Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Rumah Sakit


🌹 Rumah Nico


"Kenapa baru pulang jam segini?"


Baru saja Nico melangkah melewati pintu untuk masuk ke dalam rumahnya. Tapi sambutan dingin istrinya membuat dia menghentikan langkah.


Nico memutar bola matanya menyapu sudut- sudut rumah. Sebuah rumah mewah yang tampak kosong. Karena Jumlah pekerja lebih banyak daripada pemilik rumah. Tidak ada kehangatan. Tidak ada keceriaan. Itulah yang dirasakan Nico selama empat tahun tinggal di rumah gedong ini. Rumah pemberian mertuanya.


"Bisa nggak, gak ngajak ribut pas aku capek gini..?" Nico memutar tubuhnya menghadap ke sofa ruang tamu, tempat istrinya duduk dengan menyilangkan kaki.


"Kakiku bahkan baruu aja melewati pintu. Belum sampe kemana-mana. Aku bisa putar balik keluar lagi kalau kamu mau lanjutin ngajak ribut."


Wanita itu menghela nafas kasar. Berdiri dengan sedikit menghentakkan kaki. Lantas berjalan mendekati suaminya. "Oke, aku minta maaf, by.." ujarnya seraya membelai lengan suaminya. "Tapi kamu kan janji pada Ara untuk pulang sore.."


"Tadi ada klien yang mendadak datang ke kantor." Nico mengendikkan bahu untuk menjauhkan lengannya dari jemari istrinya.


Wanita itu, Mayra. Dengan pasrah membiarkan lelakinya berjalan menjauh. Dia mengikuti suaminya, berjalan lemah di belakangnya. Lalu masuk ke dalam kamar. Mayra tau suaminya berbohong. Tidak ada klien. Tapi entah karena apa Nico membohonginya. Bahkan dia lupa janji dengan putri kecil mereka.


Nico melempar tas kerjanya di atas meja. Melepas jas, dan menarik dasinya agar terlepas. Gerakannya terlihat susah payah. Membuat Mayra mendekat dan berniat membantunya.


"Biar aku bantu."


Mayra mendekatkan diri pada Nico. Melepas lilitan dasi satu persatu hingga terlepas sempurna. Ia sempatkan mengusap dada bidang suaminya, lalu kedua belah telapak tangannya menyapu pipi sang suami. Wajah tampan Nico tak pernah berubah. Bahkan makin tua makin tampan, batinnya.


"Mandilah dulu, by.. Setelah itu ayo kita makan malam. Ara sudah tidur.."


"Hehm.." Nico masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Mayra yang hanya tertegun mendapati sikap dingin suaminya.


Mayra beranjak ke ruang makan. Menyiapkan makanan untuk makan malam dengan suaminya. Ia menghangatkan kare ayam yang ia siapkan sejak sore tadi. Menyeduh teh hangat. Lalu menatanya di meja makan.


Nico menghampiri meja makan dengan setelan kaos dan celana pendek rumahan. Dan menyantap isi piring yang dihidangkan istrinya. Mayra diam saja, duduk di seberang meja memperhatikan Nico yang sedang makan. Nico tidak ingin dan tidak suka mengobrol saat makan.


Lagipula ia tidak ingin memicu kemarahan suaminya lagi. Tadi pagi mereka bertengkar perkara mimpi. Suaminya mengigau menyebut nama mantan pacarnya. Hatinya sakit. Tapi yang lebih menyakitkan, seharian penuh suaminya tak kunjung menelepon atau mengirim chat untuk menenangkan hatinya. Nico cuek dan tidak peduli bagaimana perasaannya.


"Gimana Ara?" tanya Nico setelah makanan di piringnya licin tandas.


"Tadi dia menangis, minta meneleponmu terus. Aku sudah telepon tapi tidak kamu angkat. Lalu dia ketiduran setelah lelah menangis.."


"Maaf, aku lupa sudah janji dengan Ara.."


"It's okey.. Jelasin saja besok pagi waktu anaknya udah bangun." Mayra beranjak mengambil piring bekas makan suaminya. Menyimpannya di bak cucian piring. Lalu merapikan meja makan.


"Mau tidur sekarang?"


Nico menatap istrinya. Dia bukannya tidak punya hati. Hanya egonya yang menguasai. Tadi pagi dia sudah meninggalkan istrinya dengan kesal. Karena mimpi yang tidak ia duga kemunculannya. Lalu seharian ia tidak menghubungi istri dan anaknya sekalipun. Bahkan mengabaikan panggilan telepon dari Mayra. Pulang kantorpun larut malam. Dan sekarang, istrinya tetap melayaninya dengan sabar, dan tidak menghardiknya sedikitpun.


Nico berjalan mendekati Mayra. Mengusap rambut panjang istrinya. Lantas mendekapkan wajah cantik itu ke dadanya. "Maaf, maafkan aku."


Mayra mengangguk dan tersenyum. Dia tidak peduli Nico bisa melihat senyumannya atau tidak. Namun dekapan suaminya begitu menentramkan hatinya.


'Aku mendapatkanmu dari hasil mengkhianati sahabatku. Aku memilih hidup denganmu meski dengan kehinaan yang tanpa sengaja kita ciptakan sendiri. Sahabat dan teman-temanku menjauhiku. Kamu dijauhi keluargamu, sedangkan keluargaku terlalu terlibat dengan hidup kita. Aku sudah melalui begitu banyak penderitaan untuk bisa menikah denganmu. Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak ingin masa lalumu kembali datang dan mengusikmu. Aku ingin membuatmu mencintaiku, Nico.. Lupakan Keara, please..' batin Mayra.


Tidak cukup besar keberaniannya untuk mengucapkan langsung pada suaminya. Cukup lah dekapan suaminya menghempaskan semua beban berat di hatinya.


Mayra mengangkat wajahnya. Mendekatkannya pada wajah tampan suaminya. Kemudian menyatukan bibir mereka. Meruntuhkan semua kegundahan yang dirasakan seharian ini.


Malam kian larut, keduanya semakin merapatkan dekapan. Semakin dalam dan intim. Malam yang dingin mulai menghangat saat keduanya saling melu mat dan berguling di ranjang. Gairah membara yang dipicu dengan sentuhan-sentuhan lembut mulai menghanyutkan keduanya. Hingga penyatuan kedua raga tak mampu dihindarkan. Panas dan memabukkan.


Mungkin benar jika ada yang bilang. Dalam rumah tangga, kesalah pahaman bisa diselesaikan di atas ranjang.


...----------------...


🌹 Rumah Keara


Keara duduk di kursi malas yang ada di teras rumahnya. Menemani ibuk menyiram tanaman hias kesayangannya. Menikmati udara pagi dengan perut kenyang setelah sarapan tadi.


"Mandi K.. Biarpun kerja masih ntar siang. Masa iya mau mandi aja nunggu mau berangkat kerja." seloroh ibu yang masih sibuk mengairi tanaman-tanamannya. Sesekali netranya melirik Keara yang asik berselonjor kaki dengan memainkan ponselnya.


"Nggih, Buk.. Keara hari ini ambil libur kok." sahut Keara.


"Lah kenapa?"


"Ga jelas motor Keara dipulangin jam berapa. Ya udah sekalian ijin libur aja. Lagian jatah libur Keara belum pernah kuambil dari minggu lalu.."


Ibuk terlihat mengangguk-angguk. Meski tanpa menoleh.


Setelah semua tanaman segar, dan ujung daun yang mengering telah dipotong, Ibu duduk di dingklik kayu yang sengaja diletakkan di dekat Keara. Sambil bersiap mengupas sekeranjang duo bawang. Agar tidak perlu repot-repot saat hendak memasak sewaktu-waktu.


"Nih.. ibu buatin es coklat sukaan kamu.." ibu berkata setelah menyimpan segelas besar es susu coklat di meja samping Keara.


"Waaahh seger niih.." Keara langsung menyeruput es susu coklat buatan ibu. "Makasih, Buuuk.."


Jam 9.30. Saat matahari belum tinggi. Sinarnya belum terlalu terik menyengat. Bersantai di teras rumah adalah pilihan terbaik. Berdua saja dengan ibu, karena Mas Arman sudah ke kantor dari pagi tadi. Ditambah es susu coklat yang manis dan segar. Hmmm.. a perfect holiday!


Hari libur yang tidak ia rencanakan karena motornya yang entah dimana keberadaannya sekarang. Kemarin Mas Harris hanya bilang sopirnya yang akan mengurus, tapi tidak mengatakan kapan sopirnya akan mengembalikan motornya. Keara juga sedikit menyesal. Kenapa tidak terpikir olehnya untuk menanyakan nomor ponsel Harris.


"Dalem.." sahut Keara tanpa melepas tatapannya dari layar 6 inci di genggaman.


"Mas Harris itu keliatannya baik ya K.."


"Iya, kayaknya.." Keara cuek saja. Tidak mengerti arah pembicaraan ibu.


"Dia yang kemari kapan hari itu kelihatan sekali tidak risih dengan kondisi rumah kita. Padahal dari penampilannya saja, ibu yakin dia orang kaya. Terus kemarin kamu bilang dia sampai ngantar kamu pulang, dan ngurusin motor kamu yang bannya kempes. Baik banget itu sih K, kalau kata ibu.. "


"Emm.." Keara terlihat masih cuek saja. Namun, dalam hatinya terusik. Dia tidak habis pikir, kenapa ibu sampai membahas mas Harris. Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan ibu. Membahas kebaikan mas Harris hanya sebagai pengantarnya saja.


"Belum lagi dia pernah sholat di tempat kita.. kelihatan kalau Harris itu sholeh. Biarpun kaya, tidak lupa sama Yang Memberi kekayaan." Nah kan.. iklan promosi masih berlanjut. Indikasi ada udang di balik batu.


"Harris juga pernah makan di rumah kita.. Lauknya sederhana. Tapi sampai nambah dua kali. Hahahaa.. Dia bilang sayur lodeh buatan ibu enak.." Kali ini ibu tertawa. Keara sampai mengerutkan dahi. Tidak paham apa yang lucu.


"Keara ih.. ibu ngomong kamunya diaaam saja."


Keara menoleh ke arah ibu. Sedikit menegakkan punggungnya. Kini raga ibu yang duduk di dingklik kayu terlihat jelas olehnya. "Keara denger kok Buk... Cuma ga paham ibuk mau ngomong apa.. Tiba-tiba bahas orang lain.. Gaje ih Ibuk nih.."


"Hehe.." Ibu kembali menunduk. Menekuni perbawangan yang baru setengahnya saja terkupas kulitnya. "Ibu kok curiga mas Harris naksir sama kamu.."


"Astaghfirullah, Ibuuuuk..." seloroh Keara dengan mata membulat.


"Apa? Kenapa??" Ibuk yang terkejut, berjingkat sampai hampir menumpahkan bawang- bawangnya.


"Mana mungkin mas Harris suka sama aku.. Jangan sembarangan ngomong.." Keara menatap ibu lekat.


"Kamu nih kurang ajar bener.. Istighfar aja ngagetin banget kayak abis ngeliat setan. Kalau ibuk jantungan mau tanggung jawab??" sahut ibu sambil bersungut-sungut.


"Hehe.. Abis ibuk ngomongnya mulai ngelantur siih. Jangan ngarep ketinggian ibuuukk.." Keara bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi dulu ahh.."


"Kamu tuh yaa kalau diajakin ibuk ngobrol aja langsung mandi.. Kalau gak mah.. Bisa seharian ga nyentuh air."


"Ibuk sih.. ngaco." Keara melenggang hendak masuk ke dalam rumah. Tapi sebuah suara berat khas laki-laki membuat Keara menoleh ke arah pintu pagar.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..." Ibu dan Keara kompak menjawab salam dari seorang tamu pria bertubuh tambun itu. Keara langsung mengenali orang tersebut. Terlebih karena orang itu menuntun motor matic milik Keara.


"Pak Diman...."


Pria tambun paruh baya itu mengangguk pada Keara dan ibu bergantian. "Non Keara.. Saya mau mengantarkan motornya."


Keara berjalan mendekat pada Pak Diman. Lalu mengambil alih motor dan menstandarnya di dekat pintu. "Terima kasih ya pak.. Maaf merepotkan."


"Ndak merepotkan Non.. Sudah jadi tugas saya.." Pak Diman terlihat terus membungkukkan tubuhnya. Sangat sopan. Mungkin bawaan pekerjaan.


"Baik Non.. Saya pamit pulang.."


"Mampir dulu Pak.. Minum kopi dulu barang seteguk.." ibu berdiri dari duduknya mempersilakan Pak Diman untuk masuk ke dalam rumah.


"Tidak Bu.. Tidak usah.. Saya langsung saja." Pak Diman mengulurkan tangan untuk bersalaman. Disambut ramah oleh ibu dan Keara. "Maaf saya terlambat mengantar motornya Non.. Karena tadi malam ngantar Tuan Harris ke rumah sakit. Jadi baru sempat sekarang mengantar motornya Non Keara.."


"Siapa yang sakit Pak?" tanya Keara.


"Tuan, Non.."


"Mas Harris maksudnya?" Pak Diman mengangguk.


"Inggih Non.."


"Sakit apa Pak?"


"Diare Non.. Semalam baru pulang ke rumah langsung drop. Diare ga berhenti sampai tengah malam. Sampai pucat dan dehidrasi. Akhirnya jam dua malam saya bawa ke rumah sakit."


"Astaghfirullah.." Ibu bergumam lirih sembari mengusap dadanya. "Terus sekarang bagaimana keadaannya Pak?"


"Sudah baikan Bu.. Cuma masih lemas saja."


Keara mematung. Tidak tahu harus berucap apa. Dia hanya mengangguk, tersenyum kaku, dan bereaksi sekenanya saja untuk merespon Pak Diman. Sampai Pak Diman menghilang di ujung jalan, dan ibu terus berceloteh panjang lebar perihal keprihatinannya atas sakitnya mas Harris. Keara hanya merutuki dirinya sendiri dalam hati.


'Apa mas Harris sakit gegara aku kerjain kemaren? Tapi mana ada orang masuk rumah sakit hanya gegara makan pedes? Lagian kemaren aku peseninnya juga cuma dua level di atas pesanan mas Harris kok.. Iya kali kalau aku pesannya level yang paling pedes, masih masuk akal lah.. Nah ini cuma level 3 doang langsung diare. Gimana ceritanyaa?? Haduh K.. Gimana sih becandanya kok sampe bikin orang masuk rumah sakit? Haduh gimana sih inii..'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih