
"Sayang, ini apa? Kenapa ada cek seratus juta untuk nama Suryo Pratomo? Kamu kasih uang segini banyak buat bapakku??"
"Hah?" Harris terkejut. Susah payah ia menelan salivanya.
"Ehmm.. Bu-bukan, sayang.. Itu klienku. Kebetulan saja namanya sama sama bapak kamu.." kilah Harris. Ia masih memilih menyembunyikan masalah Pak Suryo. Tidak ingin Keara sampai tau dan akhirnya membuat kepikiran.
Keara mengangguk dan memberikan lembaran cek yang ia ambil tadi pada Harris. Ia pikir, klien dan kolega mas Harris sangat banyak. Bukan tidak mungkin ada yang bernama Suryo Pratomo juga. Sama seperti nama bapaknya.
Harris segera menyimpan cek itu kembali di ruang kerjanya. Cek itu waktunya ia berikan besok. Tanggal 15.
Lelaki tua yang tak lain berpredikat sebagai mertuanya itu, memang tidak lagi berani membuat masalah. Dia akan datang ke kantor Harris setiap bulan tanggal lima belas untuk mengambil jatah bulanannya. Setelah itu dia akan pulang lagi dan tidak mengusik Harris.
Harris menaiki ranjang dimana istrinya sudah berbaring nyaman terlebih dahulu. Seperti biasa, lelaki itu selalu bertelan*jang dada ketika tidur. Seolah tak merasa dingin meskipun ada AC pendingin di dalam sana.
Ia mencium bibir istrinya.
"Sayang, emangnya gak dingin apa bobok gak pake baju?" tanya Keara penasaran. Pertama kali dulu ia melihat suaminya di rumah ini pun saat sedang tidur tanpa memakai baju.
"Enggak... Kalaupun ga pake celana juga gak dingin kok.."
"Huuh.. Asal ga masuk angin aja."
"Gak akan, sayang... Apalagi kalau kita rajin berolahraga sebelum tidur.." tutur Harris. Kepalanya sudah melesak di ceruk leher istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang sudah jadi candu paling manis.
"Itu sih bisa-bisanya mas Harris aja... Eungghh" lenguhan itu lolos dari bibir cantik Keara. Merasakan jemari Harris yang meraba pahanya semakin naik... naik.. dan naik terus sampai mengusap bagian paling sensitifnya.
Harris tersenyum dengan tatapan yang sudah penuh dengan kabut gairah. "Ayo kita olah raga dulu biar gak masuk angin sayang..."
...----------------...
Keesokan harinya, Keara begitu sibuk berkutat di dapur. Ia ingin memasak makan siang dan mengantarkan ke kantor suaminya. Kalau diingat-ingat, sudah seminggu lebih ia tidak datang ke kantor suaminya itu. Meskipun seringkali mengontrol makanan sang suami via telepon, tetap berbeda kalau tidak mengantarkannya sendiri.
Kurang beberapa langkah lagi ia mencapai pintu masuk gedung. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat sosok pria tua sedang berjalan baru saja keluar dari pintu yang hendak ia lewati.
"Bapak?"
Pria itu berhenti karena merasa dipanggil. Ia menoleh pada Keara, seringai muncul dari bibirnya.
"Hai, anak bapak yang cantik.. Lama sekali kita tidak bertemu. Padahal bapak beberapa kali datang ke rumah..."
Keara membenarkan. Sepertinya terakhir kali ia bertemu bapaknya ketika ia menikah. Keara memang tau bapaknya sering datang ke rumah dari cerita ibunya. Tapi setiap kali Keara datang, selalu tak pernah bersamaan dengan bapak. Lagipula ia tak ingin juga.
"Oh iya, bapak lupa.. Anak bapak ini sudah menikah dengan orang kaya.. Mana mau kembali ke rumah gubuknya dulu." imbuh Pak Suryo ingin memanas-manasi hati putrinya.
"Bapak ngapain kemari? Mau nyari mas Harris??" Keara memilih bertanya sesuatu yang mengusik rasa penasarannya. Daripada harus menanggapi ucapan bapaknya yang jelas-jelas terdengar memprovokasi saja.
"Iya." jawab Pak Suryo singkat.
"Ngapain?" tanya Keara lagi. Mendadak ia ingat perihal cek semalam. Apa jangan-jangan cek itu benar-benar untuk bapaknya?
"Minta kerjaan. Tapi suami kayamu itu sombong sekali. Dia mengusir bapak dan tidak mau memberi bapak pekerjaan.." pak Suryo dengan licik berniat mengadu domba anak dan suaminya itu. Ia masih sangat membenci Harris karena menilai menantunya itu tidak loyal padanya. Hanya memberi uang bulanan yang tak banyak, dan menyembunyikan anak angkat yang jadi aset berharga untuk menjadikannya milyuner itu.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih