Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Under Control


"Mas, ada polisi di rumah kita. Cepet pulang. Aku takut, sayang. Ada apa sebenarnya..?"


"Apa?? Polisi?"


"Iya, mas.. Mereka nangkep tante Martha. Katanya atas kasus penggelapan harta.. Harta siapa gitu.. Gak tau laah aku.. Pokoknya mas Harris cepetan pulang. Stella nangis-nangis terus nih dari tadi... Aku juga bingung ga paham situasinya gimana ini.."


"Sayang.. Sayang.. Kamu tenang dong.. Please..." ujar Harris mencoba meredam kepanikan Keara. "Ini aku udah di perjalanan mau pulang, sayang.. Kamu tunggu aku yaa.."


"Iya, cepetan sayang.. Aku butuh mas Harris di sini... Kami semua kebingungan. Gak ngerti harus gimana.. Gak ngerti juga ada masalah apa.."


"Iya, sayang.. Iyaa.."


"Stella juga sedih banget ini.. Dia keliatan ketakutan dan bingung sama kejadian mendadak ini, mas.. Dia nangis terus dari tadi.."


"Sayang, kalau kamu nyerocos terus aku kapan pulangnya.."


"Iya, iya mas..." pungkas Keara. "Mas Harris ati-ati nyetirnya.. Jangan ngebut. Tapi kudu cepetan sampe rumah juga...."


Harris memutus sambungan telepon dari istrinya. Tidak akan ada habisnya jika menunggu kebawelan Keara mereda.


Ia lantas bergegas mengemudikan mobilnya membelah jalanan petang itu. Samar terlihat sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman simpul.


"Gercep juga nih Bara dan Aswin.. Bisa sigap jalanin tugas ngeringkus Martha tanpa banyak nanya kayak biasanya.. Bagus laah.. Kan jadi ga sia-sia kasih mereka bonus gede."


......................


Sesampainya di rumah, Harris melihat istri bersama semua pekerja rumahnya berkumpul di ruang tamu. Keara terlihat merangkul Stella yang sedang terisak. Harris berdehem pelan agar orang-orang me-notice kedatangannya.


"Sayang.." Keara secepat kilat beranjak dari duduknya. Menghampiri Harris, menggamit telapak tangan suaminya, lantas mencium punggung tangan kokoh itu.


"Sayang, pelan-pelan jalannya.." ujar Harris lembut. Ia hampir saja jantungan melihat cara Keara berdiri dan berjalan menyambutnya. Seolah tidak sedang berbadan dua. Tapi Keara sepertinya tidak menggubris peringatannya.


"Sayang, kamu kemana aja sih...?" Keara melingkarkan lengannya dan sedikit menarik raga Harris agar lebih mendekat. "Kami semua tegang dan bertanya-tanya apa yang terjadi... Kami kaget aja tiba-tiba ada serombongan polisi yang dateng ke rumah ini.."


Harris tidak menanggapi rentetan ucapan Keara. Ia hanya mengikuti langkah istrinya itu untuk mendekat ke arah sofa. Seraya mengusap puncak kepala Keara, ia dudukkan dirinya di atas sofa berwarna gelap itu. Harris menghadap tepat di depan Stella.


Harris sedikit canggung. Ia sebelumnya tidak pernah berbincang dengan Stella. Hanya melalui Kearalah ia mengetahui keadaan Stella selama ini. Karena istrinya itu begitu rajin menceritakan apa saja dan siapa saja yang terjadi di rumah ini.


"Ehm.. Stella.." ucap Harris memecah ketegangan di ruang tamu rumahnya.


Stella. Gadis belia yang sebelumnya tertunduk dan terisak itu langsung mendongakkan kepala.


"Martha, mommy kamu, terbukti melakukan penggelapan dana perusahaan papamu. Ia juga berhutang sangat besar dengan mengatasnamakan perusahaan. Sehingga perusahaan rugi besar dan akhirnya gulung tikar. Ia juga berpura-pura melelang rumah peninggalan papamu, dengan dalih untuk membayar hutang perusahaan, tapi ia menggelapkan uang hasil penjualan rumah dan kabur dari tanggung jawab hutang."


Stella semakin terisak. "Iya, kak Harris.. Stella tau itu.. Tapi Stella takut dan gak berani ngomong sama mommy..."


"Kamu tau a-pa, Stel?" tanya Harris.


"Stella tau kalau selama ini mommy dikejar-kejar debt collector. Mommy punya hutang besar. Mommy juga punya niat jahat dengan meminta tinggal di rumah ini.. Maaf.. Maafkaan Stella dan mommy, kak.." papar Stella di sela tangisnya.


Keara dan Harris saling melempar pandang.


"Niat jahat apa maksud kamu?" selidik Harris.


"Emm.. Mommy sebenarnya mengincar harta kak Harris. Huhuuhuu.. Maaaaff...."


"Apa??" Kali ini Keara nampak terkejut. Tapi Harris justru tampak biasa saja. Seolah sudah mengetahui niat Martha seperti yang diungkapkan Stella.


Stella mengusap kasar air matanya. Ia tidak ingin menyembunyikan kenyataannya lagi. Terutama pada dua orang yang selama ini selalu bersikap baik padanya, yaitu Harris dan Keara. "Setiap kali ada kesempatan, mommy akan masuk ke ruang kerja kak Harris dan mencari dokumen berharga yang bisa menghasilkan uang.."


"Bukan hanya itu... Mommy juga sepertinya bekerja sama dengan seseorang untuk memata-matai kegiatan kak Keara.. Tapi Stella tidak tau lebih jelasnya..." lanjut Stella.


"Kak Harris tau itu."


Ucapan Harris itu sontak mengundang tatapan terkejut dari Keara dan juga Stella.


"Setiap kali tante Martha mengambil dokumen dari ruang kerja kak Harris, kamu akan diam-diam mengembalikan dokumen itu ke ruang kerja kakak lagi.. Benar begitu kan?"


"D-darimana kak Harris ta-tau?" tanya Stella tergeragap. Ia tidak menyangka, hal yang selalu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi selama ini diketahui oleh si pemilik rumah. Padahal mommynya saja tidak tau. Tapi setiap kali dokumen yang diambil mommynya itu hilang, Stella selalu saja dipukuli dan disiksa mommynya. Dan dipaksa mengaku kalau memang Stella lah yang membuat dokumen itu hilang.


"Kak Harris tau semuanya. Bahkan kak Harris punya rekaman buktinya."


Stella terhenyak.


"Ehmm.. Sak-si?"


"Hem.. Jadilah saksi atas kejahatan mommy kamu. Sebagai imbalannya, kak Harris akan mengembalikan harta papamu yang memang menjadi hak kamu. Bagaimana?"


"Stella mau kak.. Mommy memang bersalah." ucap Stella lirih. Tapi terdengar penuh keyakinan.


Keara terdengar menghela nafas berat. Ia memang terkejut dengan serangkaian kejadian mendadak sore ini. Tapi mendengar pengakuan Stella dan melihat sikap tenang suaminya, Keara sedikit memahami apa yang terjadi. Dan ia yakin bahwa mas Harrisnya pasti sudah mengetahui masalah ini jauh-jauh hari. Pria introvert di sampingnya ini pasti sudah melakukan banyak hal demi melindungi dirinya. Melindungi keluarganya.


"Tapi kalau mommy di penjara, bagaimana nasib Stella kak? Huhuu" tangis Stella kembali pecah.


"Stella.... Kamu aman di sini sama Kak K dan mas Harris. Kami ini kan keluargamu juga.." tutur Keara lembut. Ia beranjak duduk di sisi Stella dan mengusap bahu gadis muda itu. "Iya kan, sayang?"


Harris mengangguk mengiyakan penuturan istrinya. "Kamu boleh tinggal disini, Stella. Sampai kamu cukup dewasa untuk memegang dan mengelola sendiri sisa warisan dari papamu.."


Di dalam kamar, Keara memeluk Harris kala suaminya itu baru selesai mandi. "Tumben nih istriku tersayang ngajakin duluan..?" goda Harris.


Keara sontak tersipu. Ia yang salah tingkah memberi cubitan kecil di dada telan*jang suaminya. "Eh mesum aja.. Siapa juga yang ngajakin begituan....."


"Terus ini ngapain dong peluk-peluk..?"


"Aku tuh mau berterima kasih sama mas Harris.."


"Terima kasih untuk apa?"


"Penangkapan tante Martha itu kerjaan mas Harris kan?"


"Hm.. Kok bisa mikir gitu?"


"Ya kepikiran aja.. Abis mas Harris santai banget, padahal aku udah heboh ceritanya..."


Harris terkekeh. Ia menjawil hidung mungil istrinya yang menggemaskan. "Bukannya selalu begitu? Kamu heboh akunya selow aja.. Gak aneh itu sih.."


"Hehe.. Iya bener juga sih.." ucap Keara seraya semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. "Tapi bener gak.. ini ulah mas Harris?"


"Yaa.. Bisa dibilang begitu...."


"Boleh aku tau kenapa?"


"Untuk menebus kesalahanku, sayang.."


"Kesalahan apa?"


"Kesalahan sejak awal aku memasukkan tante Martha di rumah ini. Sampai ia berani membawa David kemari. Bertemu denganmu. Lantas mengusik rumah tangga kita."


Keara mengangguk-angguk. Ia belum paham sepenuhnya maksud sang suami. Tapi ia yakin, apapun itu suaminya ini akan melindunginya dari apapun atau siapapun..


"Tapi kenapa harus sampai menjebloskan tante Martha ke penjara? Kasihan juga Stella, mas.. Dia pasti malu punya ibu narapidana.."


"Itu lebih baik daripada dia harus punya ibu tapi tersiksa." ujar Harris dengan tatapan menerawang. " Tidak semua ibu punya hati dan rasa cinta pada anaknya, sayang..."


Keara melihat perubahan air muka Harris yang mendadak sendu. Keara merasa ucapan Harris membuatnya teringat pada ibunya sendiri.


"Mas Harris sayang...." Keara membelai pipi Harris. Membuat Harris menghela napas panjang dan membuang kegundahannya. Lelaki itu lantas tersenyum seraya mengusap puncak kepala sang istri.


"Aku bisa saja mengusir tante Martha dari rumah ini. Tapi aku yakin kamu pasti keberatan kalau berpisah dari Stella. Iya kan? Kamu pasti kasihan kalau Stella hidup terkatung-katung di luar sana. Benar?"


Keara mendongakkan kepala demi bisa bersitatap dengan mas Harris. "Benar sekali, sayangku.. Suamiku yang super duper ganteng ini emang pengertian sekalii.. Aku cintaa banget sama mas Harris.."


Harris tersenyum kian lebar. Ucapan manja istrinya seketika membangkitkan sesuatu yang ada di balik boxernya. "Aku juga sangat mencintaimu, sayang... Sangat.. Sangaaat.."


Dan sedetik setelah itu, Harris melu*mat dengan ganas bibir ranum Keara. Gairah dalam dirinya memberontak menginginkan penyaluran yang memuaskan malam ini juga. Dan wanita hamil itu sangat mengerti hasrat sang suami. Ia pasrah dan membuka lebar pelukannya. Bersama-sama menikmati malam penuh cinta.


......................


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih