Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Pillow Talk


🌹 Rumah Keara


"Kalau kamu keberatan, Mas gak apa-apa K.. Mas Arman gak akan maksa kamu. Perasaan kamu yang utama buat mas Arman." ucap Arman menenangkan Keara.


---


Keara diam cukup lama. Ia tenggelam dalam pikirnya sendiri. Merasa tak adil jika karena dirinya, mas Arman dan Mbak Mery tak bisa bersama. Keara melirik ke arah Merry. Wanita itu tertunduk dengan tatapan sendu dan senyum tipis yang terulas samar.


Keara mencubit pinggang Mas Arman sampai pria itu meringis kesakitan. "Ngomong gak pake filter nih cowok.. Kok bisa gak ada daya dan upaya buat perjuangin wanitanya sih.."


"Habis kamu mikirnya lama sih.. Mas pikir kamu....."


"Ya sabar laah.. Minta restu kok gak sabaran banget." seloroh Keara.


Arman dan Merry tertawa kecil. Seraya berpandangan dengan perasaan harap-harap cemas.


"Emm.. emangnya Mbak Merry yakin sama Mas Arman? Udah tau pasti gimana Mas Arman? Mas Arman ini gak sebagus bentukannya loh Mbak..?"


"Hehee.. kamu itu bisa aja K.." Merry terkekeh. Berbeda dengan Arman yang melotot dan bersiap menjewer telinga Keara.


"Keara setuju kok Mas Arman sama Mbak Merry jadian.. InsyaAllah Keara menerima dengan lapang dada." ujar Keara melegakan. Arman dan Merry tersenyum dan saling berpandangan.


"Mungkin Keara masih berat saja untuk bertemu lagi dengan Mayra. Tapi bukan berarti Keara tidak bisa melupakan masalah yang sudah berlalu."


"Iya K.. Mbak Merry paham. Pasti berat buat kamu ketemu lagi sama Nico dan Mayra. Mbak Merry juga gak akan membenarkan kelakuan mereka.. Kalau mbak Merry jadi kamu, Mbak yakin gak akan sesabar kamu ngadepin masalah seperti ini.." Merry kembali memegang jemari Keara.


"Makasih yaa untuk kelapangan hati kamu, K.. Mbak Merry berterima kasih banget."


"It's okey mbak.. Santuy. Hehehee.."


"Udah nih? Tadi aku ditahan gak boleh mandi cuma mau ngomong ini aja kan?"


Mas Arman dan mbak Merry kompak mengangguk.


"Ya udah aku mau mandi dulu nih sekarang. Gerah." Keara bangkit dan berjalan hendak masuk ke dalam rumah.


Sebelum masuk ke dalam kamar, Keara menyembulkan lagi kepalanya, "Mbak Merry yakin mau sama mas Arman? Bau Kentutnya naudzubillah.. beracun banget loh.."


"Astaghfirullah KEARA !! KURANG AJAR BANGET JADI ADEK !!!" pekik Arman seraya melempar sebuah pisang ke arah adiknya itu. Tapi meleset. Keara sudah melesat secepat kilat masuk ke dalam kamar sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaa " Merry pun tergelak. "Lucu banget sih adik kamu ituh.."


Wajah Arman bersemu merah. "Lucu apaan... Ngeselin gitu."


"Hehehee.. lucu banget tauk.. Kamu tuh yang terlalu serius." Merry masih juga terkekeh. Melihat wajah Arman yang menahan malu begitu membuat hatinya bersorak gembira. Arman memang bukan cinta pertamanya. Tapi yang sejauh ia ingat, Arman satu-satunya lelaki kalem yang mampu meluluh lantakkan hati dan dunianya.


"Biar kentut kamu beracun, aku tetap cinta."


Uhukk.. Uhukkk.. Pertama kali digombalin, langsung deh keselek..


"Apaan sih kamu.. Ikutan gak jelas kayak Keara.." sahut Arman berpura marah tapi tak bisa menyembunyikan degup jantungnya yang bertalu-talu.


...----------------...


🌹 Rumah Nico


Malam ini, Ara dan Mayra melanjutkan makan malamnya tanpa kehadiran Nico. Sudah pukul 20.00 , tapi sang kepala keluarga belum juga tampak batang hidungnya.


Mayra memendam sesak di dadanya. Kepolosan putrinya mengungkap satu hal yang coba disembunyikan oleh suaminya, membuat hatinya menciut. Entah harus marah atau menangis, hati dan logikanya seakan tak berjalan berkesinambungan.


Dua jam kemudian Mayra berhasil menidurkan putrinya. Ia pun menunggu Nico sambil terkantuk-kantuk di ruang tamu.


Mayra menyambut suaminya di depan pintu. Mengambil tas laptop yang dijinjing sang suami, dan mengulurkan tangan untuk salim. Tak ada satu katapun ia lontarkan. Takut kalau memancing kemarahan Nico.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Nico merebahkan diri di ranjang.


"Kamu sudah makan?" Mayra bertanya.


"Sudah."


Mayra pun turut merebahkan raganya di ranjang. Lalu berbaring miring membelakangi suaminya.


Nico yang merasakan sikap dingin istrinya, mendekatkan tubuhnya. "Kamu kenapa?"


"Gak apa apa.."


"Marah aku pulangnya malam?"


'Bukan perkara lemburmu, Nic.. Itu karena sekarang aku mengerti, tentang perubahan sikapmu beberapa minggu ini. Aku tau kamu sudah bertemu lagi dengan cinta pertamamu. Bahkan kamu sudah berani mengajak putri kita berkenalan dengannya. Ini menyakitkan Nico.. Aku ingin menangis dan berteriak. Tapi aku takut semakin membuatmu menjauh dariku.' monolog Mayra dalam hati.


Mayra hanya menggeleng. Tapi kini dia merubah posisi tubuhnya menjadi telentang. Ia pun bisa melihat wajah tampan sang suami.


"Aku cuma takut kamu kecapekan, jadi aku gak mau ganggu kamu.." Mayra berkilah. Demi keharmonisan keluarga, batinnya.


"Aku minta maaf ya.. Pekerjaanku banyak banget. Aku mau selesaiin, biar sekali-sekali aku gak buat Kak Merry marah." Nico nyengir. Mayra pun dapat melihat kejujuran terpancar dari netra sang suami.


"Kak Merry marahin kamu lagi?"


"Belum. Makanya jangan sampe marah lagi.. " kilah Nico. Semenjak obrolannya dengan Keara beberapa waktu lalu, dia memang berusaha memperbaiki kinerjanya. Tak ingin berlarut -larut menjadi beban mertua.


Mayra hanya mengangguk pelan.


"Oh iyaa.. Tadi Ara ngomongin kaka Kela nya lagi tuh. Emang setelah dari rumah sakit, Ara pernah ketemu lagi sama si Kaka Kela itu?"


Nico sedikit terkejut. Ia berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya itu. Namun nyatanya, istrinya yang seorang pengacara tentu bisa menangkap perubahan ekspresi Nico sekecil apapun. Hati Mayra terasa pedih bagai teriris belati. Suaminya terbukti telah merahasiakan hal besar darinya.


"Oh, aku sih gak tau, sayang.. Emm.. mungkin Ara ketemu di mana lagi gitu. Aku juga gak tau."


kilah Nico.


'Maaf, Mayra. Aku tidak bermaksud merahasiakannya. Aku hanya tidak mau kamu berpikir yang bukan-bukan. Aku pun mengakui, aku belum siap kalau aku tidak bisa lagi bertemu dengan Keara kalau Mayra sampai tau. Setiap kali bertemu Keara, aku merasa tenang. Apapun permasalahannya, seakan menguap tak berbekas. Keara juga selalu mampu menyadarkanku dengan kelugasannya.' batin Nico dalam hati.


Nico begitu tersentil dengan ucapan Keara, yang memintanya memikirkan perasaan Mayra. Selama ini dia terlalu egois. Terlalu berpusat pada perasaannya sendiri. Tidak menimbang sedikitpun tentang perasaan istrinya. Wanita yang telah menjadi ibu dari putrinya ini, tidak diterima dengan layak oleh keluarganya. Menyakitkan.


Sedangkan Nico? Ia terlalu banyak mengeluh. Ingin bebas dari segala tuntutan keluarga Mayra. Tapi masih menikmati semua fasilitas yang diberikan mertuanya. Bukankah itu sangat memalukan.


Semua rasa menyakitkan ini hanya karena keserakahannya di masa lalu. Ia yang menginginkan lebih hingga mengkhianati Keara, berbuah penderitaan tak berkesudahan.


Dan membuatnya kehilangan cinta tulus dari wanita yang ia cintai. Keara Assyifa.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih