
🌹 Kantor Harris
Sore ini seperti biasa, seperti sore-sore yang ia lalui di kantornya. Harris berdiri menikmati langit temaram senja di depan kaca jendela besar di dalam ruangannya. Cahaya matahari yang berangsur turun menyemburkan sinar oranye keemasan yang tajam, tapi meneduhkan. Sungguh jadi obat penat bagi Harris, sebelum ia dekat dengan Keara dulu.
Ah, iya.. Mengingat gadis itu selalu menyenangkan bagi Harris. Setiap kali bayangnya terlintas di pikiran, senyumnya spontan merekah. Harris menyadari ketidak berdayaannya pada pesona gadis manis, ceria, tapi cengeng itu. Setiap saat ia selalu ingin melihat dan bertemu dengannya. Mengobrol hal-hal tidak penting dan menggodanya. Sampai berujung gadis itu kesal dan mencubiti dada dan pinggangnya. Sungguh membahagiakan.
Mimpi buruk yang kerap menghantuinya sedikit demi sedikit tak pernah datang lagi dalam tidurnya. Kesendirian dan kesepian di hari-harinya juga sudah mulai terisi. Meski tidak setiap hari bertemu, Keara rajin meramaikan notifikasi ponselnya. Entah sekedar saling balas chat, ataupun voice call dan video call, bahkan mengirim gambar atau video lucu yang ia temukan dari aplikasi Toktik.
Hari ini, Keara juga mengirimkan chat kalau dia sudah mengajukan pengunduran dirinya. Dan gadis itu masih harus bekerja sampai akhir pekan ini. Itu artinya, mulai senin depan Keara sudah resmi bekerja di kantornya.
Harris sudah memerintahkan divisi HRD menambah satu staf di divisi keuangan. Ia juga sudah mengintruksi agar ditambah satu kubikel kerja lagi untuk satu staf baru. Harris sangat excited menyambut 'karyawan baru' kesayangannya itu. Aahh.. Can't wait.
Harris menoleh ke arah pintu, saat ia mendengar suara keributan di luar kantornya. Keningnya mengerut. Berusaha menebak-nebak apa yang terjadi di depan sana. Dan tak lama setelah keributan itu, pintu ruangannya dibuka dan dihempaskan dengan keras.
Hanna Rosaline. Artis ibukota itu mendesak masuk ke ruangan Harris, diikuti oleh Tiara, sekretarisnya yang berusaha menahan dan melarang Hanna untuk masuk.
"Maaf, Pak.. Saya sudah menahan agar Mbak Hanna tidak langsung masuk. Tapi...."
Harris mengangkat tangannya, sebagai isyarat agar Tiara diam dan keluar. "Tidak apa-apa. Kamu boleh keluar, Tiara."
Harris dengan ekspresi datar berjalan dari dekat jendela ke kursi tahtanya. Memberi isyarat tangan agar Hanna duduk di kursi seberangnya. Tapi Hanna justru berjalan mendekati Harris. Dengan dress pendek warna hitam yang se xy, dengan punggung dan dada putih mulus yang terekspos mempesona.
...*Visual Hanna Rosaline...
"Mas Harris.. Aku datang kesini khusus pengen ketemu langsung sama mas.." ujar Hanna. Lengannya diulurkan menahan agar Harris tidak sampai duduk.
"Aku mau ngomongin kerja sama dengan mas Harris. Aku janji pasti bakalan menguntungkan buat kita berdua, mas.." Hanna berbicara dengan nada suara mendayu-dayu. Berniat menggoda Harris dengan suara dan kulit mulusnya.
"Maaf, Kerja sama apa maksudnya?" tanya Harris seraya berusaha menjauhkan raganya dari godaan setan di depan mata.
"Pacaran settingan." jawab Hanna dengan gesture tubuh menggoda yang sangat kentara.
"Saya sudah sampaikan via telepon kalau saya menolak. Juga pada management kamu. Sudah saya tegaskan....."
"Ayolah Mas Harris.. Jangan terlalu tegas begitu.. Jangan kaku, santai saja. Biar bisa menikmati hidup.." Hanna bahkan berani memijit-mijit lengan Harris. Meski terus ditepis, Hanna terus saja menyerang.
"Saya sudah cukup menikmati hidup.. Kamu lihat? Saya punya segalanya." ujar Harris, tetap dengan ekspresi datar dan dingin.
"Mas punya segalanya. Kecuali... S e x.." jemari Hanna kini berani menyentuh kerah jas Harris. "Saya tau mas Harris belum punya pacar.. Apalagi istri.."
Harris mengibaskan tangan Hanna agar menyingkir dari tubuhnya. "Jangan keterlaluan! Ingat posisi kamu. Kalaupun orang lain mengenalmu sebagai aktris, tapi di mata saya kamu bukan siapa-siapa. Mendepakmu dari sini bukanlah hal sulit."
Telinga Hanna terasa terbakar mendengar penghinaan Harris. Tapi bagaimanapun itu dia berusaha terus menekan egonya. Hal ini karena dia tidak ingin malu di depan awak media dan masyarakat se-Indonesia. Karena dianggap artis halu yang menyebarkan gosip berpacaran dengan seorang pebisnis padahal hanya kebohongan semata.
Kekacauan ini bermula karena Hanna merasa strateginya berantakan total. Di saat dia merasa sudah menyusunnya dengan rapi, tapi rencananya justru berubah menjadi bumerang yang kini sedang mengejarnya, mengancam hendak mencabik-cabik harga diri dan karir ke-artis-annya.
Hanna sengaja memberi tau media kalau dia sedang ada hubungan istimewa dengan businessman muda berinisial HR. Tapi di belakang kamera dia dengan gamblang mengarahkan wartawan bahwa businessman yang dimaksud adalah Harris Risjad. Tujuannya jelas ingin meraup popularitas lebih gemilang. Dan agar dia bisa mendekati Harris, sampai lelaki ini bisa benar-benar ia taklukkan.
Tapi entah sedang sial atau apa. Inisial HR yang Hanna dapatkan tidak ada yang masuk kriterianya. Ada yang sudah menikah, sudah tua bangka, dan banyak juga yang tidak menarik secara fisik.
Hal itu yang membawanya datang menemui Harris langsung hari ini. Mencoba merayu pria kaku ini agar mau mengaku berpacaran dengannya. Bekerja sama untuk membuat fake relationship yang pastinya bisa menguntungkan dua belah pihak. Hanna sudah tidak punya cara lain. Lebih baik mempermalukan diri di depan satu orang, yaitu Harris Risjad. Daripada ia harus menanggung malu karena kebohongannya diketahui satu Indonesia.
"Ayolah Mas.. Please.." Hanna berusaha merayu lagi. "Kita hanya pacaran settingan. Ini bukan nikah kontrak yang akan bikin kita terlibat secara fisik. Kita tidak harus berdekatan sama sekali mas... Tapi keuntungannya bisa kita nikmati berdua. Aku dengan popularitasku di dunia entertainment, dan mas Harris dengan traffic bisnis yang pasti akan melesat naik."
"Saya tidak butuh trik murahan seperti itu untuk menaikkan perusahaan saya."
"Jangan begitu lah mas.. Anggaplah mas membantuku.. Please Mas.." Hanna semakin berani maju, lebih dekat dengan Harris.
"Aku berani kasih tawaran ini dengan bonus apapun yang mas Harris mau."
Dengan kerlingan matanya Hanna mengisyaratkan godaan yang tak mudah ditampik lelaki normal manapun. Belum lagi dada putih yang belahannya menyembul itu, terus berusaha ditempelkan di tubuh Harris. Harris terus mundur. Tapi Hanna terus maju tak tau malu.
"Mundur kamu. Jangan pakai trik murahan untuk merayu saya. Karena saya tidak tertarik." ketus Harris.
"Mas, aku serius.. Aku bersedia membayar jasa kamu kalau kamu mau jadi pacar settinganku. Aku akan membayar mas Harris di ranjang. Kapanpun mas Harris butuh, aku siap."
"Jangan bicara menjijikkan! Kamu pikir tubuhmu seindah apa sampai berani kau tunjukkan padaku?? Aku tidak tertarik. Keluar sekarang juga!!" Hardik Harris.
"Tunggu, mas.. Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku serius untuk kerja sama yang kuucapkan tadi, mas.. Lupakan ucapan bodohku barusan."
"Kamu mau keluar sendiri, atau diseret security?"
"Tunggu mas.. Jangan begitu.. Dengarkan aku dulu..."
Harris beringsut maju untuk menggapai gagang telepon di meja kerjanya. Tapi Hanna terus menghalangi dengan memasang tubuhnya di depan tubuh Harris. Kedua belah tangannya bahkan berani menyentuh dada Harris dan berusaha mendorong tubuh kekar pria itu.
Harris berusaha menepis, tapi yang terjadi justru insiden saling dorong yang membuat keduanya semakin dekat secara fisik. Tangan Hanna menempel di dada bidang Harris, sedangkan tangan Harris mencengkram lengan terbuka wanita itu, berniat hendak menjauhkan wanita yang terus menghalanginya itu.
Situasi chaos tersebut membuat Harris tidak menyadari pintu ruangannya diketuk sebanyak dua kali. Lalu sedetik kemudian pintu terbuka dan Harris menoleh.
Seketika netranya membulat. Jantungnya terpacu untuk berdetak lebih cepat dari kondisi normalnya. Debaran kerinduan menyeruak. Tapi di sisi lain, situasinya tidak mendukung untuk memberikan sambutan yang menyenangkan. Karena posisi tubuhnya dan Hanna yang sarat mengundang kesalah pahaman ini.
"K-Keara?!"
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih