Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Pedekate Jalan Ninja


"Mas Harris lagi disini juga?" tanya Keara, hanya untuk berbasa-basi saja. Sebagai jawabannya, dia hanya mendengar suara deheman dari Harris. Uh, dasar gunung es.


"Em.. Silakan. Aku duluan." ujar Harris sambil berjalan menyamping, memberi space untuk Keara mendekat di pusara Rizky.


Keara duduk bersimpuh di sisi kiri pembaringan terakhir Rizky. Mengusap nisan Rizky dengan lembut. Lantas dengan khusyuk memanjatkan doa-doa ziarah. Kemudian dilanjutkan dengan bercerita tentang kesehariannya. Seperti dulu saat Rizky masih hidup.


"Mas Rizky tau gak sih.. hari ini random banget deh.. Bisa-bisanya aku ketemu sama Nico. Ini pertama kalinya kami ketemu setelah empat tahun lalu kami putus. Sebel banget aku sama dia.. Eh maaf sayang, maksudnya aku ga dendam kok. Enggak.. Cuman aku sebel aja liat mukanya yang tengil itu. Senyam-senyum.. Kayak yang ga punya dosa sama aku. Nyebelin banget kan..?"


"Coba kalau mas Rizky masih ada.. Dia pasti ga berani flirting-flirting gaje gitu.. Karena kalau mas masih ada, kita pasti sudah menikah. Iya kan mas? Kita pasti sudah hidup bahagia. Mas Rizky kerja, dan aku lanjutin kuliahku sampai lulus, setelah itu kita akan punya anak dan aku akan jadi ibu.. Hehe.. Udah mengkhayal aja aku ini.." Keara menghapus bulir yang lolos dari netranya.


Lantas menarik nafas dalam-dalam. "Aku kangen banget sama mas Rizky. Mas Rizky tenang yaa di alam sana. Ga ngerasa sakit.. Gak perlu capek lembur lagi.. Bahagia terus ya mas.. Main-main dong ke mimpi K.. K kan kangen sama mas.."


"Keara pulang dulu ya mas.. Bentar lagi udah maghrib, takut ibuk khawatir. Mas baik-baik yaa disini.. Aku juga akan baik-baik aja. Aku akan terus ceria dan semangat. Seperti biasanya pesan mas buat aku.. Assalamualaikum, mas Rizkyku.."


Keara bangkit setelah menyiram tanah kuburan Rizky dan menaburinya bunga.


Kali ini ia berjalan dengan cepat dan langkah lebar. Sore sudah menggelap. Keara merasa bulu kuduknya meremang. Ia mengedarkan pandangan, sepertinya dia benar-benar seorang diri di area pemakaman yang luas ini.


'Eh, wait.. mungkin bukan seorang diri, K.. Tapi banyak orang di sekelilingmu cuman ga keliatan aja..' monolog Keara dalam hati, tapi sukses membuatnya semakin bergidik ngeri.


Suara desau angin yang menggerakkan dedaunan semakin membuat pikirannya membayangkan yang bukan-bukan. Hawa dingin mulai menghinggapi kulitnya. Membuat Keara merasa bulu di tubuhnya meremang semakin hebat. Sungguh keadaan yang tak bersahabat. Seakan ada langkah yang bersama dengannya berjalan membelah terpaan angin. Tapi tentu saja itu hanya perasaannya sendiri. Karena saat Keara menoleh ke segala arah, tak ada satu manusia pun yang tampak.


'Duh, mas Rizky.. jagain aku yaa.... Haduuuh, ini kenapa udah jalan dari tadi ga nyampe-nyampe sih.. Perasaan tadi ga sejauh ini jalannya.. Huuh.. ini kenapa mendadak kayak film thriller gini sih.. Eh horor ding..'


Setelah berjalan dengan perasaan was-was, dengan tubuh merinding, sampai juga Keara di pintu keluar area pemakaman. Keara setengah berlari menuju motornya yang diparkir beberapa meter di depan sana. Sampai sebuah suara mengejutkannya.


"Ban motormu kempes."


"Aaahhh..!!!" Keara menjerit sembari menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Dia bahkan tidak tau perkataan orang yang mengejutkannya tadi.


"Kenapa? Kenapa?! Kamu kenapa, K??"


Mendengar suara yang tak asing mampir ke telinganya, Keara perlahan membuka matanya. Dan menatap sosok Harris di depannya dengan menampakkan wajah panik, sepanik dirinya beberapa saat lalu.


"Ini aku." ujar Harris singkat.


Keara langsung mencibir dengan wajah merah padam. Takut campur malu. "Ngagetin aja sih mas Harris ini!!" sembur Keara.


Harris tak kalah kagetnya. Tadi dia merasa hanya sedang memberikan informasi pada Keara tentang ban motornya yang kempes, tapi yang ia dapati Keara menjerit histeris. Dan sekarang ia kena semprot pula. Dasar apes Ris, Harris..


"Siapa yang ngagetin?! Kamu yang jejeritan gak jelas." sahut Harris dengan memasang wajah garang. Raut khawatirnya saat Keara menjerit tadi hilang sudah.


"Mas Harris ngapain disini tiba-tiba nongol?!"


"Siapa yang tiba-tiba nongol?! Aku berdiri di sini dari tadi. Emangnya kamu gak lihat aku waktu jalan dari sana??"


Keara menarik nafas dalam seraya menepuk-nepuk dadanya. Berusaha menetralkan detak jantungnya. "Kalau gak lihat emang kenapa?! Mas Harris tuh ga ngerasa apa suasana horor begini.. Kalau mau ngomong, kasih salam dulu kek. Biar aku ga mikir tadi disapa sama kuntilanak.."


"Kalau takut, ngapain kemari jam segini?" Harris mulai menurunkan nada suaranya. Tidak lagi dengan bersungut-sungut.


"Aku pulang kerjanya emang jam segini!" bentak Keara. Kerja jantungnya masih belum stabil. Dia juga tidak tau kenapa masih saja emosi, padahal dalam hati ia tau mas Harris tidak salah apa-apa padanya.


"iya, oke.. Sorry." Harris mengangkat kedua telapak tangannya, "Tadi aku cuma mau bilang kalau ban motormu kempes. "


Keara beralih melihat motor matic kesayangannya. Benar, ban belakang motornya kempes pes pes. "Haduuh.. perasaan tadi baik-baik aja.. Gimana niih..?" gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.


"Makanya aku tungguin disini. Khawatir kamu butuh bantuan.." ujar Harris datar.


Keara bergeming. Tidak tahu harus bagaimana. Tadi dia jutek sekali membentak-bentak mas Harris. Masa sekarang nerima bantuan mas Harris langsung sih..? Gengsi lah.


Tapi kalau gak terima bantuan mas Harris, dia akan makin bingung lagi. Mana udah maghrib pula. Jalanan sepi. Tempat tambal ban gak tau dimana.. Kalau naik ojek online nasib motornya gimana. 'Haduh.. Keara.. Ayo, mikir K..!'


"Aku anterin pulang aja. Nanti motor kamu biar diurus sama Pak Diman, driverku." melihat Keara diam saja, Harris berkata lagi.


Sedangkan pak Diman langsung mendekat ke sisi Harris begitu mendengar namanya disebut. Seperti ada tombol otomatisnya saja.


"Siap, Tuan.." Pak Diman membungkuk seraya menyerahkan kunci mobil pada Harris.


"Mari, Non.. saya bantu nambal ban motornya. Permisi saya minta kunci motornya."


Keara tetap bergeming. Dia memutar bola matanya seolah sedang berpikir mencari solusi yang lain. Padahal otaknya kosong melompong saat ini.


"Ayo cepetan. Tunggu diusir kuntilanak??" seloroh Harris, dan sukses meremangkan kembali bulu kuduk Keara.


"isshh!!" Keara melayangkan kepalan tinjunya di lengan Harris. "Nakut-nakutin mulu sih dari tadi! Ngeselin !!" bentaknya.


Dasar Keara si cemen. Mulutnya masih ngomel, namun kakinya perlahan berjalan mendekat ke mobil Harris. "Buruan, Mas! Udah maghrib ini."


Harris mengerutkan dahinya. Heran dengan perubahan sikap Keara. Tadi aja ditawarin antar pulang ga jawab-jawab, sekarang disuruh cepat cepat. Cewek aneh.


Harris bergegas membuka tombol kunci otomatis mobilnya, lalu masuk ke dalam mobil seraya mengusap dadanya, 'Sabar. Tenang. Jangan kepancing emosi.. Jangan sampe usahaku sia-sia.. Susah payah aku kempesin ban motor nih cewek. Demi bisa pergi semobil dengannya.'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih