Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Musibah Membawa Berkah


Setelah mendapat informasi tentang rumah sakit tempat mas Harris dirawat dari Pak Diman, Keara bergegas pergi ke rumah sakit. Dengan motor matic kesayangannya, ia menerobos panas terik dan padatnya lalu lintas siang ini. Tidak dihiraukannya ibu yang kebingungan saat ia meminta ijin pergi ke rumah sakit. Menjenguk orang yang sakit diare. Hanya untuk orang diare.


"Diare doang?? What the h*ll, K?!"


Rasa bersalah menggerogoti pikirannya. Kejahilannya ternyata berbuntut menyengsarakan orang lain. Kalau saja dia kemarin gak iseng merubah pesanan mie mas Harris, cowok itu pasti baik-baik aja sekarang. Dasar gunung es. Gak bisa kena yang hot hot dikit aja.. Langsung meleyot ke rumah sakit.


Setelah bertanya nomor kamar rawat Harris, Keara langsung melesat ke kamar yang ditunjukkan resepsionis rumah sakit. Begitu sampai di depan pintu kamar rawat Harris, Keara sedikit ragu untuk membukanya. Ia bergeming beberapa saat lamanya. Berpikir keras. Menimbang-nimbang. Ucapan permintaan maaf bagaimana yang akan ia lontarkan.


"Bodo ah.. masuk aja dulu."


Begitu masuk ke dalam kamar, Keara dibuat bingung dengan kondisi kamar rawat yang lebih mirip dengan hotel. Televisi layar datar berukuran besar, satu set sofa dekat pintu masuk, ranjang super nyaman dan empuk, Kulkas dua pintu , AC yang sejuknya macam liburan di vila puncak. 'Busett.. Ini sih lebih nyaman daripada bobok di kamar sendiri..'


Keara memandangi wajah Harris yang masih tertidur sejak ia masuk ke dalam kamar. Sendirian. Betapa menyedihkannya sendirian ketika sakit. Tidak ada yang merawat, melayani, memanjakan. Keara hanya punya ibu dan mas Arman. Tapi ia bersyukur kedua orang itu tidak pernah meninggalkannya sedikitpun. Di masa tersulit sekalipun.


Kalau diingat-ingat, mas Harris bukan orang jahat. Tapi orang baik. Kelewat baik malah.. Entah kenapa nasib buruk menggelayutinya. Hingga dia harus hidup seorang diri di usia muda.


Dulu Keara tidak suka padanya hanya karena sikap Harris yang dingin dan cuek. Serta irit bicara, sehingga terkesan tidak peduli dan sombong. Kalau dimaklumi itu sebagai sifat bawaannya, ya gak ada alasan bagi Keara untuk antipati pada Harris.


Ia mulai menelusuri setiap lekuk garis wajah pria yang terbaring di depannya ini. Matanya nyalang menatap rahang kokoh dengan kulit pucat itu. Mata, hidung, bibir, tulang pipi, rahang, semuanya nampak indah sempurna.


"Lagian mas Harris kalau diliat-liat ganteng juga. Mandiri, sukses. Masa iya gak ada cewek yang tertarik sama dia? Boong banget.. Seenggaknya kalau gak punya keluarga, tapi punya istri kan mendingan ada yang ngurusin. Daripada sakit begini, sendirian di rumah sakit.." gumam Keara tanpa melepas tatapan matanya pada Harris.


"Belum ada yang mau jadi istriku."


"Astaghfirullahhaladziem !!" pekik Keara terkejut. Ia sampai hampir terjengkak ke belakang.


Suara yang barusan ia dengar sangat mengagetkannya. Namun yang lebih memalukan lagi, ternyata dari tadi Harris mendengar gumaman Keara. Sumpah! Memalukan.


'Mana tadi berkali-kali muji ganteng lagi.. Si aaaal..!'


Harris membuka matanya. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Sedangkan wajah Keara makin memerah melihat Harris. Gesture tubuhnya sangat kentara menunjukkan kalau ia sedang salah tingkah.


"Makasih yaa.. udah dateng jengukin aku."


Keara duduk di kursi samping ranjang Harris. ",Sama-sama.." gumamnya dengan nada sumbang.


Harris tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Senyumnya kian bertambah lebar. Apalagi mendengar ucapan Keara saat ia pura-pura tidur tadi. Bukti kalau gadis ini cukup perhatian dengannya, membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.


"M-mas Harris sendirian banget di rumah sakitnya? Emang gak ada saudara sama sekali gitu yang bisa nemenin?" Keara melontar tanya setelah diam beberapa saat lamanya. Lebih baik mengobrol, daripada hening begini tapi melihat Harris terus tersenyum menatapnya, itu lebih awkward.


"Engga juga.. Tadi ada Pak Diman dan Bik Santi." jawab Harris dengan suara parau. "Pak Diman aku suruh antar motormu, terus Bik Santi juga aku suruh pulang untuk ambil baju, handuk, dan keperluan lain."


"Maksudku bukan asisten rumah tangga..."


"Gak ada, K.. Emangnya Rizky gak pernah cerita?"


Keara tertegun. Rizky memang pernah cerita kalau Harris sebatang kara. Dia masih memiliki mama, tapi mamanya sudah menikah lagi dan tak peduli lagi pada Harris. Keara bingung, benarkah ada ibu seperti itu di dunia ini?


"Mas Rizky pernah cerita, tapi gak detail. Katanya yang berhak menceritakan hidup orang ya orang itu sendiri.. Karena dia yang paling memahami hidupnya." cetus Keara.


Harris tersenyum. Lagi. "Rizky emang seperti itu. Sok tua."


Keara kini ikut tersenyum. Satu hal pasti yang menjadi kesamaan antara dirinya dan Harris adalah, sama-sama menyayangi Mas Rizky. Dan Keara senang, ada orang lain yang juga selalu tersenyum tiap kali mengingat mas Rizkynya.


"Ehm.. Kata Pak Diman mas Harris dirawat di rumah sakit karena diare. Ada gitu diare doang sampe harus opname.." ujar Keara lagi.


"Bukan diare doang.." Harris mengubah posisi tidurnya menjadi setengah duduk. "Magh aku juga kambuh. Aku punya riwayat penyakit maagh kronis. Jadi gak bisa makan makanan terlalu pedas."


"Maaf yaa.." gumam Keara lirih.


"Maaf untuk?"


"Emm.."


"Assalamualaikum.." sebuah suara pintu dibuka dan salam yang melantun lembut membuat Keara tidak melanjutkan kalimatnya. Keara dan Harris menoleh ke arah pintu mencari sumber suara.


Keara membulatkan netranya begitu tau siapa tamu mas Harris yang barusan datang. Bu Farida. Mama mas Rizky. 'Ouhh malunya.. Nanti Bu Farida mikir aku ngapain juga disini?' monolog Keara dalam hati.


"Buk Da..." Sapa Mas Harris dengan mata berbinar. "Dikasih tau siapa Harris disini?"


"Tadi Buk Da telepon Bik Santi, jadi taulah kamu disini. Kalau nunggu kamu cerita mah pasti udah kelewat dua bulan kemudian."


Bu Farida mendekat. Harris mengulurkan tangannya hendak menyalami wanita yang ia panggil Buk Da itu. Kemudian Keara pun melakukan hal yang sama. Mencium tangan Bu Farida seraya mengulas senyum.


"Ibu apa kabar?" sapa Keara.


"Astaghfirullah.. Mata ibu mulai rabun ini. Sampai ga lihat ada si cantik Keara di sini.." Bu Farida mengusap lengan Keara. Keara sempat melihat binar sedih dalam netra mantan calon mertuanya itu. Tapi dengan cepat beliau pupus.


"Kabar ibuk baik, Nak.. Kamu apa kabar?"


"Keara juga baik Bu.. Alhamdulillah."


"Ibu seneng kamu dan Harris dekat..."


"Bukan begitu, Bu.." Keara cepat-cepat memotong ucapan Bu Farida. Tidak ingin terjadi kesalahpahaman. "Saya sama mas Harris tidak begitu dekat."


Harris tertegun mendengar kalimat Keara. Senyum yang sedari tadi berpendar di wajahnya perlahan pudar. 'Lalu untuk apa kamu kemari kalau kamu merasa tidak dekat denganku, K? Hanya karena kasihan?'


Berbeda dengan Bu Farida. Beliau justru tertawa. "Dekat juga tidak apa-apa K.. Ibuk sudah anggap Harris seperti anak ibuk sendiri. Sama seperti Rizky.."


Keara tersenyum canggung. Tidak tau harus berkata apa.


"Ibuk malah seneng Keara disini. Jadi ada yang menemani Harris. Ibuk juga jadi tenang, kalau nak Keara yang menemani Harris. Bukan wanita-wanita yang ga jelas gitu.."


Entahlah apa yang dimaksud Bu Farida dengan wanita ga jelas. Keara tidak paham.


"Harris itu punya magh kronis K.. Begini ini kalau bujang ga ada yang merawat. Makan saja lupa. Hari-harinya buat kerja dan belajar terus. Diajak tinggal di rumah Ibuk juga gamau..." tambah bu Farida.


Harris hanya menunduk sambil sesekali tersenyum pada Bu Farida. "Itu karena aku ga mau ngrepotin Buk Da.. Udah lebih dari cukup aku ngerepotin Buk Da dari dulu."


"Gak ada yang direpotkan Ris.."


Mereka berdua mengobrol dengan akrab dan dekat. Harris sesekali tertawa renyah. Tawa yang jarang Keara dengar selama ini. Dia ingat, mas Rizky pernah cerita kalau mas Harris dulu pernah tinggal empat tahun lamanya di rumah Rizky. Sebelum mengambil beasiswa untuk kuliah di Jerman. Sudah jelas kan kenapa mas Harris dan Bu Farida saling mengenal sangat baik.


"Keara kesini sebenarnya untuk meminta maaf."


Harris mendongak menatap Keara. Begitu pula dengan Bu Farida.


"Kemarin aku ganti pesanan mie mas Harris jadi level 3, maaf aku tidak bermaksud bikin mas Harris sakit.." Keara berkata lirih sambil menunduk. Ia benar-benar merasa bersalah. Terlebih setelah tau mas Harris punya riwayat sakit magh parah.


Keara menunduk makin dalam. Siap menerima hardikan Mas Harris. Bahkan omelan dari Bu Farida. Dia memang bersalah. Seharusnya dia tidak bersikap kekanakan kemarin dengan menjahili Harris.


"Hahahahaa.." tawa Harris meledak. Mengejutkan Keara yang sedari tadi menunduk lesu.


Keara mengangkat wajahnya. Melihat mas Harris dan Bu Farida bergantian. Keduanya terlihat tertawa lebar, meski tawa Bu Farida tanpa suara. Berbeda dengan Harris dengan suara tawa menggelegarnya. Keara menatap bingung.


"Dasar anak Jahil.." Bu Farida menepuk pelan punggung Keara.


"It's okey, K.. Wajahnya ga usah terintimidasi begitu.. I am okey.." ujar Harris menenangkan. Senyuman Harris seolah menyihir Keara hingga membuat lidahnya kelu, tak bisa berkata-kata.


"Nggak Oke.." sahut Bu Farida. "Anak jahil ini harus tanggung jawab. Menemani dan merawat kamu sampai sembuh. Gimana Keara? Mau kan bertanggung jawab?"


"M-mau Buk.." jawab Keara terbata.


Ada yang tersenyum puas. Penuh kemenangan. Seakan dunia berputar memberi dukungan penuh padanya. Bu Farida entah sadar atau tidak, tapi beliau turut membantunya mendekati gadis manis ini. Inikah definisi musibah membawa berkah?


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih