Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Happy Ending


Seorang anak kecil berlarian membelah kerumunan orang-orang dewasa. Anak lima tahun dengan gaun berwarna hijau sage, rambut dikuncir dua yang bergoyang kesana kemari seiring dengan langkah kaki yang kian cepat.


Dari banyaknya orang dewasa yang ada di hadapannya, ia bisa melihat seseorang baru saja masuk. Si anak ini dengan semangat berlari menyongsong.


"Mas Sada... Mas Sada...." teriaknya dengan langkah yang terus berlari. Ia berhenti begitu raga kecilnya menubruk kaki seseorang.


Bukannya marah, laki-laki yang ditubruk itu justru berjongkok. Agar tingginya setara dengan si anak. Ia mengusap kepala si anak.


"Om Bara, mas Sada mana?" tanya anak perempuan itu sambil celingukan ke arah belakang badan besar lelaki yang ia panggil om Bara.


"Maaf Ghaitsa sayang.. Mas Sada ga ikut kesini."


Raut kecewa sontak tergambar jelas di wajah cantik anak lima tahun itu. "Yah.. Kok gak ikut sih... Padahal kemaren janji mau ngajarin Geca main piano..." ujarnya lemas.


Ghaitsa langsung berbalik dan melangkah cepat ke ruangan belakang. Dimana orang tuanya berada. Dan tidak terlalu banyak orang berkerumun. Di sana ia melihat mamanya, yang sepertinya baru selesai menyuapi sang adik yang baru berusia dua tahun itu.


"Mamaaa..." pekik Ghaitsa, seraya memeluk kaki mamanya dari belakang.


Keara, wanita cantik bergaun pendek warna sage itu dengan hati-hati berbalik badan dan melepas pelukan putri pertamanya itu. Ia berjongkok lalu membelai lembut pipi putrinya. "Kenapa sayang? Kok nangis?" tanyanya lembut.


Harris yang menyusul masuk dari luar karena tadi melihat putrinya berlari masuk sambil menangispun turut menyimak.


"Mas Sada ga ikut datang kesini... Hiks hiikks.. Tadi Geca liat om Bara dateng sendirian aja.." jawab Ghaitsa sambil terisak.


Harris mendengus. Ia yang sudah was was khawatir terjadi apa-apa pada putrinya, langsung mencelos. "Kirain kenapa... Ternyata hanya menangisi anak Bara.." gerutunya.


Keara mencubit kecil paha Harris seraya memberi isyarat agar Harris diam.


Harris memberi gerakan tangan yang mengunci mulutnya sambil mengerlingkan mata pada istrinya. Ia memilih membantu putri keduanya untuk turun dari highchair karena sesi makan telah usai.


"Sayang, kan ketemu sama mas Sada bisa kapan saja.. Kalau hari ini mas Sada ga ikut kemari, besok juga bisa belajar pianonya.. Jangan sedih yaa.."


Ghaitsa menyeka air matanya. "Tapi ma...."


"Udah. Nanti mas Gala aja yang ajarin kamu main piano." Gala, kakak Ghaitsa yang umurnya beda satu menit itu, menyela. Dengan setelan jas ala orang dewasa Gala tampak gagah dan tampan di usianya yang baru lima tahun.


"Emang mas Gala bisa?" tanya Ghaitsa.


"Bisa. Tinggal dipencet-pencet doang. Apa susahnya.."


"Issh... Itu namanya gak bisa.." protes Ghaitsa lagi.


"Udah.. Ayo keluar sama mas.. Kita makan kue di depan sama Raisha juga." Gala mengulurkan tangan untuk menggandeng Ghaitsa. Satu tangan yang lain sudah ia gunakan untuk menggandeng tangan Raisha, adik keduanya yang baru turun dari highchair.


Lama Ghaitsa menimbang, sampai akhirnya ia mau menyambut uluran tangan kembarannya. Lalu ketiganya berjalan beriringan ke luar ruangan. Menuju depan gedung tempat tamu undangan yang lain menikmati aneka kudapan dan minuman, sebelum acara inti dimulai.


Harris memeluk raga Keara dari belakang. Tangannya mengusap perut sang wanita yang sedikit membuncit, karena saat ini Keara sedang hamil untuk ketiga kalinya. Harris benar-benar mewujudkan keinginannya untuk memiliki banyak anak. Usia kandungan yang baru berumur empat bulan itu membuat Keara masih tampak langsing dan mungil.


"Ga nyangka ya sayang.. Gala dewasa banget. Benar-benar jadi sosok kakak laki-laki untuk adik-adiknya.." ujar Keara. Netranya berkaca-kaca terus menatap ketiga buah hatinya yang berjalan menjauh.


"Hmm.. Dan Ghaitsa cengeng banget. Anak kamu banget..." sahut Harris sambil menciumi tengkuk istrinya.


"Iihh.. Kalau yang jelek-jelek aja dibilang anak aku.." cibir Keara.


"Siapa bilang cengeng itu jelek? Buktinya aku jatuh cinta sama kamu pas kamu lagi cengeng-cengengnya nangisin mantan.."


Keara mencebik. Tapi bersamaan dengan itu, rona merah di wajahnya bersemburat dengan netra mengkilat menatap pujaan hatinya. Ia berbalik badan dan mengecup pipi Harris. "Terima kasih sayang... Semua kebahagiaan ini karena kamu."


Harris membalas, namun bukan kecupan di pipi. Melainkan pagutan lembut dan mesra di bibir istrinya. "Teruslah mencintaiku, K.. Dan Berbahagialah selamanya." ucap Harris di sela-sela tautan bibir yang enggan lepas.


Ciuman mereka terpaksa terhenti kala terdengar celetukan seseorang. "Astagaa.."


Harris dan Keara menoleh ke sumber suara. Kemudian mendengus malas setelah tau Aswin lah yang datang.


"Kenapa sih kalian selalu berciuman saat aku masuk?" tanya Aswin polos. Lebih tepatnya berpura-pura polos. Saking seringnya melihat bosnya itu berciuman, matanya sudah kebal dan biasa bersikap bodo amat.


"Itu tandanya kedatanganmu selalu di waktu yang salah." mas Harris menggerutu kesal. Ia merangkul bahu Keara agar berdiri makin dekat dengannya. "Ngapain kesini?"


"Lah.. Kok ngapain? Ayo keluar. Sudah jam 10, tamu undangan juga sudah dateng semua.. Kita mulai acara pemotongan pitanya.."


"Udah mau mulai ya..?" gumam Keara. Lalu ia berbisik pada Harris. "aku siap-siap dulu ya sayang.. Kamu pasti bikin wajahku jadi berantakan.."


Hari spesial ini adalah hari pembukaan cabang pertama butik yang dikelola Keara. Setelah hampir lima tahun ia mengelola butik yang awalnya menjadi kado pernikahan pertamanya dari Harris, Keara berani membuka cabang karena antusiasme pembeli yang membludak. Kesuksesan yang tak luput dari peran Harris sebagai businessman perfectionist, menjadi support system utama di balik layar. Kerja keras orang-orang yang menjadi garda terdepan manajemen butik. Serta popularitas Keara sebagai beauty influencer yang meroket di social media, turut mendompleng butiknya untuk maju bersama.


Acara berlangsung meriah. Prosesi potong pita sebagai simbol dibukanya butik baru yang diberi nama Twins G Apparel itu, berjalan lancar setelah Keara memberikan kata sambutan dengan memukau. Semua tamu undangan bertepuk tangan begitu meriah. Sorot kamera mengikuti setiap pergerakan Harris dan Keara. Blits kamera pun berkelap kelip menandakan antusiasme media dalam mengabadikan sepasang manusia yang tengah berbahagia itu.


Keara dan Harris menyapa setiap tamu yang datang. Tidak banyak. Hanya beberapa kenalan bisnis Harris. Petinggi brand fashion atau skincare. Beberapa vendor butik, juga model-model yang pernah terlibat atau yang saat ini menjadi brand ambassador Twins G Apparel butik. Mereka semua datang memberi selamat pada Harris dan Keara.


Harris merangkum pinggang wanitanya seraya berbisik. "Let me know if you tired, baby.."


Keara mengerling dan tersenyum manis. Wanita berbadan dua yang masih tampak langsing meski sudah mempunyai tiga orang anak itu tersipu saja mendengar perhatian suami yang tak pernah berubah selama enam tahun usia pernikahan. Selalu manis dan hangat.


Kehamilan Keara yang sudah memasuki trimester kedua tidak lagi menyulitkan. Terlebih ini hari yang ia tunggu-tunggu. Pastilah ia sangat bersemangat.


"Abis ini sesi foto bersama ya Mbak K.." celetuk Karin, asisten Keara dalam mengelola butiknya.


Keara mengangguk. "Tolong cari anak-anakku dong, Rin.."


"Oke mbak."


Tak lama kemudian, Karin kembali dengan menggandeng tiga bocil yang tampak ceria. Tak lupa dengan wajah sedikit belepotan bekas makan kue dan kudapan yang disediakan. Karin langsung membersihkan ketiganya dengan sigap, tanpa diperintah. Hingga ketiganya siap untuk berfoto bersama dengan kedua orang tuanya.


Sore menjelang ketika tamu undangan sudah meninggalkan butik. Hanya beberapa orang pegawai butik saja yang tersisa. Harris, Keara, Bara, dan Aswin beserta istrinya duduk di sofa yang berada di bagian depan butik. Sementara anak-anak yang sudah lelah, pulang sejam lalu bersama pengasuh mereka.


Bara mengeluarkan sebatang rokok dan hendak menyulutnya, tapi teguran Harris menghentikan gerakannya. "Heh! Berani lu ngrokok di sini?!"


"Gak jadi." jawabnya singkat, sambil memasukkan kembali rokok ke dalam kotak, lalu masuk ke saku jasnya. Ia lupa istri bosnya itu sedang hamil dan tidak suka asap rokok.


Yang lain hanya terkekeh pelan tanpa suara. Lantas kembali berbincang santai sembari melepas lelah.


Boss preman jalanan yang sudah bertransformasi jadi direktur perusahaan penyedia jasa keamanan itu hanya sesekali menimpali percakapan. Meskipun jabatan berubah, tapi ekspresi minim dan sikap dingin tetap menjadi identitas Bara.


Sejak peristiwa lima tahun lalu, menjelang kelahiran putra putri kembar pertamanya, Harris mendapat ide untuk mendirikan perusahaan jasa keamanan yang dikelola oleh orang kepercayaannya. Seorang yang sudah berkecimpung di dunia kotor dan serba keras sejak usia belasan. Seseorang yang tau dengan pasti semua seluk beluk dunia kriminal, akan otomatis mengerti sistem keamanan terbaik untuk meminimalisir tingkat kejahatan. Seseorang itu tak lain adalah sahabat premannya, Elbara Wicaksana.


Peluang bisnis yang direalisasikan dan terdaftar resmi di negara ini, Harris kelola dengan Bara sebagai pimpinan di sana. Menjadikan Bara dan anak buahnya bodyguard berlisensi yang keberadaannya tak lagi disepelekan. Perusahaan itu diberi nama PT. Bintang Persada Indonesia. Sama persis dengan nama putra Bara. Bintang Persada, yang dipanggil mas Sada oleh si kecil Ghaitsa.


Perusahaan itu pulalah menjadi awal mula berkembangnya usaha Harris. Yang semula hanya berkecimpung di bisnis e-commerse, kini merambah bidang lain. Salah satunya perusahaan jasa keamanan, tour and travel, garments, dan perusahaan artists management yang baru mulai merangkak naik.


"Kamu belum capek kan?" Harris berbisik dekat telinga Keara. Begitu dekat sampai aroma mint nafasnya tercium oleh Keara.


Keara menggeleng. "Kenapa?"


"Kita pergi ke suatu tempat yuk..."


"Ayuk..."


Mereka berdua pergi meninggalkan yang lain. Harris melajukan mobil tanpa memberi tahu Keara kemana arah tujuan mereka kali ini. Namun si gadis cerewet itu tak lagi cerewet bertanya. Ia percaya saja. kemanapun lelaki ini membawanya, pastilah ke tempat yang ia sukai.


Tapi begitu memasuki gerbang perumahannya yang lama, Keara mengernyit heran. "Sayang, kamu ngajakin aku ke rumah lama kita?"


Harris menggeleng dengan senyum yang terulas manis. Membuat Keara semakin penasaran.


Ya, sejak kejadian preman suruhan David yang menerobos masuk ke kediamannya lima tahun silam, mereka sekeluarga memutuskan pindah rumah. Tak ingin meninggalkan trauma untuk Keara bila masih menetap di rumah itu. Harris membeli rumah di kompleks perumahan lain yang tak jauh dari butik pertama Keara. Sedangkan rumah lama itu ia hibahkan pada keluarga alm. Rizky, sahabatnya.


Bu Farida menolak, namun Harris memaksa. Ia bahkan sudah membalik nama kepemilikan rumah itu menjadi milik bu Farida, ibu Rizky. Semua itu Harris lakukan untuk membalas budi baik sekeluarga Rizky yang sudah berjasa merawatnya ketika masih remaja. Keara pun tidak keberatan. Membuatnya semakin mengagumi belahan jiwanya yang cantik itu. Bagaimana tidak? Merelakan rumah senilai sekian milyar Rupiah untuk 'orang lain' itu tidak mudah. Tapi Keara meyakinkannya, kalau ia ikhlas jika Harris ingin membalas budi dengan cara itu.


Harris menghentikan mobilnya di dekat deretan mobil lain di tepi sebuah taman. Taman yang berada di tengah-tengah kompleks perumahan. Taman yang.....


"Sayang, kamu kenapa bawa aku kesini?" tanya Keara. Netranya seketika berubah nanar. Sekumpulan bulir bening sudah berkumpul di pelupuk mata, siap luruh membasahi pipinya.


Harris mengusap lembut puncak kepala istrinya. Ia mengerling dengan senyum meneduhkan "Pengen pacaran sekaligus nostalgia. Turun yuk.."


...****************...


Satu bab lagi. END 😉


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih