
"Ke-keara? Ehm.. Sa-yang..?" panggil Harris dengan nada terbata. Sungguh ia tidak menyangka Keara datang ke rumahnya dengan menyeret koper yang baru mereka beli bersama kemaren. Yang berisi keperluan liburan perdananya ke Korea.
'Apa yang membawa Keara berada di sini sekarang? Harusnya pesawatnya sudah landing. Apa dia sudah tau semuanya? Dan wajahnya sudah sembab seeprti itu.. Pasti dia sudah tau apa yang terjadi. Bagaimana dia bisa tau?' gumam Harris dalam hati.
Ia mengisyaratkan pada Aswin dan Bara untuk keluar ruangannya. Aswin dan Bara langsung melesat, setelah menutup pintu ruang kerja Harris. Meninggalkan Harris dan Keara berdua saja dengan kemelut perasaan yang menyelimuti hati keduanya.
Harris beranjak dan mendekat ke raga cantik yang sudah bersimbah peluh itu. Tangannya sudah terulur bersiap mendekap gadis yang sangat ia rindukan. Tapi ketika lengannya semakin dekat, Keara justru mundur dan menepis pelukan Harris.
"Sa-yang, Kenapa..? Apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Harris. Netranya kian gusar menatap gadisnya dari jarak dekat. Gadis cantiknya itu terlihat sangat kacau. Matanya sembab. Hidung dan wajahnya memerah. Rahangnya mengatup rapat. Seakan menahan luapan emosi dari dalam hatinya.
"Kenapa?? Mas Harris kaget..? Kenapa orang yang sudah mas buang bisa ada disini??"
"B-buang??" Netra Harris memicing. Ia terus merangsek maju mendekati Keara yang terus mundur menghindarinya.
"Sayang, maksud kamu apa? Aku gak ngerti..."
"Mas Harris mau menyingkirkanku kan..? Mas Harris mau mengirimku jauh ke Korea, karena ada masalah ini kan?? Kenapa mas? KENAPAA??!!" pekik Keara histeris. Sambil terus menghindari genggaman tangan Harris.
Sejak mendapat telepon dari Ocha, dia langsung memutuskan untuk keluar barisan antrian check in. Keara juga mengancam Tiara agar tetap berangkat sesuai ke Korea sesuai rencana, dan tidak mengejarnya. Keara yakin, Tiara sudah tau semua rencana Harris untuk mengirimnya ke Korea.
"Tiara, tetap naik ke pesawat itu dan jangan menghalangiku bertemu tuanmu.. Aku akan memfitnahmu di depan Harris bahwa kaulah yang membocorkan rahasia ini kepadaku, kalau kau sampai mengejarku!" ancam Keara. Dia yakin Tiara akan menghubungi Harris setelah ia lari. Tapi ia tidak peduli lagi.
Tiara bergeming. Dia tau pasti, tuannya yang sedang kasmaran itu pasti lebih percaya pada kekasihnya daripada mencari tau kebenarannya. Ia memilih tetap melanjutkan perjalanannya Ke Korea Selatan. Tapi mencoba menelepon Harris berulang kali.
"Sayang, apa maksudmu? Aku hanya ingin kamu bersenang-senang.. Liburan dan berbahagia.." jelas Harris.
"Apa maksudnya dengan... membuang? Menyingkirkan? Mengirim? Apa itu?? Sayang, jangan....."
"Apalagi sebutannya?? Aku saja yang terlalu bodoh. Tidak curiga mendapatkan hadiah liburan secara tiba-tiba. Hehh.. Padahal mas Harris hanya mengatur strategi agar aku pergi jauh dari sini.. Agar aku tidak mengganggu mas Harris. Agar aku tidak membebani mas Harris. Begitu, kan?"
"Sayang, tidak seperti itu.. Dengarkan penjelasanku dulu..."
"Harusnya tidak perlu repot-repot seperti itu. Buang-buang uang. Mas Harris cukup katakan saja padaku, kalau mas Harris gak butuh ada aku di sekitar mas Harris. Maka aku akan pergi dan tidak akan mengganggu mas Harris lagi, jika itu yang mas mau..."
Keara bicara dengan terisak-isak. Ia berusaha tidak menangis tapi tidak mungkin. Ia sudah menangis sejak berada di dalam taxi tadi. Ia mendengar dan membaca berita-berita bohong yang sudah beredar luas mengenai calon suaminya, hatinya terasa sangat sesak.
Yang lebih membuatnya sesak adalah perasaan dan pikirannya bahwa Harris sengaja menjauhkannya. Ia berasumsi bahwa Harris tidak membutuhkannya untuk berada di sisinya di saat ia terpuruk. Ia merasa tidak dibutuhkan. Ia merasa tidak berguna untuk lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Jangan begitu sayang.. dengarkan aku...."
"Aku tau, aku hanya perempuan kecil, tidak punya apa-apa, tidak bisa membantu apapun, tidak tau apa-apa. Tapi apa aku sebegitu tidak bergunanya sampai mas Harris tidak mau hanya sekedar aku temani melewati masalah ini??"
"K, tidak........"
"Aku tau semua berita yang beredar itu berita bohong. Aku tau mas pasti merasa sakit hati dan menderita..." Keara terus menyela ucapan Harris. Seolah sedang meluapkan sesak di dadanya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menurunkan volume suaranya.
"Tapi kenyataannya aku tidak dibutuhkan di saat-saat seperti ini dan itu membuatku berpikir mas, mungkin keberadaanku memang tidak sepenting itu di hidup mas Harris." Keara kembali menarik nafas berat. Air mata tidak berhenti mengalir di pipi gadis mungil itu.
"Tapi bukan seperti itu yang aku rasain mas!! Aku gak tau apa artinya aku buat mas Harris. Kenapa seolah mas Harris belum benar-benar menerimaku untuk masuk ke kehidupan mas Harris?"
Harris mendekat dan berusaha meraih lengan Keara. Tapi gadis itu dengan cepat menghindar dan menepisnya.
"Aku kemari tidak bermaksud ingin mengganggu mas Harris. Aku hanya ingin bilang, aku yakin mas Harris bisa mengatasi semua masalah ini. TAN-PA A-KU !!" ucap Keara dengan isakan yang tak pernah surut.
"Aku akan menjauh dan menghilang dari pandanganmu. Anggap saja aku sudah terbang ke Korea atau ke Antartika sekalipun. Seperti keinginan mas Harris. "
"Jadi, jangan terbebani dengan keberadaanku lagi.. Aku janji tidak akan mengganggu mas Harris lagi."
Harris mengeratkan rahangnya. Kepalanya yang sedari tadi sudah pening kian berdenyut menyiksa. Kerja otaknya terasa melambat untuk memproses semua ucapan Keara. Semua sangat melenceng dari rencananya.
Harris merasa sudah mengatur rencana sematang mungkin. Dalam waktu singkat tentunya. Yang terlintas di pikirannya saat itulah ia pikir yang terbaik. Dia tidak hanya menyortir isi berita, dengan menghapus identitas dan isu tentang mamanya. Dia juga sudah mengatur media untuk merilis berita tentang dirinya di jam seharusnya pesawat Keara sudah landing.
Tapi siapa sangka, rencananya untuk melindungi gadis tercintanya justru membuat gadis itu salah paham. Rencana ini malah membuat mereka berdua terluka.
"Aku sudah tidak butuh koper ini. Dan semua isinya." Keara mendorong dengan kasar koper yang ada di sisi kanannya.
"Satu lagi, mas.. Aku ingin kita membatalkan rencana pernikahan kita. Aku merasa kita sama-sama belum siap untuk menikah.
Aku... tidak bisa.. menikah.. dengan orang yang.. tidak bisa.. menerimaku.. masuk ke dalam kehidupannya."
"A-pa??" Harris terdiam mematung. Bahkan ketika Keara membuka pintu dan keluar dari ruang kerjanya.
Sedetik kemudian Harris langsung berlari secepat yang ia mampu. Ia masih tetap sama. Cintanya pada Keara masih utuh. Ia tetap tidak ingin kehilangan lagi seseorang yang berharga untuknya.
"Tunggu, K.. Keara!! Sayaangg.. Dengarkan aku dulu!!" Harris berlari menyongsong Keara sampai keluar ke depan pintu utama.
Aswin dan Bara bergegas menyusul Harris. Mereka berdua menahan lengan bosnya itu sekuat tenaga.
"Jangan keluar, Pak.. Diluar banyak wartawan yang bersembunyi. Tahan pak...!" seru Aswin dan Bara bersahutan.
"Ingat rencana Pak Harris. Jangan sampai ketangkap wartawan sekarang pak.."
Harris mencoba berpikir jernih. Langkahnya yang sudah sempoyongan akhirnya bisa dengan mudah dihentikan oleh dua orang asistennya itu. Ia melihat dengan nanar kekasih hatinya itu terus berlari sampai keluar dari gerbang pagar rumahnya. Hingga bayangnya semakin mengecil dan tidak lagi terlihat.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih