Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bapak Matre


"Tau lah Ris..." jawab Arman santai. Ia mengepulkan asap rokoknya ke arah langit. Dengan menengadahkan wajahnya, tanpa melihat pun, ia tahu Harris sedang panik dan kebingungan.


"Aku kenal bapak puluhan tahun, Ris.. Meskipun sudah belasan tahun dia meninggalkan kami, tetap saja aku hafal betul perangainya." tambah mas Arman.


Arman menghela nafas panjang. Sejak menikahkan Keara, Bapak jadi sering datang ke rumah mereka. Pagi-pagi sekali bapak akan datang menumpang sarapan. Arman harus memaksa bapak pulang ketika Arman harus berangkat kerja. karena tidak baik membiarkan bapak dan ibu berduaan di rumah saat status keduanya jelas sudah jatuh talak.


Bapak juga seminggu sekali memberi uang yang tidak sedikit. Itupun yang menjadi dasar kecurigaan Arman. Bapaknya bukan seorang yang pandai mencari uang. Bukan pebisnis. Bukan pula karyawan teladan yang betah bekerja di perusahaan milik orang. Itulah alasan kenapa dulu ekonomi keluarga mereka sulit dan bapak sampai terlilit hutang.


Sekarang, dengan mudahnya bapak rutin memberi uang? Arman merasa pasti ada sesuatu di balik ini semua.


"Bapak bukan orang yang rajin bekerja dan pintar mencari uang, Ris.. Tapi akhir-akhir ini dia rutin memberi uang pada ibu lima juta rupiah. Itu aneh.."


"Lima juta??" Harris membelalakkan matanya. Baginya itu nominal yang sangat sedikit. Bahkan hanya tidak sampai sepuluh persen dari total uang yang diberikannya pada Pak Suryo, mertuanya.


"Kenapa kaget begitu? Memangnya kamu kasih bapak berapa?" tanya mas Arman.


"Seratus juta."


"Hah??" Kini giliran mas Arman yang terkejut. Ia sampai tersedak asap rokoknya sendiri. "Kapan kamu kasih itu?"


"Setelah pernikahanku, mas.. Bapak datang ke kantor dan meminta uang pada asistenku."


Arman mengernyit tak percaya. "Bagaimana mungkin dia datang sendiri ke kantormu? Benar-benar manusia tak tau malu.."


Harris mengusap wajahnya kasar. Ia sungguh tidak masalah memberi uang pada keluarga istrinya. Tapi itu kalau disalahgunakan oleh salah satu pihak, jelas ia tidak suka.


Pak Suryo jelas seorang yang gila harta. Ia bahkan tidak malu meminta dan menerima uang dari Harris hanya untuk menikahkan putri kandungnya sendiri. Anak yang sudah ia telantarkan bertahun silam.


"Lalu berapa kali kamu memberinya uang?"


"Baru dua kali.. Yang pertama, waktu aku menemuinya untuk pertama kali. Memintanya datang ke rumah ini hanya sekedar untuk bersilaturahmi.. Dan memintanya menjadi wali nikah kami."


"Maaf mas.. Mungkin aku lancang sudah melacak keberadaan bapak tanpa lebih dulu meminta ijin pada K dan keluarga."


"Kenapa Ris..? Aku sebenarnya ingin berterima kasih. Setidaknya aku tau kalau aku masih punya bapak.. Tapi ketika harus menerima kenyataan bahwa bapak belum berubah jadi lebih baik, itu juga suatu pukulan bagi kami.."


"Sekali lagi maaf, mas.." Harris tertunduk dalam. Jauh dalam lubuk hatinya ia tidak merasa tindakannya salah. Tapi kenyataan bahwa bapak mertuanya be*jat dan materialistis, ia jadi merasa iba pada ibu mertua dan istrinya.


"Aku hanya ingin pernikahanku dengan Keara berjalan sakral dan sesuai syariat. Aku tidak mau jika mengabaikan keberadaan bapak, pernikahanku bisa dianggap tidak sah karena wali nikah kami seharusnya bapak kandung yang masih hidup.. Aku tidak mau anak-anakku kelak nasabnya akan dipertanyakan kalau pernikahan kami tidak sah."


"Hahahhahaa.."


Harris terkejut mendengar gelak tawa Mas Arman.


"Kamu ternyata bucin juga yaa sama adikku yang super bawel itu.."


Harris menggaruk tengkuknya demi memupus rasa canggung dan malu.


"Padahal dia gak ada bagus-bagusnya selain cantik. Badan juga pendek.. Kalau ngomong berisik banget, kayak pedagang ikan di pasar. Hahahaa.."


"Terus, apa yang akan kamu lakukan kalau bapak meminta uang lagi dan lagi?"


"Maaf sebelumnya, mas.. Tapi percayakan padaku saja. Selama permintaannya masih dalam batas wajar, aku tidak masalah memberinya uang.."


"Dasar horang kayaah..." cibir mas Arman.


"Hehe.. Aku anggap sebagai kompensasi karena menikahkan aku dan K mas.."


"Orang seperti itu tidak pantas disebut bapak. Mana ada bapak yang meminta imbalan untuk menikahkan putrinya sendiri.." ujar mas Arman.


"Semakin terkikis habis respectku pada orang tua seperti dia." tambah mas Arman.


Harris diam saja. Tidak ingin berkomentar banyak untuk masalah keluarga istrinya. Karena kemelut di hati anggota keluarga ini jelas berasal dari kesalahannya yang mendatangkan lagi sosok yang ingin mereka lupakan.


"Hati-hati, Ris.. Kalau K tau, ini bisa jadi masalah untuk kalian. Dia bisa saja sangat marah begitu tau kamu sengaja memberi bapak uang agar bapak datang lagi ke kehidupan kami."


Harris mengangguk lemah. Ia tau konsekuensi itu sejak awal. Itu artinya ia juga harus siap kapanpun Keara tau, lalu memarahinya dengan keras. Dia tidak berhak mengelak.


"Heyy...." suara riang Keara tiba-tiba menyeruak dari dalam pintu. Membuat dua lelaki dewasa yang sedang terlibat obrolan serius di teras itu sama-sama berjingkat kaget.


"Kampret nih bocil.. Ngagetin aja." seloroh mas Arman. Sedangkan Harris hanya tersenyum melihat raut ceria istrinya.


"Pada ngomongin apa siiih.. Serius banget.."


"Gak ngomongin apa-apa, sayang.." tutur lembut Harris seraya mengusap lengan istrinya.


"Ngomongin urusan lelaki.. Bocil dilarang kepo." ledek Mas Arman lagi.


"Bocil.. Bocil... Aku udah dewasa dan jadi istri orang nih.. Enak aja dipanggil bocil.." Keara merengut kesal.


"Hahhahaa..."


"Eh, ayo kita makan malam dulu, masuk ayo masuk... Sudah ibuk siapkan di meja makan." ibu pun menyusul ke teras untuk memanggil anak-anaknya.


"Ibuk sudah masakin sayur lodeh nih.. Dulu menantu ibu suka banget sayur lodeh buatan ibu.. Sampai nambah dua kali. Ehehehe...."


Harris tertawa senang. Ia bahagia bisa berada di rumah ini sekarang. Dulu saat dia pertama kali datang ke rumah Keara, dan pertama kali juga ia makan bersama dengan mereka, terbersit doa agar ia bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Dan Allah mengabulkan doanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Allah sudah begitu baik melimpahkan kebahagiaan sebanyak ini padanya.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


...----------------...