Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Terima Kasih Galen


Harris spontan langsung menuju ke bangku yang ia hafal menjadi tempat duduk gadis SMAnya dulu. Setiap kali gadis itu menangis. Dan benar saja. Keara ada di sana.


Ia duduk diam. Bahunya terlihat naik turun sebagai tanda ia sedang menangis. Tapi apa yang membuatnya menangis?


Kenapa gadis itu kembali lagi ke sini setelah sekian lama??


Kenapa dia ingin menangis lagi?


Semua pertanyaan yang berjejal di otaknya seakan memberinya energi untuk beringsut lebih cepat. Ingin segera memberi pelukan pada gadisnya. Ingin tau apa yang terjadi hingga membuat gadisnya menangis lagi.


Harris duduk di samping Keara dan langsung merangkul bahu gadis itu.


"Sayang.. Ada apa, hm? Ini sudah larut malam dan kamu kenapa kemari?"


"hiks.. M-mas Harris... tadi.. langsung ke sini??" alih-alih menjawab pertanyaan Harris, Keara justru balik bertanya. Membuat kening Harris berkerut.


"Iya, sayang.. Memangnya aku harus kemana lagi??"


"Mas Harris ga nyariin aku kemana dulu gitu? Kan banyak bangku di sini..?" suara Keara mulai stabil, meski masih ada sisa isakan di sela-sela kalimatnya.


"Taman ini udah sepi.. Aku udah bisa liat kamu di sini tanpa mencari.."


"Aturan kalau mas datang dari rumah kan berarti datang dari sana.." Keara menunjuk arah di balik punggungnya.


"Sekarang udah makin gelap pula.. Kalau nyari aku, bisa aja mas muter-muter kemana dulu gitu..."


"Kamu kenapa sih sayang...?" tanya Harris dengan nada yang terdengar mulai frustasi.


"Aku udah kuatir kamu kenapa-kenapa.. Tapi sekarang kamu malah nanya berbelit-belit ke aku.. Aku tambah bingung kamu kenapa.."


Keara tertawa kecil. Ia kasihan juga melihat wajah Harris yang sudah tampak stress menjawab pertanyaannya. "Maaf.. Maaf..."


"Sekarang tertawa? Kamu nih bener-bener bikin aku stress.." Harris memicing melihat gadisnya. Dia benar-benar masih tidak tau menahu arah pembicaraan Keara.


Keara menatapnya dengan mata yang masih berhias kilatan bulir bening. Lantas menelusupkan tubuh mungilnya di dekapan Harris. Ia mencari posisi nyaman di ceruk leher Harris, kemudian membenamkan wajahnya di sana.


Harris yang tidak menyangka akan tindakan Keara, merasa tubuhnya kaku menerima raga cantik itu. Tapi sedetik kemudian ia mulai menyamankan posisi duduknya. Mendekap gadis mungil yang untuk pertama kali datang sendiri ke pelukannya.


"Ada apa sayang? Apa yang membawamu malam malam begini datang ke taman ini? Kalau ada apa-apa, bukannya kamu bisa datang ke rumahku..?" tanya Harris seraya membelai rambut panjang Keara.


Jarak taman dan rumah Harris memang cukup dekat. Bahkan Harris bisa mencapai taman dengan cepat meski tanpa mengendarai motor ataupun mobil.


"Mas Harris tau gak..? Dulu aku pernah bego banget nangisin mantanku yang playboy.. Si Nico itu tuh.. Yang pernah ketemu mas Harris di mall sama anaknya.."


"Hemm.." hanya deheman singkat dari Harris yang menjawab.


"Aku tuh seneng nangis disini, soalnya kalau nangis di rumah aku takut ibu jadi kepikiran.. Takut jadi beban keluarga kalau tau aku cengeng. Hehee.." Keara bercerita sambil sesekali menghirup ingusnya.


"Tapi ternyata cowok yang aku tangisin bukannya sadar malah menjadi-jadi.. Dia tadinya deketin cewe-cewe yang naksir sama dia.. Eh lama-lama ngelunjak.. Dia selingkuh sampe menghamili sahabatku sendiri.."


"Kamu kenapa, K?" tanya Harris tidak sabar. Kenapa Keara harus mengulang lagi kisahnya? Bukankah dia sudah tau semua itu? Apa yang sebenarnya hendak dikatakan gadis ini?


"Dengerin aku dulu, mas...." sela Keara.


Harris menghela nafas kasar. Dia sangat tidak sabaran.. Berbagai prasangka muncul di benaknya.


"Kamu lagi kangen sama Nico?" tanya itu terlontar begitu saja. Harris pun menyesali ucapannya. Ia takut jawaban yang akan didengar nanti akan mengecewakannya.


'Bisa jadi kan, tadi saat tidur Keara memimpikan Nico. Dia jadi teringat lagi dengan cinta pertamanya itu. Sh*it.. Itu menyebalkan!' geram batin Harris, memikirkan kemungkinan itu ada membuatnya merapatkan rahangnya menahan kesal.


"Males banget kangen sama Nico.. Unfaedah." gumam Keara.


"Lalu?"


"Aku tuh belum selesai ceritanya..."


"Langsung saja ke intinya, K.. Aku malas denger cerita kamu sama mantan sia*lanmu itu." ketus Harris.


"Iiih.. Sabar...!" Keara mencubit pelan dada Harris. Sangat pelan sampai lelaki itu tidak perlu meringis kesakitan seperti biasanya.


"Dulu itu setiap kali aku menangis disini, selalu ada lelaki baik yang menemaniku."


*Deg.


Perasaan Harris mulai tak menentu. Keara pasti bisa merasakan bahwa jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu menempel sempurna dalam dekapannya.


"Dia selalu menemaniku dalam diam. Dia membiarkan aku menangis dan meluapkan semua perasaanku. Lalu dia akan menawarkan es krim setelah tangisku reda." Keara tertawa kecil.


"Lelaki itu selalu berlari dengan kaki panjangnya ke supermarket di ujung jalan sana, dan kembali lagi ke sini dengan membawa es krim.. Setelah itu perasaanku menjadi jauuuh lebih baik."


"Aku sangat bersyukur dia selalu ada menemaniku di sini. Aku jadi tidak merasa takut karena menangis sendirian di tempat asing dan gelap.."


"Tapi kalau diingat ingat aku tidak pernah mengucapkan terima kasih padanya dengan benar. Aku bahkan melupakannya dan tidak pernah lagi datang ke sini.."


Keara merapatkan dekapan tangannya di punggung lelaki itu. Harris tercenung dengan berbagai pemikiran yang berseliweran di kepalanya. Dia bingung pada apa yang hendak dikatakan gadis itu.


"Sayang, katakan apa yang mengganggu pikiranmu.. Jangan menceritakan hal-hal aneh begini. Kamu yang bikin aku takut sekarang.."


Gadis itu terkekeh geli. Dia berangsur mengurai pelukannya.


"Galen.." lirih Keara berucap.


Netra Harris membulat. Bibirnya sedikit terbuka. Dia tidak tau harus merespon apa. Jantungnya berdebar hebat. Dia menatap ke dalam manik mata gadisnya. Ia bahkan tidak mengerti arti senyuman Keara.


'Mungkinkah Keara tau.......'


"Galen." Keara berkata lagi. Tapi kali ini kedua tangan mungilnya menangkup pipi Harris. "Aku memberi nama lelaki itu Galen. Artinya penyembuh luka, pelipur lara, ehmm apa lagi yaa..? Hehee.. intinya, aku senang bertemu dengannya setiap aku lagi sedih."


"Dia yang tenang dan menemaniku dalam diam. Dia selalu bisa bikin aku pulang dengan perasaan happy lagi. Lupa sama kesedihanku.."


"K...." Harris mematung dan tidak mengerti harus berkata apa.


"Terima kasih banyak buat semuanya.. Se-mu-a-nya..!!" sela Keara.


"Bahkan sampai hari ini, Galenku selalu menemaniku dalam diam. Dia selalu ada buatku.. Dia selalu melindungiku. Meski tidak mengatakan apapun. Sama seperti dulu. Dia selalu menjadi pelipur laraku.."


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih