Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Kilas Balik


Seorang wanita paruh baya melangkah dengan sedikit keraguan. Menapaki lantai marmer yang kian memperjelas kesuksesan perusahaan yang saat ini didatangi. Rasa bersalah yang amat mendalam lah yang memperberat langkahnya. Namun keyakinan bahwa ia harus meminta maaf setidaknya sekali saja dalam sisa usianya, membuatnya mantap menginjakkan kaki di gedung mewah ini.


Tidak terpikir harus melakukan apa dan bagaimana, ia hanya datang seorang diri dengan menenteng buket bunga lily putih yang indah. Berharap putranya nanti akan tersentuh dan mau menerima permintaan maaf meski terlambat.


"Mm..mama.." Harris merasa tenggorokannya tercekat. Tubuhnya mendadak kaku dan mati rasa. Entah apa matanya salah lihat atau tidak. Seakan sosok di depan matanya ini sangat mustahil nyata adanya.


Wanita itu, yang Harris sebut 'mama', menitikkan air mata begitu sosok Harris berada tepat di hadapannya. Ya, wanita paruh baya itu adalah Anita. Entah bagaimana, dia yang seharusnya sudah kembali ke pulau seberang sejak kemarin, saat ini bisa ada di depan mata Harris dan Keara.


"Iya, Harris.. Ini mama, nak.." ucap Anita. Air mata jatuh berderai membasahi wajah pucat yang sudah dihiasi keriput itu. "Maafkan mama Harris... Tolong maafkan mama....."


Keara menatap Harris. Lelaki tangguhnya itu saat ini terlihat sedang menahan tangis sekuat tenaga. Keara melepaskan rangkulan di lengan Harris. Lantas mengusap punggung lebar itu. "Aku tunggu di luar ya, sayang. Mas bisa leluasa bicara berdua sama i....."


"Engga, sayang.. Tetaplah di sini. Jangan tinggalin aku." sela Harris. Harris menggenggam jemari Keara. Begitu erat seolah sedang mencari kekuatan dari wanitanya.


Keara melirik suaminya. Ia sangat kenal raut wajah itu. Raut dingin dan kaku. Wajah yang menyimpan banyak luka, namun tetap ingin terlihat tegar.


"Aku sudah maafkan mama. Jadi sekarang mama bisa pulang dan kembali pada keluarga mama." tegas Harris.


Anita membuka mulut hendak berucap, tapi Harris dengan cepat menyela. "Tapi sebelum mama kembali, kupikir mama harus tau sesuatu."


Harris merangkul bahu Keara. "Aku sudah menikah. Ini istriku, dan saat ini dia sedang hamil anakku. Kupikir tidak adil kalau wanita yang kucintai tidak kukenalkan pada mertuanya." Selalu perasaan Kearalah yang ia kedepankan.


Anita mengangguk dengan isak tangis yang berusaha ditahan. "Mama seneng nak.. Mama seneng kamu akhirnya menemukan wanita yang kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus."


"Mas, Ibu, ayo kita mengobrol sambil duduk.." Keara berusaha menarik tubuh kekar itu. Tapi gagal. Harris bergeming.


"Tidak perlu sayang, mama tidak lama. Kita juga akan pergi kaan.."


Anita maju beberapa langkah. Meletakkan buket bunga yang ia bawa sejak tadi di meja kerja Harris. "Terima ini nak, hanya ini yang mama bawa. Selamat ulang tahun Harris.. Kamu tidak tau betapa mama menyesal telah melewatkan hari ulang tahunmu selama bertahun-tahun."


Harris tetap bergeming. Tapi Keara bisa melihat kalau suaminya itu sedang menahan tangis sedemikian rupa. "Hmm.. Terima kasih. Mama bisa pulang sekarang."


Anita tertunduk lesu. Bingung apa lagi yang harus ia katakan agar Harris tidak terus-terusan menanggapi dengan dingin. Dia tidak menyalahkan putranya. Tidak, sama sekali tidak. Anita sadar semua adalah kesalahannya. Buah dari tindakannya di masa lalu.


Tapi saat ini Anita pikir mungkin lebih baik kalau Harris memaki-makinya dulu, atau menuntut penjelasan dari apa yang terjadi di masa lalu. Bukannya iya-iya saja saat dimintai maaf, lalu mengusirnya seperti sekarang. Sikap dingin Harris Ini lebih menyakitkan.


Keara melepaskan diri dari dekapan Harris. Menghampiri Anita dan merangkul bahu wanita paruh baya itu. Lantas menggiringnya ke arah sofa. "Ibu duduk dulu. Keara ambilkan minum.. Pasti lelah sudah jauh-jauh datang kemari.."


Setelah memastikan Anita sudah mendaratkan pantatnya di sofa, Keara mengambil sebotol air mineral dari pendingin yang ada di dalam kantor itu. Lalu menyuguhkan di depan mertuanya.


"K....." tegur Harris melihat tingkah istrinya yang tidak sejalan dengan ucapannya untuk lekas mengusir mama pergi.


"Hanya minum, mas.. Kasian ibu kamu pasti lelah.." tutur Keara dengan lembut. "Kemarilah dulu mas.. Kita berbincang dulu sambil duduk." Keara bersikap seolah tak tau, kalau inilah yang ditentang Harris. Ia sangat tau. Berada satu ruangan dengan ibu Anita membuat Harris sesak dan tidak tahan.


Anita meneguk air mineral dari Keara. Ia menggamit jemari Keara dan membawanya ke atas pangkuan. "Panggil aku mama, nak.. Meski sikap dan perlakuanku tidak mencerminkan seorang ibu yang baik, tapi aku tetap mama mertuamu."


"Tidak terhingga besarnya rasa terima kasihku untuk nak Keara. Karena sudah begitu tulus menemani dan menyayangi Harris.." lanjut Anita.


Keara menangis. Ya, wanita cengeng itu selalu mudah menangis. Sedikit saja dipancing, langsung banjir air mata. "Terima kasih.. Mama mau datang kemari dan bertemu mas Harris."


Harris yang hanya melirik interaksi dua wanita beda generasi itu. Pertahanannya runtuh. Ia turut menitikkan air mata. Meski dengan cepat ia seka karena tidak ingin terlihat lemah.


Keara menoleh pada Harris. Mata merah penuh peluh itu menatap Harris penuh permohonan. "Sayang, kemarilah... Please..." pintanya dengan suara parau.


Harris melangkah dan duduk di sofa lain di samping Keara. Namun bibir tetap bungkam. Ia tidak bisa mengabaikan permintaan istrinya itu. Terlebih saat istrinya sudah dalam mode memohon. Harris melemah.


"Mama tau, kesalahan mama amat besar. Sulit untuk dimaafkan begitu saja. Dulu mama terlalu lemah untuk mempertahankan rumah tangga mama. Cinta papa kamu untuk mama memang besar.. Tapi cinta saja tidak cukup, Harris. Mama ingin diperlakukan dengan baik. Keluarga papa kamu selalu memandang rendah mama. Mungkin karena mama berasal dari keluarga sederhana.. Tidak sepadan dengan mereka.."


"Dan kalau kamu ingat, setiap papa mabuk setelah pulang dari menjamu klien, papa berubah menjadi monster. Papa selalu memukuli mama tanpa sadar. Lalu meminta maaf saat pengaruh alkohol hilang. Itu berulang selama bertahun-tahun Harris.. Papa tidak pernah benar-benar berniat untuk berhenti menenggak alkohol. Dan membuat mama tersiksa.."


"Sampai mama bertemu dengan seseorang yang bisa mengobati luka mama.. Luka batin sekaligus luka fisik mama. Membuat mama merasa dicintai tanpa tapi. Mama merasa bahagia bersama lelaki lain. Mama tau ini salah.. Mama merusak keutuhan keluarga kita. Mama khilaf nak...." derai tangis tak terbendung lagi. Baik Anita dan Keara menumpahkan air mata seraya saling menggenggam memberi kekuatan.


"Sejak hari itu, hari dimana mama meninggalkan kamu di rumah sakit, mama menderita Harris.. Mama sedih dan merana setiap hari. Dua tahun setelah itu, mama kembali ke kota ini. Mencari kamu di panti asuhan. Tapi orang di panti bilang kamu kabur dari panti dan tidak ada yang tahu keberadaanmu. Mama berusaha mencarimu tapi mama gagal. Mama sangat terpukul Harris.. Setiap malam mama memikirkan, bagaimana putra tersayang mama harus menjalani kehidupan keras di jalanan antah berantah tanpa orang tua??"


"Kemudian belasan tahun setelah itu, mama mendengar kabar kesuksesanmu.. Nama dan fotomu terpampang di banyak majalah bisnis, koran, tv, dan juga youtube.. Mama bangga, mama bahagia nak.. Tapi mama menjadi takut untuk menemuimu.. Mama merasa tidak pantas. Mama tidak layak datang di saat kamu sukses. Sedangkan saat kamu terpuruk, kamu melewatinya sendirian tanpa mama.. Huhuuhuu.. Mama merasa sangat buruk, Harris.. Mama tidak punya muka untuk bertemu denganmu."


Anita menangis tergugu. Ia tumpahkan pedih di hatinya selama bertahun-tahun. Keara mengusap punggung renta itu dengan lembut. Berusaha menguatkan padahal dirinya pun berderai tangis.


Harris terus tertunduk. Menatap lantai marmer yang ia pijak. Tapi air mata terus luruh tanpa bisa ia seka. Saking derasnya. Ia mencerna ucapan sang mama. Tidak bisa dibenarkan. Tapi semua telah terjadi. Sudah terlanjur.


Harris mencoba menempatkan diri sebagai ibunya. Memang sungguh tersiksa memiliki pasangan yang jika mabuk kehilangan kesadaran sampai tega menganiaya pasangannya. Bahkan dirinya pun tak luput dari tangan ringan sang papa ketika mabuk. Karena itulah Harris sangat membenci alkohol. Ia tidak pernah menyentuh minuman haram itu. Cukuplah orang tuanya menjadi pelajaran.


"Sudah. Lupakan yang terjadi dulu. Harris tidak mau mengingatnya lagi, Ma..." tukas Harris tanpa mengangkat wajah. Tetap menatap lantai.


Keara beralih menatap Harris. Memahami keresahan suaminya. Sebelah tangannya mengusap pipi Harris, menghapus air mata, dan mencoba mengangkat wajahnya. "Sayang, apapun keputusannya, mas tau kalau aku selalu ada di pihak mas Harris. Tolong ikhlaskan masa lalu yang sudah terjadi. Ya..?"


Harris menangkup jemari Keara yang tadi bersarang di pipinya. Lelaki itu mengangguk dengan menatap nanar istrinya.


Kini posisi Keara berada di tengah-tengah ibu dan anak itu. Tangan kiri digenggam ibu Anita. Tangan kanan digenggam mas Harris. Keara menarik kedua tangannya hingga mempertemukan tangan mas Harris dan ibu Anita di atas pangkuannya.


Keara bergantian menatap mertua dan suaminya. Lantas tersenyum ceria mencairkan suasana kaku yang membingkai. "Mari lupakan masa lalu dan berhubungan baik mulai sekarang dan seterusnya. Hm? Deal?"


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih