Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sahabat?


Cukup lama mobil Harris masih terparkir di halaman masjid, bahkan sampai adzan isya berkumandang. Harris memutuskan untuk masuk kembali ke dalam masjid untuk menunaikan sholat isya berjamaah.


Keara masih sesenggukan dan menunduk dalam. Ia malu karena merasa wajahnya sekarang pasti sudah belepotan karena baru saja menangis.


"Aku tinggal sholat isya dulu K.. Kamu mau di sini aja?" tanya Harris.


Keara mengangguk sambil terus tertunduk.


"Ga mau ikut sholat?"


"Di rumah aja.."


"Apa?" Harris mendekatkan wajahnya. Berpura- pura tidak mendengar gumaman Keara demi ingin melihat wajah tertunduk itu.


"Sholat di rumah aja.." Keara mengulangi jawabannya dengan terus menunduk.


"Apa sih? ga denger K..." goda Harris lagi. Tangannya ditangkupkan ke pipi Keara, berusaha mengangkat wajah gadis itu. "Jangan ngomong sambil nunduk makanya..."


"Iiihh.. Ngeselin. Mau sholat di rumah aja!!" pekik Keara. Wajahnya yang memerah sudah terangkat sempurna sekarang. Menatap Harris dengan tatapan kesal.


Sedangkan Harris tergelak. Kekesalan Keara dan wajah kemerahan gadis itu menjadi daya tarik yang mendebarkan jantungnya.


"Ya sudah.. Aku keluar dulu.. Tunggu di sini. Jangan kemana-mana, Oke?"


"Udah sana buruan.." Keara mendorong-dorong tubuh Harris. Kekesalannya yang mengundang tawa Harris, akhirnya turut memaksanya untuk ikut tertawa. Tapi ia tahan. Demi image.


'Betul K.. Harus jaim. Masa abis nangis, terus ngegas, terus ikutan ketawa sih.. Tahan dulu laah..'


"Iyaa.. Rapihin tuh muka kamu.. Masih cantik sih.. Cuman bengkak dan ingus dimana-mana." ujar Mas Harris sesaat sebelum menutup pintu mobil dan berjalan ke masjid.


''Huhh.. Mau aku sambit aja tuh gunung es.. Eh jangan ding.. Sayang, soalnya gunung esnya udah mulai mencair.. Hehe.." gumam Keara berbicara seorang diri, sambil melirik sinis ke arah Harris yang sudah berada di luar mobil.





Sesampainya di rumah Keara, Harris menghentikan laju mobilnya.


"Makasih Mas.. Sudah nganterin pulang."


"You're welcome."


Keara baru akan menyentuh handle pintu mobil, saat Harris menahan gerak Keara. "Tunggu K.."


"Hem?" tanya Keara.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Mau nanya ya nanya aja.. Dari tadi udah nyerocos panjang lebar, sekarang ngapain pake ijin segala?" sahut Keara, meng-copy paste ucapan Harris beberapa waktu lalu.


Harris tergelak. Keara jelas-jelas sedang membalas dendam padanya. Kalau saja yang melakukan hal ini adalah Aswin, asistennya, ia pasti sudah mendamprat Aswin habis-habisan. Tapi karena dia Keara, Harris bukannya kesal, dia justru teramat sangat gemas hingga ingin menerkam gadis mungil ini.


"Ehmm K.. kalau boleh tau, apa yang membuat kamu menangis sangat memilukan waktu itu?" Harris memberanikan diri untuk melontar tanya atas apa yang selama ini mengganjal di hatinya.


"Kalau tebakanku keliru, tentang penolakanmu untuk dekat denganku.. Bukankah itu berarti ada alasan lain?"


Keara mengangguk lemah. "Aku sedih aja.. Aku sebelumnya selalu merasa kepergian mas Rizky sangat mendadak. Tidak ada firasat apapun, dan tidak ada pesan terakhir. Dengan naifnya aku merasa mas Rizky seolah pergi tanpa pamit."


"Tapi setelah tau pesan terakhir yang diutarakan pada Mas Harris dan Ibu Farida, aku merasa bahkan sebelum pergi untuk selama-lamanya, mas Rizky masih peduli padaku.. Dan mengirimkan Mas Harris untuk berada di dekatku dan menemaniku."


Harris menunduk. Demi menyembunyikan bulir haru yang mendesak keluar dari netranya. Jaga image itu wajib. Apalagi di depan cewek cengeng yang gampang menangis ini. Lihat, ngomong segitu aja air matanya ada yang sudah luruh ke pipi. Menggemaskan.


"Jadi... Aku boleh menemuimu dan meneleponmu kapanpun aku mau?" tanya Harris.


"Boleh."


Harris mengambil ponsel yang ia acuhkan sejak bersama Keara tadi. Sekilas ia lihat banyak notifikasi panggilan tak terjawab. Tapi prioritasnya saat ini men-dial sebuah nomor ponsel yang tak pernah berani ia telepon selama ini.


"Itu nomerku. Simpan yaa. "


"Jadi mas Harris sudah tau nomerku? Sejak kapan?"


"Sejak lama." singkat Harris.


"Terus ga pernah nelepon? Buat pajangan doang?"


"Gak tau mau ngomong apa kalau telepon.."


"Huu.. Dasar gunung es.."


"Kenapa sih masih nyebut aku gunung es? Bagi kamu aku masih dingin ya?"


"Emm.. Khusus hari ini sudah lumayan meleleh sih esnya.." Sahut Keara dengan senyum manis menggoda. "Tapi aku sudah kebiasaan nyebut mas Harris gunung es..Lebih cocok dengan tampilan orangnya. Hehee.."


Harris mengerutkan kening. Merasa lucu dengan jalan pikiran gadis ini.


"Udah ah aku pamit masuk ke rumah dulu. Maaf yaa aku gak nawarin mas Harris buat masuk.. Aku pengen langsung rebahan.. Capek banget."


"Iya.. Iya.. Aku ngerti. Mandi dulu, biar ga bau asem. Daripada semprot parfum seliter.. Mending mandi.. lebih seger."


"Astaghfirullah.. Sekalinya banyak ngomong kenapa ngeselin banget sih ini manusia.." ujar Keara sambil mengelus dada.


Harris tertawa lepas. Seolah semua beban di pundaknya jatuh luruh ke tanah. Ringan.


Sebelum keluar Keara kembali berbalik badan lagi, menghadap Harris. "Kalau sudah sampai rumah, telepon aku ya mas.."


"Ehmm.. Aku mau mulai sekarang kita jadi teman baik yang bisa berbagi cerita apa saja. Bisa berbagi beban dan meringankan satu sama lain. Aku mau menggantikan posisi Mas Rizky sebagai sahabat baik Mas Harris. Ya.. Meskipun aku tidak sebaik dan sesabar Mas Risky.. Hehe.. Aku cerewet dan suka gak sabaran.."


Harris terdiam mematung. 'Sahabat? Apa dia hanya ingin menjadi sahabatku saja? Ah.. Memangnya apa yang aku harapkan? Bukankah Terlalu jauh kalau aku menginginkannya menjadi pasangan hidupku? sebagai satu-satunya wanitaku...? Mengisi ruangan kosong dan sepi di hatiku? Biarlah dulu hubungan kami mengalir mengikuti arus.. Bukankah kita tidak pernah tau apa rencana Allah?"


Keara menangkup pipi Harris. Membuat lelaki itu membelalak karena terkejut atas perlakuan manis Keara.


"Jangan kesepian lagi ya, Mas.. Mas Harris boleh hubungi aku kapan saja mas butuh teman. Kalau mas Harris sakit, capek, butuh teman curhat, ingat namaku. Keara." Keara terkekeh atas gaya lebay yang ia ciptakan sendiri.


"Aku ini anak baik kok.. Asal mas Harris gak rese dan ngatain aku kerempeng. Aku pasti bersikap baik dan maniis.."


"Hahahaa.. Iya, cereweeett.." Harris tidak tahan lagi untuk tidak meledakkan tawanya. Di dalam otaknya sudah meledak-ledak keinginan untuk menerkam Keara, tapi Harris masih sadar dan harus menahan diri. Gadis ini terlalu menggemaskan untuk dianggurin begitu saja. Mubazir.


'Tunggu tanggal mainnya, K.. '


...----------------...


Setelah Keara turun, Harris membuka ponselnya untuk mengecek notifikasi yang masuk. Yang.paling banyak adalah telepon dan chat dari Aswin dan juga sekretarisnya. Apalagi urusannya, kalau bukan masalah kerjaan.


Baru saja Harris hendak meletakkan ponselnya, namun panggilan masuk dari Aswin menghentikannya.


"Ada apa?" tanya Harris to the point.


"Bos, management Hanna Rosaline ingin membuat janji temu. Saya kasih schedule kapan kira-kira?"


Harris berpikir sejenak. Lantas menjawab dengan mantap. "Tolak. Saya tidak mau bertemu dengan siapapun dari management Hanna. Lalu, buatkan saya janji wawancara dengan redaksi media massa Young Enterpreneur. Katakan saya mau jadi pembicara di podcast media mereka."


"Siap, Bos.. Wah akhirnya setelah sekian lama mereka menghubungi kita, akhirnya Pak Harris mau masuk juga dalam podcast mereka. Mereka pasti menyambut hangat nih..."


Harris langsung mematikan ponselnya. Tanpa menimpali jawaban Aswin lagi. Dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah dengan segera. Ia sudah tidak sabar. Ingin sampai ke rumah, lalu menelepon Keara nanti.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih