Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
When Ala Meet Kela


🌹 Rumah Nico


"Selamat Pagi..." sebuah suara nyaring dan ceria memenuhi ruang makan. Anak perempuan dengan seragam sekolah playgroup itu terlihat cantik dan menggemaskan dengan rambut di kepang ke belakang, dan bando telinga mickey mouse.


"Selamat pagi anak mama yang cantik.."


"Selamat pagi, my princess.." sahut mama dan papanya bersamaan.


"Anak mama hari ini sekolahnya berangkat sama mama, terus pulangnya nanti dijemput papa yaa.."


"Oke Ma.." gadis kecil itu mengacungkan jempolnya ke depan dengan senyum lebar merekah.


Nico melirik tajam pada Mayra, istrinya. Pasalnya belum ada perjanjian seperti itu sebelumnya. Tapi istrinya langsung memberi arahan seperti itu pada putrinya. Mayra menyadari kode tatapan Nico. Dia hanya nyengir sembari mengoleskan selai coklat di atas selembar roti panggang.


"Maaf, By.. Siang ini aku ada sidang, dan Pak Jono lagi pulang kampung. Jadi aku yang antar Ara aja. Kamu yang jemput yaa..?"


Nico menghela nafas dalam. Dia memang bisa datang dan keluar dari kantor jam berapapun. Sesuka hatinya. Tapi itu berlaku kalau dia memasang topeng wajah berkulit badak. Menyetel mode 'Tidak tau malu'.


Nico tentu saja bukan malu pada staf dan karyawan bawahannya. Melainkan malu pada Kak Mery, kakak iparnya yang kini menjadi General Manager menggantikan papa mertuanya. Terlebih Nico sadar penuh, kakak iparnya itu sampai detik ini belum bisa sepenuh hati menerimanya sebagai suami adik kandungnya sendiri.


"Kak Mery pasti sewot kalau tau aku keluar di jam kantor Ra.."


"Nanti aku yang ngomong sama Kak Mery, By.. Jangan khawatir." bujuk Mayra.


Nico tidak punya pilihan lain selain menyetujui usulan istrinya. Lagipula dia tidak pernah percaya kalau anaknya diantar pulang oleh ojol. Bahaya. Sekalipun putrinya selalu didampingi babysitter selama 24 jam penuh, Nico tidak pernah sepenuhnya melepas pengawasannya pada Ara.


Mayra meletakkan roti panggang selai coklat di piring Ara. Gadis kecil itu dengan riang memakan rotinya sambil sesekali berceloteh dan tertawa dengan Retno, pengasuhnya. Mayra kemudian beralih menyiapkan sarapan untuk suaminya. Menyendok nasi goreng dan menyimpannya di sisi lengannya.


"By, apa sikap Kak Mery masih jutek sama kamu?" Tanya Mayra sambil melahap sarapan.


"Iya, but it's oke.." jawab Nico singkat. Dia tentu tidak ingin memperpanjang masalah.


"Jangan gitu.. Ceritain lebih detail By.. Aku mau tau.."


Nico menatap Mayra sejenak, kemudian beralih kembali pada piringnya. Nico merasa bahwa akhir-akhir ini sikap Mery lebih jutek dari sebelumnya. Satu kesalahan kecilnya di kantor saja bisa menjadi bulan-bulanan kalau sampai Mery tau. Mery tidak segan memarahi Nico saat meeting, di depan orang banyak. Berbeda dengan karyawan lain yang ditegur secara pribadi oleh Mery.


"Mama.. Mama.." sela Ara. Gadis kecil itu sudah menghabiskan roti panggangnya ternyata.


"Iya, sayang?" jawab Mayra.


"Ala boleh minta bekal dua?"


"Bekal dua? Buat apa?"


"Buat Molie, teman Ala."


"Molie ga bawa bekal sendiri?"


"Bawa.. tapi kadang kadang gak bawa."


"Tapi Ara mau bawain Molie bekal Ara?" selidik Mayra lagi.


"Iya, mau. Kata kakak Kela, Ala halus baik cama Molie. Soalnya kacian Molie gak punya mama papa.."


Mayra mengerutkan dahinya, "Siapa Kak Kela?"


"Itu loh Ma.. Kakak cantik yang Ala ketemu di lumah cakit kemalen.."


"Iya, dari kemarin Ara selalu nyeritain Kak Kela ini. Aku juga ga tau siapa dia." sahut Nico.


"Ya sudah sayang.. Ara boleh bawa bekal dua. Tolong siapin Mbak Retno.."


"Nggeh, Bu.." jawab Retno, lantas bergegas menyiapkan satu bekal lagi.


"Emangnya kamu ga liat waktu Ara ketemu sama Kaka Kela ini, sayang?" Mayra merasa masih belum puas menyelidik soal Kela.


"Gak liat. Ara ketemunya pas aku ngobrol sama Dokter Ihsan.." jawab Nico. "Aku mau berangkat duluan yaa.."


Mayra mengangguk dan tersenyum.


"Princess Ara, nanti papa jemput jam 10 yaa.. Belajar yang pinter anak papa." Nico mengusap puncak kepala putrinya. Kemudian mengecupnya penuh sayang. Ara mengangguk-angguk senang sambil mengayunkan kakinya.


"Siap Papaaa"


...----------------...


🌹 First Love Cafe


Siang ini kafe tak terlalu ramai. Belum masuk jam makan siang. Pengunjung kafe saat ini hanya ibu-ibu muda dengan anak-anaknya, seorang lelaki ngopi sendirian sejak sejam yang lalu, dan dua pasangan kekasih yang baru datang beberapa menit lalu.


Keara duduk di satu bangku di luar kafe. Yang berada tepat di bawah pohon Sono. Meluruskan kakinya dengan memberi pijatan ringan di sekitar lututnya.


Seharian ini pikirannya diliputi kekhawatirannya pada keadaan Harris. 'Apa pria itu baik-baik saja? Apa kesehatannya benar sudah pulih? Kenapa kemarin dia ninggalin aku begitu saja? Apa memang aku melakukan kesalahan? Be gonya aku masih tetap tidak punya nomor teleponnya.. Huufft..'


Kalau benar informasi dari Bu Farida kalau Harris sebatang kara. Itu artinya cowok itu sekarang sendirian. Tidak ada yang merawatnya saat kondisinya belum seratus persen pulih.


"Capek K?"


Keara terperanjat mendengar suara Juna yang tidak ia sadari kedatangannya.


"Eh mas Juna.. Engga mas.." Keara spontan langsung berdiri sembari nyengir dan menggaruk kepala belakangnya. "Hehe.. ngelurusin kaki bentar aja Mas.. Mumpung belum ada pembeli."


"Gak apa apa K.. Duduk lagi aja. Wong aku juga mau duduk." Juna mendaratkan pan tatnya di bangku kayu tempat duduk Keara tadi. Disusul Keara yang kembali duduk.


"Mas Juna, ada kerjaan yang bisa aku kerjain? Belanja bahan atau kirim pesanan gitu?"


"Kamu kurang kerjaan banget sampe nyari-nyari kesibukan gitu?"


"Iya nih mas.. Kalau gak ngapa-ngapain gini pikiran suka travelling kemana-mana.." Bukan kemana-mana lebih tepatnya. Tapi bersarang hanya pada seorang lelaki. Harris Risjad. Memikirkan ada dimana orang itu. Sedang apa, dan bagaimana keadaannya.


Juna tersenyum kecil. "Gak ada kerjaan. Pesanan sudah dikirim pak Imam. Bahan sudah dibelanjain Ratih. Kan udah ada jobdesc.nya masing-masing K.."


"Kalau gak ada mbak Marsya gini, gak apa santai aja dulu pas kafe lagi sepi.." imbuh mas Juna.


"Iya, tumben mbak Marsya gak ke kafe mas?"


"Kayaknya gegara mbak Marsya lagi 'isi' tuh.. Makanya jarang dateng ke kafe."


"Mbak Marsya hamil mas?" pekik Keara. Ia kaget sekaligus ikut berbahagia. Juna mengangguk mengiyakan.


"Alhamdulillah.. Aku ikut seneng banget dengernya Mas.." Ucap Keara tulus. Ia ingat sebentar lagi Muthia akan melahirkan. Mungkin tidak sampai sebulan lagi. Syukurlah mbak Marsya sudah menyusul hamil.. Jadi dia tidak akan merasa sedih saat keponakannya lahir nanti.


Keara lalu berdiri hendak masuk kembali ke dalam kafe. "Oke deh mas Juna.. Udahan rehatnya. Aku mau beres-beres atau bersih-bersih aja dulu, bentar lagi jam makan siang. Pasti pengunjung langsung gembruduk rame menuhin kafe.."


"Iya K.. Bentar lagi aku nyusul."


Keara setengah berlari masuk ke dalam kafe. Dengan tangan melambai ia meninggalkan Juna yang masih tertegun menangkap bayang gadis imut dan manis itu. Tidak seorangpun yang tidak menyadari perasaan Juna pada Keara, kecuali Keara sendiri.


Ya, rasa suka dan tertarik itu tumbuh liar dengan sendirinya. Setiap hari bertemu Keara, perasaan itu semakin tumbuh subur dan bertunas. Tapi entah Keara berpura bo doh, atau memang tidak peka, gadis itu bersikap biasa saja dan tidak pernah merespon sinyal yang dikirimkan Juna.


Sedangkan di dalam kafe Keara mulai merapikan meja kursi pengunjung. Mengelap kaca jendela, sampai meja mini bar dan etalase kue. Benar saja, beberapa menit kemudian pengunjung kafe dan pembeli kue mulai berdatangan. Dan kembali menyibukkan Keara dan teman-temannya yang lain.


"Kaka Kelaaa.....!!" Sebuah suara nyaring dan ceria mampir di telinga Keara.


Keara menoleh ke sumber suara. Seperti yang ia duga, gadis cilik yang dengan riang menyebut namanya dengan cadel itu tak lain dan tak bukan adalah Ala, si princess Elsa.


"Halo Alaaa..."


Ala menghampiri Keara lalu menubrukkan tubuhnya memeluk Keara.


"Ala kesini sama siapa?" Keara celingukan mengedarkan pandangan.


"Sama mbak Letno dan papa." jawab Ala dengan memiringkan kepalanya dengan lucu.


"Oh yaa.. Yaudah ayo Ala duduk situ yuk.." Keara menggandeng tangan mungil Ala. Mendudukkannya di satu meja. Disusul babysitter Ala yang tadi disebut Ala bernama mbak Letno. Hehe, kayaknya namanya Retno..


"Ara..." sebuah suara berat yang samar didengar oleh Keara. Membuat jantungnya berdebar. Dia sungguh berdoa dalam hati agar tebakannya tentang pemilik suara itu tidak tepat.


Tapi nasib baik sedanng tidak berpihak pada Keara. Tebakannya benar. Pemilik suara itu adalah Nico. Nicolio Dirgantara.


Pria itu sedang berjalan. Mendekatinya dan Ala. Lalu siapa yang dia panggil Ara tadi? Mungkinkah......


"Papa...." gadis mungil di samping Keara ini melambaikan tangan ke arah Nico.


Benar dugaan Keara. Nico adalah papa Ala. Eh, Ara.


"Ara sayang, jadi ini kaka Kela yang kamu ceritakan?" Nico menyeringai licik. Tapi tampan. Ups!


"Iya, Pa.."


Keara hanya tersenyum kecut. Ternyata bocah cilik yang ia temui di rumah sakit kemarin adalah anak Nico dan Mayra.


Anak yang hadir di saat bapaknya bertunangan dengan Keara. Anak yang menjadi buah cinta dari perselingkuhan tunangannya dengan sahabat Keara sendiri. Lalu, kenapa kini Keara harus dipertemukan dengan anak ini??


Keara menepuk jidatnya sendiri.


A to the Pes.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih