
🌹 Kantor Harris Risjad
Cahaya keemasan senja selalu memukau bagi Harris. Meneduhkan. Menjanjikan petang pasti datang mengganti terik matahari yang sepanjang siang tadi nyalang menatap bumi dan seisinya.
Seperti biasa, Harris berdiri mematung di depan kaca jendela besar di ruang kantornya. Dari lantai 7, ia melihat bentangan cakrawala dengan warna oranye keemasan yang sangat indah. Memanjakan mata. Dan mampu menjadi obat pelepas penatnya setelah seharian penuh bekerja tak kenal lelah.
Harris mengangkat ponsel yang ia genggam, saat dirasa getaran ponselnya menunjukkan tanda bahwa ia menerima sebuah pesan masuk. Pesan dari Aswin. Asisten pribadi, yang selama semingguan ini merangkap jadi mata-mata pribadinya. Dan selama seminggu ini pula, chat masuk dari Aswin adalah yang paling ia tunggu-tunggu. Dan yang akan mengukir senyuman dalam kesendiriannya.
Benar saja, chat masuk dari Aswin berisi sejumlah foto Keara di kafe. Mulai dari saat gadis itu bekerja, sampai ia pulang kerja.
Harris duduk di kursi tahtanya. Ia men-scroll satu persatu foto setoran Aswin. Memandanginya dengan rasa rindu yang membuncah. Harris tersenyum saat Keara tersenyum, dan dahinya mengerut saat wanita itu tak lagi tersenyum. Gadis itu terlihat kelelahan. Tapi juga ingin selalu menyembunyikan rasa lelahnya itu.
Beberapa hari ini, Keara tak terlihat bertemu dengan mantannya. Terakhir kali Harris melihat dengan mata kepalanya sendiri -dari kejauhan pastinya- , Keara dan mantannya ngobrol cukup intens di taman kota. Melihat itu saja membuat Harris meradang dan uring-uringan. Namun, karena di hari berikutnya tak ada lagi reuni mantan kekasih itu, membuat Harris bisa bernafas lega.
Harris semakin mengerutkan dahinya saat ia sampai di foto terakhir. Tampak dalam foto itu Keara berjalan dan menghadap ke kamera ponsel Aswin. 'Wait! Apa jangan-jangan Keara sadar kalau ia sedang diuntit? Bodohh.. Pasti Aswin mata-matainnya kurang pinter ini..'
Harris menyambar gagang telepon di mejanya. Men-dial nomor sekretaris, Tiara. "Halo, selamat sore."
"Tiara, Aswin sudah balik kantor?" tanya Harris to the point.
"Sudah Pak, baruu saja." jawab Tiara cepat. Benar saja, Aswin memang baru masuk ke ruangannya. Bahkan pan tatnya belum sempat mendarat di kursi. Ia paham bosnya yang super kaku seperti kanebo kering itu pasti sedang memintanya datang ke ruangan.
"Suruh ke ruanganku."
"Baik Pak.." suara Tiara memelan karena Harris sudah lebih dulu menutup telepon. Huh.. kebiasaan si boss mah. Dia langsung memberi kode agar Aswin segera ke ruangan CEO nya.
Aswin mengetuk pintu ruangan Harris, lantas segera masuk setelah terdengar suara bosnya mempersilakan.
"Pak Boss.. Ada apa...." belum selesai Aswin bertanya, tatapan tajam Harris membuatnya mengurungkan niat.
"Kamu ketauan menguntit?" selidik Harris.
"I-iya Bos.." jawab Aswin tergagap. "Ehm.. Menurut saya.. Mending jangan tiap hari deh ke kafenya, Bos.. Sesekali aja."
"Siapa kamu ngatur-ngatur saya?!" sela Harris ketus. "Saya maunya setiap hari. Kamu aja yang Go blok mainnya gak mulus. Makanya sampai ketauan."
Aswin mencelos. Sebenarnya ia cukup kesal dihardik sedemikian rupa untuk pekerjaan yang bukan menjadi jobdesc nya. Tapi nyatanya, ia ingin tertawa terbahak-bahak. Melihat fakta kalau Bos kanebo keringnya ini ternyata bisa bucin juga. Sampai nyuruh-nyuruh ngefotoin segala. Setiap hari, selama berjam-jam. Bucin akut ini sih namanya..
"Ngapain kamu senyum senyum??" Harris memelototi Aswin yang tidak tau diri. Dimarahi malah senyum-senyum gak jelas.
"Eh.. Maaf Pak.. Maaf, bukan maksud apa-apa."
"Jangan membantah saya. Apalagi minggu depan saya harus ke China. Jangan sampai foto-foto Keara terlambat kamu kirimkan.."
"Baik Pak Bos.. Siap."
"Ya sudah keluar sana. Ngapain masih di sini.." ucap Harris. Tidak sabar ingin melihat foto Keara sekali lagi.
"Ehm.. Saya mau menyampaikan berita kurang mengenakkan Pak."
"Apa itu?" Harris memicingkan matanya dengan penuh tanya.
"Tentang artis Hanna Rosaline Pak.. Beredar kabar kalau dia sedang menjalin hubungan dekat dengan seseorang, dengan kata lain pacaran."
Harris dia terpaku. Menunggu kelanjutan cerita Aswin. Tapi emosinya terpancing, karena Aswin terlalu lama memberi jeda pada ceritanya. Seolah-olah ingin memberikan cerita yang dramatis. Apa daya justru ia harus kena damprat oleh Harris.
"Karena media menyebarkan isu kalau orang yang sedang dekat dengan Hanna itu Pak Harris." Aswin tidak lagi berharap ceritanya akan ditanggapi dengan heboh. Dia lupa kalau bosnya ini lempeng, lurus, kaku. Tak berbentuk sama sekali hidupnya. Anyep.
"Kenapa bisa begitu?" Harris menanggapi laporan dari asistennya itu tanpa bumbu keterkejutan sedikitpun.
Dia bukannya tidak kaget. Harris hanya tidak peduli. Toh dia benar, tidak ada hubungan apa-apa dengan Hanna. Hanya hubungan profesional karena Hanna sempat menjadi ambassador e-commerce miliknya. Meski sekarang sudah habis kontrak.
"Itu karena saat sedang diwawancara Hanna bilang dia dekat dengan seorang businessman muda yang inisial namanya sama dengan dirinya. HR. Dan media menyimpulkan bahwa itu anda. Dengan bukti kalau Hanna pernah jadi Ambassador BukaToko , dan beberapa waktu lalu sempat tertangkap kamera wartawan Hanna dan anda sedang makan malam bersama. Em.. ya.. walaupun tidak berdua.." terang Aswin panjang lebar.
"Biarkan saja. Tapi pastikan media tidak mengulik kehidupan pribadi saya."
"Baik Pak.."
"Ingat ya! Jangan sampai bocor informasi pribadi saya. Atau kalian akan tanggung akibatnya." kecam Harris sekali lagi.
"B-baik Pak."
"Kalau perlu kamu peringatkan managemen Hanna itu."
"Baik."
Harris memilih tidak menanggapi gossip yang beredar. Dia pun mempertimbangkan kalau gossip murahan semacam ini bisa jadi jalan untuk semakin mendongkrak popularitas e-commerce BukaToko miliknya.
Toh, dia tidak dengan sengaja menyebarkan isu apapun yang mengatasnamakan marketing bisnis. Dia bisa bertahan dan semakin memperluas jaringan e-commerce nya berkat usahanya sendiri. Tidak ada bumbu marketing murahan dengan menyebar gosip receh.
Namun sayangnya, tidak begitu dengan Hanna. Wanita itu sengaja memberikan inisial HR untuk mendekati Harris. Dia sangat tertarik dengan pria tampan pengusaha sukses itu. Yang sudah Hanna prediksi kalau pundi-pundi rupiah di rekening lelaki itu bisa menjamin kehidupan nyaman dan bergelimang harta untuk Hanna dalam jangka waktu panjang.
...****************...
🌹 Rumah Keara
Keara baru pulang kerja pukul sepuluh malam. Hari ini dia masuk shift siang karena harus ke kampus pagi tadi. Seharian ini moodnya tidak baik-baik saja. Dia jadi tidak fokus saat bekerja dan sedikit uring-uringan
Kalau dibilang ini efek PMS sih bisa juga begitu. Karena hari ini juga bertepatan dengan hari pertama tamu bulanannya datang berkunjung. Tapi kalau tidak ada pemicunya, tidak mungkin juga dia menjadi badmood parah dan uring-uringan.
Pemicunya tak lain dan tak bukan adalah gossip panas dan happening tentang artis muda yang sedang tenar-tenarnya. Digosipkan berpacaran dengan businessman muda founder e-commerce pertama buatan anak Indonesia. Harris Risjad.
Foto Harris bertebaran di banyak akun gossip di sosial media. Pun di televisi berita gosip Hanna Rosaline dan Harris Risjad tak habis-habis disiarkan.
Huhh.. seperti artis Indonesia cuma Hanna aja. Basi.
'Sia-sia dikhawatirin.. Kirain bakal kesepian. Sakit sendirian. Gak taunya Happy happy aja. Asik pacaran. Rugi banget aku overthinking mikirin tuh cowok. Hiisshh !!' Keara mendesis sebal.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih