Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Membuka Hati


Keara terus memandangi benda mungil yang berkilauan di jemarinya. Sepanjang perjalanan ia terus dibuat takjub dengan keindahannya, hingga ia tidak bisa berhenti tersenyum sangat bahagia. Sebuah cincin berlian mewah, dengan harga fantastis, melingkar di jari manis tangan kiri Keara.


Harris yang sedang berkonsentrasi menyetir, sesekali melirik gadisnya. Senyuman manis itu turut membuat sudut-sudut bibirnya ikut tertarik mengulas senyum.


"Kamu suka, K?" tanyanya.


"Suka banget. Ini indah sekali, Mas.." binar ceria terpancar terang dari netra Keara.


"Pantas harganya sangat mahal, Mas.. Modelnya simpel tapi sangat elegan. dan berliannya berkilauan sangat cantik. Saking mahalnya sampai gak cocok nempel di jariku.."


Keara terkekeh. Ia mengangkat tangan dengan membentangkan jemarinya. Menengadah menerawang cincin di jari manisnya. Sesekali ia memutar-mutar telapak tangannya. Seakan ingin mengamati cincin berlian yang berkilauan itu dari segala sudut pandang.


"Cocok banget K.. Bukan cincinnya yang cantik.. Kamulah yang sangat cantik dan jarimu lentik. Semua yang menempel di tubuhmu terlihat indah dan menambah kecantikanmu, sayang.."


Keara tercenung. Rentetan kalimat indah itu terlontar dari lelaki dingin yang sudah melamarnya beberapa hari lalu. Sungguh ia terlena hingga angannya melambung tinggi mendengar penuturan itu.


"Sudah makin jago gombalnya yaa..." cibir Keara. Demi menyamarkan pipi kemerahannya sebab ia tersipu malu.


"I'am serious, K.." Harris meraih jemari Keara dan menggenggamnya erat dengan sebelah tangannya masih fokus menjalankan kemudi.


"Jangan berlebihan, Mas.. Jangan terlalu boros.. Cincin ini saja sudah sangat mahal. Harganya bahkan setara dengan biaya hidupku sekeluarga selama setahun. Belum lagi baju yang mas belikan ini. Harga satu baju ini saja bisa dapat sepuluh baju yang biasa aku beli.."


Sejak disebut 'sexy' saat memakai kaus Harris tadi, Keara berganti baju. Kembali memakai bajunya sendiri untuk berangkat ke mall. Tapi sesampainya di mall, Harris langsung memaksanya membeli baju baru untuk bisa dipakai Keara saat itu juga. Sebuah dress sifon putih dengan motif floral yang manis menjadi pilihannya.


"Enggak berlebihan sayang.. Lagipula ini pertama kalinya aku membelikanmu sesuatu.. Dan aku masih tau batasan boros dan tidaknya.." tutur Harris lembut.


Keara memilih diam. Ia tahu uang bukan menjadi masalah untuk Harris. Ia hanya merasa sungkan. Menerima barang-barang mewah yang baru pertama kali ia pakai, bahkan ia lihat.


"K, boleh aku tau apa yang dibicarakan Aswin sampai membuatmu tertawa renyah seperti tadi sore?" tanya Harris.


Keara melirik. Sekejap netranya bertemu pandang dengan netra Harris. Keara tersenyum lebar mengingat obrolannya dengan asisten Harris tadi sore. Betapa Mas Aswin tadi banyak menceritakan kebucinan Harris padanya. Membuatnya senang dan hatinya melambung ke kahyangan. Tidak menyangka akan menerima cinta dari bongkahan gunung es yang dulu amat tidak ia sukai.


"Malah senyam senyum.." Harris menggelitiki telapak tangan Keara yang ada di genggamannya. Membuat gadis itu tertawa- tawa geli.


"Hahahaa.. geli mas.." Keara berusaha melepaskan jemarinya, tapi lelaki itu justru menautkan jari-jari keduanya.


"Enggak.. Gak cerita apa-apa kok.."


"Mulai gak jujur nih sekarang?" lirih gumam Harris terlontar.. Ia menarik jemari Keara. Membawanya ke atas mendekat ke bibirnya. Lalu mengecup punggung tangan gadis itu dalam dan lama. Mengalirkan gelenyar aneh di dalam darahnya. Dan debaran jantungnya mendadak menggelegak.


"Engg.. Enggak.. Gak gitu.." Keara baru bisa bicara setelah kecupan di tangannya terlepas. Sebelumnya, tenggorokannya terasa tercekat setiap menerima perlakuan manis dari Harris.


"Mas Aswin cerita kalau di kantor mas Harris tuh jarang ngomong, jarang senyum, apalagi ketawa.. Ehmm.. Dia juga bilang kalau mas Harris boss yang kaku kayak kanebo kering.. Hahahhaa..."


Wajah Harris memerah. Malu sampai ia merasa telinganya memanas. "Berani sekali dia ngatain aku. Breng sekk..!" gumam Harris.


Keara mengulurkan tangan kirinya untuk menutup mulut Harris. Sedangkan tangan kanannya masih betah dalam kungkungan genggaman Harris.


"Heyy.. Jangan ngomong kasar begitu mas.."


"Ma-maaf" ucap Harris terbata. Terkejut saat tangan Keara datang dengan sukarela menyambangi bibirnya.


"Terus ngomong apa lagi dia?"


"Gak mau bilang ah.. Ntar mas Harris marahin Mas Aswin di kantor.." Keara melengos saja.


"Enggak, K.. Janji."


"Janji?"


"Hem.."


"Mas Aswin cerita kalau sejak dekat sama aku tawa mas Harris sering terdengar menggema di kantor." Keara menjeda kalimatnya. Ingin melihat reaksi Harris setelah mendengar ucapannya. Lelaki itu menyunggingkan senyuman, meski tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.


Keara sangat senang dan tersanjung. Bisa membuat hati beku lelaki ini perlahan mencair dan menghangat. Dan sungguh, ia juga merasakan setiap kehangatan yang disalurkan Harris kepadanya, perlahan mengubah predikat gunung es yang dilekatkan pada Harris sebelumnya.


"Dulu mah jarang banget senyum mbak, apalagi ketawa.. Tapi kalau dibilang kejam ya gak juga.. Cuma gak asik aja.. Gak menikmati hidup." tutur Aswin sore tadi. Keara terkekeh geli dibuatnya.


"Senyumnya itu cuma kelihatan pas lagi sama klien atau kolega-koleganya saja, Mbak.. Tapi ya senyum kaku dan formal gitu deh.. Jauh dari kata tulus. Hehhee.."


"Makanya mbak Keara terima lamaran pak Harris yaa.. Cintanya gak perlu diragukan lagi. Saya saksinya mbak.."


Ucapan Aswin kembali terngiang di telinganya. Keara merasa hatinya dialiri sengatan-sengatan listrik dengan skala kecil. Tidak mematikan. Hanya debarannya yang tak karuan membuat pipinya terus menerus bersemu merah. Membuat Keara spontan melupakan kekesalannya tadi siang terhadap gadis SMA masa lalu Harris. Keara juga bertekad ingin membuka hati selebar dan seluas mungkin untuk seorang Harris Risjad.


"K, beberapa hari ke depan aku akan sedikit lebih sibuk. Bisakah kamu menemui Buk Dha sendiri tanpa aku? Dan belanja keperluan seserahan bersama Ocha atau ibu?"


Keara mengangguk. Tidak sadar Harris bisa melihat anggukannya atau tidak.


"Untuk urusan acara pertunangan aku akan menyewa jasa event organizer. Kamu hanya perlu belanja kebutuhanmu saja. Jangan sampai kamu kerepotan atau kecapekan."


"Nanti malam akan aku transfer ke rekening kamu untuk belanja dan urusan lainnya.. Hm?"


"Iya, mas.." Keara tersenyum. Sedetik ia saling berpandangan dengan manik hitam lelakinya. Saling tersenyum. Tanpa mengucap sepatah katapun, mereka saling merapal rasa di hati masing-masing.


"Mas.." suara Keara memecah hening yang sekejap lalu menyertai.


"Hm?"


Keara menggerakkan jemarinya. Jemari yang sejak tadi digenggam erat oleh Harris. Kini ganti dia yang semakin merapatkan jemarinya dengan jemari besar milik Harris. "Setelah kita menikah, apa aku boleh tetap bekerja?"


"Gak boleh." sahut Harris cepat.


"Untuk apa, K? Aku bisa menafkahimu dan keluargamu. Kamu tidak perlu capek-capek bekerja, K.. Aku yakin bisa menanggung kamu dan ibu."


"Tapi mas.. Aku mau bekerja jadi asisten mas Harris.."


Harris beberapa kali harus menyeimbangkan konsentrasinya yang terpecah akibat ucapan Keara. Dia memutuskan menepikan mobilnya di sebuah pelataran ruko yang sudah tutup.


"Kok berhenti? Rumahku tinggal dua gang lagi mas..." Keara yang kebingungan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Harris. Tapi apa daya, Harris justru semakin mengeratkannya.


Harris diam saja memandangi Keara dengan senyum manis terpatri di wajahnya. Ia ingin mengonfirmasi apa yang tadi ia dengar. Tanpa terganggu dengan aktifitas menyetir.


"Apa aku salah bicara? Apa mas Harris mau nurunin aku di sini?"


"Hahahaa.. Ya engga lah sayang. Aku gak gila." Harris tergelak.


"Aku mau memastikan pendengaranku. Makanya aku berhenti dulu. Kupikir kita bisa lebih nyaman bicara kalau kita berhenti dulu."


Keara mengangguk canggung. Ia sungguh malu. Entah pada siapa.


"Ya, aku bilang setelah menikah aku mau kerja jadi asisten mas Harris. Tapi setelah nikah aja.. Sebelum nikah, aku mau berlama-lama menikmati masa lajang, bermanja-manja sama ibuk.."


"Iya, tapi kenapa, K?"


"Ke-napa a-pa-nya?"


"Kenapa mau jadi asistenku?"


"Ehmm.. Itu... Ehhmm..." Keara tertunduk dalam. Sangat malu. Ia yakin wajahnya sudah memerah saat ini.


Harris masih sabar menanti gadisnya mulai terbuka. Ia tidak menginterupsi sedikitpun. Berharap Keara meluapkan keinginan hatinya tanpa tekanan.


"Kalau jadi asisten mas Harris aku bisa datang ke kantor tiap hari. Bisa membantu pekerjaan mas Harris. Aku juga.. bisa.. ikut kemana-pun mas per-gi..."


"Judulnya pengen ngintilin suami setiap saat niih?" Harris mengerling menggoda Keara yang sudah merah padam dan salah tingkah. Hatinya pun berbunga-bunga mendengar pengakuan gadis cantik di hadapannya itu.


Terbayang kebahagiaan yang sudah siap menyapanya setelah menikah nanti. Istrinya, gadis manis dan cerewet di depannya ini, sudah mulai menunjukkan keposesifan terhadap dirinya.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih