Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Pengen Pensiun jadi Penguntit


🌹 Rumah Harris


Bik Santi mengantar Keara sampai ke depan gerbang. Gadis itu pulang jam lima pagi. Matahari masih menyembunyikan sebagian sinarnya. Dan udara dingin masih menusuk kulit hingga tulangnya.


"Gak bawa jaket Non?" tanya Bik Santi.


"Enggak Bik.. Gatau kalau bakalan camping begini.." jawabnya sambil nyengir.


"Pake jaket Bibik mau Non? Saya ambilkan yaa.."


"Eh gak usah bik.. Santai.. Kulit saya tebel kok."


Keara pun melajukan motornya. Bik Santi berjalan kembali masuk ke dalam rumah setelah bayang Keara tak nampak lagi olehnya.


Baru selangkah melewati pintu, Bik Santi dibuat terkejut mendapati tuannya berdiri di bawah tangga sambil bersedekap. FYI, Kali ini sudah mengenakan baju.


"Loh.. Tuan sudah bangun?" tanya Bik Santi.


"Kenapa bisa cewek itu tidur di kamar saya?" bukannya menjawab, Harris justru balik bertanya.


"Eee.. Itu.. kemarin.. Anu..." Bik Santi serba salah. Apa harus menceritakan perihal Tuannya yang tiba-tiba memeluk Keara? Tapi bagaimana kalau Harris tidak percaya padanya. Bik Santi jadi Takut dimarahi, karena sudah membiarkan orang lain tidur di kamar majikannya. Parahnya lagi, diapun ikut tidur di sana, meskipun di sofa.


"Jawab yang bener." ketus Harris.


Berpura-pura ketus lebih tepatnya. Karena apapun jawaban Bik Santi, dia tetap saja bersuka ria mengingat Keara tidur di kamarnya.


"Anu Tuan.. Kemarin waktu non Keara ke sini, tiba-tiba denger tuan ngigau kenceng banget. Terus saya juga gak tau kalau Non Keara ngikutin saya ke kamar tuan, sampai masuk dan naik ke ranjang tuan.."


Harris mengangguk-angguk. "Terus?"


"Terus.. Tuan tiba-tiba meluk Non Keara dan tidur di pangkuan Non Keara.."


Harris menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Seandainya dia tidak tidur, dia pasti bisa menikmati momen tidur di pangkuan Keara sambil memeluk pinggang Keara. Sayangnya dia tidak sadar. Namun alam bawah sadarnya pasti cukup menikmati. Buktinya dia bisa kembali tidur nyenyak meski baru saja bermimpi buruk sampai mengigau segala.


"Buatin saya makanan Bik.. Saya laper.." Harris berjalan masuk ke ruang kerjanya. Berusaha menyembunyikan kegirangannya. Tidak mungkin dia tersenyum lebar dan tertawa-tawa di depan Bik Santi.


"Baik Tuan."


...----------------...


🌹 First Love Cafe


Keara sibuk melayani pelanggan yang sore ini cukup ramai memadati kafe. Sampai satu orang pelanggan lelaki yang datang menarik perhatian Keara. Yups, siapa lagi kalau bukan si penguntit. Aswin.


"Mau pesan apa?" tanya Keara pada lelaki itu.


"Hot Cappucino satu ya mbak.."


"Tumben dateng jam 3.. Biasanya datang jam 1"


"Ih.. si embak.. Perhatian banget sama saya.."


"Iisshh.. " Keara berlalu sambil mendecih sebal.


Si penguntit tersenyum-senyum.


"Ngapain kamu senyam senyum??" Penguntit terkejut. Suara yang keluar dari ponselnya menyadarkannya kalau tadi dia sedang bervideo call dengan bosnya. Demi membantu si boss melihat wajah cantik Keara.


"Berani kamu godain cewek itu? Bosan hidup kamu??!!" ketus si Boss


"Maaf Boss.. Kan maksud saya biar Mbak Kearanya gak curiga gitu Boss.."


"Jangan alasan kamu."


"Saya denger kamu ngomong apa."


Aswin hanya nyengir lebar. "Ssstt.. diem Bos.. Target mendekat." Aswin menyandarkan ponselnya pada asbak. Dan mengarahkan kamera belakangnya pada Keara, agar si Boss bucinnya bisa melihat wajah gadis itu.


Susahnyaa.. punya Boss Buciiinn..! Kerjaan asisten CEO bisa berubah jadi mata-mata begini..


Harris sudah melotot karena Aswin berani men-'sstt.. Sssstt'nya. Tapi perlahan mengendur karena melihat sosok cantik yang mendekat ke arah kamera Aswin. Sehingga Harris kini tengah terpana melihat gadisnya. Ehmm..


Keara. Gadis yang shubuh tadi dipandang sepuas-puasnya sedang tidur lelap di ranjang. Seperti mimpi. Bahkan sebelum berangkat ke kantor tadi, ia berpesan pada Bik Santi untuk tidak perlu mengganti bed covernya. Konyol kan.. Memang. Harris mendadak jadi bodoh sejak ada Keara dalam hidupnya. Walaupun gadis itu menolak dekat dengannya, tidak masalah asal ia bisa terus memandang wajah cantik dan ceria itu.


"Silakan.." Keara meletakkan secangkir hot capucino di meja di hadapan Aswin.


"Makasih ya mbak.." jawab Aswin.


Keara berbalik lalu berjalan hendak masuk ke dalam kafe. Tapi baru beberapa langkah, Juna datang mendekat pada Keara.


"K.. Kamu mau pulang?" tanya Juna.


"Siapa dia?" tanya Harris. Aswin hanya mengangkat bahu. Lalu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, tanda agar Harris tidak bicara dulu. Ya kali dia jawab sekarang.. Bisa-bisa Keara dengar suaranya dan tau lagi dighibahin.


"Iya mas.. Abis ini pulang." Jawab Keara tenang.


"Tunggu aku di parkiran bentar ya K.. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.."


"Ada apa ya mas?"


"Ada deh.. Kamu siap-siap pulang aja dulu. Aku mau setor schedule bentar ke mbak Marsya. Abis itu nyusulin kamu ke parkiran.."


Keara memberi isyarat Oke dengan jarinya. Kemudian melangkah masuk ke dalam kafe. Sepeninggal dua manusia itu, Harris kembali mempertanyakan perihal Juna pada Aswin.


"Itu cowok kayaknya naksir sama mbak Keara, Boss. Saya yakin seratus persen. Perlakuannya ke karyawan yang lain sama ke mbak Keara itu bedaa...bangett. Kalau sama Mbak Keara itu kayak ada manis-manisnya gitu.. Dari tatapan matanya juga keliatan kok. Sorot mata cinta.." terang Aswin setengah memanas-manasi bosnya. Melihat Juna dan Keara tadi, memberinya ide cemerlang agar dirinya tidak lagi merangkap jobdesc jadi mata-mata cinta.


"Akurat gak infonya?!" tanya Harris ketus.


"Ya akurat lah Bos.. Saya udah jadi pengamat cinta di sini dua minggu lebih. Masa kasih info gak akurat." jawab Aswin dengan lagak sok yakin. "Saya gak tau sih mereka nanti mau ngomongin apa, tapi saya curiga si cowok tadi bakalan nembak mbak Keara.."


Harris membelalak. Mulutnya sudah terbuka siap mendamprat Aswin.


"Ini menurut saya Bos.. Kalau kata saya sih.. Bos Harris itu harus berjuang. Jangan pasif motion gini dong Bos.. Apapun hasilnya nanti hadapi secara gentleman. Dariapda ngumpet-ngumpet gini, gak akan dapat apa-apa. Percaya deh."


Harris diam. Kerutan di keningnya menandakan dia sedang berpikir keras.


"Yang ada nanti Bos kalah start. Kalah jauh.. Disini ada teman kerja yang naksir mbak Keara. Ada juga mantan pacar mbak Keara yang masih sering dateng cuma beli segelas kopi. Alasan banget kan itu?"


"Jangan manas-manasin saya kamu.."


"Yaaa.. kecuali Bos Harris sudah siap lahir batin kalau mbak Keara dilamar sama cowok lain. Saya kasih saran, anggap saja ini konklusi dari program kerja saya sebagai mata-mata bos.."


Harris berpikir sebentar. Lalu mematikan ponsel dan menyambar kunci mobilnya.


'Breng sek.. si Aswin beneran bikin saya panas!' gumamnya sambil menyetir dengan kecepatan tinggi. Bergerak cepat karena tak ingin (lagi) kehilangan satu hal yang sangat berharga baginya.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih