
"Hey! Lo budek yaa??!" teriak seorang wanita setengah sadar. Ia memukul-mukul lengan kekar yang sedang mengemudi di sampingnya. Tentu saja tenaganya sangat lemah. Tergerus banyaknya pengaruh alkohol dalam tubuhnya.
"Lo mau bawa gue kemana?? Turunin sekarang! Atau gue teriakk sekenceng-kencengnya.."
Lelaki kekar itu tidak bergeming sedikitpun. Seolah-olah telinganya benar-benar tuli. Ia bahkan tidak terganggu sedikitpun dengan suara jeritan wanita mabuk yang memekakkan telinga itu.
"Woy!! Dasar orang jelek budekk!!" teriaknya lagi. Dan kembali tidak mendapat respon. Lelaki itu malah menambah kecepatan laju mobilnya.
"Gue mau ke pernikahan Harris Risjad.. Gue tamu ViP. V-I-P !! Cepat bawa gue balik..!!"
"Jangan ngibul!" akhirnya lelaki itu bersuara. Bara. Preman tak punya hati yang menyekap seorang wanita mabuk demi kelancaran pernikahan tuannya. Hanna Rosaline.
Semalam begitu mendengar berita pernikahan Harris Risjad, Hanna mendadak gelap mata. Malam itu juga ia terbang dari Jakarta ke Surabaya.
Sesampainya di Surabaya, ia yang tak punya tujuan justru terdampar di club sebuah hotel dan menghabiskan waktu di dunia malam sampai pagi menjelang.
Hanna tidak melakukan ini karena cinta, tentu saja. Dia tidak memiliki perasaan apapun dengan CEO E-commerce itu. Dia hanya ingin membalas dendam pada Harris, karena lelaki itu telah menghancurkan karir artisnya yang sedang gemilang. Semuanya seperti hancur dalam semalam. Bahkan ia saat ini masih dalam status tahanan wajib lapor ke kepolisian dan dilarang melakukan perjalanan keluar negeri. Hidupnya sungguh hancur telak.
Matanya sudah tertutup kabut pekat. Hanna bahkan tidak merasa bahwa semua hukuman itu akibat dari kesalahannya sendiri yang mengusik masa lalu Harris.
Ia tadinya sudah menyusun rencana matang. Bagaimana dia datang ke lokasi akad nikah dengan mengarang cerita kalau dia hamil anak Harris. Tapi apa boleh buat, pengaruh alkohol membuat rencananya bubar jalan.
"Ini mau kemana, WOYY??!" ternyata meskipun sedang mabuk, ia sadar juga dirinya saat ini berada di kota orang. Berada di kota yang tidak ia kenal dan bersama orang asing bertampang sangar cukup mengerikan dirasanya.
"Ke neraka."
"Berhenti atau aku akan melompat keluar!" ancamnya.
"Lompat saja. Maka kau bisa terbang sendiri ke neraka. Aku tidak perlu repot-repot mengantarkanmu." kilah Bara. Sekalipun matanya tidak melirik wanita berpakaian mini itu. Lurus menatap jalanan dan masih tetap tanpa ekspresi.
"Jangan macam-macam. Gue artis terkenal. Semua orang di negara ini kenal gue. Kalau Lo ngapa-nga... Aahhh..!!"
"Diem!" Bara menjambak rambut wanita itu sampai kepala sang artis ikut tertarik dan memekik kesakitan.
"Dari tadi kau sudah menguji kesabaranku. Kau artis kalau berhasil keluar dari cengkramanku. Tapi selama kau masih berada di dalam mobil ini, kau hanya wanita gila yang akan kuhabisi." kecam Bara.
"Aahh sakiit.. Lepaskan gue Gob lokk!!" Hanna masih bisa memberontak meski rambutnya hampir terlepas dari kulit kepalanya.
*Bug !!
Bara memukul kepala belakang wanita itu sampai ia jatuh pingsan. Begini lebih baik, pikirnya. Tidak perlu mendengar teriakan wanita gila yang sedang mabuk. Mengganggu!
Bara memang seorang preman tak punya hati. Dia bukanlah Harris Risjad yang selalu banyak berpikir sebelum memukul lawannya. Ia juga tak akan segan-segan menghantam siapa saja yang mengusik Harris. Sehormat itu Bara kepada tuannya.
...----------------...
🌹 Rumah Keara
*Tok.. Tok..
"Assalamualaikum nak.. Bapak boleh masuk?"
Keara baru saja menghabiskan sarapannya. Ia mendongak ke arah pintu dan hanya mengangguk untuk menjawab permintaan ijin bapaknya. Ia tidak ingin merusak suasana hatinya di hari bahagia ini.
"Wah putri bapak cantiik....sekali. Harris pasti sangat terpesona nanti begitu melihat kamu.." tutur bapak setelah mendudukkan dirinya di bangku kayu di sisi ranjang putrinya.
"Ada apa, Pak?" tanya Keara. Ingin mempersingkat interaksi dengan pria tua yang tak lain adalah bapaknya sendiri. Ia masih belum terbiasa berbincang dengan beliau.
"Bapak hanya ingin lihat putri bapak yang cantik.." Bapak yang sudah tampil necis dengan setelan jas mahal pemberian Harris ini duduk dengan tegak, takut membuat lecek jasnya.
Keara hanya menunduk. Tidak menjawab ucapan bapaknya.
"Bapak tidak mau kamu terkejut. Tapi tadi di depan ada seorang wanita se*xy yang sepertinya ingin merusak hari bahagia kamu.. Dan kelihatannya wanita itu juga sedang mabuk.."
Spontan Keara menatap bapaknya. Netranya membulat dan degup jantungnya kembali memacu. Padahal sudah sempat tenang ketika ia sarapan tadi.
"Bapak jadi bertanya-tanya, seperti apa calon menantu bapak itu? Bagaimana pergaulannya.. Kenapa sampai ada wanita itu datang kemari dan ingin mengacau.. Apakah ia lelaki yang tepat untuk putri bapak yang cantik ini..?"
Keara menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tau wanita mana yang dikatakan bapaknya. Tapi sudah berhasil membuat hatinya sangat gusar. Ketakutan akan mengalami kegagalan lagi itu yang ia rasakan.
Tiba-tiba pinta kamarnya terbuka dengan gerakan cepat. Ibuk dengan penampilan tidak biasa, lebih cantik tentunya, berjalan tergopoh masuk ke kamar Keara. Disusul mas Arman di belakangnya.
"Mas Suryo," tegurnya pada sang mantan suami. "Sudah kubilang jangan bicara apa-apa pada Keara!"
"Aku hanya ingin bertanya tentang calon suaminya.." sahut bapak tanpa rasa bersalah.
"Mas bisa bertanya padaku!" ketus ibu lagi.
Tanpa berkata apa-apa, mas Arman langsung menarik bapaknya agar keluar dari kamar Keara. Agar mengurangi beban pikiran adik tercintanya.
"K.. Tenang yaa.. orang gila itu sudah pergi kok.." Ibu mengusap punggung Keara dengan lembut. Berusaha meredakan kekalutan putrinya.
"Tapi Buk.. Wanita yang dimaksud bapak itu siapa?" tanya Keara.
"Orang gila K.. Kalau dia tidak gila, mana mungkin datang ke acara pernikahan orang pagi-pagi pake mabuk segala." ujar ibuk meyakinkan.
"Sudahlah, K.. Percaya sama mas Harris. Sebentar lagi kalian akan menikah, jadi percayalah padanya.."
Keara menyusut air matanya dengan hati-hati. Khawatir akan merusak riasan make upnya.
"Eehh.. Jangan digosok begitu.. Tunggu. Ibuk panggilkan mbak Retno saja, biar dia yang merapikan make up kamu." Ibu bergegas keluar kamar. Meninggalkan Keara sendiri.
Keara dengan tangan gemetaran meraih ponselnya dan mendial nomor telepon Harris.
"Assamualaikum, sayangku.." sapa Harris dari seberang sambungan telepon.
"Waalaikumsalam.." balas Keara dengan menahan suara isakannya. Tapi tetap saja terdeteksi oleh Harris.
"Sayang, Kamu nangis? Kenapa?" Harris panik.
"Si.. S-siapa wanita yang.. datang kesini mas??" Tanya Keara sambil terisak-isak.
"Dia Hanna, sayang.. Artis gila itu.." Harris menarik nafas dalam. Sebenarnya ia juga sama terkejutnya ketika mendapat laporan dari Bara tadi. Tapi ia kikis rasa itu agar gadisnya tidak khawatir.
"Kamu tau kan kalau dia gila.. Jangan khawatirkan dia, sayang.. Bara sudah mengurusnya, hm.."
"I-iya, mas.."
"Pengantinku yang cantik, jangan menangis.. Aku akan segera sampai.. InsyaAllah sepuluh menit lagi. Bersiaplah sayang, aku tidak mau melihat pengantinku wajahnya berantakan karena menangis.."
Keara mengangguk. Tanpa sadar bahwa Harris tidak mungkin bisa melihat anggukannya.
"Everything will gonna be okay, sweetheart.. Don't worry.."
...----------------...
...----------------...
Belum sah juga, Thor??
Sabar mas Harriiis... Katanya kan nikah tanggal 25. Masih besok loh itu...
Shabaaarr..
Buat yang mau kondangan, dandannya besok aja yaa 🥰
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih