Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bertemu Dengannya Lagi


🌹 PT. Swadaya


Seorang lelaki dengan setelan jas lengkap berwarna abu terlihat bersantai di atap gedung. Dua jarinya mengapit sebatang rokok yang sudah tersisa setengahnya. Dia duduk di bangku kayu yang sudah usang. Bahkan kalau berat badannya naik dua kilo saja, bangku kayu ini bisa dipastikan akan patah saat ia duduki.


Ya, atap gedung ini memang tidak dirawat sedemikian rupa untuk menjadi tempat bersantai. Lebih diperuntukkan sebagai gudang barang-barang yang tidak terpakai. Namun, rooftop di ketinggian 15 lantai, dengan terpaan angin menyejukkan, dan langit yang memayungi dengan hiasan awan berarak, menjadi setting sempurna untuk melepas penat.


Lelaki yang masih termenung ini pula salah satu dari sebagian kecil karyawan yang menjadi langganan merokok di atap gedung ini. Apalagi alasannya kalau bukan pengaruh jabatan yang mumpuni. Bahkan saat jam kerja pun, lelaki ini sudah menghabiskan waktu di sini hampir tiga puluh menit lamanya.


Pukul 11.15. Ia menatap ponselnya dengan gusar. Panggilan teleponnya diabaikan oleh seseorang jelas menjadi alasan pikirannya semakin penat. Saat ini ia sedang menimbang-nimbang, perlukah mengirim pesan pada seseorang itu?


Tapi apa yang akan dikirimkannya? Apa hanya bertanya kabar? Atau langsung saja dengan gamblang mengatakan kalau ia merindukan orang itu?


Sungguh kebimbangan yang tidak berperasaan. Bagaimana mungkin dia memikirkan wanita lain, ketika tadi pagi dia berangkat bekerja dengan membawa kekesalan yang menggunung terhadap istrinya. Sebab istrinya terus saja mengungkit kesalahan-kesalahannya seolah sedang memutar film dokumenter sejarah bangsa.


Lihat sekarang, apa yang membuatnya merenung dan menyendiri beberapa saat lamanya, bukannya memikirkan bagaimana cara berdamai dengan istri, malah mencoba menghubungi wanita lain yang menjadi sumber masalah dalam rumah tangganya.


Permasalahannya dipicu saat ia tidak sengaja mengigau dalam tidurnya, menyebut satu nama yang sukses memancing amarah sang istri. Apa salahnya? Mimpi itu datang tanpa ia rencanakan. Mengigau pun bukan bagian dari kesadarannya. Memangnya ia pengendali mimpi?


Lelaki itu menggerus batang rokoknya yang sudah memendek. Lalu memutuskan untuk turun ke bawah, setelah memungkasi perdebatan batinnya dengan mengirim pesan di nomor wanita yang mengabaikannya tadi.


"Assalamualaikum, Keara..


Bagaimana kabarmu?


Maaf aku lancang meminta nomormu pada Bagas, teman SMA kita dulu. Aku bertemu dengannya tadi tanpa sengaja di kantorku.


Bisakah kita bertemu K?


Aku sangat merindukanmu..


Dari Aku,


yang masih sangat menyayangimu,


Nico. "


...----------------...


🌹 First Love cafe


Keara sangat menikmati hari-harinya bekerja di kafe. Dia bekerja dengan semangat dan keceriaan yang menjadi cirinya. Semua ia pelajari dengan cepat. Dan tak sekalipun ia mengeluh lelah.


Hari ini sudah satu minggu Keara bekerja. Tidak ada kendala khusus. Kecuali sikap usil beberapa pelanggan yang kerap mengajak kenalan dan meminta nomor ponsel pribadinya. Sampai pelanggan yang masih berseragam SMA pun kerap menggoda Keara. Mereka sengaja datang ke kafe khusus untuk bertemu Keara. Namun, tidak satupun yang ia gubris.


Pukul 11.02. Satu jam lagi jam istirahat siang. Keara dikejutkan oleh panggilan mas Juna yang mengatakan ponselnya terus berdering di ruang loker.


"Lihat dulu K.. siapa tau penting.." ujar mas Juna.


Keara berlalu setelah memberi simbol Oke dengan jarinya.


3 missed calls from +62811123xxx


"Nomor siapa nih? Missed call sampai tiga kali.. Telepon balik gak ya?" Keara bergumam pada dirinya sendiri. Karena memang dia hanya seorang diri di ruang istirahat karyawan saat ini.


"Gak usah laah.. Biarin aja. Ntar kalau penting juga ngirim chat." pungkas Keara. Ia pun kembali meninggalkan ponselnya di dalam loker. Lantas keluar dari ruang karyawan dan kembali bekerja.


Saat melewati kitchen bakery, Keara melihat mbak Marsya dan bu Ijah di depan kitchen. Tampak seperti berbicara serius. Keara melewati mereka sambil mengangguk sopan.


"Permisi Mbak, Bu.." ujarnya lirih.


"Em Iya K.." sahut mbak Marsya singkat.


"Gimana dong Bi..? Ini juga mendadak banget pak Galang infonya minta cake diantar sekarang. Pak Imam belum balik lagi.." Percakapan Marsya dan bi Ijah tertangkap indera pendengaran Keara.


"Iya, non.. Cakenya sudah jadi dan sudah siap dikirim. Tapi karena katanya minta dikirim jam 2, jadinya gak bibi bawakan pak Imam tadi.."


"Nah itu makanya.. Coba mereka ga dadakan minta reschedule kan bisa dibawa Pak Imam sekalian tadi.."


Keara menoleh, spontan ikut berpikir solusi terbaik.


"Masa aku yang kirim sih Bi.. Aku lagi pusing banget ini.."


"Jangan non.. Mending su..."


"Maaf mbak Marsya.. Bukan saya lancang." Keara memberanikan diri berbalik dan memotong percakapan atasannya itu.


Marsya menoleh pada Keara sembari mengangkat alisnya.


"Saya bisa bantu kirim pesanannya, kalau boleh.."


"Benar K?" mata Marsya berbinar terang. Satu masalahnya hari ini hampir terpecahkan.


Keara mengangguk.


"Thanks a lot, K.. Sangat membantu." Marsya memegang bahu Keara. "Saya pusing banget, pengen pulang aja bawaannya. Untung kamu mau bantuin.."


"Gak papa Mbak.. Kalau boleh biar saya yang kirim. Tapi shift saya belum selesai, gimana..."


"Ya gak papa.. Ini bahkan bukan bagian dari pekerjaan kamu, tapi kamu melakukan lebih. Aku yang terima kasih sekali." mbak Marsya terlihat mengutak atik ponselnya seraya berjalan ke arah depan kafe.


"Bi, kue pesanan pak Galang tolong dimasukkan ke mobil saya. yaa.."


"Jun.. Juna.."


Tampak mas Juna dengan langkah setengah berlari menghampiri mbak Marsya.


"Siap Mbak.."


"Cepet ya Jun.. Udah ditunggu pak Galang soalnya."


"Keara, pak Galang sih ngomongnya nunggu di depan kantor.. Tapi kalau misalnya gak ada, kamu masuk aja ke bagian resepsionis terus minta dipanggilkan yang namanya pak Galang, dari divisi HRD."


"Iya, siap mbak.." jawab Keara.


Keara dan Juna bersiap dengan cepat. Dengan langkah lebar mereka membantu Bi Ijah mengambil seratus box roti pesanan klien. Memindahkannya dari dapur bakery ke mobil Marsya. Setelah memastikan semua box roti tersimpan rapi di jok belakang mobil, Keara berlari masuk ke ruang karyawan untuk mengambil tasnya, juga tas milik Juna.


Juna mengendarai mobil Marsya dengan kecepatan stabil. Seperti sudah terbiasa menyetir mobil. Jalanan yang mulai padat karena sudah tinggal beberapa menit lagi jam menunjukkan pukul dua belas siang. Terik matahari pun mulai nyalang menyengat. Membuat Keara memutar knob AC mobil ke tingkat paling dingin.


"Gak papa kan, mas? Hehee.. dingin.."


"Gak papa, K.. Emang panas banget." jawab Juna tenang. Samar dia menyunggingkan senyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan kota di hadapannya.


Juna memang tergolong karyawan kafe yang paling sabar dan tenang. Saat ada situasi yang menegangkan dengan customer pun, dia yang paling bisa diandalkan untuk mendinginkan suasana.


Keara melihat ke arah luar jendela. Senyuman terus terulas di bibirnya. "Lumayan ya mas, bisa cuci mata di jam kerja begini.."


"Kamu tuh emang begini ya?"


Keara menoleh ke arah Juna dengan tatapan tidak mengerti.


"Selalu happy dan positif aja bawaannya.."


"Ya kan emang menyenangkan begini mas.."


"Tapi ini bukan jobdesc kamu. Kalau anak lain yang disuruh sama mbak Marsya pasti cemberut aja sepanjang jalan..."


"Kalau mas Juna termasuk yang seneng apa cemberut?" Keara memiringkan wajahnya demi bisa melihat langsung ekspresi Juna.


"Aku sih santai.. Kalau memang harus kesana ya ke sana.. Kalau kesini ya kesini.. Let it flow.."


Keara mencibir. "Mas Juna sih kelewat selow bawaannya..."


"Kalau aku sih apapun kerjaannya, dibawa happy aja.. Biar capeknya ga kerasa, mas.. Gajinya juga berkah. Hehee.."


Juna mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Mas Juna mengarahkan mobilnya ke parkiran paling dekat dengan pintu masuk lobi. Keara langsung berinisiatif turun dari mobil dan menuju ke meja resepsionis.


"Mbak, saya dari bakery mau kirim pesanan pak Galang.. " tanya Keara pada seorang resepsionis yang berpenampilan sangat cantik, dengan make up lengkap dan aroma parfum yang menguar bahkan sejak Keara belum mencapai meja resepsionis tadi.


"Oh itu Pak Galang mbak.. Yang pakai kemeja biru." Jawab resepsionis dengan name tag yang bertulis Risna tersebut. Bersamaan dengan itu Juna menghampiri Keara dan berdiri tepat di belakangnya.


Keara mengikuti petunjuk tangan dari resepsionis cantik itu. Mengarahkan pandangannya ke salah satu meja bundar yang terletak di tengah lobi. Dua orang pria duduk di sana. Yang seorang pasti pak Galang, mengingat informasi dari resepsionis tadi yang mengatakan pak Galang memakai kemeja biru. Sedang yang seorang lagi pria berjas abu duduk membelakangi Keara.


Keara dan Juna mendekat ke arah meja.


"Permisi pak Galang, kami dari firstlove bakery mau mengantarkan pesanan kuenya.." ujar Keara setelah berada cukup dekat dengan meja. Tepat di balik punggung pria berjas abu.


"Oh iyaa.. ya.. tepat waktu sekali." Pak Galang bangkit dari duduknya. "Maaf saya memajukan jam pengambilannya yaa.. karena ada perubahan schedule."


"Tidak apa-apa pak.." jawab Keara.


"Tunggu yaa.. saya panggil orang dulu buat bantuin kalian bawa kuenya."


"Biar saya bantu aja pak Galang.." pria berjas abu itu seketika berdiri.


"Wah jangan pak.. Masa pak Nico ikut angkat- angkat box kue.. Nanti saya bisa di SP sama bu Mayra."


Deg.


Nico?


Mayra?


Keara mendadak merasa dunianya berhenti berputar. Tenggorokannya tercekik oleh kepanikan yang tidak ia mengerti asal muaranya. Matanya membulat menatap punggung pria berjas abu yang berdiri tepat di depannya.


'D-dia Ni-co??' batinnya tercekat.


"Ah.. Pak Galang berlebihan. Tidak apa-apa.. Ayo saya bantu saja, Pak.."


Keara tahu, seharusnya dia berlari secepat kilat menjauhi awkward moment ini. Tapi lagi-lagi raganya membeku. Sel di otaknya masih terkejut dengan pertemuan tiba-tiba ini. Responnya melambat. Bahkan ia tidak mampu menghindar saat Nico memutar tubuhnya, melihat dirinya untuk pertama kalinya setelah empat tahun lamanya, dan menampakkan reaksi yang sama terkejutnya dengan Keara.


Juna merasa ada yang salah dengan dua orang di depannya, pun Pak Galang yang tampak kebingungan, berusaha memecah ketegangan. Juna menarik pelan lengan Keara. "Ayo, K.. kita ambil kuenya di mobil.."


"Oh.. eh.. iya, iyaa.. mas Juna..." jawab Keara tergeragap, dengan senyum kaku berusaha menutupi kegundahannya.


Sebelum berlari kecil mengikuti Juna keluar dari lobi, Keara masih sempat melirik Nico yang tersenyum lebar seraya bergumam, "First love?"


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih