Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Mengundurkan Diri


🌹 First Love Cafe


"Jadi kamu mau resign, K..?" tanya Marsya, pemilik firstlove cafe, tempat Keara bekerja selama tiga bulan ke belakang. Wanita yang sedang hamil di trimester kedua itu, duduk condong ke depan demi bisa lebih memperhatikan Keara.


"Iya, mbak.. Maaf, Kalau diijinkan Keara kerja sampai akhir minggu ini saja."


"Yaaah, mbak berat sebenarnya lepasin kamu, K.. Kamu itu pinter. Bisa cepet belajar dan cepat beradaptasi juga. Kerjanya cekatan dan rapi. Kamu juga ramah sama semua orang. Juna bahkan rekomendasiin kamu sebagai staf terbaik di sini.." tutur Marsya.


Keara cukup terkejut mendengar pernyataan Mbak Marsya, yang mengatakan Juna merekomendasikannya. Pasalnya, selama hampir dua minggu ini, sikap Juna pada Keara berubah seratus delapan puluh derajat. Entah karena apa, tapi Keara menduga awal perubahan itu adalah ketika Juna memintanya menunggu di parkiran tempo hari.


"Tapi saya juga gak mau menghambat karir kamu. Mbak yakin kamu bisa berkembang di luar sana. Kamu cerdas dan punya masa depan cerah. Sudah semestinya kamu memilih tempat yang tepat untuk pijakan karir kamu.." imbuh Marsya bijak.


"Iya mbak Marsya.. Terima kasih pengertiannya." Keara menunduk sopan.


"Keara juga minta maaf atas semua kesalahan Keara. Untuk semua kekeliruan dan sikap K yang kurang baik.."


"Iihh.. Keara.. Jangan ngomong begitu.. Jadi berasa mau ada perpisahaan.." Marsya bangkit dari duduknya. Menghampiri Keara dengan membentangkan lengannya, ingin memeluk Keara.


Keara pun menyambut pelukan hangat mbak Marsya. Bulir bening menetes dari sudut matanya. Sepertinya memang benar sebutan Harris untuknya, anak cengeng. Karena sedikit saja momen haru sudah bisa membuat air matanya meluncur turun.


"Semoga kamu sukses di luar sana ya, K.. Main-main kesini.. Ketemu mbak sama Muthia.. Kamu udah mbak anggap seperti adik mbak sendiri.."


"Iya, mbak Marsya.. Terima kasih banyak mbak.. Juga terima kasih sudah dikasih kesempatan bekerja di sini.." balas Keara. Dan mereka berdua mengurai pelukannya.


"Keara doain semoga ke depannya mbak Marsya sama mas Daniel makin sukses dan bahagia selalu ya mbak.. Juga lancar kelahiran dede bayinya yaa mbak.."


Setelah sesi berpamitan mengharu biru itu, Keara kembali bekerja. Dia berniat menghabiskan sisa harinya bekerja di kafe dengan baik. Sebagai tanda perpisahan yang baik pula. Ia ingin memberi kesan positif demi membalas budi Mbak Marsya dan Muthia, teman SMAnya.


Keara memang sudah mengambil keputusan. Ia menerima tawaran mas Harris untuk bekerja di kantornya sebagai staf keuangan. Keara pun sudah memberi tahunya tentang rencana mengajukan pengunduran dirinya hari ini pada Harris, dan mulai bisa bekerja minggu depan. Dan lelaki itu sudah pasti menyambutnya dengan tangan terbuka.


Keara berpikir, jika ini adalah kesempatan baginya untuk berkembang. Di usia Keara yang sebentar lagi mencapai seperempat abad dan dia belum mempunyai pencapaian apa-apa, sempat membuatnya kepikiran. Belum lulus kuliah, belum menikah, pekerjaan masih jauh dari karir yang diharapkan.


Menurutnya, jika dia bekerja di perusahaan besar dan maju seperti perusahaan milik mas Harris, bisa menjadi langkah awal baginya meniti karir sesuai bidang yang ia kuasai. Terlepas cara masuknya ke perusahaan itu melalui jalan ninja bawaan orang dalam. Eh kalau mas Harris masa sebutannya orang dalam sih? Dia kan yang punya perusahaan.. Lebih dalam lagi dari orang dalam. Heheee...


Keara kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Karena memang yang baru tau tentang pengunduran dirinya cuma Mbak Marsya. Sehingga ia bisa kembali bekerja dengan baik sampai akhir pekan yang ia sepakati dengan mbak Marsya.


Sore menyapa. Tinggal beberapa menit lagi jam pulang kerja bagi Keara dan teman-teman satu shift lainnya. Keara bersiap mengambil barang-barang di loker ruang karyawan. Hari ini sepulang kerja, dia ingin mengunjungi satu tempat yang membuatnya penasaran.


Juna mendekat menghampiri Keara yang masih berkutat dengan tas di lokernya. Juna baru saja mendengar dari Marsya perihal pengunduran diri Keara. Marsya memintanya segera mencari karyawan pengganti karena Keara akan berhenti kerja akhir minggu ini. Artinya, hanya tersisa waktu lima hari lagi bagi Keara bekerja di Firstlove Cafe.


"K.." panggil Juna lirih. Tidak ingin karyawan lain yang sedang ada di ruangan itu mendengar percakapannya.


"Iya, mas.."


"Aku dengar kamu mau resign?"


"Eh emm.. Iya mas. Akhir minggu ini aku terakhir kerja." jawab Keara tergagap. Itu karena sikap Juna yang berubah beberapa hari belakangan. Ia kaget juga Juna akhirnya mengajaknya bicara lagi, dan kali ini tentang pengunduran dirinya.


Sejak dua minggu ini, Juna tidak pernah lagi mengajaknya mengobrol. Dia bersikap acuh tak acuh. Bahkan memperlakukan Keara sama seperti memperlakukan karyawan yang lain. Tidak ada perlakuan istimewa seperti sebelumnya. Tidak ada kebebasan merubah-ubah jadwal shift kerja, seperti biasanya.


"Kenapa K? Apa karena aku akhir-akhir ini memperlakukan kamu sama seperti yang lain?"


"Oh enggak mas Juna.. Sama sekali enggak." Jawab Keara lugas.


Keara memang menyadari perubahan sikap Juna. Tapi dia sungguh tidak ambil pusing. Dia selama ini tidak mengharapkan dan juga tidak pernah minta diperlakukan istimewa, jadi ketika Juna bersikap acuh tak acuh, Keara cuek saja. Tidak sedikitpun keberatan.


Juna menggaruk rambutnya, tampak frustasi. Selama ini dia sengaja menjauhi Keara demi memupus ketertarikannya pada gadis manis dan ceria ini. Tapi yang ada, bayang Keara masih tetap mengusik pikiran dan hatinya. Nyatanya, secuek apapun sikapnya pada Keara, rasa suka itu tetap ada untuknya.


"Iya mas, tapi aku udah dapet kerja di salah satu perusahaan e-commerce gitu.. Alhamdulillah, mas.."


"Perusahaan Harris Risjad??" tanya Juna sinis.


Keara memicingkan matanya. Dia mengherankan sikap sinis Juna yang tidak bisa ia tebak maksudnya. Juna selalu menatap Keara dengan pandangan antipati jika sudah menyebut nama Harris. "I-iya.." jawab Keara singkat.


"K, dengerin aku." Juna berusaha meraih jemari Keara, tapi ditepis dengan halus oleh gadis itu. "Aku.. Sebenarnya aku..."


"Maaf mas, aku dengerin kok.. Mas Juna mau ngomong apa? Tapi tangannya ga perlu pegangan.. Takut kalau ada yang lihat, bisa salah paham.." kilah Keara.


"K, sebenarnya.. waktu itu aku mau bilang, kalau aku suka sama kamu. Please K.. Kamu jauhin Harris." Juna berujar dengan penekanan suara untuk meyakinkan Keara.


Keara justru semakin bingung dibuatnya. Kenapa? Ada apa dengan Mas Harris?


"Maksud mas Juna gimana ya? Emangnya kenapa sama mas Harris?"


"K, aku berusaha jauhin kamu karena aku gak suka kamu deket sama Harris. Kalau kamu memang suka dan kepengen kerja kantoran, aku bisa masukin kamu ke perusahaan papaku. Papaku pemilik perusahaan Farmasi."


"Bukan karena itu mas, tapi aku memang gak bisa dan gak mau jauhin mas Harris. Aku merasa gak ada masalah apapun sama mas Harris.."


"Dengerin aku dulu K.." Juna terus menyela Keara. "Aku memang ada sedikit masalah sama orang tuaku. Karena itu aku pergi dari rumah dan kerja di kafe ini. Tapi aku yakin itu tidak akan membedakanku dengan Harris. Aku juga bisa masukin kamu kerja di perusahaan keluargaku. Kamu bisa kerja kantoran dan punya karir seperti cita-cita kamu... Kamu bisa pilih posisi apa yang kamu mau.. Kamu....."


"Wait.. Wait.." Keara menatap tak percaya. "Ucapan mas Juna barusan itu secara gak langsung memberi predikat padaku sebagai cewek yang matre, yang deketin cowok demi bisa dapat pekerjaan dan karir yang bagus, gitu kan??" sengit Keara.


"Maksud aku gak gitu K.. Aku cuma gak mau kamu dekat dan ada hubungan dengan Harris. Itu aja. Titik."


"Iya. Tapi alasannya apa??"


"Aku gak bisa bilang sekarang.. Aku..." Juna tergagap menjelaskan maksudnya.


"Kalau gitu gak perlu menjelaskan apa-apa. Aku gak akan pernah jauhin mas Harris. Apalagi demi permintaan mas Juna yang gak jelas juntrungannya." Keara menyambar tasnya dan beranjak meninggalkan Juna.


"Satu lagi!" tegas Keara sebelum keluar dari ruang karyawan yang sudah kosong sejak beberapa menit lalu, hanya tinggal mereka berdua.


"Aku deket sama mas Harris bukan demi kerja di perusahaannya. Aku ga sematre dan sepicik itu. Terserah mas Juna mau nilai aku apa. Tapi aku gak suka ucapan mas Juna barusan."


*Brakk*


Keara membanting pintu. Ia keluar ruangan dengan perasaan kesal yang menjalari pikirannya. Kemudian melajukan motornya dengan cepat. Ingin segera pulang dan makan demi meluapkan kekesalannya.


Tidak ia pungkiri, rasa penasaran itu tetap ada. Bagaimana bisa mas Juna yang tidak mengenal mas Harris bisa begitu tidak sukanya pada mas Harris. Kenapa?


Dalam perjalanan pulang, ia terpikir ide untuk mengonfirmasinya langsung pada mas Harris.


Sekalian biar ada alesan buat ketemu mas Harris yaa, K..? Good idea.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih