Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Time to Say Goodbye


Harris POV


Aku menghirup udara sejuk sore hari di taman yang ditumbuhi pepohonan rindang. Sinar senja yang menerpa membuat kehangatan kian terasa. Aku memejamkan mata menikmati teduhnya temaram senja di taman yang menyimpan banyak cerita kami berdua.


Kugenggam jemari lentik yang menjadi favoritku sejak pertama kali aku bisa menggenggamnya. Seolah tak ingin terlepas, aku menyatukannya dengan jemariku seraya menggiringnya berjalan mengitari taman.


Sampai kami menemukan sebuah bangku yang menjadi saksi pertemuan pertama kami. Kami tertawa sejenak sebelum memutuskan untuk duduk dan beristirahat di bangku itu. Menertawakan masa lalu yang pada akhirnya mempersatukan kami sampai hari ini dengan penuh cinta.


Aku merangkul bahunya, sedangkan wanita ini dengan manjanya meelesakkan raga mungilnya dalam dekapanku. Melingkarkan kedua lengannya di pinggangku. Hingga aku bisa mencium aroma wangi surainya. Membelainya. Dan menghadiahi kecupan kecupan kecil di puncak kepalanya.


"Mas Harris mau kesini bukannya nostalgia.. Tapi mau ngledek aku kan..?" selorohnya. Karena sejak pertama kami menginjakkan kaki disini, kami terus menertawakan hal yang sama. Menertawakan keluguannya yang selalu menangis saat pacarnya berselingkuh. Kemudian tangisan dan kesedihannya itu dengan cepat menguap diterpa udara dinginnya malam setiap kali aku memberikan es krim coklat favoritnya. Aneh kan..?


"Engga.. Ngapain juga ngledek kamu..? Aku justru mensyukuri keberadaan mantanmu yang breng sek itu. Berkat dia, aku jadi bertemu denganmu di sini. Meskipun sebagai wujud gadis SMA yang berantakan dengan air mata dan ingus yang mbeleber kemana-mana."


"Iiiihh.. Sayang.. Kamu tuh!! Ngeselin. Mana ada ingusku mbeleber...? Ini jatuhnya udah fitnah. Fitnah keji!" sengitnya kocak. Aku tergelak senang.


Aku menggenggam erat jemarinya. Mencurahkan segenap perasaanku setulus-tulusnya kepada wanitaku. Mengatakan padanya bahwa aku sangat bersyukur memilikinya. Klasik memang. Tapi begitulah yang kurasakan.


Berawal dari sepuluh tahun silam pertama kali aku bertemu dengannya. Menyukainya dan tak pernah berhenti memikirkannya. Sampai pada saat Rizky mengenalkan aku pada kekasihnya, aku memilih mundur dan menyerah. Bagiku, Rizky adalah penyelamatku dari lembah hitam masa laluku. Tak ada satu hal pun yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikannya. Jadi, kupikir, merelakan gadis yang belum kumiliki ini, -bahkan yang saat itu belum kukenal- tak akan sulit.


Saat itu, bayangan masa depan masih kelabu. Bahkan keinginan untuk tetap melajang selalu menguasai diri. Tidak ada seorang perempuan pun yang bisa membuatku tertarik. Hanya dia seorang. Satu-satunya gadis yang mendiami hatiku. Kekasih sahabatku. Calon istri sahabatku.


Tapi Tuhan begitu luar biasa menuliskan ceritaku. Meski tidak sedikitpun terbersit menginginkan hal buruk terjadi, tapi Tuhan lebih menyayangi Rizky. Rizky pergi untuk selama-lamanya. Tak ada yang tau betapa dalam lukaku atas kepergiannya.


Kenyataan lain menusuk hatiku. Sahabatku itu menitipkan sebuah wasiat untuk aku dan kekasihnya saling mengenal, akrab, dan saling menjaga. Agar kami tak kesepian. Agar aku tak lagi sebatang kara. Hingga pada akhirnya, setelah melewati banyak hari, minggu, dan bulan, -setelah aku mengenalnya lebih dalam-, aku tak lagi kuasa menahan diri untuk tidak berharap lebih. Aku ingin memilikinya. Menjadikannya pasangan halalku. Mempersuntingnya dengan kalimat ijab qobul yang akan mengikat hati kami seumur hidup. Ya, selama itulah aku menginginkannya. Seumur hidupku.


Aku lagi-lagi mengucapkan terima kasih, pada istriku, belahan jiwaku, sigaraning nyawaku, karena begitu sabar menghadapiku. Menemaniku. Menerima segala kekurangan dan sifat burukku. Tak ada yang lebih berarti daripada seseorang yang senantiasa menerima kita apa adanya. Benar kan?


Tak ada yang mulus dalam setiap jalan. Rintangan dan hambatan akan senantiasa datang silih berganti. Selalu saja ada masalah kecil, perdebatan, perbedaan pikiran di antara kami. Tapi selama aku bersamanya, tak ada yang sulit. Tak ada yang berat.


Semoga bahagia ini berlangsung selamanya.


Se la ma nya.


...****************...


Keara POV


Aku kembali ke taman ini lagi. Setelah dulu sepuluh atau sembilan tahun silam aku menjadikan taman ini tempat melampiaskan kepedihanku. Pedih yang kupendam tak berani kuungkap di depan ibu dan mas Arman, kuluapkan dengan menangis sepuasnya di taman ini.


Sekarang aku kembali ke sini. Tapi kali ini bukan untuk menangis. Melainkan untuk mensyukuri hidupku yang berlimpahan kebahagiaan. Suami yang kucintai dan sangat mencintaiku, anak-anak yang sehat dan ceria, kehidupan yang berkecukupan, keluarga yang saling menyayangi satu sama lain.


Lelaki tampan di sisiku ini. Yang dulu sangat tidak kusukai karena sikapnya yang dingin dan sombong. Sebongkah gunung es yang bernyawa. Ternyata hanya memasang benteng demi kebahagiaan sahabatnya, mas Rizky. Hanya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya mencintaiku. Menutupi masa lalu kelamnya dan tak ingin terlihat lemah. Ah, so sweet... Too sweet!!


Lelaki yang sebenar-benarnya sangat hangat. Perhatian melebihi apapun. Sabar menghadapi sikapku yang seringkali kekanakan. Suami siaga dan ayah yang luar biasa.


Dia kembali menggenggam jemariku. Memainkannya sambil sesekali mengecupnya.


"Terima kasih, telah menjadikanku seperti ini. Lelaki dengan masa lalu kelam, sebatang kara, tak ada motivasi hidup. Menjadi lelaki bahagia, gendut karena makanannya terjamin, manja karena kamu selalu menyiapkan segala sesuatu untukku. Bahkan sepatuku disimpan dimana saja, aku tak tau. Aku yakin, aku bisa tersesat di rumahku sendiri kalau kamu tidak ada, sayang.." dia terkekeh.


Aku hanya tersenyum simpul dengan netra berkaca-kaca.


"Aku bahkan egois. Selalu ingin menjadi prioritasmu yang utama. Bahkan di atas anak-anak kita. Tak jarang aku cemburu pada mereka. Aku kekanak-kanakkan ya sayang?"


"Terima kasih ssudah mengentaskan aku dari belenggu kesepian yang kukira akan kualami seumur hidup. Berdua denganmu saja sudah membuat duniaku penuh warna. Sekarang ditambah tiga anak yang pintar, ganteng dan cantik, juga satu lagi yang masih berada di dalam rahimmu. Duniaku makin ramai. Tak ada lagi kamus kesepian dalam hidupku. Aku bersyukur, sayang.. Sangat."


Tapi ucapan berikutnya menjadi hal yang tak lagi membuatku terkejut.


"Kita ke hotel yuk sayang.. Aku udah gak tahan lagi."


Ku tergelak.


Dia memang Harris Risjad. Suami Keara.


Setiap deep conversation yang menjurus romantis, selalu diakhiri dengan ajakan bercinta dengan suara seraknya khas menahan gejolak yang hendak meledak.


"Anak-anak gimana? Nanti mereka nyariin..." kilahku.


"Kan ada ibuk dan mama yang nginep di rumah kita. Cuman semalam aja please... Besok pagi suruh pak Diman buat nganterin anak-anak ke hotel. Lalu kita bisa liburan bersama. Gimana?" tanyanya dengan alis terangkat-angkat menggodaku.


"Your wish are my command, hubby.." jawabku seraya mengerling padanya. Membuatnya dengan cepat menyambar tanganku dan menggandengku berlari ke mobil. Aku tergelak senang dibuatnya. Sangat senang.


...****************...


.


.


Author POV


Halo Readers yang pada baik-baik semuaa!! 🥰👋


Terima kasih semua yang sudah baca sampai sini. Terharu, seneng, gak nyangkaaa banget masih ada yang bersedia baca sampe abis. Padahal sempat hiatus lama bangeeett.


Karena kesibukan di real life, cerita mas Harris dan Keara sempat terbengkalai sangat lama . Hampir setaun kayaknya ya kaan..? Udah kelar sibuknya, eh malah ilang mood nulisnya. Berasa ga ngerti mau nulis apa, mau ngelanjutin yang gimana. Saking lamanya hiatus, sampe lupa karakter pemainnya. Jadi jempol juga kagok mau ngetik apa..


Sampai suatu hari iseng-iseng baca cerita ini dari bab satu. Eh keterusan seharian baca sampe bab terakhir yang di up. Gak taunya jatuh cinta sama karakter Harris. Kepengenan lanjutin ceritanya biar ga gantung langsung menggebu gebu.


Kasian mas Harris kalo digantungin.. Cinta banget aku tuuh sama si mamas..... 😅😅


Akhirnya lanjut nulis lagi dan kelarin sampe tamat. Itupun masih sering tersendat-sendat, lama up, dll.


Intinya, buanyaaak banget kekurangan di karya ini. Banyak plothole yang bikin cerita agak kosong di bab-bab setelah Harris-Keara nikah. But, so far.. I'm proud of my self. Hihihii.. Bisa kelarin cerita meskipun dengan keriweuhan ngurus satu toddler dan satu newborn di kehidupan nyataah.


Gak gantung lagi deh cintaku buat mas Harris... Heleeehh.. 😂😌


Sekarang, bisa fokus lanjutin judul cerita yang atunya.. Itupun semoga moodnya gak ilang-ilangan lagiii 🙈


Akhir kata, terima kasih banyak.. Sebanyak-banyaknya.. Buat yang masih antusias membaca cerita ini. Ini hanya karya fiksi, karangan penulis ibu-ibu rumtang gabut, hiburan di kala butuh bacaan ringan dan menyenangkan. Tidak ada edukasi di dalamnya. Semoga meninggalkan kesan menyenangkan di hati setelah membaca cerita ini.🤗


Tetap sehat dan bahagia kita semua...


It's time to say good bye 👋


Happy weekend semuanyaaaah..


See you on the next story 🥰