
Pagi ini Keara yang sudah berdandan rapi. Make up natural, rambut diikat tinggi ke atas, parfum semerbak mewangi, sepatu high heels rendah, lengkap dengan jas almamater kampus yang sudah terpasang sempurna. Namun penampilannya sangat kontras dengan raut gelisah yang tergambar di wajahnya. Titik-titik keringat membasahi keningnya.
Berulang kali ia mondar mandir di depan pintu sebuah ruangan. Mulutnya komat-kamit, entah membaca doa-doa, atau menghafalkan materi yang hendak ia paparkan. Pun bisa jadi keduanya dari itu. Sesekali ia juga mendecih sebal. Mungkin karena ada yang terlupakan dari hafalannya. Riweuh..
Keara tidak sendiri. Beberapa orang temannya juga sama tegangnya dengan Keara. Beberapa orang juga terlihat mondar mandir dan komat kamit seperti Keara. Ada juga yang memilih duduk diam sambil membaca-baca lagi materinya. Ada pula yang memilih bersenda gurau dengan temannya, demi membunuh rasa gugup dan paniknya.
Yup, hari ini adalah hari dimana sidang untuk tugas akhir perkuliahan Keara digelar. Hari penentuan kelulusan Keara. Hal itu pulalah yang membuat Keara cemas dan gugup bukan main. Ini adalah pengalaman pertamanya. Dan apa yang akan terjadi di dalam sangat menentukan mampu tidaknya Keara menyandang gelar sarjana.
Namun, pemandangan berbeda kali ini agaknya sedikit menjadi daya tarik di kampus Keara. Keberadaan sosok tampan dan tak asing di kampus mereka. Dikatakan tidak asing , tak lain karena rupa sosok ini sempat wara-wiri di acara gosip artis di tv, maupun di akun gosip sosial media. Meskipun sosoknya bukan seorang selebritis. Tapi aura yang terpancar darinya cukup menyita perhatian. Sosok lelaki itu berdiri dengan bersandar ke dinding. Tak jauh dari tempat Keara mondar-mandir.
Lelaki itu hanya mengikuti dengan kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengiringi arah Keara melangkah. Kepanikan gadis ini membuat ia terus menyunggingkan senyum. Ia ingin tertawa sebenarnya, tapi takut kalau gadisnya ini merasa tersinggung. Ditertawakan di tengah situasinya yang sedang cemas.
"Kalau kamu mondar mandir terus begitu, yang ada capek sendiri.. Nanti pas udah giliran kamu masuk, kamunya udah kucel." ucap lelaki itu.
"Sini, dekat aku." lelaki itu menarik lengan Keara agar gadis itu menghentikan aktifitas kakinya yang terus berjalan ke sana kemari.
Lelaki itu lantas mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya. Mengusap kening Keara yang sudah dipenuhi titik-titik keringat dengan sapu tangan miliknya. Keara terperanjat. Hendak mundur menjauh, tapi dengan cepat ditahan oleh lengan besar lelaki di hadapannya ini.
"Diam dulu. Kamu sudah cantik, tapi malah keringetan begini.. Sayang cantiknya..."
"Tapi jangan di depan semua orang begini, mas.. Malu.."
"Jangan terlalu gugup, nanti malah ngeblank pas di dalam..." tutur lembut lelaki yang dari tadi dengan setia mendampingi Keara.
"Jangan terbebani.. Santai saja.. Toh, kamu sudah cukup menguasai materi. Kita sudah pelajari bersama tadi. Aku juga sudah nguji kemampuan kamu.. Yakinlah, sayang.. Kamu pasti bisa."
Ucapan pria ini membuat senyuman akhirnya terulas di bibir Keara. Meski masih tetap ada kepanikan di wajahnya.
Harris Risjad. Sosok yang menjadi pusat perhatian dadakan di kampus tempat Keara menimba ilmu itu. Ia sengaja meluangkan waktu menemani gadisnya itu. Me-reschedule semua kesibukannya. Melimpahkan pekerjaan pada Aswin dan Tiara. Demi bisa mendampingi Keara menempuh ujian skripsi pagi ini.
"Lagian, kamu lulus atau tidak, itu gak penting buatku. Kita akan tetap menikah tiga bulan lagi."
Keara mendelik mendengar penuturan lelaki itu.
"Jangan lupa, kita sudah fix-kan tanggal di WO. Sudah booking venue dan lain-lain.. Jadi, jangan terlalu gelisah memikirkan ujian skripsi ini.."
"Jangan sembarangan, ihh.. Aku juga mau memantaskan diriku sebelum jadi istri mas Harris. Apa kata dunia? Kalau istri seorang Harris Risjad cuma tamatan SMA.... Gelar mas Harris aja panjang berderet, lulusan luar negeri pula.. Masa aku satu gelar aja gak punya.."
"Hahahaa.. Sudah kubilang, kamu sudah sangat pantas, sayang... Sekalipun kamu tamatan SD juga, cintaku sudah mentok di kamu..."
"Halaaah... Prett!"
"Cieee.. Keara..! Sama siapa tuh. ? Bisa dong dikenalin ke kita...." seloroh beberapa orang cewek yang sengaja lewat di dekat Keara. Mereka berhenti hanya untuk menggoda lelaki di hadapan Keara itu.
"Hehe.. Ini temen aku." jawab Keara. "Jangan kenalan yaa.. Orangnya galak kayak debt collector." Keara terkekeh dengan joke yang ia buat sendiri. Tapi sukses mengusir teman-teman ceweknya yang keganjenan.
"Berani sekali lagi sebut aku cuma temen, aku cium kamu disini sekarang juga!" gertak si lelaki. Tidak terima dikenalkan hanya sebagai teman.
"Iihh.. Mas Harris, itu kan cuma biar mereka gak banyak tanya lagi.. Terus langsung pergi kabur deh.." kilah Keara.
Lelaki itu, Harris Risjad, membuka mulut hendak menyanggah ucapan Keara, tapi gadis itu lebih cepat menyetop Harris. Dengan mengarahkan telapak tangannya ke depan wajah lelaki itu.
"Tunggu sebentar, aku mau pipis....." tanpa menunggu jawaban Harris, Keara mendorong berkas skripsinya ke dada lelaki itu, yang dengan gerakan cepat langsung menangkap agar berkasnya tidak jatuh. Keara berlari kecil menjauhinya menuju ke toilet wanita yang berjarak dekat dari tempatnya semula.
Harris hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum gemas menghiasi.
Pukul 11.23. Giliran nama Keara Assyifa yang dipanggil untuk memasuki ruang ujian skripsi. Gadis itu berdiri tepat di depan Harris sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Gimana mas? Sudah oke belum?"
Harris memberi kode 'oke' dengan jarinya. Lantas kedua tangannya membelai rambut gadisnya dari pucuk kepala dan berhenti di samping kanan dan kiri pipi gadisnya. "Kamu sudah sangat cantik. Kurangin saja gugupnya dan berdoa banyak-banyak.. Inshaa Allah kamu lulus. Semoga lancar ya, sayang.."
Keara tersenyum. Menyadari lelaki dingin ini ternyata bisa juga menenangkan dirinya di saat-saat menegangkan seperti sekarang ini. Dia masuk ke dalam ruang ujian dengan hati dan fikiran yang lebih tenang.
Smartphonenya berdering dan tertera nama Aswin di layar enam inci itu. Harris segera mengangkat ponselnya, berpikir itu pasti telepon penting perihal pekerjaan. Harris memang meninggalkan kantornya sejak pagi. Ia bahkan tidak sempat mendelegasikan langsung tugas untuk Aswin, hanya melalui pesan chat, email, dan telepon singkat saja pagi tadi.
"Halo," sapa Harris.
"Maaf mengganggu, Pak.. Saya dengar berita dari rekanan kita yang ada di media. Mereka bilang, ada orang yang membocorkan kehidupan pribadi Pak Harris."
Harris membulatkan netranya. Dia diam menunggu kelanjutannya dari Aswin sembari berpikir.
"Saya sudah meloby media agar menutupi berita itu, dan jangan sampai terbit atau ditayangkan di tv. Mereka menolak. Ada keuntungan bagi mereka bila kabar ini tersebar luas. Tapi mengingat hubungan baik mereka dengan Pak Harris selama ini, pimpinan redaksi media bersedia memberikan dulu kepada kita sebelum ditayangkan besok di televisi. Kita bisa menyortir terlebih dulu berita yang hendak ditayangkan. Bisa menambah dan mengurangi isi berita. Asal tidak merusak inti cerita, begitu syarat dari mereka, Pak.."
"Oke. Kirimkan lewat email. Aku akan membacanya."
"Baik, Pak.."
"Ada lagi yang harus saya lakukan, pak?" tanya Aswin lagi. Karena Harris tidak kunjung memutus sambungan teleponnya.
"Ada. Dengarkan perintahku baik-baik, jangan sampai aku mengulangi perkataanku." titah Harris. Ia menyebutkan apa saja yang harus dikerjakan Aswin. Dan seperti biasa, ia memperingatkan agar Aswin jangan sampai gagal mengerjakan tugas darinya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Keara keluar ruangan dengan ekspresi wajah yang sulit didefinisikan. Matanya mengitari area itu, mencari sosok yang sejak tadi menemaninya dengan sabar. Ia pun berlari kecil saat mendapati sosok itu duduk dan tersenyum ke arahnya.
"Mas Harriiiiss... AKU LULUUSS !!" pekik Keara ketika sudah sampai tepat di depan Harris. Ia melompat-lompat kegirangan.
"Exactly I know it, sweetheart.. You can do it well.." Harris tersenyum lebar. Tangannya membelai lembut kepala gadis itu.
"For your information, aku sudah siapkan hadiah kelulusan untuk kamu.."
"Oh ya? Serius? Apa hadiahnya mas?" tanya Keara dengan tidak sabar. Wajah sumringahnya bersinar terang, dan itu sangat membahagiakan bagi Harris. Dia rela memberi apa saja demi kebahagiaan gadis itu.
"Liburan ke Korea. Berangkat besok pagi.."
"KOREA?? Korea selatan? Aku gak salah denger mas??" tanya Keara antusias.
"Ya iyalah sayang.. Masa Korea Utara? Ya kali aku tega nyuruh kamu ke Korut.."
Mata Keara berbinar terang. 'Haahh.. Begini rasanya punya calon suami sultan.. Pergi liburan ke Korea macam mau pergi ke pasar malam. Tinggal sebut besok, jadilah besok. Pergi ke Korea udah kayak naik taxi online, voillaa sampai deh.. Ruarr biasaahh..!!'
"Tapi masa besok banget sih mas? Mendadak banget.. "
"Iya sayang, aku sudah siapkan semuanya. Besok kamu pergi sama dua karyawanku. Tiara dan Lea. Paspor, tiket pesawat, travel agent, hotel, dan semuanya sudah diurus Aswin. Special for you, sweetheart.."
"Untuk baju dan keperluan lain, kita bisa pergi ke mall sekarang untuk berbelanja. Untuk ijin ke ibu kamu, nanti aku yang yakinkan pada ibu, kalau kamu aman disana.."
Mulut dan mata Keara terbuka lebar saking senangnya. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak bisa bicara apa-apa lagi. Seketika ia melompat dan menubrukkan raganya pada Harris. Mengalungkan lengannya di leher lelaki itu. Sembari berjinjit, Keara memeluk Harris erat.
"Terima kasih, mas.. Ini hadiah teristimewa buatku.. I've nothing to say.. Just thank you...!!"
"You're welcome, sweetheart.. You deserve to get it." balas Harris. Dengan mendekap erat tubuh mungil gadisnya. "Congratulation, Keara Assyifa, S.E,.."
...----------------...
...----------------...
Buat reader tersayang, kalau mau kasih hadiah kelulusan buat Keara dipersilahkan yaa.. 😝
Bisa kasih bunga, kopi, dan vote hari senin.. Xixixixii..
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih