Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Jackpot Tengah Malam


"Ehem.." Harris berdehem agar Keara menyadari keberadaannya. Tapi yang terjadi Keara malah tersentak dan menjerit kaget.


"Aaahh.."


"Sssstt.. Kamu bisa bangunin orang serumah." Harris mencoba menenangkan Keara. Ia pun terkejut mendengar teriakan Keara.


"Iisshh apaan sih mas Harris nih.. Ngagetin aja." desis Keara. Wanita itu melirik tajam suaminya. Bibirnya cemberut dan dia malas mengucapkan apapun lagi. Fokusnya kembali pada kompor yang masih menyala dengan panci berisi mie pedas di dalamnya.


"Ehmm.. Kamu lagi ngapain?" tanya Harris hanya ingin berbasa basi. Ia ingin menarik perhatian Keara. Kakinya semakin melangkah maju mendekati raga cantik pujaan hatinya.


'Lagi ngapain?? Emangnya dia gak liat aku lagi masak..? Basi banget nanyanya. Ya kali kayak gini dikira lagi main bola...' gumam Keara dalam hati. Tapi mulutnya tetap terkunci rapat. Malas juga menjawab pertanyaan yang tidak penting.


"Kamu.. lagi masak? Ehmm.. masak apa?" Harris jelas kalang kabut pertanyaannya tidak digubris oleh Keara. Wanita itu jangankan menjawabnya, melirik saja tidak.


Harris maju beberapa langkah lagi lebih dekat dengan Keara. Hingga raga keduanya hanya berjarak sejengkal. Harris bisa mencium aroma tubuh wanitanya karena saat ini ia sedang menunduk dengan posisi kepala yang hampir menempel di tengkuk Keara. Ah, begini saja sudah bisa menegakkan sesuatu di bawah sana, tapi bukan keadilan.


"Aku ngomong sama kamu.." gumam Harris lagi. Ia tidak tahan untuk tidak menempelkan bibir dan ujung hidungnya di ceruk leher sang istri.


Keara menarik nafas panjang. Ia tidak menampik sentuhan lembut Harris di lehernya mengalirkan tegangan yang memberi sensasi memabukkan sekujur tubuhnya. Cepat-cepat ia mengendikkan bahu agar suaminya itu menghentikan aktifitasnya.


Belum lagi alat tempur Harris yang sudah menegak, bisa Keara rasakan karena posisinya yang melekat di pan*tat Keara.


"Sayang...." desah Harris dengan suara seraknya. Ia cukup frustasi posisi enaknya harus terusik karena ditolak oleh wanitanya sendiri.


Gairahnya sudah memuncak membayangkan tengah malam ini ia bercinta di dapur. Lokasi yang tidak pernah ia coba karena terlalu banyak orang di rumahnya. Tapi Keara tak jua merespon sinyal yang ia berikan.


Kali ini Harris mencoba membalikkan tubuh Keara. "Sayaaang.."


"APA??!" sentak Keara.


Harris terhenyak melihat wajah dan sentakan ketus istrinya. "Eh.. Eee.. A-aku...."


"Gak liat aku lagi masak?? Gangguin aja." Keara mendengus kesal.


"A-aku kan juga mau makan... Aku juga laper." Harris bergumam pelan. Menciut juga nyalinya kalau Keara dalam mode judes begini.


"Minta Bik Santi aja sana yang masakin. Aku masak mienya pedes!" sahut Keara dengan nada yang masih bersungut-sungut.


Harris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh sulit posisinya saat ini. "By the way, bukannya tadi aku yang marah ya? Kok jadi kamu yang jutek gini?"


"Yaudah, kalau mau marah lagi juga silakan. Siapa yang suruh mas Harris nyusulin kesini dan ngajak ngomong aku??"


"Ih kok sadis gitu sih, orang udah gak marah disuruh marah lagi.." goda Harris.


Keara tidak menggubris. Ia membawa mangkok mienya lalu berjalan ke meja makan. Kemudian ia pun tersadar sesuatu. "Lah.. Bik Santi mana?" gumamnya lebih terdengar seperti bicara dengan dirinya sendiri.


Terakhir ia tau Bik Santi duduk di kursi dapur sebelum ada Harris. Apa mungkin bik Santi pergi karena ada mas Harris datang?


"Emangnya tadi ada Bik Santi..? Aku ga lihat." Harris jadi mempunyai ide brilian untuk menakut-nakuti istrinya. Mungkin dengan cara begini Harris bisa mendapat perhatian lagi dari istrinya.


"Ada. Tadi duduk di situ.." Keara menunjuk satu kursi di depannya.


"Gak ada tuh dari tadi.. Malahan tadi aku lihat kamu ngomong sendiri."


Keara melotot tajam pada Harris. bulu kuduknya sudah meremang karena hayalannya sendiri. Khayalan yang tiba-tiba mencuat setelah mendengar ucapan mas Harris.


"Ng-ngomong sendiri gi-mana?" tanya Keara dengan suara bergetar.


"Yaa ngomong sendiri, 'duduk di sana aja bik.. aku aja yang masak.' gitu. Terus kamu......."


"AAAAHHHH..!! MAS HARRIS.. AKU TAKUUUTT." Keara langsung melompat ke pelukan suaminya.



Keara merasa tadi keberadaan bik Santi nyata adanya. Karena ia sendiri yang mengetuk pintu kamar bik Santi untuk membangunkan wanita berumur lima puluhan itu. Tapi ternyata itu cuma halusinasinya saja? Huaaa... gilaa. Gilaaak!


Keara berjingkrak-jingkrak tak bisa diam dalam pelukan suaminya. Dia benar-benar ketakutan.


Harris menyeringai lebar. Tubuhnya jelas menerima dengan senang hati pelukan Keara. Jackpot yang menyenangkan.


Hahahaha, devil's laugh.


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih