
Keara bangkit dari duduknya dengan langkah yang sedikit menghentak. Tidak ia pedulikan reaksi kebingungan Harris. Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Bingung juga cara menghadapi singa betina kalau sudah marah. Malah lebih baik kalau Keara mengomel dan mencubiti dada seperti biasa. Daripada bersikap judes dan susah diajak bicara seperti malam ini.
Dengan gelengan kepala dan senyum gemas penuh hasrat ingin menerkam mangsa, ia mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam kamar. Kemarahan Keara bukannya membuat takut tapi justru gemas setengah mati.
Selama ini, Keara selalu bersikap lembut, manja dan cekatan dalam melayani apapun kebutuhan Harris. Kalaupun ngambek, Keara lebih sering menangis dan mengomeli Harris daripada mendiamkannya.
Harris mendapati istrinya baru keluar dari kamar mandi, dan saat ini sedang berdiri di depan standing mirror di walk in closet. Dengan langkah kaki lebar ia berjalan cepat mendekati Keara.
Harris mendekap tubuh mungil Keara. Lengannya melingkari pinggang ramping itu. Dan wajahnya tenggelam di ceruk leher Keara. Menggesek-gesekkan ujung hidungnya di kulit putih bersih itu.
"Sayang, maafkan aku.. Aku sungguh-sungguh minta maaf sama kamu." bisik Harris tepat di dekat telinga Keara.
"Aku bukan sedang mencari alasan. Aku hanya ingin melontarkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa menyesalnya aku karena sudah menyakitimu begitu dalam.. Aku minta maaf sayang.. Aku sudah membuat wanita yang paling kucintai menangis semalaman tanpa kuseka sedikitpun air matanya."
Keara diam membisu. Dia memalingkan tatapannya ke sembarang arah agar tidak bisa melihat wajah Harris dari pantulan cermin di depannya. Netranya sudah berkaca-kaca dan siap meledak.
Harris membalikkan raga cantik itu. Menangkup pipi wanitanya agar bisa bersitatap dengan netra penuh bulir bening itu. "Hei, look at me.." lirihnya dengan senyum manis meneduhkan.
Air mata Keara luruh sudah. Jebol pertahanannya. Ia pasrah menatap suaminya dengan mata sayunya. Ia ingin sekali menyalak dan berkata ketus pada Harris seperti tadi, tapi entahlah Keara seperti tidak punya kekuatan lagi. Hatinya sudah luluh hanya dengan melihat senyuman dan sedikit sentuhan Harris.
Harris melihat Keara yang sudah mau menurut dan menatapnya. Ia pun refleks mengecup singkat bibir merah muda dan menggairahkan milik istrinya itu. Hanya kecupan singkat karena masih ada hal yang perlu mereka bicarakan.
"Baguslah kalau mas Harris nyadar." sahut Keara sinis. Ia masih berusaha mengalihkan pandangannya dari Harris. Tapi sulit. Ada saja yang lelaki itu lakukan agar Keara terus menatapnya. Termasuk kecupan bertubi-tubi yang menghujam seluruh sisi wajah Keara setiap kali wanita itu mencoba berpaling.
"Udah ah, minggir. Aku mau tidur lagi." ketus Keara. Ia hendak melewati raga tegap Harris. Tapi tentu saja tidak akan semudah itu Keara meloloskan diri.
Harris dengan sigap menjerat pinggang wanitanya. Melekatkan tubuh mungil itu dengan tubuhnya hingga tak berjarak sedikitpun. Lantas menempelkan kening keduanya. Mendekatkan wajah mereka sedemikian rupa hingga masing-masing bisa merasakan kehangatan dari hembusan nafas keduanya.
"Minggiiir..." Keara masih terus ingin menjauh dari suaminya. Nafas lelaki itu semakin panas. Sesuatu di balik celana pendeknya juga terasa mengeras dan mendesak paha Keara. Keara menghindar sebelum lagi-lagi ia tidak bisa menolak keinginan suami tampannya itu.
"Bilang dulu.. Kamu mau maafin aku kan?" Harris menaikkan alisnya. Mengamati reaksi Keara. Wanita itu masih sibuk menghindari sorotan matanya. "Please.... Maafin aku, sayang.."
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih