Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Fakta 1


🌹 Rumah sakit


Sedikit demi sedikit Keara membuka matanya. Pandangannya yang buram perlahan berangsur lebih jelas. Ruangan asing yang pertama kali muncul dalam penglihatannya, mengembalikan ingatannya ketika berada di kontrakan Juna.


Dalam alam bawah sadarnya, Keara merasa bahwa ia harus segera bangkit dan melarikan diri. Ia menarik kuat kesadarannya. Raganya berjingkat sampai terduduk. Dan nafasnya tercekat.


"Haahh!!" pekiknya. Ia menarik nafas kuat-kuat. Nyatanya, raganya yang lemas membuatnya tidak bisa bergerak cepat. Ketakutan seketika membumbung dan menghimpit dadanya.


Sebuah sentuhan yang mendarat di bahunya membuat Keara ketakutan setengah mati. Spontan ia menjerit histeris. Dan menggerakkan tangannya demi menyingkirkan tangan yang menempel di bahunya.


"Aaaaaaa..!! Lepas. Lepaskaaaann..!"


"K, tenang K.. Ini aku.. Ini aku, Harris!"


Keara lamat-lamat membuka matanya. Ia mengenali suara berat itu. Suara yang menenangkannya. Ia menoleh dan menengadah. Menatap wajah Harris, kemudian menubruk dada lelaki itu dan menyamankan dirinya di sana. Rasa aman seketika menyelimuti.


Sepertinya ia tadi sempat pingsan atau tertidur, sampai tidak sadar sudah berada di rumah sakit.


"Kamu aman sekarang, K.. Semuanya sudah berakhir. Hm? Jangan takut." Harris memeluk Keara erat. Tangannya membelai rambut panjang Keara. Dalam pelukannya, ia bisa merasakan kalau Keara mengangguk.


"Terima kasih mas.. Terima kasih sudah datang dan nolongin aku."


"Enggak, K. Aku yang seharusnya minta maaf. Kalau aku datang sedikit saja lebih cepat, kamu tidak akan sampai babak belur begini.."


"Enggak.. Aku gak apa apa mas.." lirih Keara.


Tangan Keara semakin mengeratkan pelukan itu. Membuat Harris berdebar makin tak terkendali. Untuk pertama kalinya ia merasa dibutuhkan dan diandalkan oleh seseorang. Terlebih oleh orang yang ia sayangi. Betapa membahagiakannya perasaan itu.


Dengan sangat berhati-hati Harris menyentuh pipi wanita itu. Mengusapnya dengan lembut. Dengan melewatkan bagian yang terluka pastinya. Wajah cantik kesayangannya tersakiti. Sungguh membuat Harris geram bukan main.


Kalau saja saat itu Keara tidak menghentikannya, ingin sekali ia menghabisi lelaki itu. Pemabuk gila yang sudah merenggut nyawa sahabatnya. Dan kini berani memukul wajah cantik gadis pengisi hatinya.


Berurusan dengan orang yang sedang tidak waras karena pengaruh minuman keras memang bukan jadi pengalaman pertama untuk Harris. Dulu. Dulu sekali. Saat raganya belum sekuat saat ini, dia hanya jadi penonton aksi brutal papanya yang pemabuk. Bahkan sesekali dialah yang menjadi sasarannya.


Harris kecil tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk membela diri. Bahkan untuk menyelamatkan Mama yang amat ia sayangi. Dia hanya memasang tubuhnya menghalangi pukulan yang akan disarangkan di tubuh sang ibu. Hingga murka papa justru beralih menghajar raga kecil yang tak berdosa.


Berbeda dengan saat ini. Dia punya kekuatan. Dia punya kekuasaan dan uang yang berlimpah. Tidak sulit baginya membalas Juna, orang gila yang sudah lancang menyakiti gadisnya. Si pemabuk yang menyebabkan sahabatnya meninggal dunia.


"Istirahatlah K.. Ini sudah malam."


Harris merebahkan tubuh Keara. Membelai rambutnya, menyibakkan anak rambut yang menutupi kening dan pipi Keara. Menarik selimut sampai menutupi dadanya.


"Tidurlah.. Jangan pikirkan apa-apa. Semua sudah baik-baik saja." ujar Harris seraya mengusap puncak kepala Keara.


Keara tidak melepas pandangannya sedikitpun dari Harris. Ia melihat setiap detail sikap lembut dan perhatian Harris kepadanya. Mata merah dan sembab bekas menangis Harris pun tak luput dari pengamatannya.


'Bagaimana bisa lelaki lembut dan sendu ini seketika berubah menjadi monster saat marah?Apa yang terjadi saat ini dengan mas Juna? Apa preman-preman anak buah mas Harris sudah membunuhnya? Ah, gak mungkin mas Harris sekejam itu. Enggak.. Enggak.. Gak mungkin..." Keara terus bermonolog dalam hati. Tatapannya tidak lepas sedikitpun dari sosok Harris.


'Lalu... Haruskah aku bertanya tentang ayah mas Harris? Apa itu sopan? Aku bahkan tidak tau rasa sakit apa yang membingkainya.. Hingga lelaki ini terlihat sangat kesepian dan menderita dalam kesendiriannya. Tapi aku sangat penasaran.. Browsing. Yaps, aku harus browsing. Eh tapii.. pakai Hp siapa? Hapeku sudah dihancurin sama si kampret itu.'


Harris duduk di bangku samping ranjang Keara. Dia menggenggam jemari lentik dan mungil gadis itu. Keara yang terus menutup mulutnya, tapi melihatnya lekat-lekat membuat Harris menunduk. Menatap jemarinya sendiri yang masih asik memainkan jemari Keara.


"Tidurlah.. Jangan memelototiku terus seperti itu. Aku takut kamu kesurupan."


Keara mengibaskan tangannya sampai jemari Harris terlepas darinya. "Kita lagi di rumah sakit. Mas Harris nih ngomong-ngomong kesurupan.. Kalau beneran ada setan lewat gimana??" Keara mendelik kesal.


Harris terkekeh. Gadis cerewetnya telah kembali. Memang lebih baik dicerewetin begini, daripada Keara diam saja sambil terus melihatnya. Itu semakin membuatnya salah tingkah dan berdebar gak karuan.


Keara mendecih sebal. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum sambil mengerjap penuh tipu daya. "Satu pertanyaan saja, boleh?" tanyanya penuh harap.


"Besok saja. Sekarang tidur dulu."


"Satuuu aja.. Hm? Please..." pinta Keara dengan memelas.


Harris sungguh tidak siap jika Keara mempertanyakan perihal ayahnya yang sempat disebutkan oleh Juna tadi. Tapi wajah memelas Keara membuatnya tidak tega. Ia juga tidak ingin selamanya merahasiakan masa lalunya dari Keara. Dia tidak ingin Keara salah paham tentangnya dan masa lalunya.


"Satu. Hanya satu." jawab Harris tegas.


"Oke." Keara tersenyum penuh kemenangan.


"Ehmmm.. Kenapa mas Harris nyuruh orang buat nyelidikin mas Juna?"


Dari sekian banyak tanya yang memenuhi otaknya, Keara hanya memilih satu yang ia kira bisa mewakili sebagian besar rasa penasarannya.


"Aku tidak menyelidiki Juna." Harris tertunduk. Menggamit jemari Keara dan memainkannya lagi dengan lembut.


"Aku.. mencari tau tentang... Pengemudi mobil mabuk yang menyebabkan Rizky meninggal dunia." Harris menjeda kalimatnya. Menunggu reaksi Keara merespon ucapannya.


Keara sangat terkejut. Ia sampai mengangkat kepalanya dan berusaha ingin duduk. Harris membantunya menaikkan sandaran ranjang agar Keara bisa duduk bersandar dengan nyaman. Setelahnya ia duduk di tepi ranjang Keara. Dan kembali meraih jemari gadis itu.


"Junalah yang malam itu mengendarai mobil sambil mabuk. Jalannya oleng dan membuat Rizky membanting stir ke kiri sampai menabrak pembatas jalan. Yang berujung kematian." lanjut Harris.


Keara tidak menjawab. Tapi air matanya sudah menganak sungai. Wajah pilu gadis itu membuat Harris tidak kuasa menatapnya. Harris menunduk semakin dalam.


"Setelah cerita kamu tentang Juna tempo hari, aku memang menyuruh orang lain untuk mencari tau tentang Juna. Dan dua informanku itu bertemu di satu titik jawab yang sama. Juna. "


"Dia bersembunyi dengan menyewa kontrakan kecil dan bekerja di kafe. Dia juga menjual mobilnya dan menyuap orang-orang berkuasa agar cctv yang ada di jalan raya tidak sampai bocor dan dijadikan bukti di kepolisian."


"Itu artinya mas Juna bisa dihukum atas kesalahannya kan??"


"Bisa. Karena aku berhasil mendapat salinan cctv itu. Tapi, hukumannya tidak akan berat. Karena mobil Juna tidak sampai menabrak Rizky. Juna hanya akan dihukum karena kelalaian mengemudi sambil mabuk, sampai menimbulkan korban jiwa. Ditambah lagi, hukuman karena sudah menyekap dan menganiaya kamu."


Harris mengusap lembut jemari Keara. "Aku janji dia tidak akan lolos begitu saja. Dia akan mendapat hukuman setimpal."


Keara menangis tergugu. Ia tidak menyangka orang yang menjadi penyebab kepiluannya berada sangat dekat dengannya. Keara bahkan begitu mempercayai lelaki itu sangat baik dan sopan. Ia merasa sangat dikhianati tanpa ada hubungan apapun.


"Mas Juna ternyata jahat banget.. Huhuuhuu" ucapnya sambil terus terisak.


"Dia memukuli kamu sampai begini, kamu baru tau dia jahat?? Kemana sih logikamu, K? Sebelum tau fakta ini, kamu masih percaya kalau dia baik dan kalem? Gitu??" Harris tertawa sinis. Ia kesal dengan pernyataan 'Juna ternyata jahat'.


'Dari tadi dia sudah dipukuli sampai bonyok, baru sekarang dia sadar kalau Juna breng*sek. Menyebalkan.' geram Harris dalam hati.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih