
Keara melempar tubuhnya ke ranjang. Ia melanjutkan tangisannya dengan membenamkan kepala di bantal. Tak lupa ia melepas dan melempar asal gaun sia*lan yang menjadi biang pertengkarannya dengan Harris tadi.
Hatinya sangat sakit. Ia tidak pernah dimarahi Harris sedingin itu sebelumnya. Padahal ia merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Memang mulut si breng*sek David itu saja yang perlu disumpal. Menyebalkan.
Keara menutup dengan selimut tebal tubuhnya yang hanya memakai sepasang penutup area sensitif itu. Ia terlalu malas untuk bangkit dan mengambil baju ganti setelah melepaskan gaunnya tadi. Ia sudah mengantuk. Matanya ingin terpejam setelah lelah menangis.
Tapi memang dasar Keara. Ia akhir-akhir ini selalu susah tidur kalau tidak dipeluk oleh suaminya. Sudah sepuluh menit ia membolak balikkan raganya di ranjang karena tidak bisa tertidur nyenyak. Apalagi usus-usus di perutnya terus protes minta diisi. Ia sangat lapar. Tapi enggan untuk makan.
Jadilah Keara hanya memungut bantal yang biasa dipakai Harris. Permukaan kain di bantal yang masih menguarkan aroma maskulin suaminya itu ia peluk erat layaknya guling. Menggantikan pelukan suaminya yang sepertinya masih marah dan belum mau keluar dari ruang kerjanya. Perlahan, jiwanya pun melayang terbang ke alam mimpi.
Sedangkan Harris, ia mencoba berpikir dengan jernih. Memahami istrinya dan meredam egonya. Ia bersandar di kursi kerjanya. Menengadahkan wajahnya hingga bersitatap dengan langit-langit berwarna putih di atas kepalanya.
Harris mengusap wajahnya dengan kasar. Terbersit rasa bersalah dalam benaknya. Telah membuat wanitanya sampai menangis hebat seperti tadi. Bahkan dengan kejamnya dia membiarkan air mata dari netra cantik itu mengucur tanpa ia seka sedikitpun. Bagaimana bisa hatinya setega itu?
Rasa cemburu sepertinya sudah mengubahnya jadi orang yang kejam. Sesaat dadanya terasa sesak. Ia merasa telah menjadi manusia yang serupa dengan Alfariz Risjad. Almarhum papanya.
Jangan lupakan telinganya yang tuli karena tidak mau mendengar penjelasan yang diucapkan Keara. Pun matanya juga buta karena tidak melihat betapa wanitanya sangat bersedih karena perlakuan kasarnya. Tangannya sendiri pun sudah menyakiti secara fisik saat mencengkram kuat pinggang ramping istrinya itu.
Harris mengusap wajahnya kasar. Ia semakin frustasi. Bayangan Keara menangis tadi sangat lekat di pikirannya. Tidak mempan diusir dengan cara apapun. Ia sungguh tidak ingin menjadi jelmaan Alfariz Risjad. Ia tidak mau cemburu buta hingga menyakiti wanita tercintanya.
Usai mandi, ia mendekat ke arah ranjang. Mengamati istrinya yang tidur meringkuk sambil memeluk bantal miliknya. Tangan Harris terangkat untuk membelai rambut istrinya. Menyibakkan surai rambut yang menutupi wajah cantik Keara dengan sangat hati-hati agar tidak sampai membangunkan Keara.
Harris memutar tubuhnya ke sisi ranjang yang lain. Mengangkat selimut agar dirinya bisa ikut bergelung di ranjang. Tapi tangannya yang menjewer selimut seketika berhenti di udara. Susah payah ia menelan salivanya. Tenggorokannya tercekat menatap pemandangan indah di bawah selimut.
Harris masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Dimana wanita itu tidur tanpa memakai baju, hanya dalaman yang menutup area sensitifnya. Mengalirkan desiran yang memanaskan tubuh Harris.
Harris harus rela tidur tanpa bantal karena bantalnya dipakai jadi guling oleh Keara. Tubuhnya ia rapatkan dengan tubuh sang istri. Merangkul pinggang ramping Keara meski tubuh keduanya terhalang bantal. Ia menciumi pipi, pelipis, dan bibir Keara dengan singkat dan lembut. Tidak ingin mengganggu tidur wanita yang wajahnya tampak pucat dan berantakan karena usai menangis ini.
"Maaf, maafin aku sayang.." lirih Harris berucap dengan suara seraknya. Meski tau Keara tidak akan mendengar, tapi kata maaf itu tetap ia lontarkan. Bagaimanapun, ia merasa bersalah atas perilaku buruknya tadi.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih