Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bertahanlah Sayang !


Setelah mas Harris berangkat ke kantor, Keara langsung naik ke lantai dua, masuk kamar dan lanjut kaki melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mencari kesegaran di bawah guyuran air. Menghempas gerah akibat ia sudah beraktivitas sejak selepas shubuh. Selama hamil, Keara bisa mandi lebih dari dua kali sehari. Maklum.. Bumil gampang gerah.


Setelah mandi di bawah guyuran shower, Keara pun menambahkan dua sampai tiga tetes essential oils aroma lavender dan chamomile ke dalam bath tub. Lalu merendam tubuh di air hangat dalam bath tub hingga menyisakan kepalanya saja yang berada di atas air.


Perpaduan dua aroma yang menenangkan berhasil membuatnya teramat nyaman. Seluruh rasa penat dan lelah yang kerap menyerangnya selama kehamilan memasuki trimester ke tiga telah menghilang. Berganti perasaan segar yang menyenangkan. Hingga dua kelopak mata terasa berat untuk terbuka. Keara menguap beberapa kali dan tanpa sadar netranya terpejam.


Namun ketenangannya terusik. Entah berapa lama ia sempat terlelap. Terlalu nyaman hingga ia tidak sadar. Tapi suara benturan benda keras berulang-ulang terdengar dari lantai bawah rumahnya.


Pyarr...


Bummm


Dug! Dugg!


Pyaaarr !!


Keara yang terkejut bukan main, lekas mengeringkan badan dengan handuk dan menyambar baju sekenanya. Dress rumahan dengan panjang di atas lutut tanpa memakai dalaman. Terlalu memakan waktu.


Baru dua langkah Keara menjejak setelah keluar dari kamar mandi, ketika pintu kamarnya dibuka dengan paksa. Menimbulkan bunyi daun pintu yang tersentak memekakkan telinga. Tiga orang pria berperawakan kekar dengan pakaian tak rapi masuk dan berdiri di depan Keara. Membuatnya terkejut dan panik setengah mati.


"SIAPA KALIAN?!" jerit Keara panik.


Tiga orang itu tersenyum smirk. Menyeramkan.


"TOLOOOOONGGG" Jerit Keara semakin panik.


Di tengah rasa panik yang menyerang Keara, ia masih bisa melihat salah seorang pria itu bergerak cepat mendekatinya. Tapi apa daya, gerakan lambat Keara akibat perut besarnya tidak memungkinkan untuk menghindar. Pria itu mencengkram leher Keara dari belakang.


"AAAAAAAA !!! LEPAAAASSS!!" jeritnya sekuat tenaga.


'Ya Allah, apa yang sedang terjadi?' Keara menendang, memukul, menggeleng sekeras mungkin, berusaha melepaskan diri apapun caranya. Tapi cengkraman orang tersebut malah semakin kuat.


"Diam kamu!" bentak salah seorang pria yang berbadan paling besar di antara yang lain.


'Mas Harris.. Kamu dimana mas? Tolong aku....'


"Ikut kami dan jangan melawan. Kalau tidak mau mati!" ucap pria yang mencengkramnya. Membuat ketakutan Keara kian mencekik.


"Bos pasti seneng nih kita dapet target." ucap salah seorang pria. Diikuti tawa keras memekakkan telinga. Tapi suara tawa itu justru membuat Keara semakin panik dan takut.


"Hmm.. Kamu wangi.." orang yang mencengkramnya lagi-lagi berbicara. Membuat Keara bergidik ngeri.


Saking ketakutannya, insting alami Keara memerintahkan otak untuk menggigit tangan orang yang sedang mencengkeramnya sekuat tenaga hingga berhasil menimbulkan luka berdarah.


"Breng sek!! Sialan!!!" bentak orang tersebut karena Keara berhasil bebas dari cengkramannya. Dan langsung berlari terseok-seok masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga orang pria besar itu bergerak cepat berusaha mengejar Keara. Hampir terlambat karena saat Keara berusaha menutup pintu, tangan salah satu pria itu berhasil menghalangi dan masuk ke dalam kamar mandi. Namun Keara tak mau menyerah. Dengan sekuat tenaga didorongnya pintu kamar mandi keras-keras.


"Breng sek!! Sia lann!!" pria dengan setengah lengan berada di dalam kamar mandi berteriak kesakitan karena Keara terus mendorong pintu sekuat-kuatnya hingga membuat tangannya terjepit.


"Breng sek!!' teriak pria itu semakin marah tatkala Keara berhasil menyingkirkan lengannya dan langsung menutup pintu rapat-rapat.


Klik !


Sambil menangis dan ketakutan setengah mati, dikuncinya pintu kamar mandi dengan tangan gemetaran.


"Woy!!"


"Keluar kamu, bang satt!!"


Pintu kamar mandi digedor-gedor dengan sangat keras. Membuat Keara semakin ketakutan. Tubuhnya yang lemas dan kedua tungkai yang gemetaran, membuatnya jatuh terduduk ke lantai.


Dengan menyeret tubuh, Keara berhasil bersandar di dinding kamar mandi tepat di sebelah pintu. Sebelah tangannya berpegangan pada besi tempat menggantung handuk yang ada di atas kepalanya.


Situasi menegangkan dan kepanikan yang menyergapnya tadi membuatnya mengabaikan sakit perut yang cukup intens dia rasakan. Hingga tanpa bisa ditahan, ia mengeluarkan cairan bening hangat dari arah jalan lahir bayinya.


Keara melihat ke bawah. Di antara kedua pahanya mengalir cairan yang ia yakini adalah air ketuban. Daster pendeknya memungkinkan ia melihat dengan jelas apa yang terjadi di daerah pusat dirinya.


"Anak-anak mama, please.. Bertahan ya sayang.. Papa pasti nolongin kita.. Papa pasti datang...."


Sementara keadaan diluar semakin chaos. Terdengar suara pukulan benda keras menghantam dimana-mana. Keara menerka, ketiga orang tadi menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya. Televisi, jendela, meja rias, bingkai-bingkai foto. Suara kaca pecah bersahut-sahutan.


Keara tidak bisa berpikir jernih. Panik, takut, cemas, juga rasa sakit luar biasa yang menyerang perutnya membuatnya hanya mengerang kesakitan. Cairan terus keluar dari sela-sela pahanya. Dan sekarang cairan itu menjadi warna merah. Bercampur darah.


"Baj ingan!! Mati kalian!!" suara seorang pria lain terdengar oleh Keara. Disusul suara baku hantam dan umpatan-umpatan kotor bersahutan.


"Bara! Itu suara mas Bara!" gumam Keara lemah. "Mas Harris.. Kamu disini kah mas? Tolong aku, mas.. Aku takut."


Keara terus mengerang. Rasa sakit di perutnya makin lama kian bertambah. Dalam kepanikan, ia masih sadar untuk mempraktekkan pernafasan yang diajarkan setiap kali senam hamil. Keara juga menghitung detik per detik. Berapa lama mulas menyerang perutnya, juga berapa lama jeda rasa mulasnya hilang dan datang lagi.


Saat ini tubuhnya sudah sangat lemas, bahkan tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berteriak meminta tolong, tapi ia tidak mau membahayakan bayinya. Keara harus sadar dan mengupayakan bayinya selamat. Meskipun di bagian bawah dirinya sudah sangat basah karena cairan ketuban bercampur darah yang masih merembes sampai sekarang.


"Kenapa mas Harris tak kunjung datang? Lama sekali.. Aku hampir ga kuat lagi mas...." rintih Keara. Wajahnya sudah pucat pasi. Sekujur tubuh basah oleh keringat. Kontraksi yang *******-***** perutnya semakin sering menyerang. Nyaris tanpa jeda. Rasanya lima menit saja ia sudah merasakan kontraksi dua kali.


"Keara!! K..!!"


Itu jelas suara teriakan mas Harris. Ahh.. Akhirnyaa..


DAG ! DAG! DAGG!!


"K, kamu di dalam, sayang? Buka pintunya. Ini aku.." seru Harris seraya mengetuk pintu kamar mandi keras-keras.


Tanpa berdiri dari posisinya, Keara mengulurkan sebelah tangannya untuk membuka kunci pintu. Tubuhnya terlalu lemah hingga tak ada daya sedikitpun untuk bangkit membuka pintu dan menghambur ke pelukan pahlawannya.


Ceklek! Pintu terbuka.


Harris langsung berlutut begitu melihat Keara tergolek lemah di sisi pintu. Seketika netra lelaki itu berkaca-kaca begitu melihat kondisi istrinya. Tak henti ia mendengungkan istighfar. Mengecupi puncak kepala istrinya berkali-kali.


"Mas Harris.. Aku takut..." rintih Keara dengan suara gemetar. Perasaannya bercampur menjadi satu. Antara shock, takut, tapi juga lega karena bisa melihat mas Harris di depan mata. Belum lagi sakit perut yang kian pendek jedanya.


"Aku di sini, sayang.. Aku disini..." Harris merengkuh kepala istrinya. "Kita ke rumah sakit sekarang yaa."


Harris langsung menggendong Keara. Membawanya keluar dari kamar mandi. Keara masih sempat melihat kondisi kamar tidurnya yang mengenaskan. Hancur berantakan.


Dari sudut mata Keara melihat tiga pria berbadan besar tadi telah dilumpuhkan oleh Bara dan empat orang anak buahnya. Mereka terduduk di lantai dengan kondisi babak belur.


Harris berhenti sejenak. "Urus mereka." titah Harris yang tertuju pada Bara.


Bara mengangguk.


"Polisi akan datang. Sebelum itu, beri mereka pelajaran." suara Harris berusaha menekan amarah hingga ke titik terendah.


"Beres!" singkat Bara.


Harris bergerak cepat keluar kamar. Berlari dengan langkah lebar namun penuh kehati-hatian. Di depan pintu, pak Diman sudah stand by berdiri di sisi mobil dengan pintu belakang mobil yang terbuka lebar. Harris dengan sigap memasukkan Keara kemudian dirinya sendiri. Ia juga mengulang-ulang perintah pada Pak Diman untuk bergerak cepat.


Keara sudah tak bisa bereaksi apapun. Ia hanya mengerang kesakitan dengan mata terpejam. Wajah penuh peluh. Baju basah dan bercak darah dimana-mana.


Harris tak bisa membendung air mata. Melihat keadaan Keara yang menyedihkan membuat hatinya pedih bagai teriris-iris belati. Ia tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Keara seperti ini. Bahkan dirinya sendiri.


"Bertahanlah sayang.. Aku mohon bertahanlah.."


......................


Beberapa bab lagi akan tamat. Jangan kelewat baca yaa, readers 🤗


Thaaaanks a lot 🥰


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih