
🌹 Kantor Harris
Harris duduk di belakang meja tahtanya. Menunggu tamu spesial yang kedatangannya sudah dilaporkan oleh security depan pintu masuk gedung perkantorannya. Ia bersiap dengan merangkai kata demi kata. Tidak ingin beramah tamah pada orang yang akan ia temui ini.
Pintu ruangan itu diketuk sebanyak dua kali. Tidak perlu menunggu lama. Si tamu spesial itu pun menyembulkan kepalanya dengan senyum menyebalkan yang menjadi khas milik orang serakah.
"Menantuku sudah pulang dari bulan madu rupanya.." seringai licik itu tergambar jelas dari wajah Pak Suryo. Lelaki tua itu melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Harris tanpa halangan apapun.
Hari pertama Harris kembali ke kantor, mendapat sambutan dari ayah mertua yang begitu merusak suasana hatinya. Padahal masih pagi beranjak siang. Memang dasar si*al.
"Uang yang diberikan asistenmu kemarin sudah habis..." Pak Suryo duduk di sofa seraya menumpangkan dua kaki di atas meja.
"Bagaimana bisa habis? Kau hanya memberi keluargamu lima juta.."
"Ayolaah.. menantuku sayang.. Aku memberi mereka lima juta sebanyak dua kali. Aku sudah merelakan sepuluh juta untuk mereka. Sedangkan sisa sembilan puluh juta untukku tentu saja sudah habis.."
Harris berdiri dari kursinya. Menghampiri mertua tidak tau malunya itu.
"Jangan serakah. Kalau tidak mau kukirim kembali ke gubuk berlumpurmu itu." geram Harris.
"Hahahahaa..." Pak Suryo tertawa dengan angkuhnya. Dia tidak masalah meski harus mendongak untuk bisa menatap menantu kaya rayanya itu, karena Harris tidak duduk di sofa. Melainkan berdiri dekat di kakinya.
"Menantuku yang ganteng dan kaya raya, uang segitu pasti tidak ada artinya buatmu.. Dibandingkan dengan putriku yang cantik, apalah artinya bersedekah pada mertuamu yang sudah renta dan fakir ini.." Pak Suryo berbicara dengan nada memelas yang dibuat-buat.
"Perjanjian kita, aku beri uang bulanan padamu. Seratus juta untuk satu bulan. Itupun harus kau berikan juga pada keluarga Bu Marni. Tapi lihat sekarang.. Tikus got tetaplah tikus got. Menjijikan dan suka menggerogoti."
"Hahhahaa.. Apa jadinya kalau Keara tau suami tercintanya menghina bapak kandungnya seperti ini..?"
Harris merapatkan gerahamnya. Menahan amarah yang ingin disalurkan melalui kepalan tangannya. Kalau saja tidak ingat pria tua ini adalah mertuanya ia pasti sudah menghajar habis-habisan manusia serakah ini.
Harris tidak ingin Keara tau perangai bapaknya yang kurang ajar dan serakah. Ia tidak ingin istrinya terluka. Bagaimana pun, semua anak pasti menginginkan orang tua yang baik dan bisa dijadikan tauladan. Seburuk apapun masa lalunya, setidaknya saat kembali, Keara pasti berharap bapaknya benar-benar sudah berubah jadi lebih baik.
"Pulanglah. Kembali bulan depan. Tidak ada uang untukmu hari ini."
Pak Suryo berdiri seraya menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai. "Kurang ajar! Jangan melupakan sejarah, Harris Risjad! Ingatlah dulu kau juga pernah merebut perempuan yang akan kujadikan tambang emas.. Kau, dan satu teman breng*sekmu itu tidak akan pernah kumaafkan."
Harris tidak bergeming. Membiarkan pria tua itu menghardiknya sedemikian rupa.
"Ah, iyaa.. Aku tidak bisa lagi meminta pertanggung jawaban dari temanmu yang sudah terkubur tanah itu. Hahahaa... Cacing-cacing tanah sudah membantuku menggerogoti tubuhnya. Dan pasti sekarang api neraka sedang menghanguskannya. Hahahaha.."
"Apa kamu gak malu kalau anak-anakmu melihat bapaknya sebe*jat ini??" geram Harris.
"Aku hanya malu dan menderita kalau tidak punya uang. Selebihnya aku tidak peduli." jawabnya dengan menyeringai licik.
"Kalau kamu tidak mau memberiku uang, maka kembalikan anak angkatku yang cantik itu.. Hanya dia anak angkatku yang laku dengan harga mahal.. Ada konglomerat yang mau membelinya lima ratus juta. Hahhahaa.. Padahal aku yang lebih dulu memerawaninya.. Tapi kecantikannya masih bisa dijual walaupun bawahnya sudah jebol. Hahahhaaa.."
"Bisakah kau memakai hati nuranimu sedikit saja?! Bagaimana kalau anak-anakmu sampai tau kau sangat kejam dan breng*sek?? Kau tidak memikirkan perasaan mereka??"
Pak Suryo tergelak lagi. Sangat memancing emosi Harris yang bahkan sudah menggertakkan giginya. Menahan kuat-kuat bogemannya agar tidak sampai menghantam ayah dari wanita tercintanya ini.
"Makanya, kau beri saja aku uang.. Maka aku akan diam. Keara ataupun Arman tidak akan tau sikap be*jatku."
"Jangan memancing kesabaranku, Pak Tua." Harris mencengkram rahang renta Pak Suryo. "Dan jangan pula memerasku. Aku bukan tambang uangmu."
Bertepatan dengan itu, Bara dan dua anak buahnya masuk ke ruangan Harris. Harris memberi isyarat dengan tangannya agar Bara dan anak buahnya berhenti bergerak.
"Kita sudah sepakat aku akan memberimu uang bulanan. Jadi jangan ngelunjak atau aku gak akan bersikap baik lagi pada orang kotor sepertimu. Preman sewaanku bisa melenyapkanmu kapanpun aku suruh."
Harris menghempaskan tubuh Pak Suryo ke sofa. Pria itu tanpa rasa takut langsung kembali berdiri meski sedikit tertatih.
"Beri tau aku dimana kau menyembunyikan Tiara. Kau tau? Suruhan orang yang ingin membeli Tiara terus mengejarku dan meminta uangnya kembali.. Karena itu aku terus meminta uang kepadamu."
"Kembalilah bulan depan tanggal 15. Sesuai perjanjian, aku akan memberimu uang bulanan. Di luar waktu itu, tidak ada yang bisa kau dapatkan dariku." Harris melengos dan melangkah kembali ke kursi tahtanya.
"Dan lagi, Tiara aman denganku. Aku akan memakainya sebagai saksi dan bukti untuk menjebloskanmu ke penjara kalau kamu berani macam-macam." tambah Harris.
Harris memberi isyarat pada Bara agar menyeret mertuanya itu keluar.
"Jangan berani lagi datang ke kantorku!" hardiknya dengan tatapan tajam tepat sebelum Pak Suryo menghilang di balik pintu dengan diseret oleh dua anak buah Bara.
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih