Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Jadi Bahan Gosip


🌹 Rumah Keara


Keara baru saja merebahkan raganya yang letih bukan main. Kemarin pas hari liburnya, dia bahkan tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Lalu tadi siang diberondong pelanggan kafe yang kelaparan dan haus. Kemudian berlanjut jadi figuran di drama rumah tangga sang mantan. Pungkasnya, deep conversation dengan lelaki yang membuatnya kepikiran siang dan malam selama tiga minggu ke belakang, dan diwarnai dengan luapan emosi yang melegakan.


Kini ia sudah selesai membersihkan diri, berganti pakaian, sholat isya, lalu rebahan di ranjang sederhananya yang super nyaman.


Keara mengambil ponselnya yang menggelepar-gelepar di meja kecil samping ranjang. Telepon masuk dari Harris. Ini adalah komunikasi seluler pertama mereka selama mereka saling mengenal.


"Halo, Assalamualaikum Mas Harris.."


"Waalaikumsalam.. Aku sudah sampai rumah K.. Ehm... kamu memintaku kasih kabar tadi.." balas Harris dengan suara bergetar. Sudah bisa diprediksi dengan jelas kalau lelaki ini sedang gugup.


Keara memang berpesan pada Harris agar meneleponnya jika sudah sampai di rumah. Dia sedikit trauma dengan tragedi kecelakaan yang menimpa mas Rizky. Yang tak kunjung memberi kabar bahwa dia sudah sampai di rumah. Tapi kabar dukalah yang ia terima.


"Iya mas, Alhamdulillah.." sahut Keara. "Mas Harris bersih-bersih diri dulu sana.."


"Oke.."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam"


*Call end*


Keara berguling-guling di kasur. Senyum dan detak jantungnya berpacu tak terkontrol. Sebenarnya dia juga sangat canggung berbicara di telepon dengan Harris. Mengingat ini adalah yang pertama kalinya. Dia yakin Harris pun begitu. Tapi memang harus dibiasakan, kan?


Keara memutuskan untuk mengirim chat whatsapp pada Harris yang berbunyi, "Mas, aku tidur dulu yaa.. Sudah ngantuk banget. Besok pagi harus kerja lagi."


"Trima kasih traktiran iganya. Enak bangeeett.."


"Selamat malam, selamat istirahat.."


Setelah pesan terkirim Keara menyeringai puas. 'Oke, case close! Tidak perlu pusing-pusing cari bahan obrolan kalau tetiba mas Harris nelpon lagi. Hehehee..'


Keara merasa hatinya berbunga-bunga. Canggung. Deg-degan. Seperti pasangan yang baru saja jadian.


'Loh heh.. tapi aku dan mas Harris gak jadian kok.. Eh belum. Eeh.. bukan mengharap loh.. Tapi memang belum jadian. Jadi temen deket kan gak berarti pacaran ya kaan..? Lagian tadi pas aku ngomong mau jadi sahabatnya, mas Harris ga meralat ataupun protes kok.. Itu artinya mas Harris setuju saja kalau kita cuma sahabatan..' batin Keara berdebat sendiri.


Sambil terus tersenyum, ia mencoba memejamkan matanya. Tadi terasa berat dan sangat mengantuk, tapi kenapa sekarang malah susah tidur..? Beneran konslet nih sel otak Keara.


Dari luar kamar, terdengar ibu mengetuk pintu kamar Keara, dan tak lama ibu pun membuka kamarnya. "K, sudah tidur?"


"Belum Buk.." Keara bangun dan duduk bersila di atas kasurnya. Sedangkan ibu langsung masuk dan duduk di tepi ranjang Keara.


"Ibuk dengar berita kurang enak, K.."


Keara menaikkan alisnya, tidak mengerti berita yang dimaksud ibu.


"Itu si Sasa.. Anaknya Bu Brata. Tadi sore ibu ketemu di pengajian. Eh, bu Brata gosipin kamu. Katanya pas Sasa main ke kafe sama temen-temennya, dia lihat kamu dilabrak sama istri orang. Katanya kamu janjian di depan kafe sama suaminya, dan laki-laki itu Nico.


Bener itu K..?"


"Astaghfirullah.." Keara mengelus dada. Gosip receh ini ternyata bisa cepat sampai ke telinga ibu. "Engga bener itu Bu.."


"Terus ini tadi motor kamu dianterin sama laki-laki. Dia bilang dia asistennya Mas Harris. Terus yang bener kamu ini nungguin siapa di depan kafe?"


"Aku nungguin temen kerja aku Buk.. Terus tiba-tiba aja si Nico nyamperin dan nyapa aku. Dia memang ngajak pulang K, tapi Keara tolak Buk.. Sumpah. Eh gak lama si Mayra dateng dan marah-marah sama aku.. Bukannya suaminya yang dimarahin.. malah aku. Gak jelas banget.."


"Semua istri yang cemburu akan spontan memarahi dan benci sama perempuan lain. Sedangkan semua orang yang melihat tapi tidak mengerti duduk perkara yang sebenarnya akan secara otomatis menyalahkan kamu.." tutur ibu.


Keara jadi ingat perkataan mas Harris tadi yang artinya kurang lebih sama dengan penuturan ibu barusan. Kalau orang yang sepintas lewat pasti akan langsung percaya kalau Keara lah yang salah. uhh.. Emang pas lagi apes aja nih Keara.. Bisa ada di situasi awkward macam itu.


"Terus, sudah berapa kali kamu ketemu sama Nico?"


"Astaghfirullah K.. kok bisa sebanyak itu sih K?" Ibu terlihat geram.


"Semuanya bukan atas kemauan Keara kok Bu.. Kebetulan aja ketemu. Emang Keara suka? Iihh Gak suka sama sekali.." jawab Keara dengan wajah memberengut.


"Kemarin juga sebenarnya kamu nginep dimana? Bukan di rumah Ocha kan..? Hayo ngaku.." selidik ibuk. Keara tau, dia tidak akan bisa berhasil membohongi ibunya. Diapun belum janjian dengan Ocha dan menyamakan jawaban bila sewaktu-waktu ibuk bertanya padanya, kalau memakai namanya waktu tidur di rumah mas Harris.


"Ibu telpon Ocha tadi. Dia sih jawab iya, tapi dari suaranya ibu tau Ochanya jawab iya sambil bingung gitu.. " imbuh ibu. Keara hanya nyengir lebar saja. Jurus andalan ketika tidak bisa berkilah lagi.


"Tumben anak ibu udah berani bohongi ibu..?"


"Keara gak maksud bohongi ibuk kok.. Beneran. Cuma memang kemarin malem kondisinya lagi genting, ga bisa jelasin secara rinci. Kalau aku jelasinnya kepotong-potong nanti ibu malah bingung dan khawatir sama K.. Makanya, K milih jalan pintas bohong nginep di rumah Ocha.."


"Heleeh.. Alasan aja kamu ini. Berarti sekarang bisa kan nyeritain Sejujur-jujurnya, secara rinci, detail, dan Jangan sampe bohong lagi. Ibu bisa tau kamu lagi bohong atau jujur.." Ibu menatap Keara tajam.


"Jangan bilang kalau ini ada hubungannya sama si Nico itu? Kamu gak pulang bukan gara-gara Nico, kan??"


"Enggak Ibuuk.. Ya ampuunn.. Gimana Keara jelasinnya kalau ibuk ngomong teruuus...?"


"Iya.. Ya udah sekarang jelasin. Kamu tidur dimana dan sama siapa??"


Keara pun menceritakan semua kejadian di rumah Harris. Tanpa ada niat untuk menutupi suatu apapun. Bagi Keara, dia tidak melakukan kesalahan. Toh, malam itu dia juga tidak berduaan di kamar mas Harris. Ada Bik Santi yang juga tidur di kamar itu.


"Ooh.. Mas Harris? temannya almarhum yang ganteng itu? Yang bilang lodeh buatan ibu enak dan makan sampe nambah dua kali?"


"Yaelaah ibuk.. Yang diinget gantengnya sama sayur lodehnya aja?"


"Ya teruss inget apanya lagi dong.. abis makan malem itu, udah ga pernah main kesini lagi sih.." ibu mencibir lucu. Sudah lupa rupanya tujuan utamanya masuk ke kamar putrinya.


"Ajak sini lagi dong K.. Nanti ibu masakin makanan lainnya.. Kasian, kalau dari cerita kamu kan, dianya kesepian tinggal sendiri di rumah gedongan..."


"Iya buk.. Tadi juga dia ngantar aku pulang.. Tapi gak K tawarin masuk.. Soalnya capek banget aku udah pengen bobok.."


"Ehh.. dasar bocah nakal.. Itu namanya gak tau terima kasih K.. Udah ditolongin dari Nico dan Mayra. Motor dianterin ke rumah, terus kamunya juga dianterin pulang, eh.. timbang bawa masuk bentar aja gak mau.. Gimana sih anak inii...?" Ujar ibu sambil mencubit pipi Keara gemas.


"Aahh.. Ibuk nih.. Palingan cuma mau pamer masakan aja kan.. Mentang-mentang hari ini masak soto ayam enak banget.."


"Ya maksudnya biar ada balas budinya gitu loh K..." tutur ibu dengan suara memelan. Tidak ada nada suara penuh selidik seperti tadi.


"Udah ah Buk.. K ngantuk. Mau tidur."


"Tunggu dulu.. Ibuk masih mau ngomong.."


"Apalagi sih... My Mommy...?" sahut Keara malas.


"Kamu harus segera pikirin soal melanjutkan hidup ya, K.. Cari pengganti Rizky. Ibu gak rela anak ibu yang cantik ini jadi bahan gunjingan di kampung.. Lebih-lebih pas ada yang lihat kamu sama Nico.. Makin panas kuping ibuk.."


Keara mengiyakan saja. Biar cepet. Ibuk pun segera keluar dari kamar Keara, karena tidak tega melihat putrinya itu tampak kelelahan.


Dalam balutan selimut dan lampu kamar yang sudah ia padamkan, Keara justru nyalang, tak bisa tidur. ia juga ingin sekali meratapi dua kali kegagalannya menikah. Tapi Keara sadar, takdir dan jodohnya sama sekali bukan ranah kuasanya. Seberapapun kuatnya keinginan Keara menikah muda, kenyataan justru mengantarnya ke usia 24 tahun tanpa pacar, apalagi suami. Ironi.


Pandai sekali orang-orang bergunjing dan menuduhnya yang macam-macam. Tanpa tau perasaan Keara yang sebenarnya.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih