Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Memantapkan Hati


Keara bergelung di bawah selimut. Sampai hampir tengah malam matanya tak kunjung bisa terpejam. Hatinya sedang bergejolak tak karuan. Ia bahagia dan senang atas semua perlakuan Harris kepadanya.


Dipandanginya lagi dan lagi cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Mengingat lagi ucapan-ucapan tulus mas Harris. Ia bahkan menyuruh Keara memakai terus cincin berlian itu.


"Secara syariat aku sudah melamar kamu. Meskipun secara teknis masih belum. Tapi kamu sudah kuwajibkan pakai cincin ini terus, K.. Jangan dilepas barang sebentar. Aku mau semua laki-laki yang melihatmu tau kalau kamu sudah ada yang punya." Keara tersenyum tiap kali ingat ucapan Harris di toko berlian tadi.


Kini perasaannya sudah lebih lega. Sejauh ini orang-orang di sekitar Harris selalu memberi petunjuk bahwa Harris orang yang baik dan bertanggung jawab. Semua orang meyakinkan Keara bahwa Harris berhak mendapatkan kebahagiaan. Bersama dengan orang yang dicintai oleh lelaki itu, dan yang mencintainya dengan tulus.


Tadi ketika Harris sedang tidur, Keara turun ke bawah. Bertemu dan berbincang santai di taman bersama Bu Siti, art di rumah Harris, Pak Jon si tukang kebun, dan Pak Diman driver kepercayaan Harris. Tidak satupun dari mereka yang mengeluhkan perangai buruk tuannya. Semua orang tulus menghormati dan menyayangi tuannya.


Sampai tiba sore hari ketika Aswin datang. Keara yang menerima kedatangan Aswin di ruang tamu.


"Gilak.. Loyalitas mas Aswin nih juarak banget." ledek Keara. "Disuruh jadi mata-mata mau.. Disuruh antar dokumen hari minggu gini mau juga. Takut dipecat ya mas..? Hehee.."


"Boss Harris mah gak mungkin mecat saya mbak.. Sudah kadung klik sama saya. Hehehee.."


"Hahahaa.. Oh ya? Enak dong mas.. Jaminan kebal hukum." Mereka pun tergelak bersama.


Entah bagaimana awal mulanya sampai mengalir sebuah cerita keterkaitan mereka di masa lalu. Cerita yang diungkap Aswin dengan sejujur-jujurnya.


"Aku dan Tiara adalah kakak beradik. Orang tua kami meninggal karena kecelakaan. Sehingga kami dirawat di panti asuhan karena tidak punya saudara dan kerabat lain yang mau merawat kami. Saat dulu usiaku masih sepuluh tahun, dan Tiara delapan tahun, di panti asuhan kami kedatangan satu anggota baru bernama Harris Risjad. Anak-anak panti yang lain selalu merundungnya, memukulinya, dan juga menjauhinya. Tidak seorang pun yang mau berteman dengannya. Termasuk aku dan adikku. Semua anak mengatainya psikopat, pembunuh, mantan napi, dan banyak kata-kata jahat lainnya yang diucapkan oleh anak-anak."


"Aku sangat menyesal dulu tidak menyapanya sama sekali. Bahkan hanya sekedar menyapa. Kami terlalu takut. Sampai setahun kemudian Pak Harris memilih kabur dari pantu asuhan yang tidak melindunginya sedikitpun. Ia hidup di jalanan. Bersekolah mengandalkan beasiswa dari kecerdasan otaknya. Sampai suatu hari ia bertemu dengan mas Rizky dan mengajaknya tinggal di rumah mas Rizky, disitulah awal perubahan hidup pak Harris jadi lebih baik."


"Setelah pulang dari kuliah di luar negeri dan memulai usaha, Pak Harris datang mencariku dan Tiara. Juga Bara, preman kepercayaan Pak Harris. Mbak Keara ingat? Salah satu preman yang ikut bersama Pak Harris menangkap Junaidi yang menyekap mbak Keara.. Dia adalah Bara. Berasal dari panti asuhan yang sama dengan kami. Anak yang sama sepertiku, yang dulu menjauhi Pak Harris."


Keara saat itu hanya mengangguk pelan. Tatapannya sudah berubah nanar. Membayangkan seorang anak kecil berjuang begitu keras agar bisa tetap hidup, tanpa perlindungan orang tua dan orang dewasa lainnya. Bahkan seberat-beratnya hidup Keara yang terbatas secara materi, masih bisa ia syukuri dengan keberadaan Ibu dan kakaknya.


Terbit rasa iba pada sosok lelaki yang selama ini ia anggap dingin dan kaku. Mulai sedikit memahami kisah yang melatar belakangi sifatnya itu. Pun Keara mulai merasa kagum. Bahwa sosok lelaki dingin itu ternyata memiliki hati yang baik dan tulus. Tidak mendendam dan egois. Keara memilih untuk membuka hati demi lelaki baik hati itu. Harris Risjad.


...----------------...


🌹 Rumah Rizky


Hari ini Keara memutuskan untuk lebih dulu pergi ke rumah bu Farida. Mendahulukan berbicara dengan mantan calon mertuanya itu dibandingkan dengan belanja barang-barang seserahan. Bu Farida, Seorang wanita paruh baya yang sangat berjasa bagi perkembangan mental seorang Harris. Keara sangat bersyukur, mendapati kenyataan masa lalu kelam lelaki itu berakhir dengan pertemuan Harris dan Rizky sekeluarga.


Bu Farida adalah seorang ibu yang berhati seluas samudra. Mendidik dengan baik putra putrinya meski tanpa gelimang harta. Bahkan hati seluas samudra itu pula yang rela merawat dan menyayangi seorang anak yang tidak ia ketahui asal usulnya.


"Minum es teh manisnya dulu, K..." ujar Bu Farida seraya menyimpan segelas besar es teh manis yang tampaknya sangat menggiurkan.


"Makasih, Bu.." sahut Keara dengan tersenyum dan mengangguk sopan.


"Ibu tau kenapa Keara datang kesini..." goda Bu Farida dengan kerlingan yang membuat Keara langsung tersipu malu.


Sejujurnya Keara malu dan merasa sungkan. Bagaimanapun, Keara pernah hampir menikah dengan putra bu Farida ini. Meskipun takdir yang berkehendak membuyarkan rencana sakral itu, tapi saat ini Keara justru kembali mendatangi bu Farida untuk membicarakan perihal pernikahannya dengan Harris Risjad, sahabat Rizky dan anak angkat yang pernah dirawat oleh Bu Farida.


Keara menahan bulir bening yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya. Menahan agar tidak sampai luruh dan menangis.


"Harris tidak sekejam yang terlihat. Ia sangat mudah merasa iba pada orang lain. Pahamilah sifat kerasnya nanti dia akan berubah semakin lembut pada kamu, K.. Karena sejatinya dia memang orang baik dan lembut. Tapi keadaan yang membuatnya jadi keras dan dingin. Untuk bertahan hidup."


Keara mengangguk saja. Ia sudah mulai memahami Harris. Sudah mulai merasakan perubahan sikapnya yang menghangat tiap kali bersama.


"Sekarang rencananya Keara kapan siap menikah?" tanya Bu Farida.


"Setelah K wisuda, Bu.. Sekitar tiga bulan lagi."


"Bagus. Semakin cepat semakin baik.."


"Tapi apa tidak apa-apa Bu.. ehmm.. k-kalau K menikah dengan mas Harris sebelum genap satu tahun kepergian Mas Rizky?" ragu Keara melontar tanya.


"Ya tidak apa-apa sayang.." Sahut Bu Farida seraya terkekeh.


"Kamu kan belum menikah dengan Rizky, jadi tidak perlu menunggu masa iddah. Hehehehe.."


"Lagipula, apa Keara lupa, hubungan kamu dan Harris ini juga sesuatu yang diinginkan oleh Rizky. Jadi Rizky pasti bahagia di atas sana."


Bu Farida mengusap punggung Keara. Saling memberi dan mencari ketegaran. Mengingat mendiang Rizky memang seperti sedang mengulik luka yang tak pernah kering. Sakitnya masih ada walau keikhlasan sudah mengobati.


"Kalau menurut ibu, tidak perlu ada prosesi lamaran lagi. Kalau tiga sampai empat bulan lagi kalian menikah, sebaiknya langsung saja akad nikah.."


"Ehmm iya Bu.. Ibu Keara juga mengusulkan begitu.. Tapi Keara belum bilang sama mas Harris.."


"Hahaha.. Ya begitulah ibu-ibu, K... Maunya yang praktis praktis aja.. Hahaa.."


"Kecuali kalau kamu nikahnya masih setaun dua tahun lagi. Boleh lah sekarang tunangan dulu.. Tapi kalau tiga bulan lagi mah langsung tancap gass aja.. Biar cepet sah dan berproduksi. Hahahaa.." lagi-lagi ucapan Bu Farida membuat Keara tersipu malu.


Sepulang dari rumah mas Rizky, Keara jadi semakin yakin dengan pilihannya. Mengobrol dengan bu Farida selalu memberi kesan mendalam bagi Keara. Sarat petuah bijak. Sarat makna. Dan menenangkan.


Keara kini lebih mantap memilih langkah yang terarah bersama lelaki yang telah meminangnya di depan ibu dan kakaknya.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih