan kalau tak mau disebut kekurangan.
"Iya, iyaa, Suhu..! Aku percaya kamu memang yang terbaik dalam memahami aku.." Nico membuka lengannya dan bergerak seakan akan memeluk Keara.
"Ehh.. Mau ngapain?? Mau dibogem?!" sungut Keara. Nico hanya terkekeh. Dia juga hanya ingin menggoda Keara sebenarnya, tidak bermaksud akan benar-benar memeluk gadis itu. Dia juga tau adab.
"Nico! Ngapain kamu disini??"
"Mayra.." ujar Nico dan Keara bersamaan.
Sedangkan Mayra dengan wajah tanpa ekspresi seolah tidak menganggap Keara ada. Sorot matanya tajam menghujam ke arah suaminya. Menuntut jawab atas tanya yang ia lontarkan.
Hari ini ia memang sengaja mengikuti Nico. Ketika NiCo bilang akan pulang terlambat karena ada meeting. Mayra punya feeling kuat. Suaminya sedang membohonginya. Beberapa minggu ini sikap sang suami berubah menjadi lebih lembut. Bekerja lebih giat. Dan alasan-alasan itu membuat Mayra yakin kalau ada hal yang sedang ditutupi.
Tadi dia mengikuti Nico. Memantau dari kejauhan. Dan melihat bagaimana suaminya itu bersenda gurau dengan mantan pacarnya. Hatinya perih teriris.
"Sayang, jangan salah paham. Aku bertemu Keara hanya untuk berterima kasih.." kilah Nico
"Berterima kasih untuk apa?" selidik Mayra. Dia tidak melihat sesuatu yang menjadi landasan untuk ungkapan terima kasih.
"Aku jelasin di rumah. Ayo pulang.." Nico meraih jemari istrinya, tapi ditepis dengan segera.
Mayra menatap Keara. Ekspresi wajahnya terlihat sekali dia sedang memendam amarah. Tapi Keara tetap tenang dan tidak terpancing.
"Hai Ra.." balas Keara tenang.
"Gak nyangka ya pertemuan pertama kita setelah bertahun-tahun ternyata begini.."
Keara berdehem,"Ehheemm.. iyaa."
Mayra menarik nafas berat demi meredam kekesalannya. "Setauku sejak dulu kamu selalu bersikap dewasa dan berharga diri tinggi. Terus ini apa?"
"Emangnya ini apa?" Keara balas bertanya. Ia mengerti arah pembicaraan Mayra. Ia hanya merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi saat ini. Ia merasa tidak bersalah atas apapun yang membuat Mayra marah.
"Kamu ketemuan sama suami orang. Masih merasa sesuci dewi?!"
"Gak ada yang merasa sesuci dewi. Kamu tanya aja deh sama suami kamu . Ngapain dia tetiba nongol di sini..?"
"Aku tau, dulu memang aku salah. Sudah menghianati kamu.."
"Ehmm.. Bagus kalau kamu tau." Keara mengangguk-angguk sambil menyeringai sinis.
"Tapi apapun yang terjadi di masa lalu, kenyataannya sekarang dia suamiku. Gak pantes kan kamu ketemuan sama dia?!" Nada suara Mayra mulai meninggi.
"Ra.. Jangan bikin keributan. Bisa kujelaskan di rumah. Ayo lah.." Nico memohon, tapi Mayra terus menolak disentuh oleh suaminya.
"Dengar ya kalian berdua.. Suami istri yang terhormat, Jangan pernah datang lagi menemuiku! Kamu," Keara menunjuk ke arah Mayra. "minta penjelasan dulu dong sama suami kamu, jangan asal nuduh orang. Ini tempat kerjaku, dan dia yang datang sendiri untuk menemuiku. Terus? Orang lain yang kamu salahin? Suami kamu masih kamu bela dan puja-puja??"
"Dan buat kamu," kali ini ia menunjuk Nico. "Sudah berapa kali aku bilang jangan temuin aku. Kamu pikir kamu siapa? Sampai aku harus seneng ketemu sama kamu.. Kalau ada masalah curhat sama istri kamu dong. Dan stop jadi cowok breng sek. Inget anak."
Mayra menyeringai. "Aku udah ngikutin dia dari tadi. Kalau memang ini tempat kerjamu, ngapain kamu diam disini? Kalau bukan sedang menunggu Nico datang?"
"Cuiiiihh.. Ngapain juga nunggu nih orang datang? Kamu pikir suamimu ini Le Min Ho apa?? Kalau ada cewek nunggu di parkiran itu artinya nungguin suamimu datang? Gak banget sih jalan pikiran? Iiihshhh..
"Hahh.. Ngelesnya tetep sok suci ya kamu.." balas Mayra.
"Please Ra.. Jangan bikin malu." Bujuk Nico tapi malah berbuah dampratan dari istrinya.
"Gak ada yang sok suci di sini. Aku emang nungguin temanku. Tapi bukan suamimu!"
"Terus siapa?" tantang Mayra.
"Saya." suara Dari arah belakang Keara membuat Keara berjingkat. Ia tidak hanya kaget karena mengenali suara itu, tapi karena ada dua orang bersamaan yang mengatakan 'saya'
'Mas Juna dan Mas Harris?! Hah?? Gimana Gimana?'. Keara dibuat melongo oleh dua lelaki yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Harris dan Juna pun saling melirik. Menandakan mereka tidak menyukai satu sama lain. Padahal baru pertama kali bertemu.
Sedangkan Mayra dan Nico dibuat bengong dan tak bisa berkata-kata lagi.
Harris bergerak cepat mendekati Keara. "Maaf sudah membuatmu menunggu dan mengalami kesalah pahaman yang tidak mengenakkan begini." Harris mengusap puncak kepala Keara dengan lembut. Sementara Keara masih mematung, tak percaya pada apa yang terjadi.
"Ayo kita pergi sekarang.." ajak Harris. Tatapan matanya seolah memberi isyarat agar Keara menurut dan mengikutinya. Sehingga Keara refleks menganggukan kepala.
"Dan Anda? Tolong jangan pernah lagi kaitkan Keara dengan rumah tangga anda. Kalaupun ada yang bertindak di luar batas, itu adalah suami anda sendiri. Jangan salahkan orang lain." Ujar Harris pada Mayra.
Harris menggandeng tangan Keara untuk segera menyingkir dari area parkir tempat kejadian perkara. Keara menurut dan mengikuti langkah kaki Harris yang lebar, sehingga ia harus setengah berlari.
Sedangkan Juna, sedang merutuki dirinya dalam hati. Ia kesal setengah mati karena sudah kalah start dengan orang yang tak pernah ia tau sebelumnya. 'Sialll !'. Sudah gagal rencananya nyatain cinta pada Keara. Gadis itu sekarang malah sudah pergi entah kemana dengan seorang lelaki pula..
Juna.. oh Juna... Salah sendiri gak sat set. Jadi kalah set kan..?
•
•
•
*Visual Mas Juna*
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih