Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Shoping Time


Sore di hari berikutnya Keara pergi ke mall. Membeli barang-barang seserahan ditemani Ocha. Sahabat karibnya sejak SMA.


Terhitung sudah tiga kali Ocha menemani Keara membeli keperluan persiapan lamaran ataupun pernikahan. Yang pertama lamarannya dengan Nico empat tahun lalu, yang berujung perpisahan karena Nico lebih dulu menghamili Mayra. Kedua, acara lamaran Keara dengan mas Rizky. Yang juga harus kandas karena kehendak takdir. Dan yang ketiga saat ini dengan Harris Risjad.


"Malu banget sebenernya ngajakin kamu lagii.." ujar Keara ketika dia dan Ocha sudah sampai di ATM center di dalam sebuah mall. Keara hendak mengambil uang transferan dari Harris untuk belanja beberapa keperluannya.


"Halaah.. Kayak sama siapa aja. Bukannya aku keberatan ya K.. Aku seneng banget kok bisa bantu-bantu di hari spesial sahabatku, tapi aku berharap ini yang terakhir yaa, K.." sahut Ocha bijak. Sahabat somplaknya itu kadang memang terdengar dewasa. Tapi kadang-kadang saja. Keseringan somplaknya..


"Aku juga berharap gitu, Cha..."


"Semoga mas Harris itu jodoh kamu K.. Suami Untuk Keara. Langgeng sampai maut yang memisahkan."


"Aamiin.. Aamiin Allahuma Aamiin.."


"Udah cuz gih ambil transferan dari calon suami.. Abis itu kita lets go shoping-shopiiing..." kali ini semangat kembali berkobar di wajah Ocha. Membayangkan berkeliling mall, berbelanja perintilan cewek, berkuliner ria bersama sahabat. Ini baru namanya quality time. It's a girl's time out.


"Iya.. Iya.. Sabar.."


Dan detik berikutnya, kedua gadis itu sampai menganga dengan mata terbelalak. Begitu menatap layar mesin ATM yang tertera nominal saldo di rekening Keara.


"Gilakk, K.. Gilaak..!! Kamu kok gak pernah ngomong sih kalau punya saldo ratusan juta di rekening... Kan gue bisa ngutang.." Ocha dengan komuk ngiler dan melongo sejadi-jadinya.


"Duh, Cha.. Ini aku salah bawa kartu atm apa yaa..? Tapi ATM siapa lagii yang saldonya segini.. Aku sampai syok ngitung nolnya saldo aku nih.. Kayak mimpi tau gak sih.."


"Ya ampun K.. Jangan norak deh. Pasti mas Harris transfernya emang segini.. Calon suami kamu kan konglomerat."


"Duh K.. Ini sih bukan cuma buat beli seserahan, buat beli perumahan subsidi juga bisa langsung bayar cash niih.."


Keara masih tak bisa berkata apa-apa. Dia justru menarik kembali kartu ATM. Dan mengirimkan chat ke kontak dengan nama Gunung Es di ponselnya.


"Mas Harris transfer berapa kemarin? Gak salah nih? Kebanyakan ketik nol nih kayaknya.."


"Kalau duit segini sih bukan buat beli seserahan aja, segini bisa sekalian buat resepsi dan ngundang artis dangdut se gendang-gendangnya buat konser tiga hari tiga malem.."


"Gak boleh berlebihan tau Mas..."


"Udah lah K.. Dia gak mungkin jatuh melarat setelah kirim duit segini. Ini sih cuma ngambil sejumput dari gudang uangnya mas Harris.." sela Ocha. gadis itu rupanya melongok ikut membaca chat yang dikirimkan Keara pada Harris.


"Ya mana tau mas Harris salah transfer.. Kelebihan nol dua.."


"Ya gak mungkin lah K.. Aku berani taruhan.."


"Udah deh.. Ambil berapa dulu gitu.. Buat beli yang bisa dibeli hari ini." imbuh Ocha. Keara menurut saja. Mengeluarkan kartu atmnya lagi. Mengambil uang secukupnya saja. Dan langsung menjelajahi gerai demi gerai di mall itu. Memuaskan mata yang lapar hiburan berbelanja.


Tidak terasa sudah tiga jam mereka mengitari mall. Tentengan tas belanja juga bertambah satu per satu. Ternyata uang berperan penting pada kepuasan belanja. Adanya uang dalam jumlah mumpuni di rekening, berbanding lurus dengan kebahagiaan kaum hawa. Keara baru merasakan itu setelah hidup dua puluh empat tahun lamanya.


Keara bahkan sudah bisa mentraktir belanja Ocha. Sebagai ucapan terima kasih sudah menemaninya belanja.


Keara dan Ocha memungkasi sesi belanjanya


dengan menikmati makan malam di foodcourt mall. Keara memesan nasi goreng seafood dan Ocha ayam goreng tepung, favorit sejuta umat.


"Hai, K.. Hai Cha.." sapa sebuah suara dari dekat meja tempat Keara dan Ocha menunggu pesanan makanannya datang.


Mayra tersenyum kaku. Mendapati kedua sahabatnya di mall. Dengan tumpukan tas belanjaan di satu bangkunya, menandakan mereka telah menjarah banyak gerai di mall tersebut. Tertawa dan bersenda gurau tanpa peduli orang-orang di sekitar mereka.


Pemandangan yang tak sengaja ia lihat itu mengingatkannya pada waktu bertahun-tahun silam. Dimana seharusnya ada dia di antara Ocha dan Keara. Tertawa dengan perasaan senang tanpa berpura-pura. Sayangnya, persahabatan itu rusak karena ulahnya sendiri.


"Boleh aku bergabung sama kalian?" tanya Mayra. Dua mantan sahabatnya itu terlihat kikuk dan sangat kentara tidak menginginkan kehadirannya.


"Boleh." sahut Keara pada akhirnya. Ocha melirik Keara. Bertanya-tanya tentang alasan Keara mengijinkan Mayra bergabung bersama mereka. Keara bergeming. Tidak memberi jawaban atas rasa penasaran Ocha.


Mayra menarik satu kursi yang kosong tanpa kantong plastik belanjaan. Duduk dengan santai. Berusaha terlihat santai lebih tepatnya.


"Kalian habis belanja banyak kayaknya.." ucap Mayra basa-basi. Sebagai pembuka obrolan setelah bertahun-tahun putus komunikasi.


"Ya gitu deh..." sahut Ocha cuek. "Keara lagi dapat rejeki nomplok."


"Oh yaa..? Waah.. mau dong ikut juga belanja bareng.."


"Sorry kita udah mau pulang setelah makan." sahut Ocha lagi.


Keara lebih banyak diam. Karena memang tidak tau harus berkata apa.


"Ehmm.. Aku tau ini sudah sangat terlambat. Aku tetap ingin meminta maaf pada kalian. Aku ingin kita bisa berteman lagi seperti dulu." ujar Mayra sambil tertunduk dalam.


Keara dan Ocha kompak diam. Beberapa saat lamanya, tidak ada yang menjawab permintaan maaf Mayra. Hanya ada riuh gemuruh orang-orang yang ada di mall tersebut. Saling sahut menyahut mengatakan apapun.


"Aku sudah maafkan kamu." ucap Keara pada akhirnya.


"Tapi untuk kembali lagi seperti dulu, aku tidak yakin apa aku bisa."


"Asal kamu tau, K.. Aku dan Nico dalam proses perceraian. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam hati dan pikiran pria itu.."


"Itu bukan urusanku Ra.. Asal kamu tau, aku mau maafkan kamu demi hubungan mas Arman dan mbak Mery. Tolong jangan persulit hubungan mereka.."


"Iya.. Aku mengerti K. Aku tidak akan lagi mempersulit restu untuk mereka..." Mayra terlihat menyeka air mata yang luruh di pipinya.


"Tapi.. setelah tau perceraianku dan Nico, apa.. apa kamu tidak ingin membuka lagi pintu hatimu untuk Nico? Dia bahkan sudah punya rencana untuk mendekati kamu lagi.. Aku tau itu langsung dari kakak Nico."


"Iihh ngapain?? Keara sudah mau menikah, asal kamu tau..!" cibir Ocha. Menyambar secepat kilat. "Calon suaminya pengusaha sukses pula.. Nico mah ke laut aja.."


Keara terkekeh mendengar penuturan Ocha. Bagaimanapun, Keara juga ingin melepas dendam masa lalunya dengan memaafkan Mayra. Agar kehidupannya ke depan setelah menikah dengan mas Harris diliputi perasaan damai dan tenang. Tanpa dendam masa lalu yang belum tuntas.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


...----------------...