Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bos Kerja, Aswin Lega


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Harris ketika tau Keara sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Wanita itu terasa nyaman sekali bersandar di punggung bidang suaminya hingga tanpa sadar ia pun memejamkan matanya.


"Hemm" hanya itu jawaban yang terlontar dari bibir mungil itu.


"Gimana keadaan kamu? Perut kamu gimana?"


"Sayang, pergilah bekerja. Meeting dengan Mr. Lee itu penting kan? Jadi jangan dibatalin gitu aja. Aku udah lebih baik kok sekarang.."


"Benarkah?"


"Hemm.."


Aswin yang mendengar percakapan suami istri itu dari sambungan telepon yang belum terputus, menghela nafas lega. Dia tidak bisa membayangkan betapa riweuhnya kalau sampai bosnya itu bersikeras tidak mau pergi ke kantor. Belum lagi dia akan terkena sasaran makian dari banyak orang.


Harris memutar tubuh agar bisa menatap langsung wanitanya. Ia ingin memastikan kondisi istrinya benar-benar sudah membaik. Ia menempelkan punggung tangan ke dahi Keara. Wajah pucat itu masih sayu, tapi tak lagi meringis kesakitan seperti tadi shubuh.


"Nanti kita bisa ke rumah sakit setelah meeting kamu selesai." imbuh Keara meyakinkan suaminya lagi.


"Begitu?"


"Hemm.."


Harris kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. Ia kembali ingin berbicara dengan asisten setianya yang sudah berada di kantor sejak satu jam yang lalu itu. "Win? Kamu denger kan?"


"I-iya, Pak."


"Kalau begitu persiapkan meetingnya. Aku akan segera datang ke kantor."


"Baik, Pak.. Siap laksanakan!" sahut Aswin cepat. Dia mengangguk mantap seraya mengusap dadanya tanda kelegaan luar biasa. Baginya, serepot-repotnya menyiapkan meeting, lebih repot lagi kalau harus membatalkan pertemuan dengan kliem luar negeri yang sudah hampir sampai. Caci maki jelas akan dia terima.


Harris merangkul istrinya dan mengajak kembali ke dalam kamar. Ia rebahkan raga mungil istrinya itu ke ranjang. Lalu menarik selimut untuk menutup sebagian tubuhnya.


Tadi shubuh, Harris asal menyomot lingerie untuk dipakaikan pada Keara. Sekarang, ia merasa tidak tega juga. Lingerie itu terlalu terbuka dan ia takut istrinya kedinginan.


"Sayang, kamu beneran gak apa-apa aku tinggal? Beneran udah baikan?"


"Beneran, sayang.."


"Aku cuma sedikit pusing dan perutku agak mual, but it's okey.. Kamu bisa berangkat ke kantor dulu untuk meeting sayang, setelah itu cepatlah pulang.." lirih Keara. Ia sebenarnya tidak rela juga ditinggalkan Harris hari ini. Tapi mendengar percakapan suami dan asistennya tadi membuat Keara merasa tidak boleh egois. Harris akan kesulitan jika hari ini ia tidak datang di meeting itu.


"Baiklah.. Meetingnya akan cepat selesai. Aku janji akan langsung pulang begitu selesai, hm?"


Keara mengangguk dan mengulas senyum tipis agar suaminya merasa tenang meninggalkannya.


"Aku turun sebentar, aku akan minta Bik Santi menyiapkan sarapan untukmu. Kamu sarapan di kamar aja. Dan juga nanti biar Bik Santi yang menemani kamu di kamar selama aku di kantor, oke?"


Keara menggeleng. "Aku mau sama ibuk, mas.. Aku boleh gak ke rumah ibuk nanti?"


"Gak boleh sayang.. Kamu masih lemes begini." Harris mengusap lembut puncak kepala Keara. "Gini aja, aku akan suruh Pak Diman jemput ibu. Ibu bisa nemenin kamu di sini. Gimana?"


Keara mengangguk senang. "Makasih mas.."


Harris membungkuk demi bisa memeluk istrinya yang sedang berbaring. "Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal kecil begini sayang. Aku senang melakukannya untukmu.."


Keara mengulurkan tangannya mengusap punggung mas Harris. Terasa nyaman sekali setiap kali berpelukan dengan suami tercintanya ini hingga ia enggan melepaskan ketika raga bidang Harris berangsur menjauh.


"Aku turun dulu, hm? Kamu harus segera mengisi perut." ujar Harris. Dia bisa merasa kalau Keara tidak ingin pelukannya terurai. Tapi Harris juga harus memastikan istrinya makan sebelum ia berangkat ke kantor.


Tak berselang lama Harris keluar kamar, lelaki itu sudah kembali lagi dengan membawa nampan besar. Ia memilih membawakan sendiri sarapan untuk istrinya karena masih ingin melayani wanita tercintanya itu.


Harris menyiapkan meja kecil dan meletakkannya di atas ranjang. Ia menata makanan untuk Keara di atas meja itu setelah membantu istrinya duduk bersandar di headboard ranjang dan meja kecil di atas paha istrinya.


...----------------...


...Kreji up... Gantinya kemarin gak up 🙈...


...Jangan lupa like dan komen di semua part yaa kaka... Dapet vote makin Alhamdulillah 🥰🤗...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih