
Keara terlelap setelah meladeni gai*rah bercinta suaminya. Mereka bergulat lebih dari empat jam. Hanya bertameng 'setelah seminggu berpuasa', jadilah Harris menggagahi istrinya sampai tiga kali pelepasan ia dapatkan. Membuat Keara terkulai lemas dan tak sanggup membuka matanya lagi.
Harris mengecup pelipis Keara yang sudah terpejam sempurna. Kecupannya mendadak turun ke perut rata istrinya yang tidak berbalut sehelai kainpun. Dan mengusap lembut bagian itu.
"Anak-anak papa belum ada yang tepat sasaran nih membuahi rahim mama? Kalau belum, papa bakalan lebih rajin lagi menebar benih kok abis ini.. Doain mama kamu gak ngambek lagi dan menghukum papa lagi yaa.. Papa stress kalau ga bisa nanem bibit kualitas tinggi punya papa ini.."
Harris terkekeh kecil. Ia mengoceh sendiri di atas perut istrinya saat istrinya itu sudah tertidur lelap. Kata-kata absurdnya itu membuatnya diam-diam merapalkan doa agar segera diberi karunia berupa kehamilan sang istri. Membayangkan betapa bahagianya ia rasa jika wanita tercintanya mengandung buah hati yang berasal dari benihnya.
Harris tersenyum. Lantas beringsut memeluk Keara dan ikut memejamkan mata hingga terbang memasuki alam mimpi yang indah.
...----------------...
Keara membuka mata kala telinganya terusik oleh suara kicau burung. Ia memicingkan netranya saat sinar mentari pagi yang menerobos melalui celah tirai di jendela terasa menyilaukan. Lantas mulai mengusap lengan kekar yang menumpang di atas perutnya.
Keara membelai rahang kokoh yang dihiasi bintik-bintik hitam bekas bercukur. Ia tersenyum saat kilatan adegan panas semalam berkelebatan dalam ingatannya. Ia bisa merasakan rindu mendalam yang disalurkan suaminya melalui sentuhan atas tubuhnya.
Melihat suaminya masih terbuai mimpi, Keara memberanikan diri mencium bibir lelakinya. Raganya kian merapat bahkan perlahan mengungkung raga yang dua kali lipat lebih besar itu. Bibirnya terus melu*mat, sementara tangannya mengelus dada yang dihiasi bulu-bulu halus itu.
"Ehmm.. Kamu yang mulai yaa sayang.." suara parau Harris membuat Keara terkesiap.
"K-kamu sudah bangun sayang?" tanya Keara terkejut.
"Sudah. Senjataku juga sudah bangun." Harris menuntun pandangan Keara untuk melihat inti di bawahnya.
Keara terkekeh geli. Ia hendak beringsut menjauh tapi Harris menahan pinggangnya.
"Mau kemana? Abis bangunin kok mau ditinggal gitu aja..?"
"Tanggung jawab dulu sayaaang... Kamu yang di atas yaa.." Harris mengerling menggoda istrinya. Tapi sedetik kemudian ia dengan cepat mengarahkan alat tempurnya ke milik Keara. Pergulatan panas kesekian kalinya pun dimulai kembali. Kali ini Keara yang mendominasi permainan.
"Sayang, apa tidak bisa kamu berhenti memberi uang pada bapak? Aku tidak suka.." tanya Keara setelah nafasnya kembali teratur usai pelepasan keduanya.
"Tidak bisa sayang.. Aku harus menepati perjanjian yang kubuat sendiri." Harris membelai rambut istrinya. Mengecup puncak kepala wanita tercintanya itu.
"Tapi bapak bisa saja menyalahgunakan uang yang kamu berikan, mas.. Dia juga bisa membahayakan Tiara kalau sering datang ke kantor seperti biasa.."
"Ada Bara yang dua puluh empat jam menjaga Tiara. Selama berada di dalam kantor Tiara aman, sayang.. Sudah, jangan pikirkan macam-macam. Kamu jangan banyak pikiran, K.. Nanti kamu sakit.."
Keara menggeleng. "Aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan ini, mas.. Aku merasa ikut bertanggung jawab untuk keselamatan Tiara."
'Ini yang membuatku enggan berkata jujur padamu, sayang.. Karena aku tau kamu akan ikut memikirkan semuanya..' batin Harris.
"Bisa kan aku minta kamu untuk percaya saja padaku? Sayang, aku ingin bisa bertanggung jawab atas keputusanku.. Juga ingin melindungimu dari apapun.. Just believe me, K.. Everything will gonna be okay.."
Keara mengangguk seraya mengulas senyum manis. Ia percaya sepenuhnya pada lelaki di sampingnya ini.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih