Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Gunung Es Belum Mencair


Keara duduk di sofa di dalam kamar rawat seorang Harris Risjad. Termenung sendiri meratapi nasibnya yang masih harus terdampar di sini. Niat hati cuma menjenguk, apa daya dia dituntut mempertanggung jawabkan keisengannya dengan harus menemani dan menjaga Harris selama cowok itu dirawat di rumah sakit.


Harris, pasien Keara itu, dia sibuk men-scroll ponselnya dengan dahi mengerut. Sesekali dia menelepon seseorang dengan nada serius, juga menelepon bawahannya untuk memberi perintah. Sesekali pula ia melirik Keara dengan senyum mengejek yang begitu menyebalkan di matanya.


Keara berjalan ke sisi lain di kamar itu, dimana kulkas besar terlihat mencolok baginya. Ia ingin mengambil sesuatu untuk menyegarkan tenggorokannya. Benar saja, isi kulkasnya sudah seperti showcase indom*rt. Semua ada.


Keara mengambil satu botol minuman teh untuk melepas dahaganya. Lantas kembali duduk di sofa dan menyalakan televisi untuk membunuh sepi. Pencarian salurannya terhenti pada satu acara reality show dari negara Korea. Sesekali ia tertawa terbahak-bahak karena ulah lucu pengisi acara di reality show tersebut.


"K, kecilin TVnya aku gak bisa kerja.." seloroh Harris, yang seketika membuat Keara mencibir kesal. Bukannya mengecilkan volume televisi, ia memilih langsung mematikan televisi.


Keara merebahkan dirinya di atas sofa. Matanya nyalang memandangi langit-langit kamar rawat ini. Terlintas kembali ucapan Bu Farida padanya tadi. Saat Keara mengantar Bu Farida sampai ke lobi rumah sakit.


"Keara.. " Bu Farida dengan lembut mengusap punggung tangan Keara. "Rizky pernah berpesan pada ibu sebelum dia meninggal. Ibu awalnya bingung dengan maksud Rizky pada waktu itu.. Tapi ternyata takdir yang menjawab. Rizky pergi selamanya, dan pesan itu adalah firasat darinya.."


"P-pesan apa Bu?" tanya Keara terbata. Keara selalu merasa iri dengan orang-orang yang mendapat firasat atas kepergian Rizky. Kenapa dia tidak?


"Sehari sebelum kecelakaan itu, Rizky cerita kalau hubunganmu dengan Harris tidak baik. Harris dingin dan tampak angkuh saat di depanmu, sehingga kamu tidak menyukainya. Rizky bilang, dia ingin mendekatkan kalian. Dia ingin kamu tau, kalau Harris tidak seburuk penilaian kamu."


Ibu Farida menggiring Keara duduk di salah satu kursi ruang tunggu rumah sakit. Sembari menarik nafas dan mempersiapkan diri membuka cerita lalu mendiang putranya. Sungguh tidak ada hati ibu yang tak perih mengingat salah seorang putranya pergi mendahuluinya.


Keara juga tampak bingung. Wajahnya pucat dan dahinya mengerut. Mencoba memahami cerita Bu Farida. Mengapa mas Rizkynya harus pusing-pusing memikirkan kesalahpahaman antara dia dan mas Harris? Apa begitu pentingnya Keara harus tahu sifat asli mas Harris, sampai mas Rizky berpesan hal itu pada Ibunya? Kenapa?


"Harris itu orang yang sangat penyayang. Meski caranya terkadang keras dan tegas. Bahkan dia juga keras dengan dirinya sendiri. Menurut ibu, bisa jadi karena pengaruh masa lalunya yang menyakitkan. Dia sudah melewati masa lalu yang kelam, K.. Kalau kamu lihat hari ini dia sukses, itu adalah hasil banting tulangnya sendiri. Dia ingin buktikan, kalau dia bisa survive setelah dikucilkan oleh keluarganya sendiri.."


"Setelah hari ini Ibu tau kamu mengerjai Harris, ibu jadi ingat pesan Rizky. Ternyata Rizky mau kamu mengenal Harris lebih dalam lagi, agar kamu bisa menyayangi Harris dan juga sebaliknya. Seperti kamu menyayangi Rizky."


"Tapi Bu.. Kenapa mas Rizky ingin Keara mengenal dan dekat dengan mas Harris? Kalau hanya karena mas Harris adalah sahabat mas Rizky, bukannya aku hanya perlu sekedarnya saja mengenal mas Harris?" tanya Keara dengan tatapan nanar.


"Ibu juga tidak mengerti K.. Kamu dan Harris yang bisa menemukan jawabannya."


'Aku dan mas Harris? Kami harus menemukan jawaban kenapa mas Rizky menginginkan kami untuk dekat? Tapi aku benar-benar gak mengerti tujuan dari ini semua.. Apa maksud Mas Rizky, dia ingin menjodohkan kami?'


Bu Farida menarik nafas dalam, "Dulu pertama kali Rizky membawa Harris masuk ke rumah saat mereka masih SMP. Ibu ingat, Harris saat itu kondisi mentalnya sedang labil. Terlebih mereka saat itu masih remaja dan dia mengalami kejadian berat untuk usianya yang masih sangat muda."


"Rizky terus mengajaknya menginap di rumah kami. Dia ingin merawat dan menjadi teman untuk Harris, di saat semua teman menjauhinya, bahkan merundungnya. Harris dan Rizky muda sangat kompak dan saling menyayangi. Kalau ibu cuma bisa memberi sepotong kue, maka mereka akan memakannya bersama. Kalau ibu beri dua potong kue, mereka juga memakan satu kue dibagi dua- lalu satu kue lagi dibagi dua. Aneh kan..?" Ibu Farida tertawa kecil.


Keara sudah pernah mendengar cerita ini dari Mas Rizky. Tentang masa remaja mereka bersama. Harris yang sebatang kara. Dibawa masuk ke keluarga mas Rizky oleh mas Rizky sendiri. Empat tahun lelaki itu tinggal di rumah mas Rizky sampai akhirnya setelah lulus SMA, Mas Harris mengambil beasiswa kuliah di luar negeri.


Mas Harris kembali lagi ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya. Selama itu, tidak ada yang berubah dari persahabatannya dengan Rizky. Namun bedanya, setelah Harris menjadi orang sukses, Rizky dan keluarganya tidak mau dibawa masuk ke rumah mewah Harris. Rizky merasa tidak layak menerima kesuksesan Harris, karena itu murni hasil kerja kerasnya. Mereka tetap bersahabat meski kesibukan saat dewasa menjadi jarak.


"Kamu lagi mikirin apa?" suara berat dan serak mengusik lamunan Keara. Keara menoleh ke ranjang tempat Harris berbaring. Pria itu menatapnya dengan wajah pucat. Duduk di ranjang bersandar tempat tidur pasien yang ditegakkan, sembari memangku laptop dan beberapa lembar file.


Keara bangkit dari posisi rebahannya. Dia menggeleng lemah ke arah Harris.


"Kamu jangan khawatir.. Dokter sudah ijinkan aku pulang nnti sore. Jadi ga perlu opname lagi." Harris tersenyum pada Keara. Lelaki itu bisa menebak kalau Keara merasa terbebani karena harus menjaganya di rumah sakit.


"Benarkah?"


"Hemm.." sahut Harris dengan anggukan dan senyuman yang terus disunggingkan untuk Keara. "Jadi kamu boleh pulang sekarang kok.."


Keara tidak menjawab. Dia justru terus menatap Harris.


"Tapi sebelum pulang, boleh aku minta tolong ambilkan air minum dulu." Harris nyengir. Terlihat tampan, batin Keara. "Gelasku sudah kosong."


Lagi-lagi Keara tidak menjawab. Tapi kali ini dia bangkit untuk mengisi gelas air minum Harris di dispenser air mineral yang ada di samping kulkas. Kemudian menyimpan gelas kembali di nakas samping ranjang.


Keara memberanikan diri duduk di tepi ranjang Harris. Menghadap pria itu dan menatapnya dalam diam.


"Mas..."


"Hem?"


Terlintas di benak Keara ucapan Harris saat ziarah ke makam Rizky kemarin. Yang tidak sengaja ia dengar. Mungkinkah Harris juga menerima wasiat dari Rizky? Agar mereka berdua menjadi dekat.


"Bantu aku, Ky.. Seperti dulu kamu selalu membantuku.. Kali ini bantu aku lagi. Bukannya ini juga maunya kamu? Aku bisa dekat dengan dia..? Iya kan? Makanya, tunjukkan aku caranya.."


Melihat Keara bergeming, Harris menangkap sesuatu yang tidak beres. Ia meletakkan laptop dan file pekerjaannya di nakas samping ranjangnya. Kemudian lebih menegakkan posisi duduknya mendekat pada Keara.


"Ada apa K?"


"Mas Harris, Boleh aku tau apa maksud pembicaraan mas di pusara mas Rizky kemarin?"


Harris menelan salivanya.


"Apa Mas Rizky sempat memberi pesan terakhir sebelum kepergiannya?"


"Hem.." Harris mengangguk lemah.


"Apa itu mas?"


Harris menghelas nafas dalam. "Dia ingin kita menjadi dekat."


"Tapi kenapa?"


"Entahlah K.. A-aku juga tidak mengerti awalnya, Lalu kecelakaan itu terjadi dan membuatku paham kalau itu menjadi wasiat dari Rizky.."


Keara menangis sejadi-jadinya. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Menganak sungai mengalir deras. Hatinya pedih dan merindukan mendiang calon suaminya itu. Lelaki yang sangat lembut dan sangat menyayanginya.


Harris tak tau harus berbuat apa. Melihat Keara menangis sungguh sesuatu yang baru baginya. Bagi Harris Risjad. Bukan Galen. Dengan gerakan kaku dan canggung ia meraih bahu Keara dan mendekapkan kepala gadis itu ke dadanya.


"Mungkin maksud Rizky, dia tidak ingin kamu salah paham tentang sikap dinginku, Keara.. Dia ingin kita berteman. Mungkin bisa bersahabat. Tapi jika itu terlalu membebanimu, cukuplah hubungan baik kita sampai di sini K.. Cukup dengan jangan membenciku karena mengira aku sombong. Aku yakin Rizky akan mengerti di atas sana. Jangan memaksakan diri.."


Tangis Keara semakin pecah. Dalam dekapan Harris ia tumpahkan semua kepedihan hatinya selama ini. Sejak ditinggal pergi Rizky, setiap hari ia harus berpura kuat dan ceria di depan ibu dan mas Arman. Keara tidak ingin kedua orang tersayangnya itu mengetahui betapa hatinya sudah patah.


Tapi kini, dia juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu nyaman menangis dalam dekapan seorang lelaki yang sebelumnya tidak ia sukai. Tapi bagaimanapun, lelaki ini adalah sahabat Rizky. Orang yang dipercaya Rizky untuk menjaganya.


'Dasar gunung es gak berperasaan. Gak peka. Bisa-bisanya dia mengira aku menangis gegara saking gak maunya aku dekat dengannya. Pantas lah dia ga punya pacar.. Sebongkah gunung es dingin dan gak peka.'. Keara bermonolog dalam hati.


...----------------...


"Menurut ibu, Rizky berwasiat seperti itu karena dia tidak ingin kamu sendirian meratapi kepergiannya. Pun dia juga tidak mau Harris hidup sebatang kara lagi." pungkas Bu Farida, berujar pada Keara tadi, sesaat sebelum naik taksi online meninggalkan rumah sakit dan Keara mematung sendiri.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih